Not Sure {Chapter 1}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In||

Genre: Married Life – Romance – Complicated – PG-17||

Lenght: Chapter|| Author: Hyun*ie|

*.*.*

Cinta, cinta, cinta. Persetan dengan cinta itu. Kau mungkin akan memaki kata itu juga jika kejadiannya sama seperti yang ku alami.

Pada mulanya aku juga begitu percaya dan mengagungkan sebuah kata yang memiliki dampak magis seperti halnya sebuah mantera kuno. Tapi setalah beberapa kali kejadian memilukan itu aku pikir cukup. Tak akan ada lagi perkenalan, saling sapa, lose contect, lalu kembali pada siklus awal, perkenalan.

Beberapa hanya sebagai teman saja, tapi yang dua terakhir itu menyakitkan. Kedua-duanya sama-sama tampan. Hah, tapi tidak dengan perilaku dan hati mereka yang busuk. Kau tahu apa yang ada dibenak mereka pada saat berkenalan denganku? “Dia mirip seperti kekasihku, dulu.” Ya, aku hanyalah cermin dari pantulan bayang-bayang yang kekasih mereka tunjukkan.

Pertama Kim Jongin. Aku tak tahu dia begitu dalam. Selain dia yang selalu bermain setiap harinya ke rumah sepupuku. Dan pada saat aku mengunjungi ke rumah sepupuku lah dia melihatku dan langsung menarik perhatiannya. Apa aku perlu bersyukur atas kecantikan ini? Atau aku perlu berterima kasih karena terlahir dari rahim ibuku yang memiliki genetik sempurna? Tapi kurasa bukan itu masalahnya. Ada yang berbeda dari caranya memandangku. Matanya, matanya secara tak langsung mengatakan padaku bahwa ia seorang playboy.

Kami menjalin hubungan hanya beberapa hari. Setelah itu lost contact, lalu beberapa bulan kemudian dia menghubungiku kembali. Dengan mengatakan bahwa dirinya dikhianati oleh kekasihnya yang masih seorang mahasiswi tingkat tiga. Jujur saja, aku tak menaruh rasa kasihan atau simpati sedikitpun padanya. Cih, dengan dungunya dia langsung mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku. Tentu saja aku naik pitam. Ku maki dirinya dan menyumpah merapahinya. Apa dia gila? Tak memiliki lagi sebuah otak di dalam kepalanya? Menganggapku seperti barang daur ulang yang bisa ia gunakan setelah dia buang.

Beralih pada yang kedua. Dia bernama Lee Jaebum. Kalau dia aku mengenalnya. Kita pernah satu sekolah, dan sekarang berada di kampus yang sama, dengan dia sebagai sunbaenya. Aku sekarang berada di tingkat satu, sementara dia berada di tingkat empat.

Entah tahu darimana ia mengenai contact pribadiku. Tiba-tiba saja ia menghubungiku, mengajak berkenalan dan saling berbincang ringan membahasa berbagai topik ringan. Aku tahu dia tak akan lama. Sama seperti yang sebelumnya, datang dan pergi seperti hembusan angin musim gugur.

Dan dugaanku benar. Kami lost contact setelah hampir satu tahun saling berkomunkasi, walaupun tak secara intenst. Dan dia menguhungiku kembali setelah tiga bulan tak memberi kabar. Dari yang terakhir ku tahu dia telah putus dengan kekasihnya. Jadi selama ini dia menjadikan aku sebagai suatu sarana hiburan? Sialan.

Dia menghubungiku, menanyakan bagaimana kabarku saat ini. Mungkin dia mulai suntuk karena harus menyendiri lagi. The other bad boy. Aku membaca pesannya dengan tersenyum sinis. Jadi inikah kau yang sebenarnya? Berwajah dewa namun berhati bangkai busuk.

