Lean On Me {Chapter 3}

 

Cast: Cho Kyuhyun – Shin Hyun-ji – OC||

Genre: Comedy – Romance – Complicated – PG17||

Lenght: Chapter|| Author: Samilia||

*.*.*

“Kita akan kemana setelah ini?” Kami sedang di dalam mobil kembali setelah ia memaksa untuk membelikan blazer pilihanku. Untungnya dia tak memaksaku juga untuk membayar beberapa aksesories yang ku beli tadi.

“Kau lapar? Aku lapar. Bagaimana jika kita mencari tempat untuk makan?”

Aku memang lapar. Tapi aku tak memiliki banyak uang dan pakaian bagus untuk menemaninya makan di restorant berkelas. “Mmm, aku tak memakai baju yang bagus.”

“Dan?” Ia menoleh ke arahku.

“Dan? Oh! Aku juga . . . entahlah. Bagaimana jika kita makan di rumah ahjumma saja? Aku yang akan memasaknya.”

Ia meraih lenganku. Mengecupnya setelah terlebih dahulu mengelusnya dengan lembut. Aku mencoba merayunya dan gagal. “Kau lelah. Aku tahu itu. Jangan memaksakan dirimu. Aku yang akan membayarnya. Jika kau merasa tak enak untuk berhutang budi atau dianggap perempuan matre, kau bisa membayarnya dengan menjadi kokiku besok. Bagaimana?”

“Aku menyukai ide itu. Kita cari makanan yang tak begitu banyak menguras dompetmu Tuan.”

“Wae? Kau takut di suruh untuk mencuci piring karena aku tak bisa membayar makanan mahal?” Aku memandang sinis ke arahnya. Apa dia sedang bercanda?

“Bukan mencuci piring yang aku takutkan. Tapi pakaian yang aku kenakan.”

Ia melirik ke arahku. Melihat ada noda coklat dan merah di ujung baju, dekat jaitan. “Aku menerima usulanmu kali ini. Aku juga tak ingin makan dengan semua pandangan orang yang tertuju pada pakaian kotor. Terkena tumpahan ice cream dan cream strawberry.” Ia menampakkan cengiran kurang ajarnya kepadaku.

“Ulah siapa juga ini huh?” Aku melipat kedua tangan di depan dada. Ku pikir dia akan melakukan hal apapun itu yang dapat membuatku tersanjung, atau setidaknya melupakan kekesalanku. Tapi ia hanya mengendikkan bahu lalu fokus ke jalanan lagi. Huh? Aku menganga menatapnya. Ku lemparkan sedikit lebih keras tubuhku ke jok.

“Dasar keras kepala! Kepala batu!”

“Aku menyukai sanjungan yang kau berikan padaku sayang.” Itu sebuah celaan bukan pujian! Kurasa kepalanya terbentur keras menyentuh batu besar.

*.*.*

Hari telah mencapai pagi kembali. Saatnya untuk memulai aktivitas baru yang menyenangkan ini hari Senin. Hari Senin di tanggal merah. Siapa yang akan menyangkanya? Kemarin sungguh hari sialku. Setelah tersandung dengan batu, lalu terbentur kap mobilnya, dan diakhiri dengan tumpahan ice cream coklat dengan saus strawberry yang ia jatuhkan di bajuku. Hah, dia malah cengengesan saat melakukan itu. Tak ada rasa penyesalan yang ia tunjukkan sedikitpun padaku. Membuatku harus mengelus dada beberapa kali.

Telepon berdering beberapa kali. Sepertinya ada orang istimewa yang akan memberikan kabar.

“Yeobseyeo?”

“. . . . .”

Ku dengar suara ahjumma yang mengangkat panggilan dari lengkingan telepon yang tak kunjung mendapatkan jawabannya. Dan ku dengar lagi langkah derap kaki yang semakin mendekati kamarku. Dan, klik.

Aku yang tengah memakai lip blam pada bibirku cukup terkejut saat hentakan dari dorongan seseorang yang datang mengejutkanku. Hingga garis yang cukup besar tergambar di pipiku. Dimulai dari sudut bibir hingga meluas ke pipi.

