My Heart, My Feel, and The Dreams

 

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Complicated – PG17|| Lenght: Oneshoot||

POV: Song Ha In|| Author: Jellyfish||

Editing: Hyun*ie

*

Note: maaf jika pusing. Karena saya pun masih belum terlalu paham dengan apa yang disampaikannya padaku saat itu. Dia hanya mengatakan orang pertama dan kedua, tanpa dengan jelas mengatakan rinciannya. Mungkin setelah hatinya mereda ia mau berkenan menceritakannya kembali.

*.*.*

Aku terpaku pada ketidakberdayaanku. Menatap reruntuhan langit dihadapanku dengan duka. Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini jelas terasa sulit untuk ku lewati. Seperti ada sebuah kerikil kecil yang menempati ruang kecil pada alas sepatuku yang mulai usang, begitu mengganggu.

Tuhan, jika aku diizinkan, dapatkah kau mendengar sebuah permintaan kecilku ini? Permintaan yang berwujud sebuah do’a dari harapanku yang sempat padam, namun berkobar kembali pada saat ini, dapatkah aku pinta sekarang pada-Mu? Sebelum habis waktuku menjelajah dibumi ini.

Jaga dia untukku. Peluk dia dalam pelukan hangatmu. Naungi ia saat berada dalam kegelisahan dan kekhawatirannya. Taburkan cinta kasihku yang ku pendam selama ini padanya. Beritahukan padanya, bahwa aku, mencintai dia dengan semua larangan norma, agama, dan mengabaikan kehormatanku pada ayah dan ibuku hanya untuk menatapnya. Walaupun itu dalam sebuah celaan.

Tak dapat ku berbuat banyak padanya. Hanya sebatas bayangan dan teman semu dalam rumah yang beratapkan merah marun ini. Memandangi semua gerakan dari siluet hitam, pudar, nan usang dari dirinya. Tak perduli dengan aku yang dianggap gila membayangkan kehadirannya atau, aku berubah sesaat kemudian menjadi benar-benar gila. Terkutuklah aku Tuhan.

*.*.*

Tapi seiring berjalannya waktu, hatiku bercabang pada dua arah. Dua arah yang ku pikir hanya bisa membuatku bertambah tua dalam sekejap mata.

Ada seseorang yang mampu membuatku merasa damai, dan dapat berfikiran dewasa. Seseorang yang bisa membuatku menjadi orang yang lebih baik lagi. Tapi, ada juga orang yang mampu membuatku terpuruk jatuh dengan mudahnya. Orang yang begitu ku harapkan hadir, tapi tanpa ku kira, dia menghiasi hidupku yang penuh warna. Menjadikannya berubah menjadi kelabu, indigo, namun terkadang menjadi sangat cerah. Secerah warna sinar dari mentari pagi.

Dunia seolah jungkir balik dengan apa yang ku pinta dan apa yag hadir dihadapanku. Membuatku merenungkannya beberapa kali. Dimana letak kesalahanku? Apa engkau begitu membenci atau mengujiku? Entahlah. Yang ku tahu kini ialah, setidaknya aku dan orang yang ku harapkan dalam setiap panjatan do’aku dapat saling bergandengan tangan di dalam dunia yang penuh larangan ini.

*.*.*

Ketika kita sangat mencintai seseorang, tanpa sadar, kita memberikan kesempatan untuk orang itu menyakiti hati kita. Karena orang yang kita cinta memiliki kesempatan itu kapanpun untuk melakukannya pada kita, orang yang berkorban dengan tulus mencintainya tanpa sedikitpun celaan yang terucap dalam mulutnya.

Dan hal yang paling bodoh adalah, saat dia menyakiti hatiku sejuta kalipun, aku tidak pernah bisa membencinya. Selalu, dan selalu yang ku harapkan ialah, memiliki harapan bodoh untuk menantikan kehadirannya di sisiku. Bisa bersamanya, itu merupakan orang yang kedua. Yang begitu melekat dalam hati yang menganga ini. Tapi bukan dia yang ku harapkan akan terwujudnya semua atas do’a-do’aku. Bukan pula dia yang membuatku gila saat memikirkannya.

Tapi hal lain terjadi. Hal yang paling menyakitkan ialah, dari orang yang pertama. Dia bisa memberikanku kedamaian hanya dengan melihat senyumannya, dia membuatku bahagia hanya dengan melihatnya, bersamanya aku bisa merasakan apa itu bahagia yang sesungguhnya, bersamanya membuatku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.

Dan sekarang, hal yang paling menyakitkan saat aku tahu bahwa bersamanya adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi, ketidak mungkinan yang selalu aku semogakan pada setiap panjatan do’aku dihadapan Sang Maha Agung.

Sangat terlarang untuk dikatakan kita bisa bersama. Entah aku sadari atau tidak, aku merasa ini tak akan berhasil. Jarak yang memisahkan diantara kami cukup jelas dan tak dapat terelakkan. Dalam sekejap aku tersadar akan kesalahanku yang mencintai dirinya. Tapi sesaat kemudian hatiku kecilku yang egois membuatku berpikir hal ini tidak apa-apa. Membuatku terdorong dalam jurang yang tajam untuk tetap mempertahankan cinta atau rasa yang tumbuh ini sejak tiga tahun yang lalu. Mengapa aku selalu tak bisa mengendalikan semua rasaku ini pada orang yang tepat? Setidaknya, jangan pada semua orang yang berada di dekatku.

Aku mencoba memendam semuanya saat ini. mengabaikan ia dan mulai membuangnya dari dalam ingatan memoriku. Saat aku mencoba mulai berjalan dalam jalan takdirku, sebuah batu menghalangi jalanku dan membuatku terjatuh dengan menggoreskan luka yang membekas, tetapi aku hanya boleh berhenti sejenak, bukankah hidup harus terus berjalan? Terus berjalan hingga semua angan, cita, dan cintaku terwujudkan. Walaupun tak bisa bersamanya.

Kamu tahu, saat logika dan perasaan bertentangan? Mana yg harus aku pilih? Ketika logika begitu menyakitkan tetapi hati mengatakan kebalikannya, ketika hati kita merasa nyaman bersama seseorang yang bahkan tidak mungkin aku miliki. Orang yang selalu ku pinta dalam setiap panjatan do’aku saat berhadapan dengan-Mu. Saudara sepupuku.

*.*.*

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s