Seperti itulah. Ada apa bertanya seperti itu? Ku tekan tanda send pada layar di akun SNS. Oh dia sedang on? Ayo kita lihat bagaimana reaksinya. Satu menit, tiga menit, lima menit, bahkan sudah berganti haripun dia tetap tak membalas pesanku kembali. Kau sakit hati bukan? Merasa diacuhkan? Ya seperti itulah yang ku rasakan. Terkadang kau perlu memberi pelajaran bukan dengan nasihat, tapi dengan mulut pedasmu dan sikap sarkastikmu.

Lupakan masa lalu dan kita beralih pada masa sekarang. Aku datang ke kampus dalam kondisi yang terbilang buruk. Sudah sejak semalam kepalaku berdenyut hebat dan rasa mual terus memburuku. Asam lambungku kambuh lagi. Aku mencoba mengingat – ngingat kembali penyebabnya. Apakah karena makanan pedas, berminyak, atau karena tingkat stress yang ku alami akhir-akhir ini? Jika saja ini bukan hari dimana aku akan mempresentasikan hasil kerja kerasku menyusun laporan, maka lebih baik aku tidur di rumah.

Aku masuk pagi. Jam 07.00 KST, dan aku harus bersabar tiga jam ke depan untuk mata kuliah yang mati-matian aku utamakan lebih dari kondisiku saat ini.

“Jungae-ya, kau pahamkan maksud perkataanku tadi?” Aku tengah memberikan instruksi pada rekan satu team-ku. Entahlah dia mengerti atau tidak dengan apa yang aku ucapkan. Karena mungkin aku melantur ke sana kemari saat menjelaskan isi laporan padanya. Mataku saja tidak fokus pada materi pembahasan, apalagi dengan otakku.

“Aku mengerti.” Ucap Jungae. Akh, aku tahu kau tengah menertawakanku bukan? Ya banyak yang bertanya padaku pagi ini. Karena ini baru pertama kalinya aku memakai jaket tebal yang trendy. Hey, ayolah, meskipun aku sakit, aku tak boleh terlihat buruk dimata teman-temanku.

“Hey, ada apa denganmu?”

“Hain-ah, kau sakit?” Aku tahu kalian tengah mengejekku saat ini. Mungkin mereka berpikir bahwa aku ini sebuah robot yang dapat terus tegar dalam kondisi apapun. Karena pertama kali ini pula aku terlihat payah dimata mereka. Sebelum-sebelumnya? Aku bahkan selalu bertindak arogant, jutek, bengis, dan sombong. Aku ingin menutupi semua kelemahanku dengan peran antagonis yang ku mainkan, dan mereka semua berhasil terjerat dalam permainanku, hingga menganggap bahwa ini bagian dari lelucon.

Dosen pertama tak datang, hanya memberikan tugas sialan yang malah membuatku semakin berdenyut memandanginya saja. Tapi anehnya tubuhku semakin membaik. Apa-apaan ini? Aku berencana akan pulang sekarang juga meninggalkan sebagian mata kuliah di siang sampai sore hari.

Tapi mengapa setiap niat burukku tak pernah terwujud? Seperti halnya sekarang.

“Dosen Lee Sang-ae tak akan datang. Beliau mengatakan minggu depan kita buat dua pertemuan sekaligus menggantikan jam sekarang yang kosong.”

“Yak mwoya?” Aku mendesah frustasi akan hidupku. Song, hidupmu sungguh malang. Hendak mencapai bunga kuncup Mawar, tapi kau malah tertusuk tajamnya duri bunga tersebut.

“Jika aku tahu akan seperti ini jadinya, maka lebih baik aku mengurung diri di dalam kamar.”

*.*.*

Aku tak jadi pulang lebih awal seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Karena ya, tubuhku menjadi sehat kembali seperti tak pernah sakit sebelumnya. Padahal saat pagi? Bahkan semua aroma berjarak lima meterpun dapat ku hirup baunya. Dan itu sungguh menyiksa.

“Kau sudah pulang?” Dia lagi? Aku menoleh dan memutar mata padanya dengan kesal.

