You Are The One

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In ||

Genre: Married Life – Romance – Complicated – Comedy – Adult||

Lenght: Oneshoot|| POV: Song Ha In

Author: Hyun*ie||

Note: Berhubung ini menceritakan kakek-nenek, jadi ya ratingnya Dewasa. Aku bener kan? Hahah. . . . . J J J

Hello, ini bukan sequel juga sih. Anggap saja cerita lain dari Kakek tua Cho. Udah baca belom yang The Sweet Memorian, Be With You? Pada gak bacakan? Itu cerita gak sad kok. Tentang Kakek tua Cho Kyuhyun dan Nenek Shin Hyuji. Ini juga terinspirasi oleh lagu Raef dengan judul yang sama dengan FF ini. Aku baru temuin lagu itu di fb pembina pramuka heh, J J J

Selamat membaca. . . semoga tak kecewa ya?

*.*.*

“Sayang,” seru Kyuhyun dari arah belakangku. Ia berjalan dengan tergopoh-gopoh seperti habis berlari marathon.

“Ada apa?”

Dia memasang wajah sebalnya dengan lucu. Oh ada apa lagi ini?

“Kacamataku, aku menghilangkannya lagi.” Lirihnya.

“Oh ya Tuhan. Apa kita perlu ke kota lagi untuk membelinya? Atau kita suruh saja Jae-ri untuk mengirimkannya kemari?”

“Tidak perlu. Bantu aku mencarinya saja. Ayo!” ia menarik lenganku dengan gesit. Tapi masih saja terasa seperti siput saat kami berjalan. Aku bisa lebih cepat dari ini sebenarnya, tapi tidak dengan dia. Tubuhnya sudah mulai membungkuk sekarang. Pendengarnya yang semakin berkurang, tingkat ingatannya yang melemah, belum lagi dengan daya penglihatannya yang buruk. Ia kerap kali terjatuh jika tak memakai benda persegi itu.

“Dimana terakhir kali kau meletakkannya sayang?”

“Aku tak tahu. Mungkin itu di halaman belakang saat aku akan membaca koran tadi.”

“Kalau begitu kita cari kesana.” Kami mulai berpencar mencari letak kacamata itu berada. Aku memerintahkannya untuk tetap diam di kursinya saja agar tak terbentur di dinding lagi. Memang pada dasarnya dia keras kepala, dia tak mau mendengarkanku.

“Kau yakin kacamatanya terjatuh disini?”

“Miaw.”

“Oh Lerin-ie, kau disini cantik.” Saat aku melihatnya berjalan menghampiriku, aku jadi melupakan diriku yang tengah mencari kacamata miliknya.

“Hyu, kacamataku dulu. Jangan urus kucing nakal itu lagi!” dia bahkan cemburu pada kucing sekalipun.

“Sebentar sayang. Aku hanya ingin mengelusnya. Dia belum ku elus hari ini.”

“Aku saja tak kau elus seperti itu tadi malam. Kacamataku.” Tekannya.

“Baik, baik.”

Aku berjalan mengikuti kemana langkah kaki Lerin pergi. Dia membawaku ke tempat keranjang miliknya. Dan tebak apa yang ku temukan disana? Itu semua benda-benda yang telah menghilang selama seminggu yang lalu. Kalungku mutiaraku, jam tangan, cincin berlian berwarna hijau, dan, kacamatanya. Ya Tuhan, Kyuhyun benar mengenai Lerin. Dia kucing yang nakal.

“Aigoo, kucingku ini mulai nakal emm? Apa eomma tak memberikanmu makan sampai kenyang hingga kau berbuat seperti ini?”

“Miaw.” Lerin menggaruk kepalanya sebentar, lalu ia menjilati bulu-bulu di kakinya. Kucing tak punya tangan.

“Sayang.” Itu suara Kyuhyun. Bisa meledak dia jika mengetahui penyebab semua kekacauan ini kucing putihku. Aku segera memasukkan kacamata dan benda yang lainnya ke dalam sweater rajut putihku.

“Aku datang.” Ku bimbing dirinya untuk duduk di kursi goyangnya. “Kacamatanya kita cari nanti saja.”

“Tapi aku ingin membaca koranku. Aku belum sempata membacanya dan kacamatku sudah tak ada di meja saat aku mengambil teh tadi.”

“Oh sayang,” aku mengelus pipinya yang semakin mengkerut dan keriput. “Aku akan membacakannya untukmu.” Aku memperbaiki letak kacamatku yang sempat miring.

