Lean On Me {Chapter 4}

1.

 

Cast: Cho Kyuhyun – Shin Hyun-ji {Lara Cho} – OC||

Genre: Married Life – Romance – Complicated – NC21 – Yadong||

Lenght: Chapter|| Author: Samilia||

*.*.*

Aku menatap panik di sekitarku. Dimana aku sekarang? Sudah berapa lama aku disini? Mengapa bau ruangan ini begitu menyegat? Menusuk langsung pada bagian hidung terdalamku. Membuatku yang baru saja bangun, seperti terhipnotis untuk tidur kembali.

Aku melihat ke telapak lenganku yang tertindih. Ada seorang pria yang berbaring disana. Siapa dia? Siapapun dia, dia pasti tahu mengapa aku kini berbaring disini.

“Kau sudah sadar?”

Aku ingin sekali berucap, tadi lidahku kelu. Dan dorongan untuk tidur kembali semakin kuat mendominasiku. Aku menyerah. Mungkin ini juga efek dari aroma ruangan yang ditimbulkan. Aku tak mampu melawan rasa kantukku untuk menatap kembali wajahnya yang tegas saat bertanya padaku tadi.

Didetik berikutnya sebelum aku tertidur pulas, aku mendengar suara gaduh dikamar ini. Beberapa benda pecah belah berjatuhan, dan dapat ku dengar teriakan besar dari suara bass-nya memanggil dr. dan tim medis lainnya.

*.*.*

“Dia sudah bangun tadi dok. Tapi dia tidur lagi saat ku tanyakan keadaannya.”

“Itu wajar Tuan Cho. Istri anda mungkin bingung saat tersadar tadi. Jadi ia memilih tidur kembali. Hanya tidur. Kau tenang saja. Semua gejala vital dan kondisi fisik paska kecelakaan itu telah pulih.” Ucap dr. Edward memberikan penjelasan. “Biarkan dia istirahat. Jangan bangunkan ia. Tunggu bangun dengan sendirinya.” Ia berkata sambil menyuntikan tiga cairan berbeda warna botolnya ke dalam cairan infusan Hyun-ji.

“Kau sungguh gila dr. Aku sudah menunggunya selama satu bulan untuk menatap wajahnya dengan mata terbuka. Dan kali ini pun aku harus menunggunya lagi?” Canda Kyuhyun dengan kehkehan kecil.

“Jika anda mencintainya, maka lakukan apa yang ku katakan. Oh, ada catatan kecil untukmu.” Dr. Edward menuliskan beberapa kalimat di memonya. Kemudian melangkahkan kakinya ke depan pintu. Baru ia berseru, “Ambillah.” Ucapnya dengan menunjukkan secarik kertas kecil.

Kyuhyun berjalan dengan mendengus sebal. dr. paruh baya itu selalu saja mempermainkan dirinya. “Mengapa baru diambang pintu memberikannya? Membuatku semakin membencimu saja!”

“Ini akan menjadi kejutan untukmu anak muda. Aku pergi.” Setelah pintu kembali tertutup dengan rapat, barulah Kyuhyun membaca surat itu.

“Dasar dr. tua berkeriput. Berani benar dia mengataiku!” Dengan kesal Kyuhyun meremas kertas itu dan membuangnya asal.

Segeralah pulang ke rumah dan bersihkan badanmu.

Istrimu akan koma kembali jika ia menemukanmu yang lebih mirip dengan gelandangan daripada pemilik perusahan yang konon mendunia itu.

 

 

Dan Tuan Cho, istri anda tertidur kembali, karena dia mungkin shock saat terbangun melihat kondisi anda saat ini.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun tersenyum membenarkan. Ia memang kurang merawat dirinya saat Hyun-ji koma selama ini. Menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menemani Hyun-ji. Tak ada yang lain. Ia memang pergi sekali setiap harinya untuk berganti pakaian, mandi, dan makan. Sekali itu pula ia mandi dalam seharinya. Tapi karena ia harus mengerjakan bisnis tiga hari di Jepang, dengan rasa bersalah dan menyesal terpaksa ia meninggalkan istrinya yang masih terbaring dalam keadaan koma. Beberapa orang terdekatnya mengatakan tak apa, karena tak perlu ada yang di khawatirkan dengan pasien koma. Semua suster dan dr. penjaga selalu siap sedia selama 24jam. Lagi pula orang koma tak memerlukan penangan khusus seperti orang sakit dalam keadaan sadar, yang terkadang lebih menyusahkan lagi dengan permintaan-permintaannya. Tapi bukan itu yang jadi masalah bagi Kyuhyun. Penyebab istrinya terbalinglah yang ia sesalkan. Karena kecerobohannya.

*.*.*

Aku dibawa pulang setelah beberapa kali mengalami shock dan serangan jantung ringan. Bukan dalam arti yang sebenarnya. Baru saja aku membuka mata, pria yang bernama Marcus Cho itu mengatakan padaku bahwa aku istrinya yang telah ia nikahi selama setahun belakangan ini. Bukan hanya itu, ia juga mengatakan bahwa aku mengalami kecelakaan karena kelalaiannya dalam menjagaku yang saat itu pergi sendiri menggunakan mobil di saat cuaca buruk hingga terjadilah kecelakaan. Dan hal lainnya lagi yang lebih membuatku sampai lupa bernafas. Terlalu terkejut, tak menduga, dan diluar akal nalarku.

