Misunderstanding {Chapter 1}


Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – Jung Eun-ji||

Genre: Romance – Complicated – Comedy – PG-17||

Lenght: Chapter|| Author: Hyun*ie||

*.*.*

Jarum jam telah menunjukkan angka 12.30 KST itu berarti saatnya makan siang. Hampir di semua tempat makan di sudut kota ini, dipenuhi dengan mereka-mereka yang kelaparan sehabis bertarung dengan pekerjaan, dosen, sekedar mampir untuk beristirahat, ataupun yang kelelahan sehabis berbelanja. Seperti halnya Song Ha-in dan Jung Eun-ji.

Dua orang gadis sederhana itu tengah duduk di salah satu cafe dekat pusat perbelanjaan. Kona Beans. Cafe itu menjadi pilihan mereka karena disana tempatnya sangat nyaman, memakai konsep natural, dan sangat strategis dengan beberapa pusat perbelanjaan besar. Seperti halnya gadis pada umumnya, mereka tampak sedang asyik bercengkrama, duduk disalah satu sudut café ditemani iringan music dari café itu sendiri. Terlihat beberapa kantung kertas yang tersimpan dibawah kaki mereka. Mungkin mereka sedang memiliki sedikit waktu senggang di tengah-tengah jadwal kuliahnya yang padat.

Ah aku baru ingat. Mereka baru saja menyelesaikan Ujian Akhir di Sekolahnya. Tak lama lagi mereka akan segera lulus. Hanya tinggal menunggu hasilnya keluar, dan mulai memilih Universitas mana yang akan dituju untuk selanjutnya.

Mereka tak menyadari bahwa sejak lima menit duduknya mereka disana, ada sepasang dua buah bola mata yang tertarik dengan kehadiran mereka. Sebenarnya mata itu hanya tertarik pada satu objek diantara dua objek itu. Wanita muda yang memakai celana jeans dan baju berkaos putih dengan jaket hitam yang menempel di badannya.

Dari sudut ruangan cafe, nampak namja muda yang sedang asyik memperhatikan mereka. Apa mereka berdua tampak seperti buronan yang sedang di incar pihak keamanan hingga namja tersebut tak berhenti memperhatikannya?

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya seorang wanita yang lebih dewasa dari namja tersebut.

“Noonaaaa, kau mengagetkanku saja. Sejak kapan kau disini?” Sang kakak perempuan hanya tersenyum puas karena kedatangannya ternyata dapat membuat sang adik yang sedang terpaku ke depan menjadi terkejut seperti buronan yang akhirnya tertangkap basah.

“Kau sangat lucu Kyuhyun-ah.” Ahra merangkul pundaknya dan mulai mengompori sang adik. “Kau menyukai dia? Yang mana yang kau pilih? Rambut panjang dengan tas selendang warna brown? Atau gadis berambut pendek dengan tas kecil yang berwarna peach? Hmm, yang mana?”

Tanpa sadar Kyuhyun bergumam pelan, “Yang berambut panjang, memiliki tas berwarna brown, memakai jeans, kaos putih gambar beruang, dan jaket hitamnya. Ya Tuhan, rambutnya panjang bergelombang itu terurai indah.” Sesaat kemudian Kyuhyun merasa ada yang salah. Ia mengernyit heran dengan membentuk garis kerutan baru di dahinya “Eh?” Lalu ia menoleh ke arah samping, tepat di depan wajah sang kakak. Yang memberikannya tatapan “Apa?” Oh heol~ Kyuhyun hanya bisa mengangkat kedua tangannya sambil mengendikkan bahu. Bukankah alangkah lebih bijaknya ia memperhatikan lagi gadis incarannya? Dibandingkan harus berdebat dengan sang kakak?

“Dia hanya ilusi atau apa?” Gadis itu hilang dari jangkauan indera penglihatannya. Hingga membuat Kyuhyun geram. Sampai ia berpikir bahwa dirinya gila. “Aku bermimpi?” Tanya Kyuhyun kembali pada dirinya sediri.

