Lean On Me {Chapter 2}

 

Cast: Cho Kyuhyun – Shin Hyun-ji – OC||

Category: Romance – Complicated – PG17||

Lenght: Chapter|| Author: Samilia||

*.*.*

“Apa yang kau lakukan di sekolah itu?” selidik seorang pria begitu mengetahui ada derap langkah kaki yang mendekati mejanya.

“Aku hanya ingin menemui wanitaku. Apa itu tidak boleh. Kau sendiri bukan yang menyuruhku untuk segera mencari mempelai wanitanya?” jawab Eun-woo sambil berjalan ke satu sisi ruangan.

“Yang mana yang kau incar?” selidiknya lagi yang sekarang tengah bersandar angkuh di tempat duduknya.

“Apa urusannya denganmu?”

“Akan menjadi urusanku jika wanita yang kau maksud wanita dengan rambut sepinggang.”

“Tak ada wanita dengan rambut sepanjang itu. Satu jengkal dari bahu, sepunggung, daan wanita yang selalu di sanggul rambutnya. Hanya itu wanita muda yang berada disana.” Pria itu berujar kesal saat mengatakan kata terakhir. Wanita dengan sanggul? Wanita itu pula yang membuat tangannya lecet dan pegal-pegal seharian. Shin Hyun-Ji. “Tunggu, kau pergi ke tempat itu?” Tanya Eun-woo beberapa saat kemudian. Sepertinya ada yang janggal disini.

“Ya. Kemarin tepatnya. Saat ingin menarikmu yang hilang dari meja kerjamu. Tapi ku lihat kau malah sedang asyik berciuman dengannya.” Ejek pria tersebut.

“Bukan seperti yang kau bayangkan. Aku sedang membersihkan pipinya yang kusam terkena tanah dan debu. Banyak pekerjaan baru untuk guru muda disana.” Bantah Eun-woo.

“Ya, menyapu pipinya yang berdebu dengan bibirmu.”

“Aku tak melakukan hal yang seperti kau tuduhkan padaku!” dan Eun-woo pun dibuat berang sekarang.

“Baiklah, terserah padamu. Itu bukan lagi ukuran kewenanganku. Siapa wanitamu? Kau memiliki photonya?”

“Kim Hyo-ra. Dia wanita pendiam, anggun, elegant, dan sopan tentunya. Ya aku memiliki beberapa photonya yang ku ambil secara diam-diam.”

“Sudah ku duga, kau hanya mampu sebatas itu. Berikan padaku.” Desak pria tersebut. Sementara pria yang di desaknya hanya merengut kesal dan mencibir. Mungkin ia hendak mengatakan ‘setidaknya kau memintaku dengan sopan’.

Tanpa membantah lagi, Eun-woo memperlihatkan hasil jepretan karya tangannya. “Bagaimana menurutmu?”

Bukan ini wanita yang ku cari. Menanggapi pertanyaan sepupu sekaligus rekan kerjanya, ia kembali menegadahkan wajahnya untuk menatap lurus pada mata lawannya berbicara. “Yang lain?”

“Maksudmu dengan yang lain? Oh! Wanita dengan kulit eksotis dan rambut sanggul itu? Aku akan memintanya jika kau menginginkan photo mereka.”

“Kau yakin tidak ada wanita yang memiliki rambut sebatas pinggang?”

“Aku tidak berbohong Cho. Kyuhyun. Berapa kali aku harus mengatakan hal itu? Kalau kau tak percaya, aku akan menghubungi Hyo-ra sekarang juga.” Jawab Eun-woo yang semakin kesal saja dengan hyung-nya.

“Kalau begitu lakukanlah.” Tantang Kyuhyun.

Dengan hati kesal serta dengusan napasnya yang tak beretika, Eun-woo menekan beberapa kali layar datarnya. Mencari nomor ponsel dengan nama Kim Hyo-ra.

“O, chagi-ya.” Sapanya dengan ringan. Sementara yang diujung sambungan sana hanya bisa mendengus kesal.

“Chagi-ya mwohae? Naneunde Kim Hyo-ra. Kita hanya sebatas teman, ingat itu.”

Pernyataan dari Hyo-ra seketika itu juga mampu membuat Kyuhyun yang semula duduk tegak dan berwibawa menjadi tak terhormat lagi. Ia tertawa riang tanpa mengeluarkan suara. Memegang perutnya yang sakit akibat tertawaan tertahan itu. “Aku sudah menduganya. Hahah.” Yang akhirnya melepaskan tawa terbahak-bahak itu. Tawanya terhenti sebentar untuk menyeka air matanya yang keluar.

“Diam Cho. Kalau tidak, aku tak mau meminta Hyo-ra melakukannya?”

“Siapa disana? Mengapa ada suara lain?” Tanya Hyo-ra penasaran. Pasalnya, saat ini pembicaraan antara Hyo-ra dan Eun-woo dapat terdengar oleh Cho Kyuhyun karena Eun-woo memasang Loudspeaker.

“Abaikan saja Hyo. Aku hanya ingin menanyakan apakah ada wanita lain yang bekerja di sekolah yang sama denganmu, yang memiliki rambut sebatas pinggangnya. Bukankah tidak ada yang seperti itu? Hanya ada si kulit eksotis dan rambut sanggul yang menyebalkan itu!”

