Lean On Me {Chapter 1}

 

Cast: Cho Kyuhyun – Shin Hyun-ji – OC||

Genre: Married Life – Romance || Lenght: Chapter||

Author: Samilia||

Note:  Oh ya, bisa tolong bantuannya?

  • Jika tak suka, tolong jangan bersikap berlebihan dengan menampakkan jelas ketidaksukaanmu.
  • Mohon maaf, saat berkomentar nanti jangan menggunakan kata-kata yang berteriak. Maksudnya, jangan menggunakan huruf kapital semua. Baik itu berupa komentar biasa maupun ketidaksukaanmu. Itu meledek saya rasanya yang menderita miopi. Mohon pahami akan hal itu.
  • Ide cerita ini muncul saat aku kebanyakan baca novel FSOG sampai beberapa kali dan kebimbanganku yang mau jadi sukwan “relawan maksudnya.”
  • Dan silahkan membacanya,,

*.*.*

Aku mahasisiwi tingkat akhir. Senang rasanya ini semua dapat ku lalui dengan baik.

Waktu empat tahun bukanlah hal yang mudah untuk terlewati begitu saja. Masalah-masalah besar sering menghampiriku. Aku ingat saat awal pertama aku masuk ke kampus ini. Aku sudah melakukan pendaftaran, testing, dan semua persyaratannya. Kecuali satu, aku belum melakukan registrasi daftar ulangku.

Appa tiba-tiba sakit. Entahlah, aku tak mengerti apa yang terjadi. Seolah Tuhan sedang mengasihiku saat ini dengan cobaannya. Dilihat dari segi apapun, ayahku terlihat sehat. Hanya saja mata berkantung dan tubuhnya yang lemah. Ia tertatih-tatih tak berdaya untuk dapat berjalan. Terkadang jatuh secara tiba-tiba.

Eomma sudah berusaha melakukan pengobatan kesana kemari. Tak cocok dengan dr.A, eomma menggantinya dengan dr.B begitu seterusnya. Hampir semua dr. mengatakan itu hal yang wajar karena stress dan terlalu kelelahan. Aku paham akan hal itu. Aku anak terakhirnya. Maksudku, aku anak bungsunya yang ia perjuangkan mati-matian untuk bisa sekolah lebih tinggi lagi. Agar bisa mendapat derajat yang tinggi di mata masyarakat.

Tapi itu semua sia-sia. Berbagai pil yang ia coba untuk ditelannya tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya ada seorang dermawan yang berbaik hati yang membelikan obat herbal pada appa. Untungnya itu berhasil. Secara perlahan ia mulai sembuh dan dapat bekerja lagi seperti sekarang.

Orang dermawan itu Nyonya Seo. Beliau merupakan orang asing yang datang dimasa lalu eomma. Eomma pernah bekerja dengannya saat ia masih belia sampai akhir masa SMA-ku. Beliau begitu baik. Jika saja bukan karena bantuan darinya dan juga putra-putrinya, aku mungkin tak bisa mencapai akhir ini. Memakai toga hitam dengan bangganya dihadapan semua tamu undangan. Ya, beliau yang memberikan biaya kuliahku.

*.*.*

Kini aku sedang bingung dengan keputusan yang telah ku buat sebelumnya. Aku mengatakan dengan bangga pada appa dan eomma bahwa aku akan mengambil jalan pintas dengan pengabdianku yang dilakukan pada daerah-daerah yang belum tersentuh. Terpencil dan jauh.

Tapi kini, aku mulai meragu. Mengapa aku selalu seperti ini? Bersemangat diawal dan berakhir dengan keputusasaan saat diakhir. Aku takut akan berbagai persfektif yang datang mendatangiku. Apalagi saat beberapa malam lalu aku bermimpi akan hak buruk.

Aku terdampar disebuah pulau yang tak kutahui itu berada dimana.

“Saem, kita berada dimana?” Pandangan kecewa dan kekhawatiranku yang memperhatikan sekitar diriku berada terlaihkan oleh pertanyaan dari bocah perempuan kecil yang berdiri disampingku.

Aku menatapnya dengan ragu. “Entahlah, saem juga tak tahu dimana kita berada.” Aku mengalihkan kembali pandanganku ke depan. Ada sebuah pulau kecil disana. Aku mulai melihat ke arah tempatku berpijak. Ini di tepi tebing yang tinggi. Pulau sekecil itu saja dapat terlihat dari atas sini. Bagaimana bisa? Tadi aku berada di atas tempat tidurku yang empuk. Hanya dalam beberapa detik aku berada di tempat asing seperti ini.

