Misunderstanding {Chapter 2}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – Jung Eun-Ji||

Genre: Romance – Complicated – Comedy – PG-17||

Lenght: Chapter|| Author: Hyun*ie||

*.*.*

Entah bujukan seperti apa yang Eun-ji lakukan pada Ha-in hingga ia mengiyakan ajakannya untuk bekerja di Kona Beans kembali setelah insiden yang memalukan itu. Awalnya Ha-in menolak tawaran tersebut meskipun gaji yang ditawarkan padanya terbilang lumayan besar, hanya saja urusan jaraklah yang membuat ia enggan. Pasalnya Kona Beans terletak di daerah Seoul, Sinsa-dong, Gangnam-gu, sementara rumah Ha-in berada di daerah Dae-jeon. Berkali-kali Ha-in memikirkan tawaran menggiurkan ini, tapi dia juga harus memikirkan berapa dana bus yang harus dikeluarkannya. Jika ia meminta pada orang tuanya, itu tak mungkin, jatah uang sakunya sudah diberikan semua pada awal bulan, ini baru pertengahan bulan, ia tak mungkin meminta uang tambahan pada orang tuanya. Tapi Eun-ji yang memang telah tahu maksud dari perbincangannya dengan Ahra dan Kyuhyun, bersikukuh pada Ha-in untuk menerima tawaran tersebut. Jika Ha-in mau bekerja disana, otomatis dia pun akan ikut bekerja di tempat tersebut, seperti yang Kyuhyun janjikan sebelumnya padanya melalui sambungan telepon.

“Ayolah, terima saja. Kau tak perlu memikirkan berapa uang trasnportasi yang akan kau keluarkan. Aku memiliki scoppy, nah untuk pengisian bahan bakarnya, kita bagi dua saja, jadi tak terlalu memberatkan. Bagaimana?”

“Kau yakin?” Tanya Ha-in kembali. Bukan masalah pembagiannya, tapi perjalanan itu cukup jauh, yang Ha-in takutkan, mereka berdua akan mudah terkena flu.

“Aku yakin. Pikirkan ini, berapa yang bisa kau tabung untuk biaya keperluan kuliahmu beberapa bulan lagi? Dan kau juga bisa membelikan ibumu sedikit hadiah dari hasil jerih payahmu. Bagaimana?”

“Kau memang ada benarnya Jung Eun-ji. Tapi yang ku takutkan ialah, kau akan kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh ini. Kita harus pulang-pergi antara Gangnam-gu dan Dae-jeon. Aku takut kau akan mudah sakit nantinya.”

Eun-ji mengibaskan tangannya diudara di sebrang sana, seolah menganggap bahwa ucapan Ha-in itu hanyalah omong kosong belaka. “Aku akan baik-baik saja, selama aku masih memiliki banyak stock jaket tebal dalam lemariku. Jangan pikirkan yang lain. Ini kesempatan langka untuk kita berdua. Soal kesehatanku, aku selalu meminum susu dan vitamin setiap harinya. Kau juga harus melakukan itu, kondisi tubuhmu bahkan lebih buruk daripada diriku.”

Ha-in tersenyum dengan ucapan Eun-ji. Dia benar, bukan kesehatan Eun-ji yang harus ia khawatirkan, tapi kesehatannya sendiri. Sejak kecil Ha-in memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik, ia juga menderita anemia, untuk itulah mengapa dia selalu pulang-pergi ke rumah sakit besar pada saat masih balita sampai usianya menginjak delapan tahun.

“Oke kalau begitu. Besok kita mulai bekerja?” Tanya Ha-in yang kini mulai bersemangat.

“Bukan besok. Tapi hari ini. Kita masuk pada jam kedua. Maksudku bagian malam. Ya itulah yang dikatakannya padaku kemarin.” Ucap Eun-ji dengan santai.

“APA?!!” Mengapa sahabatnya tak memberitahukan ia akan hal ini? Ha-in terkejut bukan main. Membuat lawan sambungan teleponnya diseberang sana ikut terkejut akibat pekikan suaranya.

“Ish” Eun-ji yang berada di sambungan telepon, mendecik kesal pada temannya.

“Tapi tunggu, mereka menelponmu? Mengapa tidak padaku? Bukankah yang mereka pinta hanya nomorku saja? Bagimana bisa?”