Ahra berjengit senang. Sepertinya ia menemukan satu cara untuk menjahili Kyuhyun. Bukankah ia belum melakukannya pada hari ini? jadi, inilah saatnya. “Tidak. Kau mau membuktikan bahwa ini semua nyata?”

“Ya.”

“Lakukan dengan caraku?” Tanya Ahra dengan seringai yang muncul di wajahnya.

“Lakukan dengan caramu noona. Dan cepatlah!”

Tak lama kemudian Kyuhyun meringgis kesakitan sambil memegangi pipi kanannya. “Kau menamparku?” Kesalnya tak terima.

“Kau bilang lakukan dengan caraku. Itu caraku untuk membuktikan bahwa ini nyata. Dan gadis itu memang benar ada disini tadi. Sekarang ia menghilang karena ia berjalan ke arah samping kanan pintu masuk. Toilet.”

“Owh. Kenapa tak bilang?”

“Kau tuli ya kan? Aku baru saja mengatakannya padamu. Ya, terkadang cinta bisa membuat kita menjadi merasakan bahwa kopi hitampun terasa manis seperti madu.” Kyuhyun hanya bisa berdecik tak suka memandangi kakak perempuannya ini. “Ya baiklah, ku beritahu padamu. Lakukan sesuatu yang bisa membuat ia tertahan disini. Dia sedang masuk ke toilet sekarang.” Bisik Ahra diakhir kalimat. Lalu ia pergi begitu saja ke pantry dapur. Meninggalkan Kyuhyun yang tengah berpikir cara apa yang akan ia gunakan untuk menarik perhatian gadis itu.

*.*.*

“Kita sudah membeli semua barang?”

“Ya. Kurasa tak ada yang terlupakan. Hanya saja, uangku terkuras habis.”

Gadis itu menyeringai saat mendengar penuturan dari temannya. “Lain kali kita pergi bersama-sama lagi eoh?”

Gadis berambut panjang bergelombang itu hanya mendengus kesal. “Ku harap tidak ada kata lain kali!”

Tak berapa lama seorang pelayan wanita muda menghampiri mereka. Wanita itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi permintaan sang konsumen. “Itu saja pesanan kami. Terima kasih.”

“Harap tunggu sebentar lagi. Pesanan anda akan siap dalam beberapa menit.”

“Nde, gomawo aggahsi.”

Setelah mengutarakan keinginan mereka dari beberapa daftar menu cafe, mereka kembali asyik dengan obrolan menarik yang mereka ciptakan sendiri. Dan kedua bola mata itu pula, tak berhenti memperhatikannya. Terus memandang ke arah meja bernomor 13. Bahkan tatapan dari beberapa pengunjung cafe disana yang sebagian di dominasi oleh para wanita muda dan remaja, tapi tak membuat Kyuhyun teralihkan pandangannya ke meja yang lain. Fokus pada angka 13. Pada seorang gadis yang bernama . . . . Astaga, dia harus mengetahui namanya!

“Aku ingin mencuci tanganku dulu. Aku merasa kurang nyaman dengan debu-debu yang menempel ini.” Sambil memperlihatkan tangannya yang agak kusam dan tak lembab seperti tadi pagi.

“Eoh, hati-hati. Jangan sampai terbentur ataupun terjatuh, lagi!”

Wanita itu mendelik kesal kearah temannya dengan mulutnya yang tak berhenti bergerak untuk mendumal. Terbentur? Ataupun terjatuh? Yang benar saja dia. Mengalami rabun jauh tidak akan membuat penderitanya jatuh konyol. Kecuali kalau si penderita memang ceroboh, hingga tak memperhatikan jalan.

*.*.*

“Oh, dompet wanita itu terjatuh?” Kyuhyun menatap sang pemilik tak percaya. Bagaimana dompet sebesar itu tidak membuat sang pemilik menyadarinya? Setidaknya dengan suara debuman lantai yang di timbulkan dompet itu saat terjatuh, akan membuat kita menyadarinya. Tapi dia?