Ku genggam erat tangannya sebelum aku mulai membaca koran. “Beberapa perusahan kecil gulung tikar akibat implansi dan . . . . .”

*.*.*

Aku menghampiri dirinya yang sedang asyik mendengarkan acara tv di sore hari. Sore hari, ah ku dengar akan ada pertandingan bola yang disiarkan hari ini.

“Mau cemilan?” tawarku dengan menunjukkan kue kering di udara.

Ku pikir dia akan senang dengan perhatianku. Yang terjadi ialah sebaliknya. Dia cemberut dan memandang tak suka pada kue yang berada di tanganku.

“Gigiku sudah mulai rapuh. Kue itu hanya akan menyiksaku.” Ah, benar juga. Aku juga yang bodoh disini.

Aku mencelupkan kue itu pada air teh hangat, lalu menyuapinya.

“Enak.”

“Tentu. Jangan ragukan aku yang membuatnya untukmu selama empat puluh tahun lebih.” Aku merogoh saku samping kiriku. Kacamatanya baru ku berikan sekarang. Karena tadi saat ku ambil dari keranjang, lensanya telah dilumuri oleh air liur Lerin. Jika aku berikan pada saat itu juga, bisa-bisa menendang kucing yang ku temukan di pinggir parit sebulan yang lalu.

Ia melihat layar tv dengan mata yang terus dipicingkan. Lebih baik ku tahan dulu kacamata ini. “Wah goal. Aku menang sayang.”

Hah? Aku melirik ke layar tv untuk memastikan apa yang dikatakannya. Apa benar tim favorite-nya menang? “Yang baju merah yang menang sayang.”

“Kau ini bicara apa? Yang baju kuning yang menang.”

“Yang merah sayang. Nomor belakang 17 yang terus mencetak goal.”

“Bukan, bukan. Nomor 5. Kau kan tak tahu apa-apa tentang bola.” Kekehnya.

Aku memakaikan kacamatanya. “Gunakan ini saat menontonnya.” Dia terkejut dan nyaris membuat tanganku melepaskan kacamatanya yang belum terpasang dengan benar.

“Oh! Darimana kau menemukannya?”

“Terjatuh saat kau meletakkannya tadi mungkin. Karena aku menemukannya di dekat pot bunga.”

“Kenapa tak langsung kau berikan tadi?”

“Lensanya kotor. Kau hanya akan menyalahkanku atau Lerin.” Dia menatapku dengan cengiran kurang ajarnya. “Aku benarkan?”

“Heheh, aku menyayangimu istriku.”

Dia memelukku erat. Mengoyang-goyangkan tubuh kami ke depan dan belakang. Seperti sedang berada bermain ayunan, atau berada di kursi goyang rotannya.

“Aaa aakhh. Sendiku. Adu-duh punggungku keram. Bantu aku.” Gah, dia berbuat romantis tadi, aku baru akan memujinya sebelum keluhan itu terlontar.

Aku membantunya untuk duduk bersandar di sofa. Aku segera berlari mengambil air hangat dan kain. Dan juga lotion penghangat.

“Jaga sikap Cho. Tak tahu diri sekali kau ini. Masih saja ingin bersikap seperti saat usiamu tiga puluh tahun. Ingat, usiamu sekarang hampir kepala delapan. Tujuh puluh tujuh. Jangan lakukan itu lagi jika tujuanmu hanya ingin mmbuatku tersanjung. Aku tak akan pergi meninggalkanmu walaupun kau tak bisa bersikap romantis seperti dulu lagi, jika itu yang kau takutkan.”

“Kau berisik.” Kyuhyun menutup telinga kanannya yang dekat denganku. Dengan adanya alat bantu dengar, membuat ia agak sensitif jika berbicara keras dalam jarak yang sangat dekat.

*.*.*

“Ayo kita olah raga.” Ajaknya sambil sedikit lari kecil di dalam rumah.

Aku yang tengah memisahkan pakaian putih dan berwarna ke dalam keranjang, jadi sempat terhenti karena ulah dirinya.

“Kemana? Memangnya kau kuat untuk berlari?”

“Tentu saja.” Jawabnya penuh semangat.

“Tanpa tongkat?” tanyaku. Aku tak melihat ia memakainya. Apa dia mematahkannya lagi hanya untuk mengusir Lerin yang masuk ke ruang bacanya?

“Kau ingin membuatku jatuh?”

Ah, ada benarnya juga. Mana bisa lari dengan menggunakan sebuah tongkat? Itu hanya akan membuatmu jatuh.