Aku mulai menangisi kebodohanku. Mengapa aku memilih jalan ini jika aku tak sanggup dengan resiko yang telah ku ambil sendiri? Ini hal terburuk yang ku alami. Lebih buruk saat mendapati appa yang tak mungkin membuatku bisa masuk ke perguruan tinggi itu.

Rasanya aku lebih baik mati saat ini pula. Memikirkan bagaimana caranya pulan ke rumahku sendiri, itu sangat mustahil untuk dilakukan. Mengapa semuanya menjadi seperti ini Tuhan? Ini lebih buruk dari berbagi sugesti-buruk lainnya yang pernah ku bayangkan.

“Aku ingin pulang eomma” lirihku. Aku terus menangis sampai akhirnya berhenti oleh dorongan dari diriku yang mengatakan bahwa inilah yang sudah kuputuskan. Dan hal ini pulalah yang terjadi. Aku harus kuat dan tak boleh mundur. Ini akan berakhir sampai dua tahun ke depan. Itu hanya dua tahun. Tak akan terasa jika aku menjalaninya dengan benar.

“Semua pengajar harus turun ke bawah. Cepat!”

Apa? Apa dia gila? Maksudnya dia berkata kepadaku dan menyuruhku untuk turun ke kubangan lumpur itu? Hah, rasanya dia sudah gila saja.

“Kau cepat turun!”

Aku gelisah ditempat. Mencari jalan untuk turun. Setidaknya jangan melompat ke kubangan itu. Aku bukan babi yang suka dengan lumpur yang menjijikan seperti yang terjadi di bawah sana. Tepat di hadapanku.

Aku pasrah akan kenyataan bahwa melompatlah salah satunya jalan. Tak ada tangga, tali yang menjuntai ke bawah, ataupun yang lainnya.

Dan dalam hitungan ketiga aku melompat.

Ini aneh. Airnya jernih seperti pada dasar laut. Tak kotor seperti yang terlihat dari atas sana. Dan dalam? Tunggu, ku pikir tadi sewaktu melompat, lumpurnya akan menciprat mengenai baju dan wajahku begitu aku mendarat disini. Tapi nyatanya, ini sangat dalam. Mungkin tiga atau lima meter dari permukaan.

*.*.*

Aku terbangun ditengah malam dengan keringat yang membanjiri hampir seluruh wajahku. Ini tak baik. Aku tak akan mampu menjalaninya.

Aku menangis lagi dengan tersedu-sedu. Layaknya mimpi itu akan menjadi kenyataan. Seolah-olah tak ada pilihan lainnya. Aku merasa, aku sedang berdiri diujung tombak, di tepi jurang. Mengahadapi kematianku.

Apa yang bisa ku lakukan ditengah keputusasaan ini? Aku sudah terlanjur meng-iyakan tawaran dari kedua temanku. Dan aku juga sudah terdaftar sebagai relawan ditempat terpencil itu. Mau tak mau aku harus mengambil jalan itu.

Pagi menjelang, disaat inilah aku harus pergi ke tempat yang tak bisa ku bayangkan sebelumnya bersama kedua rekanku. Kami hanya bisa diam dan menunggu kemana roda pesawat ini membawa kami. Entah itu ke pesisir pantai yang kumuh atau hutan rimba yang dalam dan jauh. Entahlah, aku hanya bisa berdo’a, semoga ini bukanlah hal buruk.

“Bangun Ji, kita sampai.” Tegur Eun-mi.

“Oh,” aku menggeliat dengan malas. Benarkah kita sudah sampai? Apa tempat yang akan dituju berikutnya akan sangat jauh dari waktu tempuh dari bandara?

“Ppali!” Hyora menegurku dengan kesal. Terlihat jelas dari gemerutuk giginya yang tampak dengan jelas.

“Ne.” Aku menimpalinya dengan enggan. Aku masih sangat mengantuk dengan Eun-mi yang membangunkanku secara tiba-tiba tadi.

Aku terus menguap dan membuka mataku dengan enggan. Kami sudah berada di sebuah van hitam. Van ini akan membawa kami menuju ke lokasi yang dimaksud. Aku baru saja akan menutup mataku lagi dan melanjutkan waktu tidurku yang tadi terpotong sampai suara melengking milik Eun-mi mengalihkanku.