Kyuhyun memungut dompet itu, hendak mengembalikan kepada pemiliknya. Namun, sejenak ucapan Ahra terlintas di benaknya. “. . . Lakukan sesuatu yang bisa membuat ia tertahan disini. . .”. “Jika aku menyembunyikan dompet ini untuk beberapa waktu, tidak akan membuatku di penjarakan? Hanya sedikit dosa saja.” Diam-diam Kyuhyun memasukan dompet itu ke dalam kantong jaket birunya. Berjalan santai menuju ke tempat kasir kembali, seolah-olah tak melakukan apapun.

Setelah sepuluh menit kemudian, Ha-in dan Eun-ji menyudahi acara makannya. Memanggil pelayan wanita itu kembali untuk meminta bon-nya.

“Berapa semuanya?”

“13.000won Nini-ie.” Ucap Eun-ji sambil memperlihatkan nomial angka yang tertera disana.

“Baik Nona, nan arraseo. Sebentar.” Ha-in mengobrak-abrik isi tasnya kembali. Tapi tetap tak menemukan benda yang dicarinya. Sampai semua isi tas di simpan di atas mejapun, benda itu tetap tidak ada. “Kau menyembunyikan dompetku?”

“Aku bukan Nara, yang karena kurang pekerjaan hingga mengusilimu. Lagi pula aku tidak akan sekejam itu padamu Nona Song.”

“Ah bagaimana ini. Tetap tidak ada. Kau masih punya uang bukan?”

“Aku hanya ada untuk membeli bahan bakar. Kita tidak akan bisa pulang jika . . .”

“Aku tahu, aku tahu. Ehm, aggashi, apa kau menerima jaminan? Ah setidaknya mungkin benda berharga ini cukup untuk membayarnya. Kami tak akan memintanya kembali.” Ha-in mencopot anting di telinganya. Emas kuning dengan mata berlian kecil yang menghiasinya.

“Hain-ie kau gila? Itu 5x lebih mahal dibandingkan dengan makanan kita. Jangan berbuat gegabah. Apa yang akan kau katakan pada eomma-mu nanti jika dia menanyakan benda yang selalu menempel di telingamu itu?”

“Aku tak punya pilihan lain. Aku bisa berbohong dengan menghilangkannya. Ayolah Eunji-ah, aku sudah cukup malu disini.”

Mereka berdua terus berdebat tanpa menghiraukan pelayan wanita yang berdiri diantara mereka. Hingga akhirnya pelayan tersebut mengintrupsi percakapannya. “Maaf menyela aggashi. Masalah ini lebih baik kita tanyakan pada manajemen cafe ini. Tunggu sebentar. Akan saya panggilkan manajemennya.”

Ha-in dan Eun-ji hanya bisa saling menatap pasrah akan satu sama lainnya. Beruntung penghuni cafe yang lain sudah meninggalkan tempat ini beberapa menit yang lalu. Hanya ada mereka, dan tiga pelanggan lainnya yang masih betah duduk di ruangan VIP.

Jika Ha-in dan Eun-Nini-ie berada dalam kebingungan, maka berbeda hal nya dengan Kyuhyun. Oh tenang saja, ia kini tengah tertawa geli menatap kedua gadis itu. Merasa bahwa Dewi Keberuntungan berada di pihaknya kali ini.

“E-ehkm. Ada yang bisa aku bantu disini?”

“Kedua gadis ini yang tadi ku ceritakan. Mereka menanti kebijakan dari anda.” Cemooh Ahra. Ah, sejak awal dia tahu jika ini adalah ualh adiknya. Tapi jika ia langsung membertahukan pada gadis itu, mungkin adiknya, Kyuhyun yang malah akan mendapat makian akan tindakannya yang tak terpuji.

“Kau boleh bekerja kembali Nona.” Ahra dan pelayan yang mengikutinya sejak tadi pergi setelah melihat jari telunjuk Kyuhyun yang mengusirnya dengan tak sopan. “Dan untuk kalian berdua. Apa kalian memiliki hal lain yang bisa dijadikan pembayaran atas semua ini?”

“Ehm, aku bisa memberikan ini kepadamu. Bukan sebagai jaminannya. Sebagai bayaran dari semua ini.” Ha-in menyerahkan sepasang anting emas pemberian orang tuanya. Anting itu sudah melekat padanya sejak ia kecil. Tak pernah sekalipun terlepas dari daun telinganya.

