Cranberry {Chapter 1}

 

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – PG-17 – Complicated – Married Life||

Length: Twoshot|| Author: Hyun*ie||

Note:

In @ pesan masuk yang diterima Ha In, dan

Out @ pesan keluar dari Ha In pada Kyuhyun.

*.*.*

In {Cho Kyuhyun}: Hi, semoga harimu menyenangkan *smile* *wink*

Ha In menatap pada layar ponselnya dengan menganga. Sedikit geli, jijik, dan kesal. Siapa lagi kali ini yang memberikan nomor ponselnya.

In {Cho Kyuhyun}: Kau cantik.

Ha In dibuat tambah geram saat melihat isi pesan yang kembali di dapatkannya dari nomor yang tak ia ketahui itu siapa.

“Tuhan, pagiku berubah menjadi api yang membara setelah apa yang ku terima tadi.” Ha In hendak membalas dan memakinya saat seorang dosen masuk.

“Selamat pagi.”

*.*.*

In {Cho Kyuhyun}: Maaf jika aku terkesan sangat dekat denganmu. Karena memang aku mengenalmu

“Sial!” Ha In mengumpat saat membuka tas dan mendapatkan pesan masuk kembali pada ponselnya dari nomor yang sama setelah jam kuliah selesai.

Out {Song Ha In}: Maaf, tapi aku sama sekali tak mengenalmu Tuan. Send~

Mata Ha In membulat saat pesan yang dikirimnya langsung mendapatkan balasan segera dalam hitungan beberapa detik.

In {Cho Kyuhyun}: Kau pasti mengenalku. Aku salah satu dari sekian manusia yang juga berada disini. Cho Kyuhyun.

“Kau mengenal siapa itu Cho Kyuhyun?” Ha In bertanya langsung pada Rae-in yang duduk disebelahnya.

“Apa?”

“Cho Kyuhyun.” Ulangnya kembali.

“Ahh, dia, salah satu mahasiswa tingkat empat disini. Kenapa?”

“Salah satu dari sekiannya? Kau yakin?”

“Ya. Memangnya ada apa sih?”

Ha In berdiri tegap menandakan bahwa ia panic sekarang. Tak mungkin bukan hanya karena sebuah pesan singkat yang masuk membuatnya begitu penasaran dan harus mengungkapnya langsung pada Rae-in?

“Tidak ada. Hanya penasaran saja.” Ha In merasakan tatapan Rae-in yang semakin mendekatinya dengan rasa penasaran yang tinggi. “Aku mengatakan yang sesungguhnya.” Ucapnya kembali.

Dengan cepat Ha In membalas pesan tersebut.

Out {Song Ha In}: Buktikan jika benar.

Ha In memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu merangkul lengan Rae-in yang sejak tadi menatap tajam padanya. Penuh keingintahuan. “Ayo kita pergi ke kantin.”

*.*.*

Musim panas kembali menghampiri bumi. Itu tandanya hubungan mereka sudah hampir mencapai satu tahun berlalu tanpa kepastian. Mungkin sangat pasti bagi Kyuhyun, tapi tidak untuk Ha In. Bagaimana bisa perhatian Kyuhyun seperti,

Bagaimana kabarmu?

Kau sudah makan?

Jangan tidur terlalu larut.

Jangan sakit. Jaga selalu kesehatanmu.

Apa itu masih bisa dikatakan perhatian dari seorang teman? Baik, anggap saja itu bentuk sayang seorang sunbae pada hobae-nya. Tapi apa tak terlalu berlebihan. Dan yang paling membuat Ha In gelisah ialah, tiga hari terakhir ini Kyuhyun selalu menghubunginya dan rutin menanyakan kabar. Jika dalam kurun waktu lima menit Ha In tak kunjung membalas pesannya, maka seorang Cho Kyuhyun dengan cepat mengirimkan pesan kembali.

Kau hanya membaca pesannya! *nottalking*

Dan itu berarti Kyuhyun sedang kesal dan merajuk pada Ha In.