“Pemandanganya indah. Ini tak seburuk dari apa yang ku pikirkan sebelumnya. Hyora-ah, tolong ambilkan photoku.” Aku memutar mataku jengah mengetahui kepribadiannya yang tak hilang. Melakukan photo dimanapun dan kapanpun saat dirasa tempat dan suasananya sedang bagus. Ku pikir dia lebih layak menjadi bintang film dibanding menjadi pengajar relawan di tempat ini.

“Kita sudah sampai nona-nona. Silahkan turun dengan hati-hati dan saya akan membantu menurunkan tumpukan tak berguna dibagasi.” Guraunya.

Aku memandangi punggung supir yang sekarang berjalan mengelilingi mobil menuju ke bagasi mobil. Tumpukan barang-barang tak berguna? Yang benar saja. Itu mungkin lebih layak disebut barang rongsok saat orang lain yang melihatnya. Tapi bagi kami bertiga, itu barang berharga yang bisa membawa kami untuk membantu beradaptasi dengan tempat baru. Makanan, setumpuk pakaian, sepatu, dan barang lainnya. Apa itu terlihat berlebiha. Mungkin kalian akan berpikir wajar. Sampai kalian mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Tiga koper milikku dengan ukuran yang paling besar dikelasnya. Satu koper penuh berisi makanan cemilan dan lauk pauk yang bisa bertahan lama. Dua koper diisi dengan pakaian yang hanya menyisakan setengah space untuk alat mandi, dan yang lainnya.

Hyora dan Eun-mi di buat menganga oleh tingkah lakuku. Mau bagaimana lagi, meskipun tubuhku kecil tapi kebiasaan mengemilku tidak bisa hilang. Lagi pula, belum tentu perutku bisa langsung makanan yang ada disini. Aku tahu ini masih satu wilayah, hanya berbeda kota dan provinsi saja.

Hyo-ra dan Eun-mi menatap tajam ke arahku. Mungkin dia tak menyangka aku bisa melakukan hal gila tersebut. Aku membalas tatapannya dengan mengendikan bahu kananku, tak perduli. Toh semua koper milikku uang transport-nya dibayar dengan uangku sendiri, tak meminta belas kasihan dari mereka berdua. Daripada terus menatapi raut wajah mereka, aku lebih tertarik dengan beberapa perumahan yang agak kumuh di sekitarku berdiri. Tak terlalu buruk seperti dalam mimpiku.

Ku putuskan untuk mendekati salah satu rumah, sampai sebiah seruan menghentikan langkahku. “Bukan ke arah sana Nona, ikuti gang kecil itu. Ada sekitar 650meter lagi dari tempat anda berdiri.” Ucap supir itu dengan santai.

“Mwo, MWORAGO? Ja-jadi masih sekitar 650meter lagi dari sini.” Kami bertiga terperangah. Berpikir bahwa mungkin saja supir tua itu bercanda. Tapi nyatanya tidak. Dia mengatakan hal itu dengan serius dan ekspresi datarnya. Oh, intonasinya tegas.

“Oh Tuhan, aku sudah ingin membersihkan diri.” Keluhku sambil menyeret dua koper milikku.

“Yak! Kau mau kemana?” Marah Hyora kepadaku. “Kau pikir siapa yang akan membawa barangmu yang satu ini?” Aku membalas tatapannya dengan mendecik. Mengapa ia tak berperasaan sekali, seharusnya tanpa dimintai tolongpun ia dengan rela mau mendorong koper itu.

“Jika kau tak berniat membantuku dengan membawanya, biarkan saja disitu. Aku akan kemari lagi nanti.” Jawabku acuh. Aku tak menghiraukan lagi omelan Hyo-ra maupun Eun-mi yang berada dibelakangku.

Aku melihat sebuah rumah yang menarik perhatianku dibanding dengan deretan rumah lainnya. Ada taman kecil dengan tanaman hias yang tertata rapih. Jangan lupa dengan ladang kebun dan persawahan disamping rumah itu. Sungguh menyenangkan sepertinya. Aku membayangkan diriku yang akan ikut menanam beberapa sayuran di ladang kecil itu. Aku akan meminta eomma untuk mengirimkan bibit bagus.

“Nona sudah datang? Silahkan masuk.” Suara pemilik rumah mengagetkanku yang tengah menatap rumahnya. Wah, jadi memang benar ini rumahnya? Mengabaikan tingkah konyolku, aku tersenyum kikuk ke arahnya lalu memberi hormat.

Mengulurkan lengan kananku, aku mengajaknya untuk berkenalan. “Shin Hyun-ji imnida. Bagapta ahjumma. Aku harap aku tak merepotkan anda selama tinggal disini.”