“Kau lagi? Mengapa kau berada disini?” Tanyaku tak suka. Dan ini adalah pertanyaan terbodohku. Jelas dia berada disini. Dia satu kampus denganku dan sekarang berada di tingkat empat. Masa kembali bergulir memutari roda kehidupan yang terus berjalan setiap detiknya. Karena akupun sekarang sudah berada di tingkat dua.

Berkali-kali Kyuhyun menghalangi jalanku, dan berkali-kali itu pula ia mendapatkan makian dariku, hobae-nya.

“Satu kali lagi. Ayolah, bantu aku.”

Aku diam sejenak menatap dalam pada matanya. Apa pria itu tak melihat bahwa aku masih lemas? Pucat pasi seperti mayat hidup yang berjalan di siang hari. Walaupun aku sudah tak merasakan mual-mual lagi, tapi bukan berarti aku tak membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan tubuhku kembali.

“Kyu, aku baru saja merasa lebih baik. Aku hanya ingin pulang ke rumah sekarang juga. Jadi lain kali saja bantuannya. Kau bisa menunggu bukan?” Aku melangkahi dirinya pergi. Aku tahu apa yang ada di dalam benakmu Cho.

“Asam lambungmu?” Kyuhyun bertanya balik, yang hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala saja.

“Lapar?” Tanyanya kembali. Sebenarnya apa sih yang dia inginkan?

Aku menatap jengah padanya. “Ya aku lapar. Aku ingin mie ramen pedas saat ini juga. Tapi kondisiku tak mendukungku. Aku juga tak ingin eomma memarahiku kembali hanya karena semangkuk ramen merah.”

Aku terhenyak ke depan. Belum sempat aku memprotes, dia sudah menyeretku masuk ke dalam mobilnya. “Kita beli ramen ke sukaanmu sekarang juga.” Ucapnya sumringah. Dan aku hanya bisa menganga padanya. Ada apa ini?

*.*.*

Kami sekarang berada di halaman rumah Kyuhyun sunbae. Dia berbeda empat tahun denganku. Aku masuk dunia pendidikan terlalu cepat, dua tahun lebih cepat dari teman-temanku. Tapi tetap aku tak ingin memanggilnya oppa atau sunbae. Sikap selengean dan kekanakannya membuatku berpikir ulang untuk memanggilnya dengan hormat.

“Rekatkan jaketmu.” Aku menurutinya. Setelah tadi dia mengajakku makan ramen pedas dan kue ikan, dia mengajakku ke rumahnya, dan entah untuk apa. Aku hanya menurutinya saja tanpa tak diijinkan sekalipun bertanya ada perihal apa.

“Kami datang eomma.” Ucapnya sambil membuka pintu utama. Oh, ada apa ini kami? Kami apa?

Aku membulatkan mata menatap pria yang berdiri di sampingku kini. Sialan, jadi ini maksudnya membantunya lagi? Ku pikir itu mengenai tugas kuliah.

Ku alihkan pandangaku pada sekumpulan orang yang tak ku kenal sama sekali. Yang sekarang berdiri dihadapanku.

“Cho Kyuhyun!” Bentak pria paruh baya. Ku pikir dia ayahnya. Meskipun kami saling mengenal satu sama lain, tapi kami tetap tak mengetahui seluk-beluk anggota masing-masing.

Dia menarikku semakin erat. Tangannya mencengkram pinggangku terlalu kuat hingga membuatku berjengit kaget. “Appa, aku tak bisa menikahinya. Karena aku telah berbuat salah dan harus bertanggung jawab padanya.”

Ehm, jika saja aku memiliki tenaga lebih dan sedang tidak berada dihadapan orang tuanya, akan ku hajar dia sampai habis.

“Cho Kyuhyun!!” Kurasakan nada bentakan dari ayahnya semakin kuat. Menggema menyentuh setiap sudut ruangan ini.

Tuhan, selamatkan aku malam ini. Eomma, appa, nan etteokhee?

Wanita bertubuh agak gemuk itu bangkit menghampiri kami. Dengan cepat aku melepaskan tautannya dan bersembunyi di balik tubuh kekar namja yang memulai permasalahan ini.