Ha In memang selalu menganggapnya sebagai lelucon jika sudah seperti itu. Bukankah Kyuhyun hanya menganggapnya sebagi adik? Dia telah memperjelas semuanya, dengan teramat sangat JELAS.

Tapi kini, wanita bermarga Song itu tengah bergerak gelisah ditempatnya. Jika tak berdiri menelusuri kamarnya, maka ia menggigit gemas jari kelingkingnya. Pembicaraan, ah bukan, pernyataan Kyuhyun padanya membuat ia ragu. Haruskah dia bersikap egois dan memilih untuk menerimanya? Atau seperti yang sebelum-sebelumnya? Melepaskan mereka yang telah menetapkan hati untuknya, karena tak ingin melukai teman dekatnya.

“Huh,” untuk ke sekian kalinya ia mendesah berat.

“Mengapa kita membiarkan pria yang sama mendekat? Hingga sampai seperti ini jadinya.”

Ya sialnya Ha In ialah, membantu Ji-ae untuk mendekati Kyuhyun, pria yang yang mengatakan suka padanya.

Tak pernah sebelumnya Ha In berhubungan sedekat ini dengan seorang pria. Memang pernah sebelumnya ia memiliki banyak teman pria, tapi semua itu hanya di sosial medianya dan mereka berada di provinsi maupun sebuah kota yang berbeda dengannya. Ha In tentu merasa ketakutan jika ia memiliki teman dengan jarak yang dekat dimana dirinya berada. Ini semua dikarenakan dia trauma memiliki seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Pria itu datang dari jauh, dan memaksa Ha In untuk bertemu dengannya. Tahu bukan pria ada era saat ini? hanya sekitar 5% dari total seluruhnya yang bisa baik padamu. 95% lainnya bagaikan ingin menjadikan seorang wanita seperti sebuah boneka atau mainan kesayangan mereka. Tidak, tidak. Ha In tak menyukai itu. Maka dari itu ia terlalu pemilih dengan pria yang ingin berkenalan dengannya. Sekitar radius 500km dari tempatnya berada.

Lagi pula, Ha In menilai bahwa pria sosial media seperti layaknya sebuah mimpi. Kau bangun, maka hilanglah semuanya. Sementara pria dengan yang berada disekitarnya seperti ingin. . . . ., membuat sebuah harapan tinggi yang pada akhirnya meninggalkan ia dalam bayang-bayang surgawi. Oh Tuhan, dia sudah berapa kali mengalami hal itu. Dan tidak lagi. Tidak untuk ke sekian kalinya.

Tapi entah mengapa, dengan seorang Cho Kyuhyun, ia berani mengambil resiko besar itu lagi. Mungkin karena pesona dari tinggi tubuhnya dan lontaran candaan serta berbagai pujian yang ia dapatkan darinya membuat ia berani mengambil tindakan ini.

“Ya Tuhan Ha In. sebuah pernyataan suka bukanlah berarti dia mencintaimu bodoh! Pikirkanlah kembali dengan baik.” Makinya pada diri sendiri. Berkali-kali ia memukul kepalanya sendiri. Lalu berjalan dengan tergesa menghampiri tempat tidurnya.

Ia kembali membuka isi pesan yang di kirimkan Cho Kyuhyun padanya tujuh menit yang lalu.

In {Cho Kyuhyun}: Jika aku boleh jujur padamu, kau sangat manis.

In {Cho Kyuhyun}: Kau sudah memiliki kekasih?

In {Cho Kyuhyun}: Kau manis, aku menyukaimu.

In {Cho Kyuhyun}: Tak perlu berbasa-basi langsung pada intinya, dan biarkan hati kita yang mengarahkannya.

“Akhhhh sial.” Ha In segera membanting ponselnya pada tempat tidur yang membuat benda itu sedikit memantul kembali ke permukaan sebelum akhirnya terjatuh di atas tempat tidurnya.

“Ya Tuhan, apa yang kau lakukan Song? Mengapa terburu-buru mengambil sebuah tindakan.” Makinya kembali.