“Nona Shin tenang saja. Saya tak merasa direpotkan oleh Nona dan teman-teman Nona selama disini.” Ucapnya dengan luluh, membuatku ikut tersenyum ke arahnya. “Oh! Kemana yang lainnya? Bukankah anda bertiga?”

Aku ikut mencari ke jalan setapak yang telah aku lalui tadi. Benar, tak ada tanda-tanda dari mereka. Apa mereka tersesat. Tapi aku rasa… Aku terkekeh menyembunyikan rasa geliku hingga membuat ahjumma mengernyit kepadaku.

“Mereka seperti kura-kura ahjumma. Tenang saja jangan khawatirkan mereka berdua. Mereka sudah besar dan bisa menemukan jalan yang tepat untuk kemari.” Perlahan raut wajah tua itupun ikut berbinar. Mungkin beliau takut jika dimintai pertanggung jawaban oleh orang tua Hyo-ra dan Eun-mi. Jika mereka benar-benar hilang.

“Aku akan pergi ke jalan lagi. Koperku masih tertinggal disana.” Ku lihat wajahnya terperangah menatapku. Mungkin beliau berpikiran sama dengan Hyo-ra dan Eun-mi. Menganggapku seperti korban bencana alam.

“Apa ahjumma perlu membantumu?”

“Tidak terima kasih. Hanya tinggal satu koper saja.” Pamitku.

*.*.*

“Apa melelahkan untuk sampai kesini?”

Kami tengah menikmati jamuan kecil semacam penyambutan, selepas membersihkan diri.

“Tidak.” Ucap Hyo-ra. Sementara Eun-mi agak cemberut. Ragu untuk menjawab.

Ku tempatkan lengan kiriku pada lantai kayu untuk menopang tubuhku. “Jangan menampakkan raut wajah tak sukamu itu. Kau hanya membuat beliau sakit hati.” Bisikku pada Eun-mi.

Kau mau tahu mengapa dia seperti itu? Selama menetap di Seoul, jarak sewa apartement Eun-mi dan kampus sangat dekat. Hanya tinggal jalan kaki sekitar 50meter. Sementara aku dan Hyo-ra, jarak rumah kami cukup jauh dari halte bus. Jadi kami sudah terbiasa dengan jalan kaki jauh dan menanjak. Turun dari halte bus, kami harus menempuh jalanan aspal yang agak mendaki. Itu tak ada bandingannya dengan Hyo-ra. Ia harus turun tangga kecil untuk menyebrangi jembatan, lalu menaiki tangga lagi untuk sampai dirumahnya. Bukankah itu cukup melelahkan. Padahal kondisi Hyo-ra cukup bagus diantara kami bertiga. Orang tuanya merupakan guru di Junior High School Seoul. Ya mau bagaimana lagi, mungkin mereka sudah terlanjur mencintai tempat tinggalnya yang sekarang.

“Setelah ini, kalian beristirahatlah. Ada dua kamar disini. Satu kamar untuk satu orang, dan kamar yang lain untuk dua orang.”

“Aku ambil yang untuk satu orang. Kalian tidur berdua dikamar lain.” Ucapku terburu menyambar barang-barangku dan memasukkannya ke ruangan kecil yang akan ku tempati selama dua tahun ke depan setelah ahjumma menunjukkan kamarnya.

Bukan aku serakah ingin mendapatkan kamar ini. Pasalnya mereka berdua sangat buruk. Hyo-ra yang tertidur layaknya kerbau. Entah apa yang terjadi dengan telinganya ketika ia tidur. Alarm di atas kepalanya pun tak dapat mengusik dia dari mimpinya. Sedangkan Eun-mi, ia tidur layaknya anak 5tahun. Berputar seperti gasing. Dia juga agak tuli saat tidur seperti Hyo-ra. Aku tak mau tidur dengan pemalas seperti mereka. Bisa-bisa aku juga seperti itu.

*.*.*

“Wah itu saem yang baru?” Aku tersipu malu menatap anak-anak dihadapanku. Ini hari pertamaku mengajar.

“Tapi saem yang diikat rambutnya terlihat lebih pendek dibandingkan temannya.” Menoleh ke belakang, aku memutar mataku kesal sambil menggerutu sendiri. Dihari pertamaku ini, aku sudah diledek anak ingusan itu. Bagaimana dengan nasibku ke depannya?

“Tapi saem itu lebih putih dan cantik dibanding dengan saem yang lainnya!” Aku dapat pembelaan?

“Tapi tetap saja dia yang paling pendek.” Lihat saja nanti dia ke depannya, akan ku pelintir dengan kencang daun telinganya hingga merah.

