Family Day

Cast: Cho Family ||

Genre: Married Life – Family time – Complicated||

Length: Series || Author: Hyun*ie ||

Note: Feel-nya pasti kurang dapet. Akunya juga jadi bingung. Awalnya dulu hampir semua FF pakai Author POV, tapi sekarang-sekarang enaknya tuh pakai sudut pandang orang pertama. Jadi maaf jika kurang maksimal dalam penyampaiannya, dan juga untuk remahan typo-nya.

Thank you,,

*.*.*

Mereka semua masih di rumah kediaman Nyonya Cho. Saat matahari masih belum bersinar terang, tapi Ha In telah bangun dan mempersiapkan semua keperluan untuk mereka semua, terutama untuk buah hatinya.

“Nyonya?” Tanya bibi Shin menghampiri Ha In yang sibuk dengan peralatan masaknya.

“Oh,” Ha In menoleh ke belakang, lalu kembali fokus pada makanan dihadapannya setelah mengetahui bahwa orang tersebut salah satu pelayan di rumah mertuanya. “Apa aku telah membangunkanmu ?”

Dengan langkah pelan, bibi Shin menghampiri Ha In. “Tidak. Hanya saja saya merasa terkejut begitu kemari dan melihat anda sedang sibuk seorang diri disini. Mengapa tak membangunkan saya?”

Ha In tersenyum mendengar perhatian orang disampingnya, bibi Shin tak pernah berubah sejak dulu, selalu memperhatikannya dengan baik. “Aku sudah menjadi seorang ibu sekarang. Jadi mengapa masih merepotkanmu.”

“Tapi tetap anda Nyonya besar di rumah ini. Apa yang bisa saya lakukan untuk anda.”

Ha In memberikan sayuran dalam mangkuk sedang di hadapannya. “Kalau bibi tak keberatan, silahkan.”

Menu sarapan hari ini salad sayuran, roti sandwich, dan ayam goreng saus tomat.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.15 KST, tapi tak ada satupun dari ketiga anaknya bangun, bahkan Kyuhyun dan mertuanya pun belum menunjukkan batang hidungnya.

“Sayang bangun.” Ha In menggoyangkan sedikit badan putra sulungnya yang masih tertidur lelap. Kemudian Ha In melangkah menuju tirai jendela. “Cho Hyun-shik, kau tak mau bangun emm?” Bujuk Ha In lagi. Hyun-shik yang memang sudah tahu itu ibunya, semakin berpura-pura untuk tetap tertidur. Hal itu membuat Ha In jadi terlintas sedikit ide jahil di kepalanya, “Kau tidak akan bangun?” Bisiknya lagi tepat pada telingga sang anak. Ha In tahu betul, putra pertamanya paling benci jika ada orang yang berbicara sedekat itu dan dilakukan terus-menerus. “Cho Hyun-shik, kau tidak akan bangun?”

Beberapa detik kemudian, kedua mata Hyun-shik terbuka lebar. Tangannya langsung terulur ke arah Ha In, lalu menarik lehernya dengan erat supaya menjadi dekat dengannya. “Eomma poppo.”

“Poppo.” Hyun-shik tersenyum senang ke arahnya. “Sekarang bangun dan bantu eomma untuk membangunkan adikmu yang lainnya. Sementara eomma akan menyiapkan air panas untuk kalian.”

“Ne eomma.”

Begitu pintu di kamar mandi tutup, Hyun-shik segera turun membangunkan kedua adiknya. “Hyun-ki, Hyun-hwa, ppali ireona. Ini sudah siang.” Ujarnya sambil menggoyang-goyangkan bahu sang adik. “Ppali ireona.”

“Eomma, mereka tidak mau bangun.”

“Kuere? Biar eomma saja kalau begitu.” Ha In mendekati putranya yang masih berpura-pura tidur. Sebenarnya mereka semua sudah bangun, tapi saat Ha In membuka pintu kamar mereka, mereka semua malah berpura-pura tidur kembali. Sifatnya yang satu ini mirip sekali dengan appa mereka, Cho Kyuhyun. “Eomma membuatkan kalian makanan yang enak. Kalian tidak mau bangun emm?”