Aku melempar keras lip blam yang sedang ku genggam. “Hyo-ra! Kau tak lihat aku sedang apa?! Kau membuat garis besar di wajahku!”

“Maaf,” dia meminta maaf, tapi tak menunjukkan nada penyesalan dari ucapannya. “Sebagai gantinya aku membawakan panggilan dari pangeran. Jawablah.”

Aku terus memperhatikannya. Tak melepaskan pandangan buas ini dari sang mangsa. Dia memahaminya. Arti tatapanku. Lantas ia mengambil tissue basah dan mulai menghapus tanda garis besar di wajahku. “Jangan menjadi durjana Tuan Putri. Kau seperti hendak memangsa binatang buruan.”

“Kau yang membuatnya seperti ini!” dia menyengir kepadaku dan pergi begitu saja meninggalkanku seperti orang bodoh dengan telepon rumah tanpa kabel yang aku genggam.

“Kau berada disana?”

“Ya aku disini. Mengapa menggunakan telepon rumah? Kau sudah menjual ponsel berhargamu itu dipasaran?”

“Sebuah lelucon yang cukup menghibur Nona Shin. Sayang sekali, jawabannya adalah tidak. Aku lupa menaruh dimana ponselku setelah menerima beberapa panggilan gila dari pekerjaan.”

“Ya, ya, ya. Jangan membuatku semakin bertanduk dengan mendengarkan ocehanmu. Ada apa?” aku berbicara sambil mengusap bekas lip blam yang masih terlihat. Meninggalkan jejak seperti minyak di permukaannya. “Akhhh jinjja!” aku berteriak kesal lalu melempar tissue dan menyapu beberapa make up yang ada dihadapanku. Dapat ku dengar suara terkejut di ujung panggilan. Dia baru mengetahui sifatku?

“Kau masih kesal padaku?”

“Ya! Bukan! Hyo-ra, dia datang dan membuatku terkejut hingga mencetak garis cukup tebal dan lebar di pipiku.”

“Mungkin aku bisa menghapusnya untukmu. Jika kau berada disini. Saat ini juga.” Apa yang dia pikirkan? Pikiran bodoh lainnya? Atau sebuah pikiran yang menjurus ke arah lain? Seperti Yadong?

“Lupakan. Apa kau akan membatalkan pertemuan hari ini?”

“Siapa yang mengusulkan hal itu? Aku akan menjemputmu dalam dua puluh menit. Aku menelponmu hanya untuk menyapa.”

“Sudah cukup menyapanya?”

“Ya. Tunggu aku sebentar lagi.”

Dia yang memulai menelponku dan memutuskan begitu saja panggilan ini. Dimana letak sopan santunnya? Setidaknya biarkan aku yang menutup sambungan ini.

Aku menyerah pada wajahku yang malah memerah karena tekanan yang ku berikan saat menghapus tadi cukup kuat. Ku putuskan untuk menghapus semuanya, memulai dari awal lagi. Ini akan memakan waktu yang cukup lama.

Aku telah selesai memperbaiki riasan sederhanaku. Setidaknya aku tidak boleh terlihat seperti mayat hidup yang berkeliaran di siang hari akibat wajah putih kuningku. Wajah pucat. Aku menunggunya di bangku besar, di bawah naungan sebuah pohon cemara. Tempat favoriteku.

Dapat ku dengar suara mesin yang menderung semakin dekat. Itu dia. Dia telah datang. Tepat dua puluh menit, sesuai janjinya. Aku berjalan cepat menghampirinya.Kyuhyun turun dari mobil lalu berpose menyandarkan dirinya pada mobil. Bergaya seperti model yang mempromosikan mobilnya. Mencoba menjadi seorang sales man eh?

“Kau tak memelukku?” Dia menurunkan kedua tangannya kecewa. Karena tak mendapatkan sambutan dariku. Sementara aku terus menontonnya dengan gaya yang sama angkuhnya seperti dia.