Suasana semakin ricuh dengan beberapa murid yang mulai membisikan kami. Mulai dari apa yang dikenakan, sampai hal kecil seperti apa yang kami gunakan diatas rambut.

“Tenang anak-anak. Harap tenang.” Tegur Je-jin saem. “Ayo maju ke depan dan perkenalkan nama kalian.”

“Annyyeong. Shin Hyun-ji imnida. Bagapshimnida.” Ucapku lalu membungkuk.

“Kim Hyo-ra imnida.”

“Lee Eun-mi imnida.”

“Nah Nona Shin, kau tetap berada disini. Kelasmu disini. Dan untuk Nona Kim dan Nona Lee, kalian ikut saya ke kelas lain.”

Cukup melelahkan juga. Kami berputar mengelilingi sekolah kecil ini lalu memasuki ruangan demi ruangan memperkenalkan diri. Dan disinilah aku. Aku menempati kelas 3-I.

“Selamat menikmati harimu.” Ejek Hyo-ra dengan melambaikan tangannya.

Lihat saja nanti, akan ku beri dia pelajaran. Kesalku dalam hati.

Huh, mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi tugas dan takdirku dengan anak-anak yang hiperaktif. Hingga saat ini saja mereka tak mau diam. Berebut kursi, terus asyik mengobrol, mencoret-coret buku dan meja. Buku sudah biasa, tapi meja? Oh tidak, bagaimana jika hari pertamaku diisi dengan petuah dari pria tua tadi yang memperkenalkan dirinya sebagai kepala disini. Habis sudah gajiku yang tak seberapa.

Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan tepukan tangan secara berirama. Terlihat mereka mulai tertarik ke depan, tepat ke arahku berdiri. “Siapa yang mau mendengarkan cerita?” Ajakku sambil mengacungkan tangan.

“Aku!” Ucap anak berambut ikal.

“Aku!”

“Aku juga!”

“Aku, aku juga mau!”

Lihat, cara ini sangat efektif bukan. “Sekarang simpan bukunya dan dengarkan cerita ini baik-baik.”

“Pada suatu hari di hutan, ada seekor kerbau . . . . . . . .” *tadinya mau dilanjutin sampai akhir ceritanya, v takut yang baca pada muntah. Termasuk aku.

*.*.*

“Bagaimana tadi harimu di sekolah?”

“Cukup baik. Kau?”

“Agak membosankan, mereka agak penurut. Kurang hiperaktif. Kelasku seperti dihuni oleh warga lansia. Sepi dan senyap. Tak ada humor sedikitpun.”

“Hei, seharusnya kau yang lebih memahami mereka. Apa yang akan terjadi jika anak kelas 5-II seperti kelasku? Wajar jika kelasmu seperti padang tandus sekalipun. Bukankah tak lama lagi akan diadakan sebuah kompetisi?”

“Oh.”

Aku menepuk pundak Eun-mi. “Bersemangatlah. Ajari dan bimbing mereka mencapai gudang kesuksesan.”

“Sangat mudah untuk berbicara dan memberikan saran.” Keluhnya putus asa. “Ini tak semudah kelihatannya Ji!”

Aku lupa bahwa ada sedikit perbedaan bahasa diantara kami. Eun-mi telah lama tinggal di daratan kecil yang tak memiliki pantai sama sekali, Laos. Hanya pada saat kuliah saja ia memberanikan dirinya untuk sampai di Negara Gingseng ini. Orang tuanya memang berasal dari Korea. Hanya saja mereka memilih menetap di pulau tersebut dengan alasan lain. Jadi selama kami 4tahun di satu fakultas pun, Eun-mi belum terlalu mahir bicara Hangul. Dan selama 4tahun itu pula aku dengan suka rela menjadi translater berjalannya.

“Aku akan membantumu.”

Ku lihat irisan mata hitamnya membulat. “Sungguh?” Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban darinya. “Owh, terima kasih Ji.” Ia membawaku ke dalam pelukannya. Erat dan kencang. Sedikit lagi pasti akan mampu membuatku melayang, tak bernyawa.

“Ngh, Eun- Mi, se- sak.”

“Oh! Maafkan aku. Aku terlampau senang.”

“Aku akan membantumu jika kau mau membelikan satu bungkus ramen super pedas dengan irisan cumi, meat ball, dan udang. Itu saja!” Pintaku ringan sambil berjalan meninggalkannya.

“Yak! Ringan katamu? Kau menguras habis isi dompetku.”