“Mmm aku pikir ada. Tapi sebentar, kau mengatai temanku si rambut sanggul yang menyebalkan?”

“A–aniyo. Bukan seperti itu. Maksudku . . . . .” Eun-woo kebingungan mencari sebuah alasan agar tak menyinggung Hyo-ra. Bagaimanapun juga Hyo-ra merupakan teman wanita itu. Tapi pemikiran dan lidahnya terhenti saat Hyo-ra dengan cepat menyela ucapannya.

“Wanita yang berambut sebatas pinggang dan yang kau maksud bersanggul menyebalkan itu orang yang sama. Dia temanku. Wae? Apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Maksudmu, dia Shin Hyun-ji?” Tanya Eun-woo dengan terperangah.

“Mmm. Mengapa dari nada suaramu kau terdengar terkejut dan tak suka?”

“A-aku hanya tak menyangkanya itu saja. Bisakah kau kirimkan aku photonya? Saat kalian bertiga, dan gaya rambut Hyun-ji. Aku masih tak percaya.”

“Untuk apa kau memerlukan photo kami?”

Eun-woo melirik ke arah Kyuhyun sejenak. “Bilang bahwa ada pria yang menyukainya. Ah ani. Katakan ini untuk keperluan data kepegawaian pengajar relawan agar mendapat santunan dari kita. Katakan itu saja.” Ucap Kyuhyun tanpa bersuara. Hanya ada gerakan dari mulut dan bahasa tubuhnya yang membantu menjelaskan maksud dari ucapannya.

Eun-woo mengikuti apa yang Kyuhyun katakan. Sambil sesekali matanya tak berhenti melirik ke arah Kyuhyun dengan waspada. Ia takut jika ucapannya salah. “Untuk keperluan kalian. Agar kalian mendapatkan santunan atas dedikasinya di sekolah tersebut.”

“Oh, aku mengerti. Akan ku kirimkan segera. Ini sudah malam, sudah ya?”

“Kau benar. Tidurlah yang nyenyak. Aku tunggu kiriman photonya.”

“Ya. Akan ku kirimkan sekarang juga. Selamat malam.”

“Selamat malam Hyo-ra.” Saat sambungan telah terputus, Eun-woo berdiri dari duduknya yang sedikit menyangga di dekat jendela besar dan langsung bersorak senang. Ini sambungan pertama kali bagi dirinya dengan Hyo-ra. Dan akan ada panggilan telepon lain di masa depan.

Ping.

“Kyuhyun-ah. Lihat kemari. Wanita mana yang kau maksud itu?”

Kyuhyun melihat lebih dekat ke arah layar ponsel I-phone milik Eun-woo. “Perbesar layarnya.” Perintah Kyuhyun.

“Oh!”

“Jadi benar wanita ini yang kau maksud?” Tunjuk Eun-woo pada photo yang menampilkan wajah Hyun-ji.

“Ya. Wanita itu.”

“Apa?! Ku sarankan lebih baik tidak Cho. Dia . . . . Masih banyak wanita lain selain dia.”

“Wae?”

“Kau tak lihat telapak tanganku yang lecet ini? Ini semua gara-gara wanita itu! Dia yang menyuruhku mencangkul seluruh halaman belakang.” Ucap Eun-woo sambil memperlihatkan tanganya yang telah diperban dengan bantuan Hyo-ra tadi.

“Itu salahmu sendiri yang sok jago dengan menawarkan diri untuk membantunya.”

“Kau sama berengseknya dengan dia!” bentak Eun-woo tanpa sadar dengan siapa dia bicara. Mungkin dia mulai lupa, dimana ia sekarang berada.

“APA?”

“Ah tidak, tidak. Tidak ada apa-apa. Kau hanya salah dengar tadi. Kita pergi ke ruang meeting sekarang.”

*.*.*

“Hari ini akan ada tamu yang datang ke rumah. Kalian bagi-bagi tugas saja. Tapi ahjumma sarankan lebih baik Eun-mi yang membersihkan rumah. Hyo-ra dan Hyun-ji pergi ke pasar. Beli bahan masakan untuk menyambutnya.” Instruksi Ahjumma.

Setelah yakin dengan photo yang Eun­-woo perlihatkan pada Kyuhyun tempo hari, pria itu semakin gencar mencari tahu hal-hal kecil seputar Hyun-ji. Mulai dari hobi, kegiatannya, makanan dan minuman yang ia sukai, hingga ukuran benda paling pribadi. Nomor sepatu, pakaian sampai lingkar pinggang dan mmm, itu terlalu pribadi jika di ceritakan lebih dalam lagi. Dan hari ini ia memutuskan untuk menemui wanita tersebut, secara jantan. Datang ke rumahnya walaupun ini untuk pertemuan pertama mereka. Hanya sang pemilik rumah, ahjumma Han yang mengetahui akan kedatangannya. Tak ada yang lain.

“Ah berarti ahjumma yang akan memasaknya?” Tanya Eun-mi.

“Bukan ahjumma, tapi Hyun-ji. Setelah dari pasar Hyo-ra mendapat tugas untuk membersihkan halaman depan.” Ucap ahjumma Han sambil memberikan beberapa lembar unag kertas pada Hyun-ji.

“Memangnya siapa yang datang? Seperti hendak menyambut seorang pegawai pemerintahan saja. Apakah itu seorang menteri?” Tanya Hyo-ra agak kesal sekaligus penasaran.