Mereka tetap tak terusik. “Hyunki-ah, Hyunhwa-ah, eomma mebuatkan kalian ayam goreng saus tomat. Kalian yakin tidak mau bangun? Eomma akan menghabiskan semuanya dengan appa dan Hyun-shik jika kalian tetap tidak mau bangun sekarang juga.”

“Ah ya, eomma andwe.” Rajuk Hyunhwa, putra keduanya ini sangat suka dengan ayam goreng yang kembali di masak dengan saus tomat. “Jangan habiskan.”

Ha In tersenyum senang. Tak susah membuat mereka terbangun, jika dengan makanan ancamannya. “Emm, kalau begitu segera bangun. Dan Hyunki-ya, eomma membuatkan salad dan sandwich untukmu. Ppali ireona-sseyeo.”

“Ne.” mereka semua telah bangun dan tanpa ada yang menyuruh, mereka langsung merapihkan tempat tidur masing-masing, baru setelahnya mereka mandi dan memakai pakaian ayang telah disiapkan Ha In sebelumnya.

Sarapan pagi baru bisa dimulai setelah jarum jam menunjukkan pukul 07.00 semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Sedangankan si kembar Hyun sibuk dengan nyanyian pagi mereka sambil menanti Ha In menyiapkan makanan mereka di PLATES-nya masing-masing.

“Eomma, kapan ayamnya datang?”

“Sebentar sayang, sebentar lagi datang.” Ha In menghampiri mereka dengan tiga piring yang masing-masing terisi dengan salad, ayam goreng saus tomat, dan nasi seaweed.

“Wah, ada salad, ayam, dan nasi seaweed. Keunde eomma, sandwichnya mana?”

“Nde?” Ha In terkejut dengan pertanyaan putra keduanya. “Kau sudah mempunyai nasi seaweed dipiringmu sayang. Sandwich tak akan cocok dengan menu di piringmu.”

“Ahh, sandwich.” Rengek Hyunhwa.

“Arraseo. Eomma akan berikan sandiwch padamu, lalu kembalikan nasinya dalam piring ini.”

“Shireo.”

“Wae? itu kesepakatannya.”

“Aku ingin nasinya dan juga sandwich.” Ha In dibuat terkejut oleh nafsu makan putra keduanya ini. “Hyunhwa-ya, kau tak boleh banyak makan. Badanmu akan membengkak nantinya.”

“Ah molla, molla.” Bukan merajuk lagi yang dilakukan Hyunhwa, putra keduanya ini bahkan sudah menangis kencang.

“Sudah berikan saja padanya Ha In-ah. Dia tak akan segemuk apa yang kau pikirkan. Berikan saja.” Bujuk Nyonya Cho.

“Tapi eomma,” Ha In kehilangan kata-katanya. Ia menatap ke arah Hyunhwa yang masih terus menangis di kursi makannya. “Ah arraseo, arraseo. Eomma berikan sandwichnya juga emm. Tapi berhenti menangis.”

“Hyunhwa-ya, berhenti menangis.” Ha In meraih kedua tangan Hyun-hwa yang ia pakai untuk menutupi wajahnya. “Uljimma. Baby boy. Eomma berikan sandwichnya untukmu. Satu?” Hyunhwa tetap tidak mau berhenti menangis. Ia terus terisak-isak seperti orang menahan kesakitan. “Eomma berikan dua. Dua sandwich.” Baru setelah itu Hyun-hwa terdiam, ia berhenti sebentar mendengar bujukan Ha In. “Cha, berhenti menangis emm.” Kali ini bocah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hapus air matamu.”

“Eomma, Hyun-ki ingin sandwich juga.”

“Hyun-ki ingin juga?”

“Emm. Aku tak ingin nasinya.” Ha In menuruti apa yang mereka inginkan. Mereka memiliki selera yang berbeda-beda. Hyun-ki yang agak susah jika di bujuk makan nasi, Hyun-hwa yang pemakan segala, sedangkan Hyun-shik lebih tak suka dengan sayuran yang banyak di piringnya.

“Hyun-shik ingin juga?” Hyun-shik menggeleng tak mau. Mulutnya penuh dengan kunyahan ayam goreng dan bibir serta wajahnya menjadi terlumuri saus. Mengurus tiga anak sekaligus memanglah sangat menyulitkan. Tapi saat kau melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan tanganmu sendiri, kau akan merasa bangga pada dirimu karena telah membuat mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik hingga saat ini.