“Shin Rae-in. Aku menolak perjanjian ini. Aku tak bisa menjadi suamimu. Maaf,” sesal Kyuhyun. Ya dia hanya berpura-pura saja. Lihatlah betapa kerasnya ia berakting supaya sukses seperti ini. Tapi ku pikir benar juga. Aku lebih panta jika harus bersanding dengan pria tengik ini dibandingkan wanita yang tumbuh ke samping ini. Ku rasa bobotnya lebih dari 65kg.

“Kau,” wanita bernama Rae-in itu maju, hendak meraihku. Tapi dengan sigap Kyuhyun menghalanginya. Ku lihat kembali wajah Rae-in. Dia menggeram kesal menatapku yang berpikir bahwa aku merebut kekasihnya. Tapi tidak.

“Jangan berani memukulnya. Atau kau akan ku buat malu dihadapan publik.” Desis Kyuhyun tak suka. Tch, apa yang sebenarnya terjadi disini? Mengapa aku tak tahu apapun, padahal aku memegang peranan penting dalam drama ini.

“Appa, eomma, kita pulang!”

Oh! Semudah itu? Aku menunduk sedang mencerna berbagai informasi yang ku dapatkan sekarang. Dan,

Plakk!

Bunyi itu menghentikan pemikiranku dan pegangan tanganku pada baju Kyuhyun. Ku lihat wanita paruh baya yang sekarang berdiri dihadapanku. Dia menatap Kyuhyun dengan nada amarah. “Aku tak pernah mendidikmu untuk bersikap seperti ini.”

“Eomma,” lirih Kyuhyun. Betapa terkejutnya aku sekarang. Ku pikir wanita ini ibu dari Rae-in. Tapi ternyata ibunya?

Satu langkah besar lagi menghampiri kami. “Kau telah mencoreng appa.” Lalu wanita yang satu lagi? Dia hanya tersenyum geli menatapku yang tampak bodoh. Dia bahkan melambaikan tanganya padaku sambil terkikik ditengah cekaman keluarga ini.

“Kami minta maaf Tuan Shin. Kami malu karena tak dapat mendidik putra kami dengan benar. Maafkan kami.” Tunduk Tuan Cho begitu dalam. Lihatlah Kyuhyun, kau membuat orang tuamu harus menanggu dosa atas apa yang kau lakukan.

“Kita pulang yeobo.” Ucap Tuan Shin. Oh lihatlah, jika itu kepalanya seperti cerobong asap, mungkin itu telah menguap kemana-mana.

Saat melihat mereka yang menatap marah pada keluarga Cho dan aku, tiba-tiba perutku bergejolak kembali. Ini semua gara-gara pria berengsek yang ada dihadapanku. Dia menyuruhku makan ramen pedas tanpa membiarkanku memakan obatku. Mungkin tak akan separah ini jadinya jika saja tadi aku makan obat terlebih dahulu. “Ugh,” aku segera berlari ke arah dapur tanpa ku perdulikan tatapan keluarga Shin yang memandangku rendah.

Sial, dimana letak toiletnya? Tak ada cara lain lagi. Aku memuntahkan semua isi makanan tadi ke dalam wastafel. Aku memuntahkan banyak makanan. Dan beberapa keluar melalui hidung. Tuhan, ini menyakitkan.

Ku rasakan sebuah lengan yang lembut memijat tengkukku. Nyaman. Tapi aroma ini? “Ugh,” aku muntah kembali. Siapa orang ini sebenarnya? Mengapa aroma dari tubuhnya begitu menyengat?

“Kau tak apa?” Tch, dia lagi. Masih bisa bertanyakah dia setelah apa yang ku alami dihadapannya.

Aku membersihkan wajahku, mencuci tangan dan mengambil beberapa helai tisue yang berada di dalam tas. “Menurutmu? Berikan aku obatnya sekarang juga.” Bentakku. Oops, aku tak melihat sekitarnya. Mereka bertiga berada dihadapanku kini. Aku menunduk malu, lalu menurunkan tanganku. Bisakah suatu kejadian nanti akan lebih memalukan lagi daripada ini?