“Bukan seorang menteri. Tapi ini untuk menyambut kedatangan calon suamimu Hyo.” Bisik Hyun-ji ditelinga kirinya yang menimbulkan warna merah muda di raut wajahnya.

“Bukan untuk Hyo-ra, tapi untukmu.” Jawab ahjumma membenarkan. Kemudian ia meninggalkan mereka bertiga yang terkejut bukan main dengan kalimat yang baru saja dikatakannya.

“Apa?! Kau pasti sedang bercanda ahjumma. Kau bisa saja.” sahut Hyun-ji.

“Ya, pasti beliau hanya bercanda. Lagipula mana ada yang mau dengan wanita sepertimu. Jutek, sombong, angkuh, temprament, keras kepala, dan . . .”

“Yak! Geumanhae! Kau mau ku cingcang rupanya hah?!” Hyun-ji memotong ucapan Eun-mi secara sepihak. Ia tahu apa yang dikatakan itu ada benarnya. Tapi maksud Hyun-ji, Eun-mi tak perlu mengatakan hal itu secara gamblang. Membuat Hyun-ji semakin meradang.

“Maaf, tapi itu kenyataannya.” Tambah Eun-mi yang mengangkat bahu seolah-olah menyesali ucapannya. Tapi wajahnya tak mengatakan hal itu. Ia langsung melakukan high five dengan Hyo-ra.

“Ayo Hyo, kita pergi saja sekarang.”

*.*.*

“Makanannya enak, siapa yang membuatnya?” Komentar Kyuhyun. Sebenarnya itu hanya alasannya saja. Ia ingin menanyakan keberadaan Hyun-ji. Apa ahjumma tak memberitahukan kedatangannya pada Hyun-ji?

“Hyun-ji yang membuatnya. Kami tak terlalu mahir dalam hal ini. Tapi tunggu, kemana dia pergi?” tanya Hyo-ra enggan. Ia malu jika harus mengatakan bahwa kemampuannya dibawah Hyun-ji.

“Kau benar. Kemana dia pergi? Bukankah tadi dia bersamamu Hyo?” Tanya Eun-mi yang baru menyadari bahwa temannya tidak ada satu orang lagi.

“Tadi dia memang bersamaku. Tapi setelah memasak sup rempah ini, aku tak melihat dia lagi.”

“Kalian lanjutkan saja makannya. Hyun-ji sedang menerima telepon dari orang tuanya.” Timpal ahjumma. Ia datang untuk menghidangkan kimchi putih pada mereka.

Sementara Eun-woo, Hyo-ra, Eun-mi, dan Joon-hee melanjutkan acara makan siang bersamanya, Kyuhyun lebih memilih untuk menarik dirinya keluar. Menemui Hyun-ji.

*.*.*

“Aku juga merindukanmu ma.”

“. . . . .”

“Cukup melelahkan. Masih banyak pekerjaan disini.”

“. . . . .”

“Aku tak tahu kapan pulang ma. Libur sekolah nanti masih banyak pekerjaan.”

“. . . . .”

“Apa eomma masih mempunyai uang saku?”

“. . . . .”

“Akan ku kirimkan nanti. Bagaimana kabar appa? Apakah ia masih sangat menyebalkan dan menyusahkan?” Aku jadi teringat appa yang cerewet melebihi eomma. Dan bagaimana cara ia mengatur putrinya agar tidak keluar dari jalur hidup yang telah ia garis bawahi.

“. . . . .”

“Aku paham. Jaga kesehatan selalu ma. Mungkin aku pulang di awal liburan tahun pelajaran baru. Sampai nanti. Aku akan sangat merindukanmu.”

“. . . . .”

“Aku juga menyayangimu ma. Sangat. Sampai nanti.” Aku mendesah frustasi ke layar tipis yang berada dilenganku. Aku merindukan kedua orang tuaku dan suasana disana. Rasanya seperti ada tali rotan yang melilitku. Menahan perasaan membuncah untuk bertemu mereka. Hah, aku sudah dewasa. Jangan manja dan cengeng hanya karena berpisah dengan orang tua. Ini tak akan lama. Hanya dua tahun.

Aku hendak kembali memasuki rumah saat langkahku terhenti oleh sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatku saat ini. Apa aku punya masalah dengan beberapa orang? Atau dia menungguku hingga selesai untuk menanyakan alamat rumah?

“Mmm apa ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanyaku agak ragu. Ia hanya mengernyitkan sebelah alis tebalnya. Mungkin itu mengindikasikan bahwa pertanyaanku salah.

“Aku berada disini sejak . . . hampir satu jam yang lalu. Dan kau wanita yang bernama Shin Hyun-ji bukan?”

Ya Tuhan ada apalagi ini? “Ya itu aku. Apa kau memiliki keperluan denganku? Maksudku apa. . . kau mungkin tahu apa yang aku maksud.” Kataku pada akhirnya. Aku tak mampu mengatakan kata yang tepat untuk menanyakan ada perihal apa ia denganku. Karena walau bagaimanapun agak terasa ganjil saat milioner yang berpakaian rapih datang menemuiku dan mengetahui namaku. Aku memang tak tahu siapa dia. Aku hanya menebak itu dari caranya berpakaian dan, aku sempat melihat ia keluar dari mobil mewahnya tadi.