Aku mendengarnya dari salah satu perawat disana saat aku pura-pura tertidur kembali ketika mereka mengechek keadaanku sambil berbicara tentang dirinya, Marcus Cho. Tentang aku wanita beruntung karena menikahi seorang pria muda yang sudah sukses dengan bisnis yang dijalankannya. Tentang kepopulerannya. Satu negara Swiss saja mengetahui dengan betul siapa itu Marcus Cho. Lalu, kehidupan apa yang ku jalani sebelumnya hingga bisa menjadi istrinya kini?

Aku lebih pusing lagi dengan tempatku menapakkan kedua kaki ini sekarang. Rumah yang sangat besar, luas dan terjaga. Tentunya sangat berkelas.

Apa ia keturunan raja Swiss hingga bisa membangun rumah sebesar dan semegah ini?

“Ayo masuk Mrs. Cho.” Tegur seorang pelayan yang lebih tua dari yang lainnya. Ia membopong tubuhku yang masih lemah.

“Ya. Terima kasih.” Kami memasuki ruangan utama dengan aku yang tetap di bimbing pelayan tadi dan pelayan lain yang datang membantuku.

“Saya Mrs. Laurent. Anda bisa memanggilku dengan Lenny seperti yang Mr. Cho lakukan. dan mulai sekarang, sayalah yang bertanggung jawab atas keperluan dan kebutuhan anda. Jangan sungkan untuk memanggilku kapanpun anda membutuhkannya.”

“Ya, terima kasih Lenny.” Aku menatap ke arahnya sebentar. “Lenny, dapatkah aku meminta bantuanmu sekarang?”

“Tentu saja. Apa yang bisa ku bantu?” mata biru mudanya begitu lembut dan cantik. Sepertinya dia tipikal orang yang mudah bergaul dan penyayang.

“Aku haus. Tolong bawakan seteko kecil air putih beserta gelasnya.”

“Baik Mrs. Cho. Setelah anda diantarkan ke kamar anda. Sekarang mari berjalan perlahan menaiki tangga ini.”

Dengan perlahan aku menaiki tangga ini dengan bantuan dari Lenny dan pelayang yang lain. Mereka begitu hati-hati dalam memperlakukanku. Hampir seperti dirinya saat aku masih di rawat. Dan kemana ia sekarang di saat aku membutuhkannya. Apa dia pergi mencari wanita muda lain di luar sana?

“Aku ada disini.”

Ya Tuhan. Aku hampir tergelincir saking terkejutnya saat mendengar suara itu tepat dari belakangku.

“Aku ada disini jika kau berpikiran yang tidak-tidak padaku. Lihat jalanmu, jangan pikirkan hal lain.” Marcus berganti posisi dengan kedua pelayan itu. Ia menginstruksikan kepada Lenny dan pelayan lain untuk pergi meniggalkan kami.

“Ada panggilan darurat tadi.” Ia menjelaskan secara singkat atas pertanyaanku yang belum terucap. Dan, darimana ia tahu kalau aku tengah memikirkannya?

Marcus mendekat, mengecup bibirku. “Aku mengetahuinya dari matamu yang tak fokus memperhatikan langkahmu, dan wajahmu yang bingung.”

Ah, pantas saja. Tapi tak semua orang dapat mengetahuinya kan?

“Jangan banyak bertanya dalam pikiranmu. Katakan saja padaku.”

Ok, aku akan diam sekarang.

*.*.*

Kami selalu seperti ini. Sama-sama canggung saat berdua. Lebih tepatnya aku. Dia yang membuatku canggung dengan sikap dinginnya yang tak mau bersahabat dengan istrinya sendiri. Entah siapa dan hal apa yang orang itu sampaikan di telepon kepada Marcus, hingga membuatnya berubah seperti ini padaku. Aku tak dapat mendengarkan percakapan itu, karena ia menjauh dariku saat menerima panggilan tersebut.

Aku tiba di rumah ini seminggu yang lalu, dan penelpon itu mulai merusak suasana sejak tiga hari yang lalu. Aku ingin sekali bertanya padanya. Berulang kali pula ia dapat membaca pikiranku yang akan menyampaikannya. Ia pergi begitu saja, saat aku baru saja membuka mulut. Pikirkan saja seberapa kesalnya aku kini. Dan akibat penelpon itu, kami tidur di satu ranjang dengan dia yang memunggungiku. Aku mulai jengah padanya, jadi dimulai semalam aku tidur di kamar bawah. Kamar tamu.

Tapi ku pikir ini salah. Mungkin dia sedang ada masalah dan tak bisa mengeluarkan emosinya. Jadi dia mengambil langkah menjauhiku untuk menjaga emosinya yang tak tersalurkan. Ya mungkin itu alasannya.

Aku memberanikan diriku untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Terlihat dia yang sedang sibuk dengan ponselnya dan jari tangannya yang tak pernah lepas menatap laptop.

Aku berjalan mengendap-endap dan hati-hati. Tapi ku pikir dia tak akan perduli akan hal itu. Ku tegakkan badanku lagi. Berjalan dengan angkuh melewatinya menuju rak buku. Aku selalu berada disini setiap hari di saat jam sembilan pagi sampai makan siang. Membaca koleksi bukunya tentang Psychology, Philosopy Yunani Kuno, dan Biography beberapa tokoh ilmuan dan bisnis.

Sudah dua jam aku berada disini dan dua jam itu pula dia tak menoleh kearahku. Sepertinya kau mulai mencari masalah Tuan. Aku membuka halaman baru di buku Philosophy. Kau sedang menantangku bukan? Akan ku tunjukkan padamu sekarang.

“Apa benar manusia itu terdiri dari tiga unsur?” suaraku mulai menghentikan ia yang sedang bekerja. Langkah berikutnya Lara Cho.