Ya, mau bagaimana lagi. Dia telah membuat kesalahan dengan mendekatkan Ji-ae dengan Cho Kyuhyun. Karena awalnya dia berpikir bahwa mereka hanya berteman dan tak memiliki harapan sampai sejauh ini.

“Oh shit! Biarkan aku bertindak egois hanya kali ini saja.” Ha In kembali meraih ponsel yang sebelumnya telah ia lemparkan. Dia mengetik pesan dengan cepat.

Out {Song Ha In}: Aku tak mengerti dengan sikap yang kau tunjukkan padaku. Tkarena terkadang kau membuatku bingung dengan semua perhatianmu. Oleh karena itu, aku tak ingin berharap terlalu tinggi yang akhirnya hanya akan menyakitkanku. Jadi. . . .,apa arti diriku dimatamu. Send~

Dua menit, lima menit, lima belas, tiga lima, bahkan sudah satu jam setengahpun tak ada respon dari Kyuhyun. Hati Ha In melojak ke atas, nyaris seperti sedang berada di kerongkongannya. Membuat nafasnya tersendat karena rasa sakit yang sedikit menganga. “See, dia adalah bagian dari pria brengsek lainnya!” lirih Ha In. tak ingin terlalu larut dalam sebuah melodrama yang ia buat sendiri, Ha In memilih untuk mematikan saluran data dari kartunya. “Close your eyes. And let’s see into the new world.” Semangatnya. Ya lebih baik sekarang ia tidur.

Ha In terbangun setelah tidur selama tiga jam. Ia langsung mencari ponselnya dan segera mengaktifakn saluran datanya.

In {Cho Kyuhyun}: Memamngnya aku bicara apa saja padamu? *idunno*

In {Cho Kyuhyun}: jangan terlalu berlebihan memaknai sebuah komunikasi *bigsmile* *smile*

Ha In menggeram keras. Kini jantungnya yang seperti tertusuk tombak panas. Sedetik kemudian dia tersenyum sinis. Jadi selama ini dirinya hanyalah sebuah mainan?

Out {Ha In}: Aku paham.

Out {Ha In}: Salahku juga.

Selang beberapa menit kemudian ponsel Ha In kembali berdering.

In {Cho Kyuhyun}: Maaf jika ada pembicaranku yang tidak berkenan untukmu. Aku bingung maksud dari ucapanmu itu apa.

“Kau bingung atau berpura-pura tolol bodoh!”

Out {Ha In}: Tidak oppa. Semua ini murni salahku. Aku yang terlalu bersikap berlebihan. Tidak apa-apa. Hanya salah paham saja. Jangan meminta maaf juga. Karena jelas-jelas aku yang salah.

Out {Ha In}: Maaf oppa.

“Maaf karena telah terlalu banyak berharap padamu yang berhati batu.” Bisik Ha In.

In {Cho Kyuhyun}: Kau membuatku bertambah bingung. Posisiku ini seperti apa dan apa inti bahasan kita yang ini? *confused*

In {Cho Kyuhyun}: Tapi sudahlah lupakan saja. Daripada nantinya hanya akan menambah masalah *notintereted* *dancing*

“Ya, mari kita lupakan dan kubur semua kenangan ini.” ucap Ha In berapi-api. Saat sisi jahatnya berkataseperti itu, tapi sisi baik dan rasionya bekerja cepat untuk menyanggahnya. “Jika kau berbuat seperti itu, sama saja dengan kau mengakui dirimu yang mengharapkan lebih padanya.”

Ha In menutup matanya kembali, lalu berusaha menganti topik lain yang ingin ia bahas dengan Kyuhyun untuk menglihkan pemikirannya.

Out {Ha In}: Kau mengetahui pria yang bernama Kim Wooyung?

. . . . . . . . . . . . . . . . . . .

*.*.*

In {Cho Kyuhyun}: Temani aku keluar hari ini.