“Chogio Nona Song, sebelumnya, saat kau pergi ke toilet, gadis yang bernama Cho Ahra itu mendekatiku, dia meminta nomor teleponku dan dirimu.”

“Ah, pantas saja kalau seperti itu. Lalu mengapa mereka memintanya lagi padaku?” Gumam Ha-in, tapi cukup jelas terdengar oleh lawan bicaranya di ujung sana.

“Nde?”

“Ah tidak, lupakan. Lalu kapan kita akan berangkat? Aku masih belum melakukan apapun karena terlalu malas.”

“Segera bersiap, kita berangkat pada jam 14.15 KST.”

“Arraseo.” Ucap Ha-in. Ia kemudian mematikan sambungan telepon tersebut dan segera bersiap seperti yang dikatakan Eun-ji padanya tadi, karena sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 13.00 KST.

*.*.*

“Kau masuk duluan.” Dorongnya pada tubuh Ha-in.

“Tidak bisa. Kau yang telah bicara pada mereka. Jadi kau yang lebih dulu masuk. Ingat, aku hanya pengikutmu disini.” Sanggah Ha-in. sebenarnya itu hanya alasan klise saja. Yang pasti ia masih sangat malu dengan kejadian kemarin yang menimpa dirinya.

“Tapi yang mereka inginkan adalah dirimu.” ujar Eun-ji tanpa sadar.

“Apa? Apa maksud dari ucapanmu?” Ha-in menarik tangan Eun-ji, tapi dengan segera tarikannya terlepas karena yang terjadi sekarang ialah Eun-ji yang menarik tangannya dan membawa ia masuk ke dalam Coffe Shop tersebut.

“Kami datang.” Sambutnya pada para karyawan yang ada di dalam sana. Terlihat ada dua orang yang sedang memberikan pelayanan pada costumer, Ahra dan Kyuhyun yang berada di balik meja kasir, dan seorang karyawan yang tengah membereskan meja.

“Oh kalian datang juga?” sambut Ahra. Dia segera menghampiri kedua gadis tersebut yang tengah berdiri kikuk di depan pintu masuk. “Ku pikir kalian tak akan datang Jung Eun-ji.” tekannya pada kata Jung Eun-ji.

Eun-ji tersenyum ragu, yang malah membuat Ha-in semakin bingung, memang apa yang telah mereka bertiga bicarakan sebelumnya, dan rencana apa yang akan mereka lakukan tanpa melibatkan dirinya. “Tak mungkin itu eonnie, aku telah berjanji padamu. Dan aku adalah orang yang tak ingkar janji apabila sudah berkata Ya.

“Syukurlah.” Ahra mengusap pundak Ha-in sebentar. Mungkin ia tahu dari cara berdirinya gadis itu. Sampai sekarang Ha-in merasa salah karena telah berdiri disini, di tempat yang sama seperti kemarin. Hanya berbeda suasananya saja. Tapi yang lebih membuat ia malu, apalagi jika bukan berdiri dihadapan pemilik Coffe Shop tersebut. “Jangan merasa sungkan. Itu murni kecelakaan.” ucapan Ahra tersebut, membuat Ha-in menoleh ke arahnya dan tersenyum lega. Pemiliknya tak mempermasalahkan hal ini lagi. “Sekarang ganti pakaian kalian ke belakang, dan mulai bekerja. Kita memiliki beberapa pesanan yang harus segera diselesaikan hari ini.”

“Nde.”

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 KST, semua area Coffe Shop telah beres dan rapih. Dan tibalah untuk mereka bergegas pulang. Tapi sebelum Ha-in menutup kembali lokernya, dari arah belakang dirinya, seorang karyawan lain bernama Je-bin menepuk pundaknya.

“Oh, oppa, ada apa?” Tanya Ha-in terkejut. Untung saja acara pergantian bajunya telah usai. Bayangkan jika Je-bin yang tiba-tiba masuk sekarang melihatnya pada saat berganti baju. Bisa-bisa besokpun ia mengundurkan diri, saking malunya.

“Jangan dulu pulang. Kita kumpul terlebih dahulu untuk evaluasi hari ini dan makan.”