Aku menoleh mengejek ke arahnya. “Siapa bilang, kau tinggal pergi ke selatan desa ini. Dan temukan cumi serta udang di pantai sana.”

“Yak!”

*.*.*

Sebulan sudah aku menetap di desa ini. Hampir setiap ada kesempatan aku gunakan untuk mengeluh. Tentang pekerjaanlah, tempat tinggal yang masih membuatku kurang nyaman, keadaan lingkungan sekitar, dan terutama aku merindukan rumah beserta kedua orang tuaku. Sedang apa mereka disana sekarang? Apa mereka makan dengan baik? Minum vitamin? Aku tak dapat membendung perasaan rindu ini.

“Saem, ada Eun-mi saem yang memanggil sedari tadi.”

Aku terperanjat dari lamunanku. Sungguh konyol, tak profesional, dan memalukan. Ini masih jam mengajar, dan aku masih bisa-bisanya menyempatkan waktu untuk melamun.

“Wae?”

“Wae? Aku memanggilmu sedari tadi dan kau baru bertanya dengan kata Wae?

“Mian Eun-mi.” Aku berjalan menghampirinya yang tengah berdiri diambang pintu masuk.

“Ayo kita ke ruang rapat sekarang. Eh mmm maksudku ruang kepala sekolah.” Aku hampir tertawa terbahak mendengarnya. Ruang rapat apanya? Dia pikir kita sedang berada di sebuah perusahan yang memiliki tempat khusus untuk rapat? Lucu sekali.

Tiba di depan pintunya, aku merapihkan sedikit penampilanku. Berhadapan dengan atasan tentu saja kau harus terlihat rapih, berwibawa, sopan, dan elegant. Bukankah begitu?

“Masuk.”

“Oh kalian sudah datang, duduklah.”

Kami melirik ke samping. Tiga pria? Apa yang mereka lakukan disini? Tidak mungkin bukan pria berjas mahal mau mendaftarkan dirinya sebagai relawan sepertiku? Dunia pasti sedang sakit.

“Nona Shin, perkenalkan mereka perwakilan dari CH Group. Bagian bidang perhotelan dan bisnis lainnya.”

“Oh, annyeonghaseo. Bagapshimnida.” Sapaku sambil mengulurkan tangan.

“Kim Eun-Woo imnida.”

“Lee Hyoung Ki imnida.”

“Ji Sang Dong imnida.”

“Ne, Shin Hyun-ji imnida.”

Aku duduk kembali dengan tegak memperbaharui posisiku. Mengerutkan kening menatap mereka. Bukankah tadi kepala In berkata mereka perwakilan dari CH Group? Mana yang namanya CH? Aku terus melamun memikiran nama bodoh itu. Hingga kepalaku dimirngkan kanan-kiri seperti daging steak yang berada di panggangan.

“Ada masalah Nona Shin?”

“Nde? A-anniyo.”

Sial. Benar-benar sial kali ini. Dua kali aku bertindak bodoh dan itu di hari yang sama pula. Habis sudah citraku.

“Ku dengar kau mahir dalam bidang bercocok tanam memanfaatkan lahan yang minimalis.”

“A-a,” dari mana beliau tahu? Aku melirik ke arah Eun-mi yang menunjukkan cengiran lebar dengan giginya.

“Nona Shin?”

“Ah ya, hanya sedikit.”

“Manfaatkan lahan kita yang berada di belakang bangunan ini. Apa kau bisa menata bagian depan dengan hiasan bunga?”

“Hiasan bunga?” Beliau mengangguk menyakinkanku. “Maksudnya bunga yang sudah di dalam pot atau pollibag?”

“Bukan, bukan. Bunga yang ditanam dengan bibitnya di tanah.”

“Aku tak bisa melakukannya. Aku kurang menyukai bunga. Anda bisa meminta Hyo-ra untuk melakukannya. Ia sangat menyukai bunga. Maaf,” aku tertunduk menyesal ke arahnya. Seharusnya aku menjadi orang yang berguna disini.

Mau bagaimana lagi, aku sangat membenci bunga. Aromanya dan bentuknya. Aku lebih menyukai rangkaian bunga yang terbuat dari kertas atau kain.

“Tidak apa-apa Nona Shin. Kalau begitu tolong sampaikan pada Hyo-ra untuk hal ini.”

“Nde.”

“Kalian boleh pergi dari sini.”

Sebenarnya, ingin sekali aku bertanya hubungan mitra kerja apa yang membuat CH Group terus duduk disana. Tapi hal itu sungguh tak sopan untuk dilakukan. Akan terasa lancang jika aku sampai mengutarakannya hanya untuk memenuhi rasa penasaranku.