“Kau bisa membantuku?”

“Ya aku akan membantumu selama aku bisa.” Jawabku agak enggan. Apa ini masalah Hyo-ra atau Eun-mi. Terakhir kali pria yang ku temui ia ingin berkencan dengan salah satu dari mereka. Tak ada yang spesial dariku yang dapat menarik perhatian pria lajang.

“Kau pasti bisa. Ayo duduk disana.” Ajaknya mengarahkanku untuk duduk di meja kayu di bawah pohon cemara. Tempat yang sering ku gunakan untuk menghabiskan hari-hariku setiap kali aku pulang dari sekolah dengan perasaan yang lelah luar biasa.

“Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Kau bisa melakukan hal itu bukan? Sangat mudah.” Ia tersenyum manis ke arahku. Mengulurkan tangannya, ia mengajakku untuk berkenalan. Ya Tuhan, tampar aku sekarang juga. Berbuat apa aku hari ini? Hingga Tuan muda berjas dan kaya ini mau berkenalan dengan wanita muda miskin dari sebelah barat Negara ini?

“Cho Kyuhyun.”

“Shin . . . Hyun-ji.”

“Jangan terlalu canggung begitu denganku Nona Shin. Aku tak bermaksud untuk menakutimu atau menekanmu dengan kehadiranku.” Candanya. Dan itu malah membuatku semakin gugup, takut, dan canggung.

“Tidak sama sekali. Hanya saja agak terasa ganjil.”

Ia mencondongkan badannya tepat 5cm dari jarak wajah kami. Apa dia bermaksud mengujiku? “Disebelah mana yang terasa ganjil?”

“Di bagian seorang pemuda sepertimu yang dapat mengetahui bagian tak penting dari isi bumi ini. Namaku.”

Ia kembali menarik dirinya. Mengelus dagunya yang runcing dan terbelah dua. Seperti punyaku? Tanpa sadar aku meraba bagian daguku. Ia melirik ke arahku dengan tersenyum senang. “Bukankah kita memiliki kesamaan?” aku segera menurunkan tanganku. Bodoh sekali aku ini. Berbuat dungu dihadapan Tuan muda yang sangat kaya.

“Jika tak ada yang lainnya, aku pamit terlebih dulu Tuan Cho. Aku masih memiliki segudang tugas yang harus di kumpulkan lusa.”

“Setidaknya aku meminta nomor ponselmu.”

“Untuk apa? Kau mau aku untuk mendekatkanmu dengan siapa? Eun-mi? Hyo-ra? Kau telah lama disini dan kurasa kau dapat membaca situasinya. Mereka sudah memiliki kekasih. Aku tak mau menjadi kambing hitam diantara mereka hanya untuk memasukanmu.”

“Bukan mereka. Tapi kau.”

Aku tak mau berharap lebih. Dia jauh diatasku. Sangat mustahil untuk aku ikuti. “Kau terlalu banyak makan. Beristirahatlah. Aku yakin kau akan kembali normal setelah beristirahat sejenak.”

Dia diam tak berkata apapun lagi. Aku menganggap pernyataanku tadi itu benar adanya. Sudahlah Ji, kau harus sadar dimana kau berpijak kini. Ini bukan kisah dongeng Cinderella dengan aku sebagai tokoh utamanya dan dia pangerannya. Terlalu aneh jika itu terjadi. Cinderella? Hah, memikirkannya saja membuatku geli.

*.*.*

Eun-mi dan Hyo-ra tengah mengerjakan proyek sekolah yang dilimpahkan pada mereka berdua saat sang milioner muda, Tuan Cho memasuki ruang tamu tanpa menimbulkan suara derap langkah dari sepatunya.

“Dimana wanitaku?”

“Wanitaku? Maksudmu Hyun-ji? Kapan kalian. . .” selidik Eun-mi.

“Belum, masih proses. Sekarang dimana dia?” Eun-mi mengeluarkan napas leganya. Untungnya masih dalam tahap pendekatan. Bukan maksud buruk Eun-mi mengatakan hal itu. Pasalnya Hyun-ji dibuat pusing dan terganggu oleh kedatangan Kyuhyun akhir-akhir ini pada kehidupan temannya itu. Tak ayal di sekolah ia menjadi bahan gossip yang kurang enak di dengar. Berkata ia bermuka dua, wanita perayu kelas atas, social climber, dan yang lainnya. Eun-mi kadang tak tega harus melihat Hyun-ji jadi suka menyendiri di bawah pohon Maple, di belakang sekolah.

“Masih proses? Dan kau berani mengatakan wanitaku padanya? Dimana letak otak jeniusmu Tuan Cho.” Hyo-ra bergemeretak kesal melihat Kyuhyun yang seperti mau tak mau mendekati sahabatnya. Apa Kyuhyun hanya berniat mempermainkan hatinya saja?

“Ini sudah bulan kedua dari hari pertama kau mengenalkan diri padanya! Sekarang apa yang masih kau lakukan hah? Berdiri mematung seperti orang bodoh saat melihat dirinya berdiri di kejauhan sana?” maki Hyo-ra lagi. Mungkin ia hendak mengatakan pada pria bermarga Cho itu, setidaknya kau perlu melihat dan belajar dari sepupunya Kim Eun-woo yang setelah resmi menjadi pacarnya sejak satu bulan yang lalu.