“Aku bukan anak kecil yang sedang menunggu jemputan dari orang tuanya hingga harus melakukan pelukan.”

Dia mengerutkan bibirnya. “Baik! Masuk sekarang!” Dia marah? Tapi aku tak perduli.

Aku lebih memilih diam untuk tak bersuara. Diam adalah jurus yang sangat jitu untuk saat ini dengan di yang tak menurunkan garis rahangnya. “Kita pergi ke mall?”

Aku tersenyum. Dia mulai membaik? “Apa kau akan marah jika aku lebih memilih untuk ke pasar tradisional?” Dia diam tak berkata apapun untuk menanggapiku. Sepertinya akan menjadi bencana jika dia sampai setuju untuk mengikuti perkataanku.

“Tak ingin pergi ke mall?”

“Ada beberapa barang yang tak akan kita dapatkan disana. Jika kau keberatan, kau bisa menunggu di mobil sementara aku menjelajah satu persatu kios disana.”

“Aku tak setuju dengan pemikiranmu. Aku akan melindungimu dari bajingan-bajingan gelandangan disana. Tak terlalu buruk bukan jika aku ikut denganmu?” Ia menoleh kepadaku meminta pendapat.

“Tidak buruk. Kau akan terlihat sangat pria karena mau menemani seorang wanita berbelanja.”

“Aku ingin kita seperti itu saat orang tuamu setuju dengan hubungan kita.” Aku bahkan tak mempunyai pemikiran sampai kesana. Terkadang otaknya bekerja lebih cepat dibandingkan apa yang ia lakukan.

“Berhenti disana Kyu.” Dia menuruti ucapanku. “Ini tempat parkir yang bagus. Tak terkena sinar matahari langsung. Dan dekat dengan jalan masuk ke pintu pasar. Ayo!” Aku membuka sabuk pengaman dan turun sendiri dari mobil. tak ingin menunggunya untuk berbuat manis dengan membukakan pintu.

“Kau seharusnya menungguku untuk membuka pintunya.”

“Tidak perlu. Ayo!” Aku mengapit tangannya dengan suasana hati yang baru. Rasa senang yang membuncah. Pergi berbelanja dengan pacarku. Aku sungguh berharap dapat menjadi berbelanja dengan suamiku. Kelak.

Ku seret ia ke sana kemari melewati beberapa orang yang berlalu lalang dihadapan kami. “Kau mau tteokbeoki?” tawarku. Aku begitu lapar secara tiba-tiba saat melihat jajanan pasar yang dipajang oleh beberapa kios.

“Tidak. Aku akan memakan makananmu nanti. Aku tak ingin kenyang sebelum menyicipi makanan yang kau buat.”

“Hanya satu tusuk sosis sapi dan otak-otak ikan. Bagaimana? Kita bisa membaginya.” Ku lihat ia tersenyum cerah. Dia setuju? Setuju jika kita memakannya secara bersama-sama, seperti sepasang kekasih di layar televisi. Korban telenovela.

“Aku setuju jika seperti itu.” Dia mencuri ciumanku?

Kami berjalan dengan tangan yang tak lepas untuk saling bertautan satu sama lain. Memegang cemilan pasar di tangan masing-masing. Kyuhyun menawarkan otak-otak ikannya di depan wajahku. Aku tersenyum sebentar sebelum mengambil gigitan kecil.

“Wae?” Aku bertanya heran saat ia tak menjauhkan cemilan itu di depanku.

“Kau hanya menggigitnya kecil. Ambil gigitan yang cukup besar.” Aku meraih tangannya kembali. Mendekatkan cemilan itu untukku gigit.

“Anak pintar. Sekarang berikan punyamu.” Aku mengikuti ucapannya. Ku berikan tanganku yang memegang sosis bakar dengan saus cabai dan mayonnaise.

“Apa yang akan kita buat hari ini?”

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku akan menuruti chef-ku dalam hal ini. Terserah padamu. Kau cukup mengetahui banyak selera makanku. Mungkin sayur bening mentimun lagi. Aku menyukai sayur itu. Tidak memakai penyedap, hanya bahan alami saja. Sepertimu.” Dia mencoba untuk merayu lagi? Berapa kali kalimat rayuan yang akan ia keluarkan jika kita benar sampai hidup bersama. Melewati hari tua secara nyaman dan tenang.