“Apa akan memakan waktu yang cukup lama?” Tanya Ha-in kembali. Pasalnya ini sudah larut malam dari jam biasa ia pulang ke rumah. Memang ia sudah meminta izin pada kedua orang tuanya untuk bekerja sebelum kuliah. Tapi dia merasa tak enak jika tak segara pulang dengan cepat seperti yang dijanjikan pada kedua orang tuanya.

“Paling setengah sampai satu jam. Mengapa? Kau takut dimarahi orang tuamu?” Ha-in mengangguk. “Tenang saja. Ahra noona sudah menelpon orang tuamu. Dan jika kau terlalu larut malam, kau diizinkan menginap.” Godanya pada Ha-in. Memang sejak Ha-in bekerja tadi siang, Je-bin selalu mengodanya. Bukan saja Je-bin, tapi beberapa karyawan pria lainnya. Mungkin mereka melihat bahwa pribadi Ha-in yang pemalu dan pendiam, membuat mereka tergoda untuk selalu mengganggunya.

“Aku akan tetap pulang walaupun itu sampai jam satu dini hari.” Ucap Ha-in ketus.

Mereka semua telah berkumpul di sebuah yang berada di bagian lantai atas dari Coffe Shop ini. Ruangan tersebut seperti ruang serba guna, karena disatu sisi bisa dijadikan sebagai ruangan rapat antar rekan bisnis ataupun digunakan sebagai ruangan khusus bagi boss mereka.

“Ah, hari ini kita kedatangan karyawan baru. Mungkin kalian juga sudah tak asing lagi.” Mendengar kata tak asing lagi, membuat Ha-in semakin tertunduk. Ucapan itu membuat ia kembali teringat akan kejadian memalukan waktu kemarin.

Dengan segera Ahra yang duduk disampingnya, menyikut kasar perut Kyuhyun. “Kau mau membuat dia kabur lagi hmm?” desisnya. Kyuhyun dengan segera melihat ke arah Ha-in dan Eun-ji. Eun-ji yang notabene-nya cuek, tak begitu terpengaruh dengan perkataan Kyuhyun, tapi Ha-in? Dia tak memikirkannya sampai sana. Jika ucapan yang ia katakan membuat gadis incarannya sampai sakit hati lagi.

“Maaf, bukan itu maksudku. Itu karena kalian sudah mengenalnya tadi siang sebelum ku kenalkan sekarang. Dan maaf juga untuk Nona Song dan Jung, kami tak bisa membuat sambutan yang pantas tadi siang, kalian tahukan keadaan tadi sangat kacau. Kita banyak kedatangan tamu dan pesanan antar. Jadi,”

“Kami mengerti. Lakukan segera evaluasinya, ini sudah terlalu larut.” Ucap Ha-in ketus.

Kyuhyun mulai merlirik kanan-kirinya, merasa kurang nyaman dengan suasana sekarang setelah apa yang tadi ia katakan. “Ehm. Jadi ada beberapa hal yang harus kita ubah. Mulai dari system pemasaran, promosi, dan produk terbaru yang akan segera muncul. Tapi ku pikir ada hal yang lebih penting harus dilakukan. Kita lihat ke layar di depan kita sekarang. Disana tertera. . . .”

*.*.*

Rapat baru selesai setelah memakan waktu hampir satu jam setengah. Begitu Kyuhyun menyatakan ungkapan terima kasih atas kerja team hari ini, dengan cepat Ha-in membereskan catatannya dan segera bersiap pergi.

“Tidak makan malam terlebih dahulu bersama kami?” tegur Kyuhyun.

Ha-in berdiri dari kursinya, ia mengernyit dalam menatap Kyuhyun, “Makan malam?” tanyanya dengan tak yakin. Ia melirik kembali jam tangan violet yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ini sudah pukul 00.25 KST, kurasa perutku tak akan bisa menerima makanan di saat jam seperti ini. Lagi pula aku masih merasa kenyang pada pagi ini. Dan setibanya nanti, aku akan bersiap untuk tidur. Tapi terima kasih atas penawarannya. Kami pamit pulang.”

“Cepat!” teriak Eun-ji yang telah berada di halaman parkir para karyawan.

“Arraseo.” Ha-in melambaikan tangan kanannya pada Kyuhyun yang mengantarnya sampai pintu masuk café. “Sampai jumpa besok. Maksudku nanti siang.”