“Aku bukan orang yang seperti itu. Hanya saja, ada sifat Hyun-ji yang sering mematahkan semangatku. Aku bersumpah pada kalian berdua sebagai sahabatnya, aku tak akan membuatnya menderita selama ia berada di dekatku. Menjadi istriku?”

Eun-mi tersedak makanannya sendiri. Segera ia meraih air di dekatnya. Meminumnya secara tak sabaran. “Kau serius? Maksudku, apa kau tak pernah menanyakan bagaimana perasaan Hyun-ji selama ini setelah mengenalmu?”

“Aku akan menanyakannya sekarang. Tapi ku pikir ia cukup nyaman saat bersamaku. Apa yang mesti aku khawatirkan?”

‘Dampak psikologisnya.’ batin Eun-mi. ‘Kau tak tahu dia yang selalu bersembunyi di balik muka bengisnya. Ia rapuh dan membutuhkan sandaran.’ “Maaf sebelumnya karena begitu lancang mencampuri urusanmu. Sebaiknya kau jangan mendekati Hyun-ji. Dia jadi terganggu semenjak kau hadir dalam kehidupannya. Dia selalu menyendiri akhir-akhir ini. Aku hanya ingin memberitahumu agar kau mempertimbangkan jalan keluarnya.” Saran Eun-mi.

Hyo-ra yang semenjak tadi hanya mau menanggapi dengan seadanya, menjadi lebih tertarik masuk ke dalam pembicaraan tersebut. “Jika di ingat kembali, memang akhir-akhir ini dia agak pendiam. Selalu menyendiri. Ku pikir ia seperti itu karena merindukan orang tuanya. Ternyata kau penyebab utamanya Tuan?” Tuduh Hyo-ra dengan kesal.

“Katakan padaku, apa yang membuat ia merasa tak nyaman denganku.” Paksa Kyuhyun.

“Menurutmu apa hal yang paling mendasar, yang berbeda diantara kalian?” Tanya Eun-mi balik.

Kyuhyun hanya menggeleng tak tahu. Memangnya ada yang membedakan jarak diantara mereka?

“Kyuhyun, tak seharusnya kau mendekati Hyun-ji atau orang seperti kami. Kami dari kalangan biasa dan tentu itu akan membuat kami tak merasa nyaman saat berada di kalangan elit sepertimu. Bagaimana pandanganmu terhadap Itik buruk rupa yang berubah menjadi Angsa? Atau buruk Gagak yang berubah menjadi burung Merak.”

“Ku pikir itu mustahil bagi seekor binatang. Tapi tak ada yang mustahil bagi manusia selama ia berusaha. Dan aku akan membuat perubahan itu pada temanmu, Hyun-ji.”

Eun-mi memejamkan matanya sejenak. Pantas saja Hyun-ji hanya bisa diam dan patuh saat bersama Kyuhyun. Pria ini sangat keras kepala dan tak peka terhadap sekitarnya. Hanya mementingkan keinginannya yang hendak di capai. “Kau harus membicarakan hal ini dengan serius padanya. Jika ia menolak, jangan memaksanya. Jangan memaksanya ketika ia mengatakan tidak.”

“Baiklah. Aku berjanji.” ‘Hanya di hadapanmu. Tapi tidak saat bersamanya. Mungkin aku egois. Memaksakan ia untuk tetap berdiri disampingku. Tapi setahuku, hanya itulah cara yang dapat membuatku terus hidup. Berada disampingnya.’ Batin Kyuhyun dalam hati.

Eun-mi menghembuskan napasnya berat. “Di berada di halaman belakang. Di tempat pertama kau menemukannya.”

Setelah mendapatkan informasi tersebut, Kyuhyun berjalan menghampiri Hyun-ji. ‘Ia terlihat kurus dan seperti berpenyakitan. Sebesar itukah dampak buruk yang aku timbulkan padanya?’ “Boleh aku duduk disini?” Hyun-ji mengusap air matanya dengan cepat. Ia tak mau terlihat cengeng dan lemah dimata orang lain. Kesedihannya hanya untuk ditelan sendiri. Sementara kebahagiaan dan keceriaannya untuk ia bagi dengan orang lain.

“Tentu. Duduklah. Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu.”

“Hyun-ji, aku tak bermaksud untuk . . .”

“Tolong dengarkan aku dulu. Jangan menyela ucapanku sebelum aku selesai mengatakannya.”

“Baik.”

“Jangan mendekatiku. Berpura-puralah kita tak saling mengenal satu sama lain. Aku menyerah untuk hal ini. Aku tak akan lama tinggal disini. Hanya dua tahun. Mohon buat aku untuk merasa nyaman disini dengan tidak mendekatiku.” Hyun-ji tertunduk lemas. Ia lelah untuk menerima berbagai cibiran dari orang-orang sekitarnya.

“Maaf, tapi aku tak bisa. Hyun-ji, ku mohon bersabarlah untuk hal ini. Aku mungkin menyerah akan sifatmu yang, seperti menyihirku untuk diam. Tapi aku tak akan menyerah untuk hubungan ini.”

“Kau tak mengerti.”