*.*.*

“Aku telah mengirimkannya ma. Suruh Younha untuk menge-check dan mengambil uangnya.”

“. . . . .”

“Aku masih memiliki uang saku. Tenang saja, aku tak akan kelaparan dan mati dengan separuh gajiku ini.”

“. . . . .”

“Baik, baik. Sampai jumpa ma.” Aku bernapas lega saat ini. Pengiriman uang ke orang tua ku sudah selesai. Sekarang apa yang mesti ku lakukan? Pulang dan menonton? Itu membosankan. Lagipula tak ada acara yang menarik. Sedetik kemudian aku tersenyum puas akan lintasan ide yang muncul di kepalaku. Kami telah lama tak berkomunikasi. Ia begitu sibuk dengan pekerjaan bisnisnya dan aku sibuk dengan urusan sekolah.

“Hal-”

“Ada apa?!” Dia membentakku? Aku memiliki salah apa padanya? Terakhir kita bertemu, itu baik-baik saja. Dia malah tersenyum seperti orang gila saat berhasil membuatku melanggar aturan ibuku. Bermalam di rumahnya dan ia memelukku saat tidur.

“Ah, tidak, tidak ada apa-apa. Maaf mengganggumu di saat yang tidak tepat.”

“Sangat. Tidak. Tepat.” Menekan kata-katanya dan marah padaku? Hah, yang benar saja dia.

“Ya, maaf untuk itu. Aku tak akan mengganggumu lagi.” Ku tekan agak bertenaga tanda merah yang mengakhiri sambungan telepon ini. Apa dia makan banyak cabai pagi ini? Mengapa emosinya jadi meledak seperti muntahan larva dari kawah gunung berapi?

Layarku menyala lagi. Dia menelponku. Kali ini dia yang menelponku. Jariku akan menggeser tanda hijau tapi hatiku berkata lain. ‘Biarkan saja dia. Setidaknya buat dia menyesal karena telah membentakmu tanpa sebab.’ Ucapan jahat dari diriku bicara.

Ku abaikan panggilannya. Dan ku lihat lagi layar di I-phone ku setelah lima belas menit kemudian. Lima belas panggilan tak terjawab. Lima pesan dan dua kotak suara.

*Maaf mengabaikanmu, aku sedang kesal. Tadi aku tak melihat siapa yang menghubungiku.

*Sayang, kau marah padaku? Aku minta maaf.

*Sepertinya kau benar-benar marah padaku sekarang. Hal apa yang dapat ku lakukan untuk menebus semua itu?

*Sayang, apa aku harus ke rumahmu sekarang juga untuk meminta maaf?

*Kau tak menjawab satupun pesanku dan mengabaikanku. Aku sedang menuju ke rumahmu sekarang. Jangan marah padaku.

Sudahlah! Biarkan saja dia. Aku menyentuh layar I-phone ku lagi untuk mendengar kotak suaranya.

“Maaf tadi aku berbuat salah. Tak seharusnya aku melampiaskan semua kekesalanku padamu. Aku tak sengaja melakukannya. Aku tak melihat ID-nya. Ku harap kau tak marah padaku lebih lama lagi. Tolong angkat teleponku.”

 

“Kau benar-benar marah padaku? Sial! Ku mohon bicaralah padaku. Paling tidak balas pesanku. Aku tak mau terus seperti ini.” Aku lebih tak menyukai saat kau membentakku tanpa sebab. Mungkin benar, aku harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

>>*Sekarang kau sudah sampai dimana? Jika kau tak keberatan, aku mengajukan untuk pergi ke cafe dekat sekolah. Kita bertemu disana.

*Seharusnya lima menit lagi aku tiba. Tapi ada masalah dijalanan sini. Aku terjebak diantara puluhan mobil lainnya. Tunggu aku.