Out {Ha In}: Ok. Aku akan memakai mobilku sendiri. Beritahukan dimana tempatnya?

In {Cho Kyuhyun}: Tidak, tidak. Jangan mengendarai mobil sendiri. Aku yang akan menjemputmu.

Out {Song Ha In}: Baik. Dalam waktu 10menit.

In {Cho Kyuhyun}: Aku bahkan bisa lebih cepat dari itu.

Ha In tersenyum puas karena berhasil mengertak Kyuhyun dipagi hari. Ha In bahkan bisa merasakan desisan dan geraman Kyuhyun saat membaca teks pesannya.

“Ya, mari kita bertemu sebelum akhirnya kita berpisah.” Ha In mendesah kembali. Keputusannya ini sudah bulat. Ia ingin menggapai kesempatan yang Tuhan berikan kali ini padanya. Dan ia juga ingin mencari cerita lain. Dan itu bukan tentang Kyuhyun di dalamnya.

Setelah insiden yang memalukan dirinya waktu itu dengan menanyakan langsung mengenai arti dirinya, Ha In sebisa mungkin bersikap bisa, lalu secara perlahan ia mengurangi komunikasi diantara mereka. Detik berganti menit, menit berganti jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Sudah satu setengah tahun ia melakukan hal itu pada Kyuhyun. Ha In baru saja lulus tiga bulan yang lalu. Kini ia sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi. Terbang menuju Negara bagian barat. Dan baru kali ini pula seorang Cho Kyuhyun mengajaknya kembali keluar untuk menemaninya.

“Sayang,” ketukan pintu kamar membuat Ha In berhenti menatap tumpukan barang yang belum dikemas.

“Ya ibu. Masuklah.”

“Hey, kau sudah siapkan semuanya?”

“Belum. Baru sebagian. Aku akan keluar dulu hari ini sebentar. Mengumpulkan beberapa memori untuk ku ingat nanti.” Canda Ha In dengan setengah senyum dan mengendikkannya bahu tanda tak yakin.

Nyonya Song tersenyum lalu mendekati putrinya. Membelai anak kesayangan satu-satunya. “Keputusanmu sudah benar. Jangan menyesalinya nanti dan membuat dirimu sendiri menjadi tambah murung. Temui dia sekarang. Dia sudah menunggumu dibawah.” Ha In menoleh pada ibunya. Apakah yakin semuanya baik-baik saja? Ucap kedua bola matanya yang sendu.

“Selama kau tidak mengatakan apapun. Semuanya baik-baik saja.”

Ha In memeluk ibunya dengan erat. Ya, temui dia. Tetap bersikap seperti biasa, dan pergi dengan tenang. Ucapnya dalam hati, dan hal ini disetujui oleh kinerja otaknya.

“Aku pergi dulu. Ingin ku bawakan sesuatu? Sepertinya bayi gurita pedas cukup enak untuk dimakan malam hari.” Goda Ha In. Tapi tidak dengan ibunya. Nyonya Song kini merengut tak setuju. “Kau ingin ibu ke rumah sakit bukan?”

Ha In tertawa terkikik mendengarnya. “Aku hanya bercanda. Kue beras? Bindaerreok? Dduk-galbi? Atau kita bisa membuat Deep-fried Rice Cake Ice Cream dan Scorched Rice Soup Gratin. Bagaimana bu?” Tanya Ha In antusias. Sepertinya Nona muda Song ini sedang ingin membuat perutnya penuh dan pipinya chubby serta lipatan pada bawah dagunya semakin berat.

Nyonya Song membelai surai putrinya. “Terserah padamu sayang.” Ucapnya sambil tersenyum.

Ha In mengerlingkan matanya, kemudian mengecup pipi kiri ibunya. “Aku pergi.”

Ha In lari tergesa-gesa menggapai daun pintu utama saat dilihatnya Kyuhyun tak ada dimanapun di ruang bawah. Ha In berjalan ke tempat tumpukan sepatu koleksinya yang berada dekat dengan pintu utama. Tak ada waktu duduk ditempatnya sekarang hanya untuk menepatkan sepasang sepatu. Ha In lebih memilih berjalan sambil memasangnya asal. Oh perduli apa dia akan pandangan Kyuhyun? Pria itu telah mengetahui hampir semuanya tentang pribadi Ha In.