*.*.*

“Eomma, Songsaenim memberikan tugas untukku”

“Apa yang harus dilakukan dengan tugasmu itu?” Ha In sedang duduk santai di sofa ruang keluarganya.

“Songsaenim bilang aku harus menggambar buah-buahan atau sayuran.”

“Lalu?”

“Eommmaaaa” Hyun-ki mulai merajuk. Dia melemaskan bahu tegaknya, menatap Ha In dengan lelah. “Eomma, aku tak bisa menggerjakan tugasnya.”

Ha In mengerutkan dahinya dan mengangkat alis kirinya. “Ya Eomma tahu, kau tak menyukai menggambarkan? Tapi sayang, itu tugasmu. Jangan kau jadikan kelemahanmu sebagai jembatan kau bisa lolos dari tugas yang diberikan saem kepadamu. Dan jangan pula kau menyuruh orang lain yang menggerjakannya, paham?” Titah Ha In.

“Lalu aku harus bagaimana?” Isak Hyun-ki, sementara kedua kakaknya lebih terlihat tenang dengan tangan yang penuh coretan crayon dan pensil warna.

“Eomma bantu Hyun-ki, tapi Hyun-ki berjanji harus melakukannya nanti sendiri. Paham? Jangan menyuruh Hyun-shik ataupun Hyun-hwa, arra?”

“Bagaimana dengan app?”

“Appa juga tak boleh. Halmeoni, harabeoji, imo Shin juga tidak boleh. Janji?” Ha In mengangkat jari kelingkingnya. Hyun-ki pun mengambil jari tersebut dan menariknya dengan jari kelingking miliknya juga. “Janji.”

“Anak pintar.”

“Eomma,” Hyun-shik berseru. “Bagiamana denganku?”

“Aku juga. Bagaimana denganku.” Ah, Ha In melupakan kedua putranya. Ia seharusnya mengingat dengan baik, bahwa putranya tak hanya satu, melainkan tiga.

“Hyun-shik dan Hyun-hwa perhatikan eomma dulu, baru setelah itu eomma akan mengajarakan kalian satu persatu. Oke?”

“Nde.” Jawab keduanya.

“Nah sekarang, mana tangan Hyun-ki?” Hyun-ki menunjukkan kedua lengannya yang terbuka. “Lalu mana pensil warnanya?”

“Igeo. Igeo eomma.” Hyun-ki menunjukkan crayon warna merah ditangannya.

“Oh, pegang crayon-nya dengan baik sayang.” Tak hanya Hyun-ki, Hyun-shik dan Hyun-hwa pun mengikuti apa yang di ucapkan Ha In. Ha In memegangi lengan Hyun-ki, ia mengarahkan lengan putranya untuk mengikuti pola yang dibuatnya. “Kalian tahu seperti apa telinga kalian.”

Hyun-shik menengadahkan wajahnya menatap Ha In. “C. seperti huruf C.”

“Oh Hyun-shik benar. Seperti huruf C. sekarang kita buat huruf C, dan satu lagi huruf C yang terbalik arahnya. Mereka saling berhadapan. Lalu kita buat angka satu di atas kedua huruf C-nya dengan warna coklat, dan kita berikan daun di salah satu sisi angka satunya menggunakan warna hijau.”

“Wah eomma, ini apple?” tanya Hyun-hwa dengan nada terkejut.

“Ya itu apple sayang. Sekarang Hyun-shik kemari, eomma akan ajarkan bagaimana cara membuat jeruk.”

“Hyun-shik ambil warna orange-nya.”

“Eomma ini bukan orange, tapi jingga.” Perkataan Hyun-shik membuat Ha In malu seketika.

“Ah ya, itu jingga bukan orange. Maafkan eomma emm. Mengapa jadi aku yang terlihat bodoh disini. Aigoo.” Lirih Ha In di akhir kalimatnya.