Ya, setidaknya aku memiliki banyak waktu untuk berjalan kaki sebentar dan menikmati pemandangan laut biru disini. Tadi aku sedang kesal kepadanya. Membentakku tanpa sebab saat aku membutuhkan seseorang yang bisa aku ajak untuk menghabiskan waktuku hari ini. Aku berjalan menyusuri bagian selatan desa ini. Hingga sampailah aku di bibir tepi pantai. Seandainya ia disini bersamaku, mungkin kita bisa mengukir sejarah baru untuk memulai cerita picisan lainnya. Sayangnya tidak. Ia tak bersamaku saat ini.

Aku melihat-lihat ke sekitarku. Aku ingin duduk sambil menikmati sinar matahari yang tak begitu menyegat hari ini. Aku memilih untuk duduk di atas pasir tanpa alas duduk, di bawah bayangan daun kepala sepanjang garis pantai. Aku tersenyum bahagia saat membayangkan aku dan Kyuhyun bersama-sama melakukan liburan disini dengan anak-anak yang bersama kami. Bermain laying-layang atau membuat istana pasir. Pikiranku terhenti saat aku mendengar suara pekikkan kegembiraan dari anak kecil berusia 3tahun. Ia berlari untuk menghindari tangkapan dari ayahnya. Betapa manisnya moment itu. Kapan aku akan terlihat seperti itu.

Srekkk

Aku mendengar ada suara lain yang cukup kuat dari arah belakang. Sebuah mobil. Ku pasang telingaku untuk lebih peka ke sumber suara. Seperti bergesekan dengan jalanan aspal atau pembatas jalan. Aku mengedarkan pandanganku di sekitar tempat aku berdiri. Bisa saja itu mobil Kyuhyun.

Tapi bukan. Mobil SUV putih yang berada di ujung pembatas jalan. Dan astaga, ada seorang wanita yang sedang berusaha untuk keluar dari sana? Aku segera berlari dan menyimpan secara serampangan tas selendang pada pundakku.

Ku ketuk pintu kacanya beberapa kali. Ia terlihat lemas tak bertenaga. Mungkin sebentar lagi akan hilang kesadarannya. “Nona, buka pintunya terlebih dahulu.”

Dia berhasil menoleh ke arahku. Dengan sisa tenaganya ia membuka pintu kemudi. Aku membuka sabuk pengaman miliknya. Tapi sulit. Sabuknya macet. Aku memutar ke arah samping. Masuk melalui pintu lain di samping pengemudi.

“Kau memiliki gunting?”

“Ada di jok bagian belakang. Di balik kursiku.”

Aku mengacak-acak isi dari saku jok yang ia duduki. Kuraih gunting kecil yang ia maksud. Ini akan memakan banyak waktu. Sial. Tapi setidaknya aku harus mencoba.

“Apa kau tak mempunyai pisau lipat atau benda tajam lainnya.”

“Ada pisau lipat di dashboard.” Ucapnya lirih. Darah dari pelipisnya tak berhenti untuk tidak mengeluarkan darah. Terus mengaliri hingga sampai pada dagu lancipnya. Wanita cantik yang malang.

Aku berhasil mengeluarkannya dari sabuk pengaman setelah 10menit berlalu. Talinya sangat alot dan keras. Aku keluar lagi dari mobilnya, lalu meraih ia dalam lenganku setelah berjalan untuk sampai di pintunya. “Pegangan yang kuat. Aku akan membopongmu untuk keluar dari sini.” Tubuhnya berat. Dia tinggi semampai dengan badan yang ideal. Bobot berat badannya pasti di atasku.

Belum sempat aku meraih ia untuk keluar dari mobil. Ada seorang pria yang mendorongku masuk ke dalam mobil kembali. Dan pria lainnya menutup pintu samping pengemudi. Menutup semua pintu mobil dan menguncinya dari luar. Mereka segera menghindar saat ada suara jeritan dan decitan mobil bus dari belakangku. Akan mengantam kami.

“Akkhhhhh.” Aku menutup mataku erat. Berharap ini semua hanya mimpi buruk saat suara deringan dan getaran dari ponselku terus menampakkan keberadaan dirinya.