Tanpa sadar Kyuhyun membalas lambaian tangan tersebut sambil tersenyu bahagia. “Sampai jumpa lagi, gadisku.” Ucapnya begitu melihat scopy yang dikendarai Ha-in telah pergi menembus kabut pekat yang gelap pada dini hari.

“Eonnie,”

“Ehm?”

“Apa Kyuhyun oppa dan Ha-in sedang menjalain suatu hubungan?” selidik salah satu pegawai yang berada di pantry bersama Ahra.

“Kurasa begitu.” Ahra menghadapkan tubuhnya untuk menatap karyawannya yang diketahui bernama Yoon-hye. “Jangan bicarakan hal ini pada siapapun terlebih dahulu. Kau tahukan dia akan seperti apa jika kita semua mengetahui rencananya. Bersikaplah seolah kau tak tahu apa-apa.” Ujar Ahra kembali.

Yoon-hye tersenyum jahil. Ah, ia paham betul dengan apa yang dikatakan oleh boss sekaligus temannya ini. “Siap Nona.” Yoon-hye mengangkat tangannya untuk melakukan sebuah penghormatan pada Ahra yang diiringi gelakdan tawa dari keduanya.

“Kau ini. cepat bereskan semuanya. Ini sudah terlalu pagi.”

*.*.*

Eun-ji baru saja menyelesaikan acara mandinya, saat ia hendak berbaring menyamping di atas kasurnya yang empuk, ada sebuah deringan yang berasal dari ponselnya. “Ah, manusia seperti apa yang tak memiliki jam dirumahnya?” makinya sambil meraba-raba sekitarnya. Tadi setibanya dirumah, Eun-ji meletakkan begitu saja ponselnya diatas tempat tidur dengan tumpukan tas dan peralatan make-up miliknya yang akan ia pakai selepas mandi, seperti lotion, pelembab, dan hal semacam itu. Eun-ji hampir memiliki sifat yang sama dengan Ha-in sahabatnya, ia akan meletakkan semua barang dimana saja saat sedang dalam keadaan lelah dan malas. Tapi mereka berdua akan sangat disiplin dan tahu aturan jika sedang dalam keadaan mood yang baik.

“Ehm yeobseyeo?” sahut Eun-ji begitu ia menemukan ponselnya yang ternyata jatuh di lantai, tertutupi oleh pakaian kotornya yang belum ia bereskan.

“Kau akan tidur?” Tanya seseorang di balik sana.

“Nuguseyeo? Ku pikir kau pun sudah tahu ini jam berapa? Cepat katakan intinya jika memang itu sangat penting. Atau aku tutup sambungannya sekarang juga!”

“Eyy, jangan seperti itu Nona Jung. Dan aku memang ada sesuatu yang sangat penting untuk ku sampaikan padamu.”

“Suaramu terdengar seperti Tuan Kacang itu.” Lirih Eun-ji. Tapi hal itu cukup terdengar jelas oleh Kyuhyun di sebrang sana.

“Ya, aku ini dia. Tuan Kacang yang selalu kau maki.”

“Oh!” dalam satu kali hentakan, Eun-ji langsung terduduk dari tidurnya. Matanya pun menjadi kembali terbuka lebar seperti orang yang tak mengantuk, padahal sudah jelas ia sangat mengantuk lima menit yang lalu.

“Dengar, aku tahu kau sangat lelah, jadi aku akan bicara pada intinya. Apa saja hal yang disukai Ha-in?” jika saja Kyuhyun tengah berada di hadapan Eun-ji saat ini, mungkin pria itu akan melihat betapa menyeramkannya bola mata bulat Eun-ji yang seperti akan keluar dari tempatnya.

“Hanya untuk itu kau menghubungiku di saat jam-jam tak lazim? Kau keteraluan Tuan, Kacang.”

“Satu hal, katakan saja satu hal padaku. Jebal Nona Jung.”

Eun-ji yang kembali ingin memaki Kyuhyun, mengurungkan niatnya. Mungkin sebaiknya ia mengerjai boss-nya yang satu ini. “Ehm, dengarkan baik-baik. Selepas ini jangan kau bertanya lagi arra?”

“Ya. Setidaknya kali ini saja. Cepat katakan.”