“Aku terlambat?” Tanya Ha In terengah-engah. Ya dia melakukannya, berlari seperti orang kesetanan.

“Tidak. Baru 7.33 menit dari apa yang kau perintahkan.”

“Syukurlah.” Setelah membenarkan letak duduknya dan memasang seat-belt, Ha In menunduk untuk memperbaiki posisi sepatunya.

Kyuhyun menoleh ke arah Ha In. Tak berubah. Pikirnya. “Masih memiliki kebiasaan lama?”

“Ya.” Jawab Ha In dengan tetap fokus pada sepatunya, tak menoleh sedikitpun pada lawan bicaranya.

“Cepat selesaikan.”

“Baik.”

*.*.*

Ha In tengah asyik memperhatikan berbagai kehidupan di bawah jembatan Sungai Han. Burung-burung, ikan, dan beberapa pasang manusia yang sedang bercanda riang.

Setelah berputar-putar kota Metropolitan ini, Kyuhyun mengajaknya ke Sungai Han yang merupakan tujuan akhirnya.

Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka. Masing-masing sibuk dengan dunia yang mereka bangun sendiri. Ha In yang terus menikmati kehidupan yang ada dibawah jembatan tempatnya berdiri, sementara Kyuhyun terus meremas jari tangannya. Sepertinya ia tengah gugup.

Tanpa ingin berdebat dengan hati dan otaknya yang saling bertentangan sejak tadi malam, Kyuhyun segera meraih tangan kiri Ha In dan memasukkan cincin platinum sederhana itu pada jari manisnya.

“Untukku?” Ha In menoleh padanya karena terkejut sekaligus akibat tarikan paksa Kyuhyun tadi pada tangannya.

“Ya.” Balas Kyuhyun dengan dingin.

“Hadiah dari perjalanan bisinismu?” Tanyanya kembali. “Terima kasih. Ini, indah teman. Cocok ditanganku.”

Kyuhyun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengambil ponsel dan meraih tangan Ha In kembali.

Terdengar suara blitz dari ponsel putih miliknya. Satu photo telah didapat. Photo yang memperlihatkan kedua jemari mereka yang sama-sama memakai cincin.

“Ayo kita pulang.” Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana bagian belakang jeans-nya.

“Kita pergi hanya untuk ini?” Tanya Ha In sambil mengangkat jemarinya yang memakai cincin.

Kyuhyun menggeram kesal beberapa detik kemudian dia kembali bersikap seperti biasa.

*.*.*

Nada panggilan masuk memekakan telinga Ha In yang kini sedang tertidur setelah terisi dengan Deep-fried Rice Cake Ice Cream dan Scorched Rice Soup Gratin Setengah jam yang lalu.

“Emm?” Ha In mengangkat kepalanya lalu terjatuh lagi diatas bantalan. Kini jemarinya bergerak menyusuri tempat tidurnya. Karena seingatnya, ia meletakkan ponsel terakhir kali itu diatas tempat tidur, tak jauh dari sekitarnya.

“Ne?”

“Sayang, ini ibu.”

Ha In mengernyit pusing dan tak mengerti. “Ibu?” Ulangnya. “Mengapa menelpon? Apa ibu sedang diluar sekarang? Jadi ibu menelponku.”

“Ini ibu Kyuhyun sayang.” Ha In langsung terduduk dari tidurnya saat mendengar ibu Kyuhyun”.

“Maaf. Maaf.” Ha In mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. Meskipun tak ada siapapun di depannya, selain benda mati seperti lemari dan tas koper.

“Tidak apa-apa sayang. Kau pasti sedang tertidurkan? Apa ibu menganggumu?”

Pertanyaan tersebut membuat Ha In semakin malu hingga menimbulkan warna merah muda di kedua pipinya.