“Kau tak apa?” Tanya ibunya yang kini berjalan mendekatiku. Sontak aku mundur hingga menyentuh dinding. “Jangan pukul akau seperti kau memukul putramu.” Bisikku dalam hati.

“Jangan takut.” Dia mendekapku. Memelukku sama kencangnya dengan putranya tadi, hanya saja ini terasa menenangkan dan nyaman. Tak sepertinya. “Apa ada yang sakit?” Aku menggeleng menjawabnya. Padahal sungguh denyutan dalam kepala ini membuatku pusing bukan main, dan perutku terasa panas seperti terbakar.

“Aku ingin pulang.” Pintaku dengan lirih. Aku berjalan ke depan melepaskan pelukannya. Tapi sesaat kemudian kepalaku terasa dihantam keras, dan detik berikutnya aku limbung menabrak meja hias.

*.*.*

“Dia terus meracau meminta obat. Apa kalian sudah ke klinik kandungan tadi?” Tanya Kim Hana pada putranya. Ha-in pingsan sewaktu di dapur tadi, jadi mereka membopongnya dan meletakkan tubuhnya diatas tempat tidur milik Kyuhyun.

“Ya.” Jawab Kyuhyun berbohong. “Aku tak ingin memberikannya.” Dia berhenti beberapa saat sebelum akhirnya kembali berbicara. “Eomma, ku pikir mual-mual adalah gejala yang wajar. Aku tak ingin ia terus ketergantungan dengan obat yang diberikan dokter. Lebih baik dia istirahat. Nanti juga membaik dengan sendirinya.”

Kim Hana menyipitkan kedua matanya, menatap curiga pada putra semata wayangnya. “Arra. Jadi sudah berapa bulan?”

“Dokter bilang masih terlalu dini. Dia tak mengatakannya padaku dan menolakku menemaninya masuk. Mungkin dia malu atau apa.” Sangat pandai dia bersilat lidah dihadapan ibunya sendiri.

“Lain kali temani dia masuk. Kau juga harus mengetahuinya.”

“Ne eomma.”

Sekilas Nyonya Cho tersenyum menatap Ha-in dan Kyuhyun secara bergantian. “Kau tahu, eomma sangat bersyukur karena pada akhirnya kau tak jadi menikah dengan gadis sumo itu. Eomma sangat tak suka perangainya.” Nyonya Cho bercerita sambil mengusap helaian rambut Ha-in, sambil sesekali menyibakkannya jika ada yang menutupi wajah teduh menantunya. Calon.

“Memangnya kenapa?” Kyuhyun pun seolah terhanyut seperti ibunya. Ia kini tengah asyik menatap Ha-in dalam damainya buaian alam mimpi. “Ku pikir eomma menyukainya. Makanya eomma menjodohkanku dengan sumo itu.” Ujar Kyuhyun ketus.

“Tidak sayang, maafkan eomma. Ini berawal dari perjodohan kakekmu dan kakeknya Rae-in. Sama sepertimu, eomma baru mengetahuinya minggu lalu. Dia sangat sombong dan angkuh. Tak seperti wanita ini.”

Kyuhyun berdecik mengejek pada sosok Ha-in yang masih terlelap. “Jika saja eomma tahu, tak akan kau berkata seperti itu.” Batin Kyuhyun geli.

“Siapa namanya?”

“Ha-in. Song Ha In. Dia berada di tingkat dua, di tempat yang sama denganku menimba ilmu. Inha University.”

“Tch, kau sudah lama bukan menjalin hubungan dengannya? Mengapa tak kau katakan pada eomma? Bahkan sekarang dia sudah hamil cucuku.”

Astaga, benar. Mengapa Kyuhyun tak memikirkan sampai sejauh ini? Bodohnya dia, hanya memanfaatkan kesehatan Ha-in yang sakit demi kepentingan pribadinya saja.