“Ye, kami permisi.”

Begitu keluar dari ruangan tersebut, aku menarik Eun-mi agak kencang. Setengah berlari. “Apa hubungannya kita dengan tiga orang itu?”

“Mereka yang memberikan bantuan dana untuk sekolah kita. Karena sekolah ini seperti tak layak disebut sekolah.”

“Maksudmu?”

“Tidak ada pelajaran tambahan, keterampilan dari siswa, olahraga lain diluar yang telah ditetapkan, kecakapan siswa, bakat, dan masih banyak daftarnya.”

“Aku mengerti. Jika seperti itu, aku mungkin bisa mengembangkan seni tak kreatifku untuk membuat mereka bisa menyulam, merajut atau yang lainnya. Ya setidaknya itulah yang aku bisa.”

“Ide yang bagus. Kau juga bisa mengajari cara memasakmu yang mengagumkan pada mereka.”

“Kau pikir ini sekolah kursus heh?”

Ia terkikik geli melihat mata bulatku yang melotot tak menunjukkan keseraman. Yang ada hanyalah kelucuan. Inilah yang selalu aku kesalkan. Aku marah, tapi mengapa saat orang lain melihatku justru mereka menganggap hal itu sebagai lelucon?

“Kau tidak akan mendapatkan jatah makan!” Ancamku sambil berlalu darinya.

*.*.*

“Berbaris yang rapih,”

“Kau bergeser sedikit ke kanan Hana. Nara bergeser ke samping kirimu satu langkah. Jaga jarak kalian jangan terlalu dekat. Sekarang jongkok dan kutip sampah atau rerumputan yang ada disekitar kalian.” Mereka semua menurut akan ucapanku. Lihat, betapa mudahnya jika kau memiliki posisi.

“Kau enak sekali.”

“Wae? Kau iri?” Delikku pada Hyo-ra. Darimana asalnya dia? Datang dengan tiba-tiba dan mengejutkanku.

“Ya, mengapa tak kau saja yang melakukannya?”

“Untuk apa aku memiliki murid jika mereka hanya bisa melonggo di jendela melihatku yang melakukannya. Mereka harus belajar bagaimana cara bercocok dari awal. Seperti ini.” Tekanku.

“Oh! Aku baru tahu.”

“Itulah dirimu yang hanya bisa makan, tidur, dan santai. Sana kerjakan tugasmu sendiri!” Hyo-ra meninggalkanku setelah bunyi desisan darinya. Mungkin ia kesal karena ucapanku benar.

“Saem kami sudah selesai. Dimana kami harus meletakkan sampah dan rumput ini?”

“Kumpulkan semua sampahnya dipojok sana, lalu buang ke tong. Rumputnya kumpulkan ditengah-tengah.”

“Sudah saem.”

“Sekarang kalian menepi. Biar saem yang mencangkul tanahnya.” Arghh ige mwoya? Kenapa tanahnya sangat keras dan susah sekali di cangkul.

“Permisi Nona, apa bisa aku membantumu?” Suara pria? Suaranya tak ku kenali sama sekali. Apa dia orang luar?

“Dengan senang hati. Itupun jika kau tak keberatan.”

“Oh! Kau?” mengapa dia ada disini? Hal apalagi yang membawanya sampai disini? Apa dia mau menyumbangkan lagi sepersen hartanya?

Menyadari keherananku, ia mulai menyela pikiranku. “Aku hanya ingin bermain kemari. Apa tak boleh?”

“Kau bisa datang sesukamu.” Tak perduliku. “Ku yakin kau pasti bukan hanya sekedar main kemari. Katakan, apa yang kau cari hingga seorang wakil CEO mau turun tangan bergelut dengan tanah?”

Dia menyimpan cangkulnya disamping kiri lengannya, bergaya dengan angkuh. “Kau sangat cerdas Nona Shin. Karena kau telah mengetahui maksud lain dari kedatanganku, aku akan secara terus terang mengatakan bahwa aku ingin kau mendekatkanku dengan temanmu. Hyo-ra.”

“Itu bisa diatur setelah kau mencangkul semua lahan yang kami gunakan untuk menanam sayuran. Anak-anak, kalian bisa menepi di tempat yang teduh. Makan atau minum apa saja yang kalian inginkan di meja.” Aku menatapnya garang. “Dengan lenganmu sendiri. Aku akan mengawasimu! Ingat itu!”

“Tjk!”