“Baik, ayo.”

Kami berlari seputar perumahan. Jaraknya lumayan cukup jauh dari rumah. Sekitar 1km. Setelah berlari, kami mengistirahatkan tubuh lelah ini di kursi kayu taman yang teduh, dibawah pohon Pinus.

“Kau ingin makan sesuatu?”

“Kau menanyakan apa aku memakai sepatuku? Tentu saja aku memakainya. Kau tak lihat?” Dia menunjukkan sebelah sepatu biru tua yang dipakainya.

Ya Tuhan, sayang. “Ma-kan. Ma-kan se-su-a-tu. Apa yang kau inginkan?” aku berbicara sambil memperagakan maksud dari ucapanku.

“Dia mendekatkan telinganya tepat di depan mulutku. “Satu kali lagi sayang.” Pintanya. Aku mengulanginya lagi dengan pelan dan tegas.

“Ah, aku mengerti. Maksudmu kau ingin membeli ikan? Ayo kita pergi sekarang.”

Dia sudah akan beranjak dari tempat duduknya, segera ku cekal tangan kirinya. Ku raih wajahnya. Memeriksa kedua telinganya. Ah pantas saja.

“Kemana alat bantu dengarmu sayang?”

Dia menoleh untuk menatap wajahku “Apa?”

“Ini.” Ku sentuh daun telinganya yang sebelah kiri. Dan ku dapati dia menyengir ke arahku. “Aku lupa memakainya.”

Ku lepaskan kedua tanganku yang memganggi wajahnya sejak tadi. “Tunggu disini sebentar.” Aku melangkah pergi meninggalkannya menuju kedai kecil yang menjual aneka kue tardisional Korea.

*.*.*

Kyuhyun membawaku ke taman belakang. Dia bilang ada sesuatu yang perlu di lihat. Apakah itu mengenai burung lagi? Dia begitu girang saat tetangga sebelah, Tuan Kim memberikan burung kakak tua putih dan beo untuk dirinya. Kau tahu, tak sedetikpun ia memalingkan hewan itu dari penglihatannya. Ku pikir aku harus melepaskan Lerin jika dia sedang memberikan makan burungnya. Mungkin saja Lerin tertarik dengan burung.

“Tahan. Tahan sebentar.” Ia menghentikan langkahku yang akan menyentuh tangga kecil di depanku. Ku pikir ini mengarahkanku pada gazebo kecil yang berada di sudut halaman depan.

Ku dengar langkah kakiknya yang melangkah melewatiku. Tepat berada di depanku.

“Naik secara perlahan.” Titahnya sambil terus membimbingku. Mataku tertutup oleh sehelai kain biru tua. Padahal ini akan lebih mudah lagi jika saja ia menyingkirkan benda ini yang menghalangi mataku.

“Duduk disini.” Ia menarik kursi dan menyuruhku untuk duduk. Ku raba pinggiran kursinya. Kursi kayu ukiran pertamanya. Ia membuat ini saat sembilan tahun yang lalu. Pada waktu itu aku mengatakan ingin membeli satu set kursi ukiran yang dibuat pengrajin kayu yang letak rumahnya hanya lima blok dari sini. Tapi dia dengan sombongnya mengatakan bahwa dirinya juga bisa melakukan itu. Mungkin dia berang karena ulahku juga. Aku tak sengaja menyanjung pengrajin itu karena ketampanan, dan keuletannya yang masih bisa aktif di usia yang sudah mencapai tujuh puluh tiga tahun. Dia yang kesal langsung membeli kayu dan mengerjakan sendiri kursinya. Berkali-kali dia terkena paku atau salah potong. Aku sudah berusaha menghentikannya dengan berkata bahwa aku tak memerlukan itu lagi. Tapi dia tetap saja melakukannya.

“Buka penutup matamu.”

Ku sempatkan untuk mendecik padanya. “Kau yang memasang ini padaku. Tapi kau malah membuatku harus melepaskannya sendiri.”

“Lakukan saja. Wanita, kenapa selalu berdebat akan sesuatu? Bukannya langsung melakukan apa yang di minta.” Cibirnya.

“Oh!” aku terkejut saat mata ini melihat apa yang tersaji di depanku. “Ka-kau,”

“Aku hanya ingin mengenang bagaimana kita berawal.”

Disini begitu banyak makanan yang tersaji secara cantik namun tetap berkelas.

“Aku ingin melamarmu lagi.”