“Tch,” Eun-ji berdecak sebal mendengar penuturan Kyuhyun. Ia yakin pria bermarga Cho ini akan terus menghubungi dirinya. “Ku dengar bulan depan akan ada konser music di daerah Incheon.” Hening, tak ada satupun kalimat yang ia dengar dari Kyuhyun. Eun-ji melihat ponselnya yang berlayarkan warna hitam pekat. “Apa sambungannya terputus?” Tanya Eun-ji pada benda yang kini berada di depannya.

“Aku disini.” Sahut Kyuhyun. “Aku sedang berpikir sejenak tadi. Untuk itu aku tak menimbulkan suara.”

Eun-ji medesah kesal, ia kembali mengangkat ponselnya dan meletakkannya pada daun telinga. “Apa perlu waktu yang cukup lama untuk mencerna maksud ucapanku?”

“Ehm,” terdengar nada keraguan yang Kyuhyun ucapkan. “Jadi kau secara tak langsung menyuruhku untuk mengajaknya ke sana? Ke konser tersebut?”

“Ya seperti itu. Jangan lupakan imbalanku untuk informasi yang satu ini.” dengan satu tekanan pada ponselnya, Eun-ji memamtikan sambungan tersebut secara sepihak. Ia juga langsung menon-aktifkan ponselnya.

Sementara di ujung sana Kyuhyun terus mengoceh tanpa menyadari jika Eun-ji telah mematikan sambungannya. Kyuhyun terlalu gembira dengan apa yang didengarnya, jadi kali ini ia bisa mengajak Ha-in berkencan dan menyaksikan sendiri konser music yang disukainya? “Yeobseyeo?” Hening, tak ada sahutan apapun atas panggilan darinya. Kyuhyun yang terheran, menurunkan tangannya untuk melihat permukaan dari layar ponsel putih miliknya. “Mati? Tch, dasar wanita Ular.”

Matahari telah beranjak dari persinggahannya, itu tandanya malam akan tiba sebentar lagi dan sang rembulan putih dilangit sana, akan menggantikan posisi Matahari yang semula bersinar menerangi semesta alam.

Ha-in tengah menyapu di lantai di ruang VIP, kebetulan saat ini tidak ada tamu disana.

“Ehm,” sebuah suara serak mengahampiri dirinya. Ha-in menoleh ke belakang, dan itu ternyata sosok Kyuhyun yang terus mengganggunya sejak tadi.

“Ada apa pak? Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk anda?”

“Sudah ku bilang, usia kita hanya berbeda tujuh tahun. Setidaknya panggillah aku dengan sebutan oppa.”

Ha-in menghentikan gerakan menyapunya. Ia menatap ke dalam sepasang mata hitam, tegas, namun lembut yang kini menatapnya balik. “Tidak bisa. Anda adalah boss saya. Mana mungkin bisa bersikap seenaknya pada seorang atasan. Bukankah seorang karyawan harus hormat, tunduk, dan patuh pada atasannya?”

“Tunduk dan patuh. Aku memintanya padamu tadi, dan kau harus melakukan apa yang ku minta. Ppali haebwa, oppa~.”

Ha-in berpikir keras untuk tetap menolak melakukan hal itu. “Tapi itu menghilangkan etika seorang karyawan pada atasannya. Tidak hormat pula.” Jawabnya dengan tenang. Dan hal ini berhasil membuat seorang Cho Kyuhyun menjadi berang dibuatnya.

“Sudahlah terserah kau saja. Percuma ku paksakan sekalipun untuk dapat membuatmu melakukannya.”

“Nah, anda sudah tahu itu, kenapa memaksa saya?” Tantang Ha-in. Setelah beberapa hari ia bekerja disini, keberaniannya mulai muncul. Hal ini termasuk untuk menyela atasannya sendiri.

“Ya Tuhan, kau baru saja mengatakan etika, dan lihat apa yang baru saja kau keluarkan dari mulutmu.” Bentak Kyuhyun yang diakhiri dengan suara tertawa yang sangat merdu untuk di dengar.

Ha-in bersemu merah padma. Ia tertunduk dalam menatap lantai dan sapu yang dipegangnya. “Maafkan saya, atas kelancangannya.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang menggodamu.” Ha-in sontak menatap Kyuhyun dengan heran. Menggodanya? Apakah seorang atasan tak malu jika harus menggoda karyawan rendah seperti dirinya? Seperti tak memiliki kegiatan lain yang lebih penting.