Aku berjalan ke arah pohon cemara. Sambil terus tertawa dalam hati. Ku yakin dia pasti akan mengeluh seharian karena legannya yang tak biasa memegang cangkul. Rasakan itu, siapa suruh dia menyumbang bibit tanaman seperti sayur dan buah-buahan. Apa-apaan mereka. Jika memang ingin membantu sekolah ambruk ini, berikan saja bahan baku untuk membangun bangunan ini! Bukan dengan bibit. Dia pikir sekolah ini sekolah keterampilan yang akan menghasilkan siswanya untuk mahir bercocok tanam. Tjk! Benar-benar bodoh!

Mengambil kembali rangkaian bunga kainku, aku mencoba berkonsentrasi penuh akan dua hal. Mengerjakan apa yanga ada di tanganku dan memperhatikan pria yang sok jago itu.

Dugh!

“Ah yak!” aku tersungkur menyentuh tanah. Apa dia tak punya mata? Ku kira dia lebih minus dariku. Kemana kacamata atau softlens-nya?

“Mian, aku tadi berjalan mundur dan tak sengaja menyenggolmu.”

Aku berdiri menepuk-nepuk tanganku yang berdebu. “Akh!” kurasa telapak tanganku ada yang lecet terkena tanah kering. Aku meringgis dibuatnya.

“Biar ku bantu Nona.”

“Tak perlu!” tepisku. Memegang kursi kayu yang menjadi tempat dudukku tadi, aku berdiri lagi meskipun agak meringgis dan tertatih-tatih.

Dia menarik lenganku lembut. Tangannya tak sekasar lelaki pada umunya. Agak halus. Apa mungkin dia seorang yang menyukai beberapa treatment kecantikan yang ditawarkan salon kecantikan wanita? Membayangkannya saja membuatku geli.

“Aww. Itu sakit.”

“Tahan sebentar. Akan ku ambil . . . . .”

“Oppa neo waseo?” huh, aku melirik Eun-mi yang berjalan kemari. Oppa? Kapan?

“Ne chagi.” Chagi?

“Mmm, Ji kenalkan ini namjachingu-ku. Lee Hyun Soo. Putra paman Lee yang rumahnya berada dua blok dengan rumah yang kita tempati.”

“Annyeonghaseo”

“Kau terluka?” panik Eun-mi saat melihat lenganku yang merah dan coklat tanah.

“Ya, berkat pacarmu.”

Dapat ku lihat ia menyengir ke arah Eun-mi. “Tadi aku akan menemuimu. Dan bodohnya aku berjalan mundur melihat perubahan dari sekolah ini. Tak sengaja aku menyenggolnya yang sedang duduk disini.”

 

Menyenggol apanya? Jelas-jelas ia mendorong tubuhku dengan bokongnya.

“Aku bisa mengobatinya sendiri. Kau bantu saja pria malang itu.” Tunjukku ke arah pria yang kelelahan mencangkul.

“Baiklah.”

“Siapa pria itu Ji?”

“Dia ingin mendekati Hyo-ra.”

“Lalu mengapa kau menyuruhnya seperti itu? Kau tega sekali.”

“Biarkan saja. Aku tak memaksanya. Dia sendiri yang menawarkan diinya untuk mencoba.”

Satu jam kemudian mereka menghampiri kami yang tengah menyiapkan bibit tanaman.

“Taruh kembali yang itu. Ini musim panas. Tak cocok. Lebih baik gunakan bibit yang ini saja dan lima jenis bibit lain yang telah ku pilih.”

“Arra saem.” Ledek Eun-mi. “Kau sudah beres dengan tamannya Hyo?”

“Ya, baru saja selesai. Siapa pria yang berjalan dengan putra paman Lee itu?”

“Dia akan menjadi pasanganmu kelak jika kau mengatakn Ya atas pertanyaannya.” Bisikku.

“APA? Apa maksudmu?”

“Tinggalkan dia Eun-mi. Biarkan pria itu menemuinya. Oh, jangan melakukan apapun di tempat ini. Ini sekolah bukan tempat kencan. Arra?”

Kami berpisah di tempat pengambilan bibit. Eun-mi dan pacarnya pergi berkencan dan aku beserta anak-anak lain menanam bibit-bibit ini. Hyo-ra dan pria itu? Mereka melakukan pendekatan canggung di bawah pohon Mapel.

“Wanita itu sangat menarik. Kita jalan kembali.”

*.*.*

To Be Continued

*DATAR ya? Maaf, akan d’perbaiki lagi nanti untuk jalan cerita dan penataan tata bahasanya.

*Mmm, bagaimana pendapat kalian?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s