“APA?” aku terkejut, hingga tak bisa mengendalikan suaraku.

“Kau tak perlu berteriak seperti tadi pagi. Aku memasang benda itu di telinga sekarang.” Kyuhyun memperlihatkan alat bantu dengar yang ada di telinga kirinya.

“Maaf.” Aku berucap seolah aku menunjukkan penyesalan. Tapi lihat wajahku kini. Aku malah sedang tersenyum memandangnya. Ah bukan tersenyum. Tapi tertawa.

“Berhenti sekarang. Atau aku akan kembali ke dalam rumah.”

“Baik, baik pak tua. Aku menutup mulutku.”

Kyuhyun mulai meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan saling bertautan. “Aku ingin melamarmu lagi.”

“Ya aku tahu. Lalu apa?” aku ingin mempermainkan ia sekarang. Karena ku lihat dia tetap sama gugupnya seperti dulu, saat ia melamarku.

“Tjk. Dia Nyonya Cho.” Kyuhyun menghembuskan nafasnya yang terasa berat.

“Aku berpikir tentang masa-masaku yang akan ku habiskan sebelum bertemu denganmu. Bersama siapakah aku akan menikmati hari tuaku. Apakah ia akan setia padaku? Menganggapku hanya satu-satunya pria dimatanya, selain orang tuanya. Apakah ia akan cantik? Secantik ibuku. Atau apakah ia akan tetap berada disampingku saat aku terpuruk dan menjadi buruk rupa di masa yang akan datang.” Kyuhyun meraih tanganku yang berada di atas meja. “Hyuji sayang, menemukanmu untuk menjadi pendampingku merupakan suatu anugerah dalam hidup ini. Aku tak tahu apa yang bisa ku lakukan tanpamu sayang. Kau melebihi harapan yang ku inginkan. Kau lebih dari sekedar cantik. Kau juga baik dan setia berada disampingku meskipun aku selalu mengomel atau memarahimu. Tapi kau tak pernah sekalipun berbalik marah padaku.”

Aku menyeka air matanya yang mulai mengalir. “Jangan terlalu berlebihan dan banyak memuji Tuan. Aku tak sebaik itu. Aku pernah memarahimu. Maaf, aku hanya terlalu menyayangimu. Dan caraku mengutarakannya yang salah.”

“Jangan meminta maaf. Aku suka perhatianmu yang itu. Kau mendumal dan mengomeliku setiap saat. Seperti kicauan burung Kakak tua putih itu dan Beo saat pagi menjelang.”

Apa-apaan dia? Aku menghempaskan lengannya dengan agak keras. “Kau menyamakanku dengan hewan berbulu itu? Pergi sana. Lamar dia untukmu.”

Aku melipat tangan segera. Mencoba mengujiku hmm?

“Tidak.” Kyuhyun melerai tanganku, dan meraihnya lagi dalam genggamannya. “Sayang,” aku terpaksa menatap matanya lagi. Cara dia memanggilku yang mengalihkanku. “Aku tahu, aku sangat buruk. Won’t you be my BFF and ever? Won’t you be my partner after this world? We’ll see it. When we believe it together. Dreams are meant to be. Cause you’re the one for me. So will you?”

“Tentu pak tua. Memangnya dengan siapa lagi aku akan melakukan semua hal itu jika tak bersamamu?”

“Mungkin saja kau akan berselingkuh dengan si tukang kayu itu.”

Ku pukul lengannya pelan. “Dia lebih tua darimu. Aku tak mau.”

Kami salaing menatapa satu sama lain dalam diam. Kami menemukan hari tua ini terasa begitu indah dibanding hari-hari lainnya. Cho Kyuhyun, kau terkadang bisa berbuat tak masuk akal dan membuatku kesal hanya dalam hitungan detik. Aku mengedipkan mataku yang sudah berkerut. Mencoba menggodanya.

“Masih terlihat imut dan cantik, istriku.”

Kami tertawa bahagia malam ini. Dengan di hiasi sinar rembulan dan bintang-bitang yang bertaburan seperti taburan coklat warna-warni dalam toping ice cream.

*.*.*

The End

Selain dari lagu itu, cerita ini terinspirasi dari orang tuaku. Semalem pertandingan bola kan? Eh, nenek dan kakek itu malah berantem rebutin tim merah inilah, itulah. Lama-lama aku pecahin tu tv nya. Aku mah udah kalah deh, kalau urusannya kesukaan orang tua. K-Drama pun tersingkirkan oleh pertandingan bola. Huaaa L L L

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s