“Ku pikir ada satu manusia disini yang tak memiliki ke tiga unsur itu.” Dia menatapku dengan seksama. Aku terus mengintipnya di balik bukuku.

“Roh, nafsu, dan rasio. Oke, aku dapat menerkanya. Karena ia masih bernafas dan bisa bergerak. Nafsu. Kupikir dia memiliki itu. Buktinya dia bisa membangun beberapa usaha disini. Rasio. Nah inilah unsur yang tidak ada pada dirinya. Jelas ada makhluk hidup di depannya, tapi ia secara tidak RASIO-nya malah terlihat seperti menghadapi benda mati di depannya.” Aku membuka kembali halaman sebelumnya. “Ku pikir manusia sejenisnya lebih cocok dengan Teori Thomas Hobbes, yang mengatakan bahwa dalam tingkah laku itu ada dasar dan tujuan. Dua motivasi dasar ialah keinginan untuk mendekati dan kecenderungan untuk meninggalkan. Tujuan tingkah laku adalah kepentingan diri sendiri. Pada hakikatnya semua orang bersifat mementingkan diri sendiri, dalam memenuhi kepentingan diri sendiri itu justru MANUSIA itu,” ku tekankan kata manusia agar dia mendengarnya lebih jelas. Tanpa melepaskan padanganku pada matanya, aku tetap melanjutkan kalimat berikutnya. “terpaksa mengakui HAK-HAK orang lain.” Aku bangkit dari kursi kayu hitam ini, menyimpan bukunya kembali.

“Siapa orang yang kau katakan itu?”

“Otakmu terlalu dangkal jika bertanya seperti itu.” Aku melangkah pergi melewatinya. Sebelum ku raih gagang pintu, aku ditarik ke belakang lagi dengan keras dalam sekali hentakan. Membuatku menjadi berada di atas mejanya.

“Aku tak suka bermain-main Lara Cho. Ku pikir kau sudah tahu itu bukan?” aku mengedipkan mata ke arahnya. Was-was akan sikapnya yang mulai berubah.

“Kau mau aku bersikap seperti yang Plato katakan? Rasio, nafsu, dan ruh? Aku memiliki semuanya.” Aku mendorong dadanya yang mulai mempermainkan emosiku dengan nada naik turun saat berbicara dan tubuhnya yang mendekatiku.

“Jika kau memilikinya, lantas kau pikir aku apa? Mengapa kau mengabaikanku! Kau memiliki masalah denganku? Atau kau memiliki wanita baru diluaran sana hingga tak mengizinkanku untuk pergi meninggalkan sangkar burung raksasa ini.”

“Jaga kata-katamu.” Marcus mendesis kecil di sela-sela ucapannya.

“Aku menjaga kata-kataku. Kau, jika kau tak menginginkanku lagi, mengapa tak kau pulangkan aku ke jalanan atau rumah jompo orang tuaku berada.”

“DIAM Lara.” Dan akupun benar-benar dibuat diam olehnya. “Kau tak tahu apa yang terjadi. Lebih baik kau menutup rapat mulutmu sebelum aku benar-benar meleparmu ke jalanan.” Ucapnya dengan nada dingin yang penuh dengan ancaman.

“Kau benar-benar akan melakukannya padaku? Kau bilang aku istrimu dan orang yang paling kau kasihi di dunia ini melebihi dirimu sendiri tapi apa baru saja yang ku dengar?” aku bersedih dan mulai menitikan air mata. “Sikapmu yang terakhir ini sungguh menunjukkan ancamanmu. Aku pergi tanpa kau buang sekalipun.” Aku mulai beranjak dari atas meja kerjanya. “Lebih menyakitkan lagi jika kau yang melakukannya.”

“Hentikan!”

“Jangan harap.”

“Hentikan sebelum aku benar-benar melakukannya sekarang juga padamu.”

Aku sedikit berlari untuk meraih gagang pintu ruangan ini. Lagi-lagi usahaku gagal. Marcus menarikku dan membawaku dalam pangkuannya. Sedetik kemudian dia menciumku keras. Aku berontak darinya, tapi ia semakin keras menciumku. Aku tak mau kalah, aku pukul-pukul bahunya. Tapi itu juga tak membuahkan hasil. Aku melemas dan pasrah padanya.

Sampai kurasakan aliran hangat dari sudut matanya yang mengenai pipiku. Marcus, apa yang kau alami dan aku tidak ketahui. Katakan.

Marcus melepaskan ciumannya. “Jangan. Ku mohon jangan meninggalkanku. Yang terakhir itu sungguh membuatku sakit dan tak berdaya. Jangan lakukan.” pintanya dengan aliran air mata yang lebih banyak lagi keluar. Dia berkata seolah-olah aku pernah meninggalkannya. Kapan?

Oh Tuhan. Lara, kau melukai hati seseorang yang lembut dan penyayang.

“Lalu mengapa kau mengekangku di rumah ini. Bukankah itu termasuk mengambil dan mengakui hak orang lain seperti yang dikatakan Thomas Hobbes dengan aliran Empirisnya?” ucapku dengan ikut terisak.

Marcus menghapus air mataku, lalu air matanya. “Kau lucu sayang. Kau masih ingin membahas Thomas Hobbes?” aku menggeleng kepadanya.