“Jangan gila Hain-ie. Hanya karena kau kehilangan dompetmu dan tak bisa membayar semua ini, bukan berarti kau bisa menyerahkan begitu saja benda berharga pemberian orang tua mu. Harga perhiasan itu lebih mahal dari semua makanan tadi.”

“Tapi kita harus membayarnya.” Lirih Ha-in dengan perasaan malu sekaligus takut.

“Kau benar Nona Brown. Kau tak perlu membayar semua ini dengan benda berharga itu seperti yang Nona Peach katakan. Kau bisa melakukan hal lain jika kau memang benar ingin membayar semua pesanan yang telah kau habiskan.”

“Nona Brown? Nona Peach? Yang benar saja. Dia memanggil dengan warna tas yang kami pakai. Mengapa tidak sekalian saja ia memanggil dengan warna sepatu atau baju kami.” desis Eun-ji tak suka.

“A-pa? Apa yang bisa ku lakukan?” ucap Ha-in dengan nada bergetar. Entah mengapa menjadi ketakutan seperti ini. lebih menyeramkan dibandingkan dengan pelajaran yang diberikan guru killer di sekolahnya.

“Kau hanya perlu mencuci bersih semua alat makan yang dipakai pelanggan kami mulai detik ini. Membereskan semua kursi, meja dan lantai sebelum café ini tutup. Jangan pulang sebelum semua isi café tertata rapih dan bersih. Tolong ingat itu.” Kyuhyun langsung melenggang pergi menuju meja kasirnya kembali.

“Hei, dia bahkan tak memakan makanannya. Kau sedang mengadakan kerja rodi untuk para pegawaimu ya? Ku pikir ini berada di zaman era globalisasi yang menyenangkan. Tapi nyatanya penjajah Romusha sepertimu masih ada dimuka bumi mmmm.” Dengan segera Ha-in membekap mulut Eun-ji. Bukankah ada kemungkinan Kyuhyun akan menambahkan pekerjaannya.

“Terima saja apa yang telah ia katakan.”

“Tapi dia sudah keteraluan Ha-in. Itu sama saja dia sedang memperkerjakanmu. Upah kita untuk mengerjakan semua yang dikatakannya, melebihi apa yang telah kita pesan.”

“Aku paham Eunji-ah. Tapi kita berada di posisi yang salah. Kita tak mungkin membangkang pemilik café ini lagi. atau kau mau kita dibawa ke kantor polisi?”

“Hanya untuk 13.000won yang telah kita makan? Gila saja..” Eun-ji mendesah pasrah akan harinya. “Ya, kau ada benarnya juga. Lebih baik kita cepat selesaikan sebelum hari menjelang malam.”

“Lewat sini aggashi.” Pelayan yang diketahui bermarga Park itu menghampiri mereka berdua untuk menunjukkan tempat ganti pakaian dan arahan untuk bekerja.

*.*.*

Waktu terus berganti hingga kini jarum jam yang semula menunjukkan pukul 13.15 telah bergeser menjadi 19.58 KST. Dan itu artinya, Ha-in dan Eun-ji telah berkutat dengan pekerjaan dadakannya selama kurang lebih enam jam. Tak ada pergantian pekerja untuk mereka berdua.

“Kami telah selesai.”

“Tapi ini masih jam delapan malam. Masih ada waktu tiga jam lagi untuk kalian menyelesaikan pekerjaan yang lainnya.” Ucap Kyuhyun kembali.

“Tapi ini sudah terlalu malam pak. Ku pikir pekerjaan kami tadi sudah cukup untuk membayar makanan kami berdua. Kami berasal dari daerah Jongno. Perlu waktu lebih dari tiga puluh menit dari sini. Itupun kalau sedang tidak macet. Dan ini sudah malam. Tolonglah kami. kami berjanji besok untuk kesini lagi membayarnya dengan uang.”

“Tidak bisa.” Tegas Kyuhyun. “Dan jangan sekali-kali lagi memanggilku dengan sebutan yang lebih pantas kau tujukan pada pamanmu!”