*.*.*

“Kami sudah membereskannya. Ia tergelincir ke tepi jurang oleh dorongan lain dari bus yang oleng.”

“Kerja yang bagus. Aku akan segera mengirimkan uangnya padamu.”

“Ya tuan, terima kasih.”

Pria berjas itu menutup panggilannya secara sepihak. Ia keluar dari mobil setelah mengakhiri panggilan tersebut. Berjalan keluar menyusuri jalan setapak, berhenti saat menemukan dua orang yang ia kenal.

“Kalian sudah pulang? Dimana Hyun-ji?”

“Ini sudah satu jam melebihi jam sekolah. Tentu kami sudah pulang.” Hyo-ra tampak bingung dengan pertanyaan Kyuhyun. Bukankah tadi temannya itu meminta izin untuk pulang lebih awal karena ada kepentingan keluarga? Hyo-ra pikir setelah menyelesaikan keperluan itu Hyun-ji berencana untuk menemui Kyuhyun. Karena siapapun tahu bahwa Kyuhyun dan Hyun-ji telah lama tak saling bertemu. Terakhir mereka bertemu sekitar tiga minggu yang lalu. “Hyun-ji? Dia meminta izin pulang awal sekitar jam 10. Aku pikir dia bersamamu.”

“Aku tak menemukannya disekolah. Ia menjanjikan untuk bertemu di café dekat sekolah. Tapi aku tak menemukannya.”

“Aku baru ingat. Terakhir ia mengirimkan pesan padaku untuk tidak khawatir menanti kepulangannya. Ia sedang berada di pantai.” Jawab Eun-mi.

Rasa khawatir datang menghampiri Kyuhyun.

“Kami melakukannya di dekat pantai. Kebetulan ia sedang berada di daerah itu.”

“Ada seorang perempuan lain yang mencoba menolongnya tadi. Jadi kami masukkan saja ia ke dalam mobil tersebut bersama dengan wanita yang anda maksud Tuan.”

“Mobilnya terdorong ke jurang. Berbalik dan terjadi ledakan.”

Penjelasan dari orang suruhannya tadi, tiba-tiba terngiang jelas di telinganya. Ia baru menyadarinya. Mungkin wanita lain yang di maksud tadi ialah Hyun-ji. Rasa cemas dan gelisah menyelimuti Kyuhyun. Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Beberapa saat kemudian melemah. Bagaimana jika benar itu Hyun-ji.

Kyuhyun segera menaiki mobilnya kembali. Tak menghiraukan teriakan dari Hyo-ra dan Eun-mi yang terus memanggilnya. Ia harus mencari tahu akan kebenarannya. Seburuk apapun itu hasilnya. Tunggu, apakah ia siap dengan keadaan buruk nanti?

“Berikan aku alamat pasti saat tadi kau melakukan pekerjaanmu. . . . . . Ya, kirimkan lewat pesan. Aku sedang menuju ke sana sekarang.”

Kyuhyun melirik I-phone yang ia letakkan di dashboard. Berkendara dengan kecepatan diatas 90km/jam, membuat ia lebih memilih untuk menepi sejenak melihat pesan yang masuk. Ia tak mau mengambil resiko dengan nyawanya.

“Tunggu aku sayang. Aku mohon, wanita itu bukanlah kau.”

Kyuhyun sampai di tempat kejadian saat orang-orang kepercayaannya telah sampai lebih dulu di dasar jurang. “Kau sudah menghubungi pihak polisi?”

“Belum.” Jawab pria berbaju hitam dengan dasi biru tua yang menghiasi penampilannya.

“Bagus. Hubungi setelah kita memastikan wanita yang berada di dalam mobil ini.”

“Baik.”

Mereka mulai melakukan pencarian. Menyingkap puing-puing mobil yang hancur serta batu-batuan yang meluncur akibat longsor kecil tadi.