“Aku memiliki alasan tersendiri. Aku akan mengatakannya sekarang padamu agar kau paham dan diam. Jadi tak menyebut-nyebutkan lagi Thomas Hobbes. Paham?” kali ini aku mengangguk patuh padanya. “Sebenarnya kau sakit itu karena ulahku. Bukan hanya sekedar dari kecerobohanku saja. Tapi aku seperti menaruhmu dalam bejana kematian. Aku penyebab kecelakaan itu. Dan aku berbohong mengenai pernikahan kita.” Dan aku dibuat menganga sekarang.

Marcus menghela nafasnya pelan. Mencoba mencari cara untuk bicara yang lebih ku pahami. “Kita hanya terdaftar di hukum saja. Secara hukum kita suami-istri, tapi tidak dengan di hadapan Tuhan.” Oh! Biarlah, yang terpenting kita menikah bukan?

“Jika itu yang kau takutkan, aku tak akan marah. Kita lakukan besok dan mengulangi acara sakral itu, bagaimana?” aku menatap geli padanya. “Kau membawa kabur aku dari orang tuaku kan?”

Marcus kembali murung, tapi kemudian dia tersenyum lalu menciumku lagi. “Aku lega mendengarnya. Dan maaf, rambutmu terpaksa di potong karena suatu hal buruk terjadi di saat kecelakaan itu. Padahal aku menyukai rambut panjangmu yang tergerai indah ataupun sanggulan asalnya.”

Aku meraba rambutku yang sebatas bahu. “Selama kau mau menungguku, aku akan memanjangkannya kembali untukmu.” Ku berikan kedipan manis padanya. Sebenarnya aku ingin bertanya lebih dalam mengenai apa yang baru saja ia katakan. Hal itu hanya akan membuatnya merubah sikap lagi padaku, dan kami akan telibat debat panjang di malam hari.

Marcus tersenyum bahagia kepadaku sebagai respon atas kedipan. Ia meraih tengkukku lagi dan melanjutkan ciuman ketiga kami setelah taman belakang yang pertama dan sempat terhenti sejak penelpon gelap itu, lalu melanjutkannya lagi sekarang.

*.*.*

“Akh!” Aku berteriak kencang tapi nyaris hilang. Sakit. Sangat sakit. Apa yang terjadi di bawah sana?

Ku lihat dia menatapku dengan cemas. Bukan itu yang ku perdulikan sekarang. Ini menyakitkan. Apa yang terjadi? Tadi aku sempat membaca majalah sex dan disitu mengatakan bahwa “Akan teramat, sangat menyakitkan saat kau baru melakukannya pertama kali.” Apa ini pertama kalinya untukku? Tapi mengapa? Kami telah cukup lama menikah.

“Aww! Tolong jangan bergerak. Aku tak sanggup.” Aku merasakan sakit yang lebih dalam saat Kyuhyun mencoba membungkuk lebih rendah. Bermaksud untuk membelai, menenangkanku. Atau apapun itu yang dapat membuatku berhenti menyerukan kesakitan ini.

“Maaf sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu.” Ku lihat sudut matanya meneduh, tertunduk menyesal.

Ku angkat lengan kananku menarik rahangnya. Menariknya dengan keras. Tak perduli jika hal ini membuatnya semakin menindih tubuhku. Hingga jeritan tertahanku terdengar mendebum. Dapat ku pastikan miliknya masuk lebih dalam lagi, seutuhnya. Aku tak perduli akan hal itu. Yang ku inginkan hanya balasan pelukan darinya saat ini.

“Peluk aku.” Pintaku dengan terisak.

Dia masih diam tak bereaksi. Ku ulangi permintaanku. “Peluk aku Marcus, dengan erat.” Isakanku semakin kencang dan berubah menjadi tangisan.

“Kenapa? Apa sangat menyakitkan?”

Aku mengangguk entah untuk apa. Apa untuk rasa sakitku di bagian bawah atau untuk ketidak pekaanku karena suamiku yang terus menahan dirinya untuk tak menyentuhku.

“Maaf. A-”

“Kenapa priaku? Mengapa kau melakukannya?”

Kurasakan dia akan mengangkat tubuhnya dariku. Tapi ku tahan dengan pelukanku yang lebih kencang. “Kenapa kau baru melakukannya sekarang? Apa aku terlalu mengabaikanmu dulu hingga kau tetap bertahan sampai hari ini?” Ku lihat matanya yang melebar. Terkejut dengan kata yang keluar dari mulutku.

“A-aku,” ku belai kedua pipinya yang terasa dingin. Apa dia gugup? Apa aku membuatnya tertekan dengan pertanyaanku tadi?

Aku memberikan senyuman menyakinkan padanya. Menggantikan kalimat Tak apa, seburuk apapun alasan yang kau buat, aku akan tetap disampingmu. Ingat itu.

“Aku, hanya tidak ingin memaksamu. Aku akan menjadi seorang bajingan terkutuk, jika aku sampai memaksamu melakukan hal itu. Kau baru saja sadar dari koma, kau sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Jadi aku tak mungkin. . .” Dia kehilangan kata-katanya. Kyuhyun menundukkan kepalanya sedih. Oh priaku. “Itu sama saja seperti tindak pemerkosaan. Kita baru saja melakukannya satu kali setelah kita menandatangani surat pernikahan itu. Ini yang kedua kalinya. Wajar jika sakit.”

Aku tahu dia berbohong. Aku melihat bola matanya yang bergerak kesana-kemari saat mengatakan beberapa kalimat terakhir. Cho, seburuk itukah kenangan buruk di masa lalu kita hingga membuatmu berbohong padaku. Ku peluk kembali tubuhnya hingga membuat kami berdua menekan dalam kasur ini. “Tidak akan. Kau suamiku. Jadi itu tidak bisa disebut tindak kriminal sayang.” Ku angkat wajahnya, dan ku belai pipinya. Air matanya hangat, mengalir melalui pipi hingga menyebabkan tetesan yang menggantung di dagunya. “Ayo lakukan lagi. Kita tak mungkin terus berada di posisi ini sepanjang malam kan?” bujukku menghibur dirinya.