“Lupakan.” Kyuhyun menarik nafas sebentar. “Kau menyukai music?” Tanya Kyuhyun dengan berbasa-basi terlebih dahulu. Ayolah, tunjukkan sikapmu secara jantan pada wanita yang kau sukai, bukan berbelit-belit seperti ular.

“Ehm? Ya saya menyukainya. Tapi tak terlalu menggilainya. Saya tak seperti kebanyakan gadis muda pada zaman sekarang.”

“Bagaimana jika kau menemaniku di bulan depan? Ada sebuah konser music yang ku yakin kau pasti menyukainya.” Ujar Kyuhyun bersemangat. Tapi hal ini malah berbanding terbalik dengan Ha-in, ia mengernyit bingung pada dirinya.

“Bagaimana bisa Anda seyakin itu?”

“Karena aku memiliki sebuah kemampuan untuk menebaknya.”

“Jangan terlalu yakin. Terkadang kemampuan insting dan otak kita pun salah dalam menduga akan suatu hal, apalagi kali ini Anda hanya menebaknya.” Jika Kyuhyun pintar, sebenarnya Ha-in sedang menguji dirinya. Menguji ia agar membocorkan informasi sebenarnya yang teramat sangat keliru. Setahu Ha-in, konser music yang akan diselenggarakan bulan depan yang berlokasikan di Incheon itu, konser music Band Indie, dan ia sama sekali tak menyukainya. Ia lebih menyukai musisi Western yang menampilkan music slow, ataupun jazz.

Kyuhyun menatap marah padanya. “Intinya kau harus tetap ikut denganku. Jangan mengajak temanmu yang bermarga Jung itu.”

“Bagaimana jika saya tak mau mengikuti kemauan Anda?”

“Pokoknya harus. Aku akan memaksamu.” Setelah mengatakan hal tersebut, Kyuhyun berbalik dan pergi meninggalkan Ha-in yang terpaku menatapnya.

“Pantas saja Eun-ji menyebutnya Tuan Kacang. Dia benar-benar menyebalkan.” Sunggut Ha-in sambil menyapukan lantai yang dipijaknya dengan bertenaga, hingga debu tersebut bertebrangan di udara.

*.*.*

Hanya satu bulan lima belas hari Ha-in bekerja di Kona Beans. Bukan bermaksud mempermainkan atau bersikap kurang ajar, hanya saja, perintah dari orang tuanya lah yang membuat ia tak dapat berkutik lagi. Orang tuanya mengirimkan Ha-in untuk menempuh pendidikan tinggi di daerah Bucheon {부천}, provinsi Gyeonggi bersama dengan saudara jauhnya. Semula ia yang berasal dari kota Daejeon {대전}, kota metropolitan harus pergi seorang diri dan bertahan di daerah baru yang bernama Bucheon. Jadwal masuk kuliah pertamanya akan segera dimulai, jadi ia harus berangkat dimulai sekarang.

Kepergiannya, hanya Eun-ji dan orang tuanyalah yang mengantarkan Ha-in sampai stasiun kereta KTX. Berulang kali Ha-in menoleh ke belakang, melihat sosok Kyuhyun yang mungkin akan mengantar kepergiannya. Tapi harapan itu pupus, Kyuhyun membentak dan memakinya dirinya kemarin. Mungkin ia merasa dibohongi oleh Ha-in, gadisnya. Mati-matian Kyuhyun dalam menyakinkan kedua orang tuanya untuk menyetujui Ha-in sebagai kekasihnya, tapi saat persetujuan itu telah diberikan oleh kedua orang tua Kyuhyun, Ha-in dengan teganya mengatakan bahwa ia harus pergi ke kota, dan provinsi lain demi menempuh pendidikan yang lebih baik.

“Hah, dia jelas tak akan melirikmu Hain-ie, kau ini bodoh atau apa?” maki Ha-in pada dirinya sendiri. Ia memang sudah mulai mencintai Kyuhyun, tapi keputusan orang tuanya lebih penting. Ini menyangkut masa depannya juga. Saudara Ha-in mengatakan kampus medis yang berada di Bucheon lebih dekat dengan tempat tinggalnya, sehingga Ha-in tak memerlukan kendaraan untuk mencapainya, cukup berjalan kaki. Lagi pula Ha-in disana bisa ikut membantu saudaranya.