Kyuhyun meraih lengan Hyun-ji. Memaksanya untuk saling bertatapan. “Aku sangat mengerti dirimu. Hanya dua tahun lagi. Setelah itu aku akan datang menemui orang tuamu, meminta izinnya kemudian kita bisa hidup di tempatku. Dimana tidak ada orang yang mengenali kita.”

“Kau percaya akan datangnya hari itu?”

“Aku percaya. Karena aku dapat melihat kita yang hidup bahagia di masa depan. Aku melihatnya dimatamu. Masa depan kita yang indah.”

Hyun-ji bergetar menahan tangis. Terharu akan ucapan Kyuhyun. Pria itu tak menyerah. Hyun-ji memeluk Kyuhyun dengan erat. Melepaskan tangisannya di dada pria itu untuk pertama kalinya.

“Kau berjanji untuk selalu disampingku? Menemaniku saat seluruh bumi mencemoohku dengan cacian mereka?”

“Aku berjanji.”

“Tak selalu memaksaku menuruti keinginanmu?”

“Ya untuk hal itu juga. Kapan aku selalu memaksamu? Hmm?”

“Saat kau dengan ngotot menyuruhku mengganti celana levis dengan rok mini atau dress. Aku tak suka di suruh untuk melakukan ini dan itu. Menyuruhku untuk memakai pakaian yang kau suka. Aku ingin bertindak semauku.”

“Aku akan melakukan itu. Tak akan memaksamu lagi.” Kyuhyun meraih jemari Hyun-ji mengecupnya dengan penuh sanjungan. “Aku akan menuruti semua perintahmu. Selama kau berjanji untuk berada terus disampingku.”

“Kita lakukan ini bersama-sama?”

“Ya bersama-sama. Jangan sembunyikan hal apapun lagi dibelakangku. Arra?”

“Ya. Aku berjanji.” Kyuhyun meraih rahang Hyun-ji untuk menengadah ke arahnya. Saling tatap, kemudian menyatukan bibir mereka dengan lembut. Ciuman yang mengawali hubungan mereka menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya.

*.*.*

*aku sedang di halaman depan rumahmu. Mmm maksudku rumah ahjumma. Keluarlah.

Dari Cho Kyuhyun? Aku segera memasukkan semua barangku ke dalam tas kecil yang di sampirkan pada pundakku. Memasang sepatu flat cream, bercermin dan yang terakhir menyemprotkan parfum.

“Sudah selesai.” Saat ku pandangi pantulan diriku di permukaan cermin. Tidak begitu buruk. Malah ku pikir aku cukup memiliki fashion yang lumayan sebanding dengannya. Meskipun harga baju yang ku kenakan hanya satu per delapan dari harga baju yang dia pakai.

Tiiittt, tiiittt, tiiittt.

“Kau membuat tetangga sebelah bertanduk! Hentikan sekarang juga.” Teriakku membuka jendela kamar. Tapi yang terlihat disana hanya wajah jahilnya yang tetap memamerkan senyum menawannya. “Dasar iblis.” Desisku tak suka.

Oh! Aku membekap mulutku segera. Mengapa aku mengatai dia iblis. Jika dia iblis, lantas aku yang menjadi kekasihnya ini apa? Ratu iblis? Ah tidak, tidak. Kurasa aku mulai gila.

Tiiiiiittttt

“Aku keluar. Aku keluar.” Aku segera berlari meraih handle pintu utama dari rumah ini.

Duk.

Ah sial. Aku tak melihat kemana kakiku melangkah. Aku jadi teringat ucapan ibuku, “Kau harus tertunduk melihat ke bawah saat kau berjalan. Jangan melihat ke depan atau menengadahkan wajahmu ke atas.” Sebenarnya itu hanya sebuah peribahasa, tapi aku selalu menganggap itu teguran. Ya, perhatikan jalanmu. Tapi mengapa aku malah memperhatikan pria yang kini menatapku dengan geli. Dia pasti sedang menahan dirinya untuk tak menertawaiku.

Aku menghentakkan langkah kakiku dengan kesal. Baru saja aku hendak menunduk untuk mengambil tempat dudukku di sampingnya, lagi-lagi aku membentur kap pintu mobil.

“Akhh,” ringgisku. Kyuhyun meraih lenganku yang memegang lebam benturan tadi.

“Gwenchana?” Tersirat nada khawatir darinya. Aku hanya terbentur kap mobilnya, bukan terserempet mobilnya. Tapi ia melihatku seperti itu. Membuatku mendengus kesal.

“Aku hanya terbentur. Tak usah berlebihan seperti itu.” Tapi sejujurnya ini memang sakit.

“Aku hanya khawatir kau meninggalkan tanda disini.” Ucapnya sambil mengelus pelan lebamku. Sepertinya memang benar begitu. Akan meninggalkan luka.

“Aku akan membuka ikatan rambut dan kepangku jika itu yang kau khawatirkan.” Aku menarik lengannya untuk tak menyentuhku lagi. Ku raih jepitan rambut yang menahan kepanganku dan mulai mengurai kepanganku. Rambutku jadi tak bersanggul lagi.

Kyuhyun mengambil beberapa helai rambutku. “Rambutmu halus. Apa yang kau kenakan pada rambutmu ini?”

Aku enggan menjawabnya. Apa aku harus memaparkan apa yang ku kenakan pada rambutku? Hanya shampoo tak bermerek dan aloe vera.