Marcus terlihat kembali ceria lagi. Ia mengecup dahiku sayang. Ehm, wangi tubuhnya yang menyegarkan membuatku menutup mata dengan tenang. Seolah-olah wangi inilah yang aku cari selama ini.

“Ahh!” Aku membuka mata seketika. Aku merasakan adanya tarikan dari vaginaku. Marcus menyeringai nakal kepadaku. Oh, dia menemukan mainan barunya?

Ya, seperti yang terjadi selanjutnya. Tanpa segan lagi ia menusuk-nusukku dengan penisnya. Ini memabukkan. Sensasi yang baru aku rasakan sekarang. Perih dan agak mengganggu. Tapi begitu nikmat.

“Mmm a-aku.”

“Aku apa sayang?” Aku mengigit jari telunjukku manja. Seperti dalam adegan drama murahan, pelacur yang menggoda mangsanya. “Apa senikmat itu?” Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Ya ini sangat nikmat Marcus Cho. Terlampau nikmat. Aku ingin lebih dari sekali melakukannya denganmu. Dia tersenyum manis padaku. Ku raih segera tengkuknya untuk mendekat. Lalu ku letakkan jari telunjukku yang tadi sempat ku gigit pada bibir bawahku. Mengetuknya beberapa kali sambil mendesah manja padanya. Aku ingin dia menciumku lagi. Seperti tadi di ruang kerja.

“Ehhrggh, kau, aku tak menyangka kau bisa semenyenangkan ini. Kita harus lebih sering melakukannya.” Aku mengangguk setuju kepadanya.

“Lebih cepat.” Pintaku dengan lirih. Suaraku habis sudah, saat menjerit-jerit sedari tadi.

“Akh! Lakukan lagi.” Dengan tiba-tiba Kyuhyun menghentikan gerakannya. Membuatku yang semula menutup mata nikmat, jadi membuka kedua mataku lebar karena kecewa.

“Apa?”

“Lakukan lagi. Hisap penisku sayang.”

Aaahh, aku paham sekarang maksudnya. Ku lakukan seperti apa yang ia inginkan. Dan kami benar-benar tenggelam dalam kenikmatan indahnya malam pertama kami di tahun pernikahan yang hampir menginjak satu setengah tahun bersamanya.

*.*.*

Wah, dimana aku sekarang? Begitu banyak mainan berukuran besar. Lima belas inchi diatasku. Aku bahkan tidak ada apa-apanya jika harus berbaris sejajar dengan mereka. Inikah neverland yang banyak dibicarakan orang? Apa ini nyata? Seingatku Neverland hanya ada di sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh dengan impian palsu belaka.

Aku menutup mata kembali. Menikmati hembusan angin musim salju. Dan kemudian aku merasakan diriku yang menghangat. Seperti ada sebuah selimut besar yang memberikan naungan untukku di tengah hamparan es di musim salju. Mengapa musim cepat sekali berganti? Seingatku tadi aku tidur kelelahan dengan Kyuhyun yang memelukku erat. Kami bertelanjang dada. Tak memakai apapun. Tapi sekarang aku merasakan diriku yang berbalut sweater hangat berbulu dengan selimut besar yang memelukku, lembut.

Aku penasaran dengan selimut besar ini. Akupun membuka mataku lagi dan memutarkan tubuh ini secara perlahan. Dan, seekor beruang? Apa-apaan ini? Mengapa ada seekor beruang besar disini? Apa petugas tempat ini tak memperhatikan adanya beruang liar besar yang menerobos masuk ke area seluncur es? Aku hendak melepaskan pelukannya. Disaat aku semakin kuat melepaskan pelukan itu, semakin kuat pula ia menahanku untuk berada di dalam dekapannya. Percuma saja jika aku teruskan. Tenagaku akan habis dengan percuma melawannya. Lagi pula dia tak memakanku. Tak berapa lama kemudian, kurasakan dia membungkuk dan menciumku. Dia ternyata jinak. Beruang besar coklat yang jinak.

Saat aku mulai merasakan kenyamanan bersamanya, dia pergi meninggalkanku. Di hamparan es yang dipenuhi pepohonan dari jajaran pohon Pinus dengan lentera dan hiasan bola natal. Ku tunjukkan padanya wajah cemberutku. Berpura-pura kesal akan kepergiaannya yang meninggalkanku sendiri disini. Ia tersenyum. Dengan tangan kirinya, ia meraih sesuatu di belakang bokongnya. Dan muncullah sebatang lolipop besar. Dia memberikannya padaku. Aku tersenyum lebar kepadanya. Dengan setengah berlari, aku meraih lolipop itu yang tingginya 3meter. Aku hanya bisa memeluk batangnya. Setelah ia menyerahkan lolipop tersebut kepadaku, ia pergi entah kemana. Menghilang begitu saja. Seperti pemeran pembantu tak penting dalam opera sabun.

Ku bawa lolipop itu tidur bersamaku. Diatas hamparan es bersalju. Ku pejamkan mataku, mencoba untuk tidur. Dan aku pun tertidur kembali dengan mudahnya. Aku mulai terjaga lagi saat tangan asing yang meraih lolipop-ku, menggantikannya dengan dekapan asing tersebut. Aku tak begitu memperdulikan lagi kemana lolipopku pergi. Yang terpenting dekapan ini membuatku nyaman dan hangat.