“Kau masih memikirkannya?”

“Ehm,” Ha-in mengangkat wajahnya menatap Eun-ji. “Ku pikir dia memang teramat sangat membenciku. Tak ada kata persahabatan bahkan teman diantara kami.” Ha-in meneteskan air matanya sedih. “Shh, aku titip dia padamu. Sampaikan permintaan maafku padanya. Sungguh, jika waktu masih mengijinkanku untuk bertemu dengannya dilain kesempatan, aku tak akan melepaskan dirinya lagi. Aku mempercayai dirinya untuk menjadi bagian dari perubahanku di masa yang akan datang.”

“Hei,” Eun-ji mengusap aliran bening itu di sudut mata sahabatnya. “Jangan berkata seolah aku adalah baby sister-nya. Dia sudah besar, tak perlu kau titipkan padaku.” Eun-ji menghembuskan nafasnya berat. Bukan hanya Kyuhyun yang akan kesepian, tapi dia pun akan merasakan hal itu. Ha-in teman dekatnya sejak sekolah menengah, dan kini ia harus terpisah jauh dengan temannya yang satu ini. “Aku sangat berharap waktu itu akan datang pada kalian berdua.”

“Gomawo chingu.” Mereka saling berpelukan erat, melepaskan semua kekhawatiran dan kegundahan mereka satu sama lain, dan saling menguatkan. “Kau jangan pernah sekalipun melupakanku. Terus memberikan kabar padaku.”

“Aku akan melakukannya.”

Ha-in melepaskan pelukan mereka, lalu menyeka air matanya dengan telapak tangannya. “Kau masih akan bekerja di Kona Beans? Tidak akan canggung setelah kejadian akibat ulahku padanya?” goda Ha-in.

“Aku tak memiliki masalah dengan dirinya Nona. Kaulah yang memiliki masalah dengannya?” Ha-in terkikik geli mendengarkan penuturan Eun-ji. “Aku yakin dia cukup professional untuk memisahkan urusan pekerjaan dengan pribadinya. Lagi pula jika aku pergi, aku yakin dia bisa depresi berat karena tak bisa mendapatkan informasi terbaru tentangmu.”

“Astaga, jadi dia juga seorang penguntitku? Dan kau mata-matanya? Shh,” Ha-in memicingkan matanya pada Eun-ji. “Apa itu tak terlalu kurang ajar Nona. Apa yang kau dapatkan darinya sebagai imbalan dari pekerjaanmu itu?”

Eun-ji mengendikkan bahu enggan. “Hanya pekerajaan tetap dan beberapa yang aku inginkan?”

“Jangan katakan juga tiket konser itu usulan darimu?”

Eun-ji meremas-remas kedua tangannya, bola matanya tak berhenti berputar, menandakan bahwa ia gugup. “Ehm, itu ku pikir dia yang . . . . .” perkataan Eun-ji terpotong oleh panggilan orang tua Ha-in yang mengatakan kereta KTX tujuan pemberangkatannya akan segera tiba.

Eun-ji bernafas lega mendengarnya. Dengan cekatan, ia segera membantu Ha-in membawa barang-barangnya.

“Kau masih berhutang penjelasan padaku Nona Jung. Bye~”

“Akan ku katakan nanti jika aku masih ingat.” Mereka saling melambaikan tangan sampai pintu kereta tertutup otomatis.

Ha-in mendapatkan kursi di paling ujung dari salah satu gerbong KTX. ia menyandarkan kepalanya pada kaca KTX, “Harimu yang baru akan dimulai hari ini Hain-ah. Bersemangatlah.” Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

*.*.*

To Be Continued

Advertisements

2 comments

  1. Aku udah koment part 1 di sono yeh hehhehe:D kurang greget baca nya hehhehe:D kyu juga masa cmn segitu usaha nya hemmmp:| kejar dong kalo bener bener cinta:D nikahin jan pacaran wkwkwkkw:) kya hayalan aku langsung nikah tanpa pacaran:D wkwkwkkw khan bisa pacaran setelah menikah kya nya lebih asiiikk wkwkwkkw:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s