“Kami sengaja merahasiakannya.”

“Dan menunggunya hingga berbadan dua? Seperti itu maksudmu?”

“Bukan, aku . . . .”

“Ugh, air, obat. Jebal, berikan obatnya.” Lirih Ha-in.

“Apa yang dia katakan?” Tanya ibu Kyuhyun padanya. Sedetik kemudian ia berucap kembali dengan bingung. “Mungkin dia lapar hingga membuatnya mengigau. Kyuhyun-ah, ambilkan makanan untuknya di bawah untuknya, dan air juga.”

“Eomma, dia hanya terlalu capek. Tak perlu berlebihan seperti ini.” sungut Kyuhyun kesal dan tak suka.

“Sayang, kau harus ingat. Di dalam perutnya terdapat darah dagingmu. Kau harus lebih memperhatikan dirinya dan keadaan bayinya. Sampingkan sifat cemburu dan iri hatimu karena eomma lebih perhatian padanya. Kau sudah besar. Dan harus berpikir besar pula. bahkan sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah.” Tegur Nyonya Cho pada putranya.

“Nde eomma. Maafkan aku yang tak pernah dewasa.” Cibirnya diakhir kalimat. Dengan segera Kyuhyun pergi ke lantai bawah untuk membawakan apa yang telah eomma-nya katakan tadi.

Setibanya ia kembali di kamarnya, Ha In telah sadar dan masih terbaring lemas menatapnya, meminta belas kasihan.

“Kau sudah sudah sadar sayang?”

Kyuhyun segera duduk disamping Ha In setelah terlebih dahulu menyimpan nampannya di dekat lampu tidur.

“Obat.” Lirih Ha In.

Kyuhyun dengan segera menempatkan wajahnya sejajar dengan Ha In. ikut berbaring disampingnya. “Tidak sayang. Jangan terbiasakn dengan obat penghilang mual itu. Kau akan baik-baik saja nanti. Setelah makan dan minum vitamin. Bukankah begitu eomma?”

“Ya. Benar apa yang dikatakan Kyuhyun sayang. Jangan dibiasakan meminum obat itu. Mual disaat masa kehamilan adalah hal yang wajar.”

Ah ya, Ha In melupakan perannya disini. Bukankah penyebab ia terbaring tak berdaya kembali merupakan salah satu rencana busuk dari Cho Kyuhyun? Pria tak berperasaan yang kini ada disampingnya.

“Akan eomma ambilkan vitaminnya. Kebetulan eomma tadi berbelanja cukup banyak sayuran dan buah. vitaminnya dalam bentuk jus.”

Keduanya saling tatap memperhatikan punggung Kim Hana keluar kamar. Setelah yakin tak ada sosok tersebut, Ha In segera menarik kerah baju Kyuhyun dengan perasaan yang mendendam.

“Cepat kembalikan obatku sekarang juga. Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini hah?”

“Sabarlah. Setidaknya nanti malam baru akan aku berikan.” Jawab Kyuhyun dengan santai.

“APA?? Kau gila? Setelah kau menaruh lebih banyak sambal cabai pada ramen pesananku, lalu menyeretku kemari, dan mengatakan bahwa aku hamil, kau masih tega membuat lambungku terbakar? Ini sangat panas dan pedih Cho.” Isak Ha In diakhir kalimat. Dan hal itu menimbulkan raut wajah cemas pada Kyuhyun. Ya, sebenarnya ia juga tak tega. Tapi bagiamana jika ia memberikan obatnya sekarang dan tiba-tiba Ha In menjadi sembuh total dalam beberapa saat. Bukankah itu aneh? Karena Kyuhyun pernah melihat Ha In kepayahan yang diakibatkan naiknya asam lambung tersebut. Baru setelah ia meminum obat yang kini berada dalam genggaman Kyuhyun, wanita itu ceria kembali dalam lima menit. Bahkan tak tampak seperti orang sakit sekalipun.

“Apa yang sedang kalian biacarakan? Aku mengganggu?” tanya Ahra yang berdiri diambang pintu.