“Tolonglah.” Ha-in mencoba memasang wajahnya untuk lebih memelas seperti kucing yang minta dielus oleh pemiliknya.

“Kau tidak dengar apa yang diminta oleh Ha-in? Kau tuli ya kan?” maki Eun-ji. ia sudah mencoba menahan amarahnya sejak tadi siang sampai sekarang yang diperintahkan seperti seorang budak oleh Kyuhyun. Tapi jika sampai kali ini ia harus bersabar kembali, rasanya itu tidak mungkin.

“Eun-ji, kendalikan emosimu.” Dengan tampang angkuhnya ia memalingkan wajah ke samping, melipat tangan laksana seorang ratu kerajaan yang marah.

Eun-ji mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tak salah lihat bukan? Itu seperti, “Permisi Nona, itu, kau temukan dimana?” tanpa sadar Eun-ji menarik-narik tangan Ha-in.

“Apalagi? Aku sedang meminta maaf padanya akibat ulah dari mulut luar biasamu yang terlampau pintar itu.”

“Itu, bukankah itu dompet milikmu?” ucap Eun-ji. kedua matanya tak berhenti memperhatikan apa yang dilakukan wanita yang ia lihat pertama kali.

“Apa? Dimana?”

Eun-ji menarik lebih keras lengan Ha-in untuk ikut menoleh kearah yang ia maksud.

“Oh ini ku temukan disini. Kau wanita bernama Song Ha-in?” Ahra bergetar ditempatnya. Seharusnya ia melirik kanan-kiri terlebih dahulu sebelum melakukan hal ini.

“Ya. Itu namaku. Dan itu dompetku. Oh ya Tuhan terima kasih Nona. Kau telah menemukannya? Aku bisa membayar semua makananku sekarang.”

“Oh ini ku kembalikan. Tidak masalah, senang bisa membantumu.” Ahra dengan enggan memberikan dompet itu pada Ha-in. Pasalnya bola mata Kyuhyun sejak tadi tidak pernah lepas menatapnya dengan amarah yang telah mengumpul di puncak kepalanya. Kesalahan dirinya pula yang ikut terbawa penasaran oleh isi dompet gadis yang menjadi incaran adiknya. Pasalnya, ini baru pertama kalinya Kyuhyun langsung terpikat pada seorang gadis pada pandangan pertama. Ia tentu tak mau jika Kyuhyun gegabah dalam bertindak mencari pasangannya, jadi ia pun merasa perlu untuk ikut campur di dalamnya.

“Ini pak, bayaran atas semua makanan kami.” Ha-in menyerahkan uang 13.000won sesuai jumlah tagihannya tadi. Wajahnya kini terlihat sangat riang. Bagaimana tidak? Ia bisa membayar makanannya tadi, sehingga dia tak perlu berada disini untuk waktu yang lebih lama lagi.

“Ti-tidak perlu. Kau telah membayarnya dengan bekerja sedari tadi disini.” Jawab Kyuhyun merasa tak nyaman. Mungkin dipikirannya kini ialah, apa Ha-in dan Eun-ji akan berpikir bahwa ini sebuah kesengajaan yang dilakukan olehnya?

“Dia benar.” Tunjuk Eun-ji dengan jari telunjuknya yang kurang ajar mengarahkan pada hidung Kyuhyun. “Tak sepantasnya kau membayar semua itu dengan uang. Tenaga kita sudah terkuras habis sejak hampir tujuh jam yang lalu. Bukankah begitu Tuan Cho yang Ter-hormat!” tekannya diakhir kalimat.

Kini giliran Ahra yang melotot ke arahnya. Ia tak habis pikir dengan apa yang telah adiknya lakukan pada pelanggannya. Ia tahu bahwa Kyuhyun mengagumi salah satu pelanggannya yang kini tepat berada di hadapannya, tapi ini bukan cara yang benar untuk melakukan usaha pendekatan. Apa yang ada dipikiran seorang wanita jika ia tahu pria yang menyukainya melakukan cara yang aneh dan terlampau kurang ajar seperti yang Kyuhyun lakukan. Bukankah dapat dipastikan bahwa wanita itu akan kabur?