“Dan wangi.” Aku terkejut menoleh ke samping. Dia mencium rambutku dengan kagum. “Apa yang kau pakai? Katakan padaku?” cecarnya.

Aku dibuat tak berkutik dengan dia tak mau menjauhkan wajahnya. Terus mencium rambutku dengan bangga. Oh boy, itu malah membuatku jadi tak wangi lagi. “Kau menyukainya? Aku membuat ramuan sendiri.” Ucapku malu. Oh, dia akan tercengang jika aku mengatakan diriku yang sebenarnya.

“Ya, katakan.”

“Kemiri, teh beraroma melati, dan tanaman herbal. Seperti kayu manis, akar kayu, dan batang kayu yang berwarna merah dan wangi, bunga lawing mungkin.” *itu aslinya wedang uwuh yang dicampur teh beraroma leci, dan kemiri yang udah dihaluskan. Coba aja. Tapi jangan salahin aku kalau kenapa-kenapa. Waktu aku coba sih bagus + wangi. Terkadang aku memang suka tak masuk akal.

“Kau membuatnya sendiri?” Aku yakin akan seperti ini. Terperangah tak percaya. Ya, melihat ini di masa apa, ku pikir dia akan berpikir bahwa aku hidup di zaman kerajaan kuno. Membuat segala sesuatu secara alami.

“Aku hanya penasaran dan mencoba mempraktekannya pada rambutku. Tapi tunggu, apa kau malu jika aku mempunyai tanda ini?”

Kyuhyun tak menghiraukan ucapanku. Dia terus membelai rambutku. Pria muda dengan hobi barunya eh? “Kau harus memakainya terus. Aku menyukai rambutmu. Meskipun agak aneh saat kau merawatnya.” Mengernyit di akhir kalimat. Gah, aku memutar mataku ke arah jendela samping.

“Aku sedang tak membicarakan bagaimana rambutku terbentuk Tuan. Cho. Kyuhyun. Yang. Terhormat.”

“Baiklah, baiklah. Aku hanya tak ingin orang lain beranggapan bahwa aku yang membenturkan pelipismu. Tak lebih.”

Oh! Aku baru sadar akan hal itu. Pemikirannya menjalar seperi tanaman berakar serabut yang bercabang-cabang.

“Lupakan saja. Karena kini kau lebih cantik. Kau mempunyai jepit rambut? Poni panjangmu menghalangi seper empat wajahmu.”

Aku menggeleng sebagai jawabannya. Tak ingin membuat ia berceloteh lebih lama lagi. Pembahasan rambut saja memakan waktu ±15 menit. Bagaimana jika ditambah dengan pembahasan hiasan rambutnya? Bisa-bisa kami hanya akan terkurung di dalam mobil selama mungkin dan tak jadi kemana-mana. Seperti sepasang burung di dalam sangkarnya.

“Aku memilikinya satu disini. Aku membelinya tadi untukmu.” Tanpa ku suruh atau menunggu jawabanku, ia mendekatkan dirinya meraih kepalaku. Menarik sedikit rambut poniku lalu menyampirkannya di atas daun telingga. “Cantik. Calon istriku.”

Wah, pipiku seperti terbakar sekarang. Merah merona. Tidak, tidak. Ini bukan merah merona lagi. Tapi sudah merah padam.

“Pasang sabuk pengamannya, dan kita segera pergi sekarang.”

Kami tiba setelah dua puluh lima menit di mall, aku sempat tertidur selama di mobil tadi. Ia terus mengoceh mengajakku berbicara sebelum panggilan mengganggu datang dari ponselnya. Pekerjaan kantor. Ia terus memberikan instruksi pada orang yang berada di ujung sambungan tersebut. Membuatku cepat bosan dan akhirnya jatuh tertidur seperti kucing. Melepas sepatu, lalu mengangkat kedua kaki, bertekuk di jok mobil dan menahannya agar tidak melorot dengan pelukan dari kedua tanganku.

“Kita sudah sampai.” Bisiknya di telingaku.

Aku meraih udara disampingku dengan memukul-mukulnya. Berharap suara bisikkan itu pergi. Aku tak suka dibangunkan seperti itu. Sangat tidak sopan menurutku.

“Ugh.” Lengguhku dengan enggan. Sangat nyaman tidur seperti tadi.

Saat aku membuka mata, Kyuhyun sudah berada di depan wajahku. 10cm lagi ia menabrak wajahku. Menilik dari atas ke bawah, ia tengah memperhatikanku.

Wajahnya bergerak ke samping, menuju daun telingaku. “Aku akan merasa terhormat jika setiap aku membuka mata, ada dirimu yang berada disampingku. Memelukku dengan erat seolah-olah aku ini bantalan gulingmu.”

Semudah itukah membuatnya bahagia? Mengapa begitu simple? Tak berkeinginan pergi mencari putri muda yang terlahir sebagai darah bangsawankah ia untuk pendampingnya kelak. “Jangan tertidur seperti kucing. Pantas saja kau paling pendek diantara temanmu Hyo-ra dan Eun-mi. Kau selalu menekuk lututmu seperti itu. Membuat dadamu sulit bernapas.”

Dia baru saja memujiku dengan melambungkan hatiku pergi ke angkasa menggunakan sayap malaikat. Tapi sedetik kemudian dia menghantamkan sayap itu dengan batu ton. “Aku pendek karena aku memang seperti ini seharusnya. Aku lebih tinggi dua inchi dari kakakku. Tolong ingat itu.”