Ha In dengan segera melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Kyuhyun. “Masuklah noona.”

Ahra mendekat pada mereka, mengambil duduk disisi kanan Ha In terbaring. “Kau menangis adik kecil?” tanyanya pada Ha In. tapi Ha In tak menjawabnya. Ia lebih memilih untuk membungkam mulutnya. Hanya kepalanya saja yang menggeleng sebagai respon dari pertanyaan yang diajukan tadi.

“Pergilah.” Usir Ha In pada Kyuhyun yang membuat orang yang dimaksud tercengang.

“Kau mengusirku.”

“Aku tak tahan dengan bau tubuhmu. Parfum yang kau gunakan begitu menyengat dan menusuk hidungku kemudian membuatku pusing. Ku mohon,”

Hah, Kyuhyun hanya bisa mendengus pasrah. Ia tahu seperti apa repotnya seorang Song Ha In jika sudah seperti ini. memang saat asam lambungmu tinggi, indera penjiumanmu mendadak menjadi tajam seketika. Kau akan merasa sensitif bahkan terganggu dengan bebauan tersebut.

“Baik aku keluar.”

“Sekarang, dapatkah aku membantumu?”

Ha In bangkit dari tidurnya, meskipun denyutan dari kepalanya semakin menjadi. “Eonnie, tolong antarkan aku pulang. Karena ini sudah melewati batasan aman dari yang orang tuaku tetapkan. Jebal. Atau setidaknya panggilkan aku taksi.” Pinta Ha In.

“Tidak. Untuk malam ini, kau akan menginap disini. Sementara untuk nanti, mungkin itu perlu dipikirkan. Antara kalian tetap disini bersama kami atau mempunyai tempat sendiri.” Ahra terdiam sebentar. Mencoba mengingat kalimat apa yang akan ia sampaikan pada Ha In. “Dan kabar baiknya, kau tak akan diamarahi oleh orang tuamu seberapa lamapun kau tinggal bersama kami. tadi orang tuaku sudah menelpon mereka, dan mengatakan lebih lanjut lagi mengenai hubunga kedua keluarga, untuk pernikahan.”

Ha In melotot tak percaya. Benarkah seerti itu?

“Tapi eonnie, ku pikir tak perlu terlalu berlebihan seperti ini. aku tak apa tak dinikahi adikmu pun. Aku bersungguh-sungguh.”

“Hei,” Ahra menepuk lengannya sebentar lalu menempatkannya diatas kedua lengannya. “Apa yang akan dikatakan semua orang jika kami tak ikut tanggung jawab padamu. Dia akan menjadi anakyang dikucilkan.” Tunjuknya pada permukaan perut Ha In.

“Berapa bulan?”

“Nde? Oh! Aku tak tahu. Mungkin sekitar hitungan minggu.” Ha In berhenti sebentar menjeda pembicaraannya. “Eonnie aku merasa sangat buruk.” Ia kembali terdiam untuk beberapa saat menundukkan kepalanya begitu dalam. “Bagaimana pandanganmu padaku?”

Ahra tersenyum lembut pada Ha In. ia tahu betul kemana arah pembicaraan ini. “Menurutku kau gadis yang manis. Jangan berpikir terlalu jauh. Karena ku pikir penyebab utamanya adalah adikku sendiri. Benar bukan?” entah sadar atau tidak, tapi kepala Ha In mengangguk membenarkan pertanyaan dari wanita yang berada disampingnya.

“Sudah pasti. Sekarang istirahatlah, dan lupakan apapun itu yang mengganggu pikiranmu.” Ahra berdiri kemudian membantu Ha In kembali berbaring. “Tidur yang nyenyak adik manis.”

Sebelum Ahra benar-benar menutup pintunya kembali, ia berbalik menatapnya kembali. “Dan ingat, kami tak membencimu sama sekali. Malah ku pikir kau membawa kami semua keluar dari lubang yang menyesakkan.”

*.*.*

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s