Ahra tak tahu menahu tentang hal ini, karena setelah tadi ia mengantar mereka berdua, Ahra keluar untuk menemui temannya. Sehingga dia tak tahu jika kedua gadis itu harus bekerja tanpa henti, dan tanpa pergantian pegawai.

“Emm tak perlu aggashi. Kau bisa menyimpan uangmu itu untuk transfortasimu pulang nanti.” Ucap Kyuhyun dengan agak tergagap. Ia takut jika Ahra tak hanya memarahinya, tapi melaporkannya juga pada sang eomma.

“Tidak Tuan. Uang ini sudah menjadi hakmu. Karena kami telah menikmati apa yang di sajikan café ini.”

“Song Ha-in!”teriak Eun-ji disampingnya.

Kaena Kyuhyun yang terus menolak, dan mulut Eun-ji yang tak bisa diam, maka Ha-in menyimpan uang tersebut di depan meja kasir. “Sudahlah. Kau tutup mulutmu itu. Dan kita ganti baju sekarang juga. Eomma ku akan berang saat putrinya ini masih berada di luar di saat jam yang telah ditetapkannya di langgar olehku. Ayo!”

“Cho, kau berhutang penjelasan padaku.”

“Noona. Kau mengacaukan segalanya.”

“Kau juga yang terlewat batas. Kau pikir mereka itu manusia yang hidup untuk mengabdikan dirinya padamu.”

“Kami permisi pamit. Terima kasih.” Entah apa, Ha-in yang bodoh atau dia memang terlampau memiliki etika sopan santun yang sudah melekat pada dirinya? Disaat seperti itupun, sempat-sempatnya ia membungkuk untuk berpamitan. Dihadapan orang yang sedang beradu argument pula.

“Emm. Kau baik-baiklah dijalan. Jangan menginjak terlalu dalam memutar gasnya hanya karena takut dimarahi orang tuamu. Berikan kami nomor ponselmu. Kami akan bertanggung jawab jika orang tuamu sampai memarahimu.”

“Tidak perlu aggashi. Eomma ku tak akan semarah itu.”

“Apanya yang tidak. Kau tak ingat. Terakhir kali kita telat lima menit dari perpustakan, dan eomma mu menyeburkan amarahnya padamu karena kau yang mmmm. . . ”

Ahra dan Kyuhyun terlihat tercengang di ambang pintu café, mengantrakan kepergian mereka berdua. Mungkin mereka tak menyangka jika Ha-in hidup dengan pendidikan keluarganya yang teramat disiplin.

“Tak perlu didengarkan ucapannya. Dia hanya bercanda. Karena terlampau lelah.”

“Tidak, tidak. Aku tak mau kau dimarahi oleh orang tuamu Nona Song. Ayo berikan nomor ponselmu. Tak akan aku publikasikan.”

“Berikan saja padanya. Supaya kita cepat pulang dan ibumu tak memberikan petuahnya pada kita.”

“Mmm, baiklah. Ini. Mohon bantuannya Nona.” Ha-in memberikan secarik kertas yang tertera nomor telepon miliknya.

“Ya terima kasih. Panggil aku Ahra saja.”

Ha-in tersenyum manis padanya. Ia membungkuk sekali lagi pada Ahra dan Kyuhyun. Lalu pergi dengan motor scopy yang Eun-Nini-ie kendarai.

“Bye.” Ucap Ahra. Ahra menepuk perut Kyuhyun dengan agak keras. “Nah, kau boleh mendapatkan nomornya. Tapi kau tanggung sendiri resiko dari eommanya.”

“Apa? Noona. Kau tak dengar apa yang dikatakan wanita Peach itu? Eomma nya sangat pemarah kepada putrinya sendiri. Apalagi kepadaku? Yang notabenenya bukan siapa-siapa dia.” Kyuhyun terus mengikuti kemana kakaknya pergi.

“Hadapi sendiri.” Acuh Ahra kepada sang adik. Ia lebih memilih untuk kembali ke pantry yang merupakan area favoritenya. Ia tak memperdulikan rengekan Kyuhyun yang makin terdengar sangat jelas ditelinganya.

*.*.*

To Be Continued

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s