“Nde.” Sedetik kemudian Ha In meralat ucapannya. “Maksudku tidak. Bibi sama sekali tak menggangguku.”

“Apa kalian bertengkar?” Tanya Nyonya Cho ragu yang membuat Ha In semakin bingung. Mengapa bangun tidurnya langsung membuat ia diserang berbagai pertanyaan? Padahal semua nyawanya baru saja terkumpul 79% dari total keselurhan.

“Tidak. Tidak terjadi apapun yang memicu kami bertengkar tadi. Kami makan, lalu pergi ke Sungai Han dan oppa mengantarkanku pulang. Hanya itu saja seingatku. Memangnya ada apa bibi? Apa terjadi sesuatu dengannya?”

Terdengar helaan nafas berat dari Nyonya Cho diujung sambungan sana. “Dia marah. Dan ibu pikir karena kalian bertengkar.”

“Tidak. Tapi,” Ha In menggigit jemarinya gugup. “Waktu dia mengajakku pulang setelah memberikan cincin hadiah dari perjalanan bisnisnya, lalu aku menjawab . . . ., “Kita pergi hanya untuk ini?” Oppa langsung menggeram kesal menatap jemariku.”

“Ya Tuhan. Itu salahmu sayang.”

“APA?” Ha In membentak tanpa sadar lawan bicaranya siapa. Kini nyawanya melonjak tajam hingga telah terkumpul semua akibat pernyataan secara sepihak dari ibu Kyuhyun yang memojokkannya. “Mengapa bisa jadi salahku?”

“Kyuhyun jelas marah saat kau mengatakan kalian bertemu hanya untuk sepasang cincin.”

“Hanya satu, tidak sepasang.” Ralat Ha In segera.

“Kyuhyun juga memakainya. Apa kau tak lihat jemarinya juga?”

Ha In teringat kembali kejadian di Sungai Han. Saat Kyuhyun mengambil tangannya, memasang cincin, dan mengambil photo. . . . Ya Tuhan bibi benar. Mengapa aku tak sadar saat itu juga. Makinya.

“Tapi bibi, ku pikir ini adalah tanda persahabatan kami.”

“Tidak sayang. Itu cincin pertunangan kalian.”

“Apa?” Nada suara Ha In melemah. “Tidak mungkin.” Lirihnya. “Oppa bilang, oppa bilang kita hanya. . . ., ini tak mungkin terjadi.”

“Jika kau tak percaya, lepaskan cincin itu dan lihat ke dalam lingkarannya. Disana tertera nama putra ibu.” Ha In segera melakukan apa yang dikatakan Nyonya Cho padanya. Sambil terus mengaktifkan indera pendengarannya. “Begitupun yang ada di cincinnya. Disana terdapat namamu sayang.”

“Ku pikir ini adalah souvenir dari perjalanan bisnisnya.” Bisik Ha In.

“Tidak. Ibu sendiri yang mengantarnya ke toko perhiasan. Tapi kau tenang saja, Kyuhyun tak mengijinkan ibu ikut campur dengan pilihannya. Hanya mengantarkannya saja.” Ha In diam ditempatnya. Otaknya terus memaksa ia merespon atas stimulus yang diterima, sementara hatinya dilanda kegundahan.

“Oppa tak mengatakan apapun padaku.”

“Sayang, maafkan putra ibu yang dingin. Dia sama seperti pengemis yang mengharapkan sebongkah permata turun dari langit tapi tak melakukan apapun untuk mendapatkannya.”

“Eomma! Apa yang kau katakan. Sudahlah hentikan.”

Ha In mengenali suara lain diujung sambungan ini. Itu, Cho Kyuhyun. Dia sedang marah. Ya, marah pada dirinya dan ibunya kini.

“Bibi,” Ha In sedang mencoba untuk merangkai kata yang ingin ia sampaikan sebagai penyanggahan ataupun pernyataan. Tapi dengan cepat Nyonya Cho mendahuluinya.