“Ketemu.” Teriak salah seorang pria lainnya yang memakai baju hitam. Dengan langkah besarnya, Kyuhyun segera menghampiri pria tersebut. Ia memukul jendela kaca mobil untuk terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Dan benar adanya. Itu Hyun-ji. Wanita yang telah ia tunggu sejak 45menit yang lalu di cafe dekat sekolahnya. Wanita yang ia rindukan selama tiga minggu lebih setelah saling menyibukkan dirinya masing-masing dengan urusan pekerjaan. Wanita yang ia kasihi dan sayangi. Selamanya.

“Hyun-ji,” hanya kata itu yang dapat keluar dari bibirnya.

Ia segera meraih batu besar untuk merusak handle pintu di hadapannya. “Gunakan ini bos.” Usul pria berjas hitam lainnya. Ia membawa sekitar lima pria suruhan untuk sampai ke sini. Dan dua supir yang ia percayai. Jadi total ada tujuh orang kepercayaannya yang berpakaian serba hitam disana.

“Hyun-ji.” Kyuhyun segera menarik wanita itu untuk berada di dekapannya. Tak ingin melepaskan wanita itu meskipun simbahan darah yang tak henti mengaliri hampir di sekujur tubuhnya. Mulai dari kepala. Dan pelipisnya. Saat Kyuhyun meraih paha sang gadis untuk dibopong, ia merasakan hal lain. Ada yang berbeda disini.

Ia memperhatikan kembali wajah wanita yang berada di pangkuannya. Ini bukan Hyun-ji. Ini wanita yang telah membuatnya hancur tak tersisa.

Kyuhyun segera melepas pelukan itu. “Cari yang benar! Bukan keparat itu yang seharusnya kalian beritahukan padaku.” Ia menyalak di tengah keheningan sore yang senja. Dimana semua penduduk telah berada di rumahnya masing-masing. Lagi pula, tempat itu sangat terpencil. Hanya ada beberapa orang yang datang ke pantai itu. Itu pun jika hari libur saja. Selebihnya hanya ada hamparan pasir putih dimana-mana yang menemani deburan ombak.

“Apakah wanita dengan rambut panjang sebatas pinggang yang kau cari Tuan?” Teriak pria yang berprofesi sebagai supir pribadinya.

“Ya. Ia memakai baju dengan warna yang sama dengan wanita keparat ini.” Kyuhyun masih diam di tempat. Ia menatap mayat wanita itu dengan pandangan mencibir, jijik.

“Mungkin wanita ini yang Tuan maksud. Coba periksa.”

Begitu mendapat seruan tersebut, Kyuhyun melangkah menghampiri pria yang berada di semak-semak. Penuh dengan bebatuan besar yang mengelilingi semak-semak itu. Ia terpana menyaksikan wanita yang berada lima meter di hadapannya. Terbujur kaku dengan simbahan darah dari penumpang lain yang berada di dalam bus, yang terlontar keluar sama sepertinya.

“Angkat dia. Berikan padaku.” Kyuhyun memberikan instruksi dengan lirih, tak berdaya. Wanitanya, wanitanya, wanitanya Shin Hyun-ji.

“Dia masih hidup. Tak sadarkan diri.” Teriak pria tadi yang menemukan Hyun-ji. “Rambutnya tersangkut di semak-semak. Sangat sulit untuk menariknya keluar.” Keluh dua orang pria lain yang membantu mengangkat tubuh Hyun-ji keluar dari semak-semak dan tindihan mayat-mayat lain. Korban bus yang masuk ke jurang bersama mobil yang ia tumpangi tadi.

“Potong saja rambutnya. Aku tak perduli dengan rambut yang menempel di kulit kepalanya. Hanya selamatkan ia segera.”

Tiga orang itu menuruti ucapan Kyuhyun. Memotong rambut Hyun-ji secara asal. Tak ada waktu untuk menatanya secara rapih. Polisi bisa saja datang secara tiba-tiba saat ini.

“Hyun-ji sayang.” Kyuhyun berkata dengan getir. Ia memeluk Hyun-ji dengan erat untuk waktu yang cukup lama.