“Hanya dua inchi.” Ejeknya kembali.

Tuhan, aku ingin sekali menyulam mulutnya agar tetap diam. “Cho. Kita akan turun dari mobil ini atau meneruskan perdebatan kita?”

“Kau sepertinya marah. Ayo turun.”

Ehh! Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kesal hingga tak sadar mengatupkan gigi dengan keras. Sungguh membuatku kesal.

“Ayo.” Dia mengulurkan tangannya untuk menyambutku. Layaknya seorang pelayan terhadap putri bangsawan.

“Apa saja yang akan kita lakukan disini? Kau akan membeli beberapa pakaian?” Aku menoleh ke samping, dan dia hanya tersenyum tanpa perlu menjawab pertanyaanku.

“Ayo kita melihat-lihat.” Aku mengernyit tak mengerti. Pakaian perempuan? Oh! Untuk ibu atau saudara perempuannya.

“Kau mau melihat-lihat?” Kyuhyun hanya tersenyum menatapku yang bingung.

Aku tak mempunyai banyak uang di dompetku. Jadi untuk apa melihat-lihat? Hanya akan membuat pelayan disini marah saja.

“Tidak. Aku akan berdiri disini atau berkeliling mencari tempat duduk.” Jawabku.

“Baiklah, aku yang akan memilih. Tunggu disini.”

Dia datang kembali setelah hampir lima belas menit berlalu di hadapanku. Membawa beberapa pakaian. Setidaknya itu ada lebih dari tujuh pakaian wanita. “Ayo ke ruang ganti. Kau harus mencoba semua ukurannya.”

“Memangnya saudara perempuanmu mempunyai ukuran yang sama denganku?” tanyaku dengan heran.

Ia memiringkan kepalanya dengan kerutan di dahinya yang tampak sangat jelas. “Bukan untuk orang lain. Dan aku juga tidak mempuyai saudara perempuan. Semuanya untukmu.”

Aku terpana dan bingung menatapnya. Jadi semua ini ia lakukan untukku? “Aku, ayo duduk dan kita bicara.” Aku menatap ke belakangnya, tepat pada sang pelayan toko.

“Saya pergi ke belakang. Panggil saja jika kau memerlukanku.” Pamitnya. Ia mengangguk penuh hormat ke arahku.

“Aku tak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar semua pakaiannya. Dan aku tak suka meminjam uangmu.”

“Aku tak memintamu membayarnya. Cukup kau mengenakan semua yang ku pilihkan untukmu.” Dia tak memahami prinsipku. Hidup hemat pangkal kaya. Tapi seberapa besarpun aku menghemat uangku, aku tak kunjung mendapatkan semboyan dari kekayaan itu.

“Kyuhyun-ssi,” ku lihat ia merenggut sebal ke arahku. Ah, aku salah bicara. “Kyuhyun-ah,” dan ku lihat dia mulai tersenyum. Apa sebesar itu efek -ssi dan -ah padanya? “Aku tak diajarkan ibuku untuk menerima pemberian orang lain. Aku diajarkan untuk hidup mandiri dengan semua hasil kerja kerasku. Mengertilah.”

“Aku hanya ingin membelikanmu semua ini. Hyo-ra menerima semua barang yang diberikan oleh Eun-woo padanya. Mengapa kau tidak?”

“Hyo-ra dan aku berbeda. Kita memiliki prinsip yang berbeda. Jika Hyo-ra dapat menerima semua barang itu, mungkin ia nyaman melakukannya. Ia bahagia atas perhatian yang diberikan Eun-woo padanya. Aku pun sama bahagianya kau memberikanku perhatian yang lebih. Tapi, . . . Kyuhyun–ah, aku memiliki pemikiran, ‘jika kita dengan mudah menerima barang pemberian orang lain, maka harga diri kita hanya sebatas harga barang itu. Tak ada nilainya. Lagi pula, jika aku semudah itu menerima pemberian dari orang lain, maka sama artinya aku menyerahkan diriku.’ apa kau setuju denganku?”

“Ku pikir memang seperti itu. Aku menghargai pemikiranmu.” Syukurlah, dia mengerti. Dia tak terlalu buruk. “Tapi jangan membuatku malu dengan menyimpan semua pakaian ini.”

“Aku ambil blazer biru tua dengan sabuk putih saja. Jika satu saja aku mungkin bisa membelinya.”

“Biarkan aku yang membayarnya.”

Kyuhyun bangkit berdiri, siap untuk membayar saat seorang pramuniaga tadi kembali menghampiri kami. “Kau percaya dengan mitos yang mengatakan bahwa kita akan putus jika seorang pria membelikan pakaian untuk wanitanya?” aku mencoba memancingnya. Siapa yang tahu, mungkin dia akan membiarkanku membayarnya.

“Aku tak percaya.”

Gah. Keras kepala.

*.*.*

To Be Continued

*Aku tahu ini membosankan. Maaf. Harap bersabar sampai semua chapter selesai. Walaupun aku tak tahu itu kapan.

Aku kelahiran 94 tapi sudah terlihat seperti kelahiran 49. Nenek tua yang sedang mengerjakan tugasnya saat ketik ini. Selalu sedia air disampingku. Batuk ini sungguh menyiksa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s