Mereka masih asyik menggambar, mengerjakan tugas yang diberikan guru playground mereka tadi siang. Usia mereka memang masih terhitung sangat muda. Tapi mereka sudah merengek ingin sekolah seperti anak-anak yang lainnya, untuk itu Ha In dan Kyuhyun berdiskusi sebentar untuk memutuskan hal tersebut. Ha In dan Kyuhyun setuju saja, asalkan mereka senang melakukannya, tidak memaksakan mereka jika sudah tak ingin pergi ke sekolah, lagi pula usia mereka belum saatnya untuk masuk pendidikan, jadi hal itu tak membuat mereka dituntut harus selalu pergi ke sekolah. Dan juga, sekarang pendidikan bisa didapatkan diman saja. Tak hanya di sekolah atau pendidikan formal lainnya.

“Appa pulang.” Seru Kyuhyun sejak dari ambang pintu masuk ke rumah. “Appa pulang.” Serunya lagi saat ia tak mendapatkan perhatian putra-putranya.

“Oh, appa wasseo?” pancing Ha In sambil menghampiri Kyuhyun untuk mengambil jas dan tas kantornya.

Kyuhyun mengecup Ha In yang tengah melucuti jasnya, dan meraih tas kantornya. “Mereka sedang menggambar. Tugas dari sekolahnya.”

Ha In menyampirkan semua yang ada ditangannya pada salah satu sofa, kemudian ia beranjak ke dapur untuk menjamu suaminya yang baru saja pulang. Sedangkan Kyuhyun menghampiri ketiga putranya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” mereka bertiga tetap bungkam. Hampir satu buku gambar barunya, kini telah dipenuhi oleh berbagai gambar buatan tangan ahli mereka yang Ha In ajarkan tadi. Mulai dari Tomat, Apple, Jeruk, Perahu Nelayan, dan masih banyak yang lainnya. “Jadi tak ada satupun yang menginginkan appa?”

Ha In mendekatinya dan memberikan secangkir air putih. “Biarkan saja. Sebentar lagi mereka akan mulai bosan dan memperhatikanmu. Sekarang pergilah mandi, aku akan menyiapkan makan malam kita.”

“Baiklah,” ucap Kyuhyun dengan lesu. “Tapi sayang,” Kyuhyun berbalik menatap sang istri yang sekarang mulai menjauh.

“Ya?”

“Kemana eomma dan abeoji? Aku tak melihat mereka sejak dari tadi.”

“Mereka pergi ke rumah Ahra eonnie. Suaminya sedang berbisnis ke luar negeri, jadi noona-mu tak ingin tinggal di rumah sendiri. Maka, seperti yang kau ketahui.” Jawab Ha In tanpa melihat ke arah Kyuhyun. Fokus pandangan dan matanya tertuju pada bahan-bahan makanan yang ada di hadapannya.

Lima menit setelahnya, tiga Hyun telah selesai menggambar. Mereka menghampiri Ha In yang sibuk seorang diri di dapur.

“Eomma, aku ingin membantu.”

“Oh, Hyun-shik ingin membantu eomma?”

“Ne.”

“Aku juga ingin eomma.” Seru Hyun-hwa dan Hyun-ki.

Ha In menggambil wadah besar yang berisi daging sapi. “Hyun-shik, Hyun-hwa, dan Hyun-ki bisa menusuk-nusuk daging ini dengan garpu.”

“Sampai hancur eomma?”

“Sampai semuanya berlubang saja dan tak alot. Sampai hancurpun tak apa, asal jangan di potong atau di gunting. Arraseo?”

“Ne.” jawab ketiganya.

“Kita akan makan bulgogi eomma?”

“Anniya, bukan bulgogi. Tapi bistik. Kau akan menyukainya nanti.”

Untuk menunggu rebusan kentang, kacang buncis, dan wortel matang, Ha In mengambil kembali daftar belanjaan tadi siang. “Ya Tuhan, lebih banyak uang untuk makan mereka bertiga dari pada yang lainnya. Kyuhyun harus bekerja lebih keras lagi mulai sekarang.” Ha In menghela napas berat dan melihat putranya yang sedang asyik menusuk-nusuk daging mentah di depan mereka. “Adeul-ah, mengapa porsi makan kalian sama besarnya dengan appa? Usia kalian baru tiga tahun, tapi cara makan kalian sudah seperti Kyuhyun yang berusia 27tahun saat ini. benar-benar mengejutkanku.”

*.*.*

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s