*.*.*

Aku terbangun dalam keadaan bingung. Siapa yang mendekapku begitu keras? Hingga aku tak bisa menggerakkan sedikitpun tubuhku ini. Hanya untuk menggeliat sekalipun.

Aku membuka mataku enggan. Tapi langsung ku tutup kembali saat sinar mentari pagi yang menerobos langsung ke arahku, menembus kaca besar yang ada dihadapanku. Sungguh sial sekali posisi tidurku kali ini. Terbangun dengan sorotan cahaya dari sang surya secara langsung. Tepat pada wajahku. Lurus dan sejajar dengan mataku lebih tepatnya.

Ku jatuhkan lengan kananku. Meraba-raba apa saja yang ada dibawah sana. Aku kedinginan disini. Mungkin hujan salju tadi semakin besar dan lebat.

Tanganku berhasil meraih sebuah kain. Aku tak tahu kain apa itu. Aku tak ingin melihatnya. Yang aku inginkan sekarang adalah pergi ke dapur untuk minum. Rasanya tengorokanku kering sekali saat ini. Aku menyingkirkan sebuah lengan yang terus berada di atas pinggangku. Lalu bangkit untuk bangun dan memakai kain itu. Warna putih kurasa. Aku melihatnya dengan setengah mata yang terbuka malas.

Setelah kurasa rapih, aku bergegas mencapai daun pintu. Berjalan seperti orang mabuk yang menghabiskan 3botol Wine.

Aku berhasil membuka pintu kamar tanpa terbentur dinding ataupun pintu. Saat aku menuruni tangga, aku merasakan udara dingin yang lebih menusuk sel-sel tubuhku. Apa penghangat udara disini rusak? Mengapa dia tak memperhatikan hal itu? Membuatku mengigil kedinginan di istana megahnya yang tak berguna.

Ku langkahkan kaki ini menyusuri dinding menuju pantry. Membuka lemari es, ku ambil sebuah appel. Tapi ku letakkan kembali saat bibirku masih malas untuk menguyah dan perutku yang tak menginginkan untuk segera diisi. Pilihanku jatuh pada water splash. Sepoci air putih yang berisi irisan jeruk lemon dan jeruk nipis. Ku tuangkan satu gelas untukku. Lega rasanya. Begitu dingin namun menyegarkan siapapun yang meminumnya.

Aku masih mengantuk. Tapi sorot matahari menembus semua kaca hingga memberikan pantulan yang menyilaukan di atas permukaan keramik ukiran di rumah ini. Sudah siang. Sungguh tak elok jika aku terus diam atau memilih untuk tidur kembali. Dia akan bangun sebentar lagi, dan ia pasti akan kelaparan. Jadi aku putuskan untuk kembali ke kamar. Cuci muka, gosok gigi. Oh gosok gigi. Padahal aku selalu menggosok gigi sebelum tidur. Jadi aku tak perlu melakukannya lagi di pagi hari saat tak ada asupan makanan yang belum melewati kerongkonganku. Tapi semenjak kami melakukan itu di taman belakang, Marcus selalu langsung menciumku saat bangun tidur. Aku tak mau membuatnya merasa jijik karena bau napasku yang tidak segar. Tidak ada ciuman jika tidak menggosok gigi.

Aku kembali ke lantai bawah saat tubuhku sudah segar kembali. Aku mengurungkan niatku tadi yang hanya akan menggosok gigi dan cuci muka saja. Sungguh malas jika harus bolak-balik ke tempat yang sama. Jadi, mengapa tak sekalian saja ku lakukan.

“Istriku sedang apa?” Kurasakan tangan Marcus memelukku dengan erat. Kemudian dia menempatkan dagunya di bahuku. Sedikit mulai mengacaukan konsentrasiku dengan mencumbu leher ini. “Aku meninggalkan sedikit bekas semalam. Apa tak apa?” Itu bukan sebuah penyesalan. Dia bahkan tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya semalam.

“Tentu. Selama aku tak kemana-mana. Kau boleh menandaiku. Hanya,” aku berbalik menatap ke dalam matanya yang masih tampak lelah. Entah dorongan dari mana sampai diriku merasakan hal yang lain. Intim. Ku kecup sudut bibirnya, dan ujung hidung. “Jangan terlalu tebal dalam menandainya. Aku akan tampak seperti korban luka bakar. Paham?”

“Baiklah. Dan, bagaimana jika aku mulai menandaimu lagi sekarang. Ini ujian untukmu. Kau harus tetap memasak sementara aku melakukannya.”

“Apa untungnya untukku? Itu semua hanya akal-akalanmu saja. Iya kan?”

“Kita pergi ke pasar. Kau ingin keluar rumah bukan?”

“Wah, kau sedang tidak dalam keadaan bercanda kan?” Marcus menggelengkan kepalanya tegas. Aku tahu, dia memang sedang tak bercanda. Aku membalikkan tubuhku kembali. Melanjutkan acara masakku yang terganggu olehnya. Kini giliranku bermain. “Kalau begitu, kau tak boleh melakukannya?”

“APA?” Untuk ukuran reaksinya, ini jelas sangat berlebihan. Dia tak akan mati kan, jika tak menciumku kali ini saja?

“Jika aku membiarkanmu melakukannya, kau akan menandaiku. Dan aku tak mau itu sampai terjadi. Aku akan menjadi pusat perhatian umum dengan tanda dileherku. Bisa saja mereka berpikir aku di gigit nyamuk atau serangga lainnya. Bahkan lebih gilanya lagi,” ku bisikan kalimat terakhir ini padanya dengan menoleh ke belakang. “Mereka akan berpikir aku telah menjadi seorang vampire.”

