Tarian Malam Senja di Musim Hujan

Lentera kuning mulai menyala

Malam mencekam itu pun tiba

Dimana musik, irama, nada, dan alunan senja dimulai

Menampakkan keberadaan mereka dengan angkuhnya.

*

Tak dapat ku berlari kencang

Tak dapat jua ku suarakan jeritan dari hati yang lara ini

Menenggelamkan semua keluh kesah hanya untuk diriku sendiri

Diantara puluhan lentera yang telah menyala.

*

Burung malam mencekam rumahku

Bernyanyi, bersorak sorai atas kesedihanku malam ini

Tak perduli dengan malam yang semakin jelas akan terlihat

Merengkuh semua kebahagiaan yang ku miliki sebelumnya di siang hari

Memperingatkanku akan ada saatnya dimana aku harus diam.

*

Aku tertidur tertelungkup di atas kasur kerasku

Meraung-raung dalam jeritan diamku dalam hati

Ingin sekali aku berteriak dan memaki

Memaki dia yang menghakimiku dengan seenak dirinya.

*

Tidak,

Jangan katakan lagi

Aku,

Aku bukan anak pembawa sial

Bukan pula perusak keluargaku.

*

Tolong,

Lihatlah aku dengan mata nuranimu

Bukan aku yang melakukan semua ini pada keluarga kita

Bukan aku anak pembawa sialnya

Aku hanya ingin kau menerimaku,

Bukan mengerti keadaanku sebagai anak di dalam keluarga

Tapi menerima posisku,

Posisiku sebagai anakmu, darah dagingmu, dan generasimu

Hanya itulah pintaku padamu.

 

 

By.SHIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s