“Bersihkan jejak-jejak kalian semua. Buat tanda seolah-olah kita tak pernah berada disini sebelumnya. Pastikan ada mayat lain yang mirip dengan Hyun-ji. Letakkan di sebelah wanita keparat itu. Buat seolah-olah Hyun-ji telah mati. Ambil beberapa barang pribadinya dan letakkan untuk tak jauh berada dekat dengan si mayat.”

“Kita pergi dari sini sayang.” Kyuhyun mengecup dahi Hyun-ji yang berlumur darah. Ia tak memperdulikan hal itu. Yang terpenting nyawa Hyun-ji harus segera tertolong saat ini juga. “Cepat jalan.” Perintahnya pada sang supir.

Kyuhyun duduk di bagian belakang. Bersama Hyun-ji dipangkuannya. “Terima kasih karena telah menemukannya untukku.”

“Itu sudah menjadi tugas saya Tuan.” Ucap supir tersebut.

“Hubungi mereka sekarang. Segera panggil polisi dan berikan keterangan palsu. Buat mereka percaya bahwa beberapa anak buahku terlihat terpukul mengetahui anggota keluarganya tidak ada. Lakukan penyamaran. Atau segera pergi dari sana sekarang juga. Itu hanya pilihan. Terserah kau mau menggunakan yang mana.” Memberikan instruksi pada pria yang duduk disamping supirnya.

“Hyun-ji sayang, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu segera.”

*.*.*

“Potong rambutnya hingga sebahu.” Perintah Kyuhyun pada asisten rumahnya.

“Aku ingin semua yang berada disini menutup mulutnya. Jangan katakan latar belakang wanitaku. Katakan bahwa aku telah menikah dengannya sekitar satu tahun yang lalu.”

“Baik Tuan Cho.” Patuh pelayan yang memakai baju terusan hitam. Ia kepala pelayan di rumah itu.

“Bagus. Segera siapkan semua keperluannya. Termasuk pakaian, sepatu, tas, dan yang lainnya. Taruh di kamarku. Buat seolah-olah kami benar telah menikah. Jangan lupakan beberapa figura photo yang menampakkan kemesraan kami.”

Terlihat dengan jelas raut wajah khawatir memandang wanitanya, Shin Hyun-ji. Ini sudah hari ke sembilan gadis itu masih belum sadar dari komanya. Hal itu semakin membuat Kyuhyun merasa begitu bersalah. Dr. Edward mengatakan bahwa benturan terjadi di kepala bagian belakang dan depan, dan dapat berakibat fatal.

Dibagian belakang mungkin dapat menyebabkan gegar otak ringan, kehilangan ingatan, atau bagian yang terburuknya adalah kelumpuhan otak. Sementara benturan yang dibagian depan bisa berakibat kerusakan otak. Hilangnya sistem keseimbangan otak, dan kemampuan otak akan berkurang.

Hingga saat ini dr. Edward masih belum bisa memperkirakan hal apa yang terjadi pada Hyun-ji. Ia masih belum sadarkan diri. Pemeriksaan hanya seputar Sinar X saja. Melihat sejauh apa kemungkinan terburuk dari apa yang terjadi. “Kemungkinan terbesarnya ialah dia akan mengalami kehilangan beberapa memorinya. Ada berupa kerusakan kecil disini. Benturan itu sangat kuat hingga dapat membuatnya terpental keluar mobil.”

“Jadi kemungkinan terburuknya dia akan mengalami kehilangan memorinya?” Tanya Kyuhyun tak percaya.

Ada sisi baik dan buruknya. Di satu sisi ia bisa memiliki Hyun-ji seutuhnya. Mengarang sebuah cerita yang dapat menahan wanita itu tetap berada di sisinya. Di sisi lain, Kyuhyun jelas sangat bersalah dalam hal ini. Ia penyebab utama kelalaian pegawainya, hingga membuat Hyun-ji terluka parah dan tak sadarkan diri sampai sekarang.

“Aku akan menembus salahku dengan tak membuatmu terluka lagi. Bahkan menangis sekalipun. Kita akan bahagia setelah kau sadarkan diri. Aku berjanji.”

*.*.*

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s