“Saus tartar. Itu tak mungkin sayang.” Ketusnya tak terima.

“Aku tahu. Mana ada orang Eropa yang percaya dengan cerita di abad pertengahan?”

“Aku hanya ingin kau bersabar saja.”

“Eits. Sebagai gantinya nanti malam emm?”

Dia selalu tak pernah mau mengalah dengan cara mencari jalan lain. “Oke. Satu kali ke tahap intim.”

“Kau memang paling memahami aku.” Dia mulai melepaskan pelukannya padaku. Lebih memilih untuk memelukku dari samping. “Lima kali ke tahap intim.”

“Satu saja.”

“Ayolah. Setidaknya lebih dari dua.”

“Satu setengah. Bagaimana?”

“Kau gila? Itu artinya kau tak membiarkanku menuntaskannya di ronde kedua. Jahat sekali istriku ini.”

“Kalau begitu dua.”

“Aku tidak mau! Tiga.”

“Ya tiga. Aku setuju.”

“Tidak jadi. Lima saja.”

“Apa?!” Aku meletakkan pisauku dengan gebrakan yang mengiringinya. “Kau gila? Mau membuatku sakit?”

“Kau akan semakin sehat. Karena kita melakukan olahraga malam bersama. Dengan keringat yang bercucuran, pergerakan dari kakimu, tanganmu, oh! Latihan vokalmu juga. Itu sebuah paket yang sangat combo di malam hari bersamaku. Tidakkah kau beruntung?” Dia mempermainkan emosiku dipagi yang cerah ini?

“Marcus Cho!”

*.*.*

Kami menikmati sore ini di taman belakang. Di bawah pohon Maple dengan hamparan selimut piknik dan secangkir teh yang ditemani irisan roti keju dan coklat. Kami memiliki selera yang berbeda soal rasa.

“Kau harus membiasakan dirimu membaca do’a sebelum tidur.”

“Aku selalu membacanya setiap malam. Hanya tadi malam saja, saat pengacau besar ini melakukan hal itu, hingga membuatku lupa tak membacanya.”

“Pengacau eh? Terakhir kali ku ingat kau bahkan memintanya lagi padaku. Apa itu masih bisa disebut pengacau?”

O ow, aku salah bicara jadinya. Ku putar kepalaku untuk menatapnya. “Kemari.” Dia mematuhiku untuk menunduk. Sebab posisiku sekarang sedang berada di atas pahanya dengan kepala yang menegadah menatap wajahnya yang lembut.

“Benar. Semalam sangat menyenangkan. Kita lakukan lagi sekarang?” Wah, kedua matanya membulat seketika.

“Ayo. Aku ingin segera memiliki baby agar aku bisa mengikatmu di negara ini. Jadi kau tak perlu repot-repot lagi mencemaskanku yang selalu mengomel.”

Ku dorong kepalanya kasar. Aku hanya bercanda, tapi dia menganggapnya serius. “Aish. Tidak, tidak, tidak. Nanti malam saja. Lebih baik ceritakan alasan dibalik membaca do’a sebelum tidur. Pertama kalinya aku di tegur seperti ini.”

Marcus kembali menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Beberapa kali menghirup udara segar musim semi, lalu menyilangkan tangannya satu sama lain hingga membentuk huruf x. Aku suka melihatnya saat dia seperti ini. Tak seperti dia yang baru aku temui setelah kesadaranku pulih waktu itu. Angkuh, sombong, dan dingin. Dia mengatakan aku istrinya, tapi mengapa setelah aku sadar aku diperlakukan seolah benda tak layak lagi baginya? Ku pikir ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

Tak ingin merusak suasana yang baru saja kami rekatkan lagi setelah dua bulan lamanya, ku pilih untuk mendengarkan apa yang akan ia katakan.

“Jadi Tuan?”

“Kenapa terus memanggilku seperti itu?”

“Lalu apa? Masyarakat Eropa, Amerika, Australia, selalu menyebut nama kepada suaminya. Anda lebih tua dariku. Akan sangat kurang ajar jika aku memanggil namamu saja. Seperti tak menghormatimu.” Oh, aku baru tersadar akan satu hal. Jika masyarakat Barat sudah terbiasa dengan menyebutkan nama, bukankah sudah sedari kecil aku terbiasa akan hal itu? Tapi mengapa mulutku mengatakan bahwa aku seperti terlahir dari keluarga yang menjunjung tinggi sopan santun orang Asia?

“Benar juga. Baiklah terserah.”

“Malam.” Ucapku mengingatkannya.

“Kau mau tahu?” Aku menggangguk mengiyakan pertanyaannya. “Semalam kau mengatakan aku beruang besar coklat saat aku memelukmu. Aku bangun terlebih dahulu dan hendak ke kamar mandi. Sebagai ganti pelukanku, aku memberikan guling padamu, tapi kau mengatakan itu lolipop besar dengan ukuran tiga meter. Padahal jelas guling itu hanya sepanjang satu koma tiga meter. Apa yang kau mimpikan huh?”

Oh! Aku baru ingat mimpiku. Jadi beruang itu Marcus dan lolipop merah besar guling. Ya Tuhan, mengapa aku bisa bermimpi itu. Aku jadi malu dibuatnya.

“Apa yang kau mimpikan sayang.”

“Sesuatu yang sangat buruk. Aku tak mau memimpikan itu lagi. Ingatkan aku membaca do’a ya?”

Marcus menunduk kembali untuk menciumku. “Akan ku lakukan. Setelah lima tahap.”

“Cho,” sejenak aku pikir untuk memulai ia beradu mulut lagi, tapi kami malah tertawa lepas di detik kelima setelah saling tatap satu sama lain.

*.*.*

“Yang ini?” Aku menggeleng tak mau.

“Terlihat seperti macan.” Jawabku enggan. Kyuhyun, dia mengajakku kemari karena dia bilang sudah saatnya aku keluar tanpa perlu was-was aku yang akan kabur darinya. Kami berbelanja di salah satu departement store yang berada di Swiss. Aku tak menunjukkan keberminatan sejak dari tadi sebenarnya. Dia menarikku ke salah satu outlet yang memamerkan baju dengan motif luar bias buruk dimataku. Pokoknya itu aneh dan tak lazim dimataku. Bagaimana bisa aku memakai pakai itu disaat pemilik yang sebenarnya masih hidup di alam liar sana. Itu terkesan seperti aku yang menguliti binatang-binatang itu untuk menutupi kulitku sendiri.

“Bagaimana dengan ini?” Ia menunjukkan motif baju yang penuh dengan bunga-bunga berukuran sedang di dalamnya.

Aku menggelengkan kepala lagi. “Seperti taman bunga.” Jawabku tanpa memperhatikan ekspresinya yang mungkin mulai jengah.

“Kalau ini? Kau pasti suka.” Ya, itu baju yang wajar sebenarnya. Perpaduan antara warna putih dan hitam.

“Tapi bukankah itu seperti hewan Zebra?” Aku berpikir kembali mencari alasan lainnya. “Dan ssshh, seperti zebra cross.” Gedikku tak perduli. “Aku tak suka.”

Wah, wah, wah, dan kali inilah ku lihat dia mulai mengeluarkan uap dari kepalanya. “Ini seperti Harimau.” Tunjuknya dengan baju loreng-loreng yang memang memiliki motif sama seperti kulit Harimau. “Dan ini seperti lukisan.” Ucapnya mendorong gantungan pakaian bermotif bunga besar di udara. “Lalu ini seperti bingkai photo. Bukankah begitu?” Murkanya yang menunjukkan gambar popart dari salah satu artis terkemuka.

Aku mengangguk-anggukkan kepala secara perlahan padanya. Karena ku pikir itu cara yang paling bijak untuk saat ini. Daripada aku harus berucap lagi yang malah akan membuat dia semakin murka.

“Kita pilih di toko lain.” Kesalnya menarik tanganku secara tiba-tiba. Padahal aku tengah memperhatikan baju terusan berwarna merah marun yang menarik. Sayang sekali.

“Sekarang kau yang pilih.” Ketusnya begitu kami sampai di luar outlet.

Ku kecup pipinya sebentar sebelum kembali merangkul tangannya yang sempat terlepas tadi akibat ulahnya sendiri. “Baik. Ayo! Akan ku tunjukkan selera berpakaian seorang wanita dewasa yang elegant, sederhana, namun tetap berkelas.” Aku menariknya ke outlet samping. Firasatku tak buruk. Aku mendapati banyak pilihan yang ku suka disini.

“Jadi sudah selesai?” Tanyanya yang menungguku berkeliling mencari baju.

“Ya. Lima pakaian. Apa tidak apa-apa?”

“Lebih dari itu pun aku tak akan marah. Kau yakin hanya lima?” Tanya Kyuhyun yang mulai meniliki apa saja yang ada ditanganku. Mungkin dia tengah mencari cara untuk balas dendam kepadaku soal pakaian yang ku pegang kini.

Ku perhatikan lagi baju yang tersampir di lengan kananku. “Ini lebih dari sekedar cukup. Tolong bayarkan.” Ucapku manja dan menyodorkan semua pakaian itu ke tangannya.

“Baik Nona. Tunggu sebentar.”

Aku duduk ditempat yang telah disediakan oleh pemilik outlet ini sambil memperhatikan dirinya yang sedang dalam antrian panjang bersama para wanita. Sepertinya aku salah dalam bertindak. Dia malah dikerumuni para gadis remaja sekarang.

“Honey.” Seruanku mengakibatkan beberapa mata mencari-cari siapa pemilik suara itu.

Aku berlari ke arahnya, lalu ku kaitkan tangan ini pada lengan kekarnya. “Kau menjadi nakal saat aku membebaskanmu. Segera bayar dan kita akan pulang.”

*.*.*

To Be Continued

«Ada kata yang salah lagi tak? Anggap aja gak liat ya? Ok?

Aku mau istirahat dulu sejenak. Karena ku pikir aku terlalu banyak berteriak saat latihan kemarin, dan ada beberapa hal juga.»

Terkadang hobbi pun bisa tersingkirkan oleh kewajiban hahah..

kabar baiknya, aku telah siap untuk dilemparkan ke daerah apapun itu selama bukan daerah konflik untuk tugas pengabdian. Temanku udah hubungin aku terus. Padahal itu masih dua tahun yg akan datang. Tapi kita udah sibuk dari sekarang. Izin orang tua + kesiapan mental masalahnya.

Advertisements

4 comments

  1. Dituggu chapter 5nya ya auhtor….. aku udah nunggu lama banget di blog kamu sama di flying nc tapi gak muncul munculll -_- ceritanya bikin penasarannn
    Pengen tahu reaksinya hyunji pas ingatannya dia balik lagiiii
    Akankah dia bertahan di sisinya Kyuhyun ???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s