“Sayang dengarkan aku dulu. Aku tak bisa lama-lama. Sekarang terserah padamu. Jangan berharap lebih pada putra ibu. Sekuat apapun kau memohonnya untuk bersikap manis akan suatu hal penting seperti siang tadi, dia tak akan melakukannya. Jangan pikirkan sikapnya, tapi lihat hati dan tatapan matanya.” Sambungan terputus. Menyisakan Ha In yang lemas. Ponselnya terjatuh begitu saja karena tangannya menjadi lumpuh, tak memiliki tenaga.

“Apa yang harus ku lakukan?” Lirih Ha In. Pandangan matanya kosong. Menyiratkan ia yang berada pada dimensi lain. Sebagian otaknya bekerja keras mengelurakan berbagai memori antara Kyuhyun dan Ha In yang telah mereka lewati bersama. Kebersamaan mereka, pertengkaran mereka, dan tawa kabahagian mereka. Semuanya berputar bagaikan rol film kuno.

Ha In bergerak cepat mengambil ponsel, kunci mobil, dan sweater-nya.

“Kau mau kemana sayang? Besok pemberangkatanmu.” Tanya Nyonya Song saat melihat putrinya berjalan tergesa-gesa melewatinya yang sedang duduk di ruang keluarga.

“Aku harus melakukan sesuatu karena sebuah benda bulat ini.” Ucap Ha In sambil mengangkat tangan kirinya. “Aku pergi ibu.”

*.*.*

Ha In tiba dikediaman keluarga Cho setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih dua puluh lima menit.

Mematikan mesin, mengambil ponsel, lalu beranjak keluar dan mengunci pintunya. Ha In mengetuk pintu dengan keras.

“Sebentar.” Ucap seseorang di dalam intercom. Iya bahkan melupakan kalau ada intercom di samping pintu. Emosinya sudah terlanjur naik, hingga ia melupakan beberapa hal. “Dimana dia?” Tanya Ha In begitu seorang pelayan membukakan pintu dan menghampirinya. Dia? Selama ini ia mengatakan oppa hanya dihadapan kedua orang tua mereka.

Bibi Jung mengernyit sebentar sebelum akhirnya ia menunjuk ke dalam dan mengatakan, “Tuan muda berada dikamar.”

“Bagus. Sekarang, bisakah aku masuk?”

“Ya Nona, silahkan.”

Ha In melenggang pergi ke dalam, tapi tak membuat pandangan Bibi Jung berhenti memperhatikannya sejak tadi ia berdiri dihadapannya. “Hah, sepertinya sebentar lagi akan ada kericuhan.” Bibi Jung berbalik dan menutup pintunya kembali.

“Buka pintunya.” Desis Ha In saat tiba di depan pintu Kyuhyun. Sudah dua kali ia mengetuk pintunya, tapi tak kunjung mendapatkan respon dari sang pemilik.

“Kyuhyun!” Tegas Ha In.

“Ada apa?” Kyuhyun berucap dingin saat melihat siapa yang ada dibalik pintu kamarnya.

Ha In masuk “Kita perjelas semuanya didalam kamar.”

Ha In berbalik menatap Kyuhyun yang telah menutup pintunya kembali. Kedua tangannya dilipat, dengan kedua bahu yang berusaha ia tegakkan. “Sekarang katakan maksud semua ini.”

“Tak perlu ada yang dijelaskan. Itu hanyalah sebuah cincin.” Jawab Kyuhyun dengan santai.

“Kau yakin?” mata Ha In terus bergerak kemanapun Kyuhyun pergi. “Bagaimana jika aku melepaskannya sekarang juga, lalu melemparkannya dihadapanmu.”

“’Jangan lakukan itu.” Kyuhyun mencekal lengan kanan Ha In yang sedang berusaha melepaskan cincin dijari manis lengan kirinya. “Jangan sekalipun melakukan itu.” Desisnya.

Ha In menghentakkan lengannya dengan kasar. Mendorong tubuh Kyuhyun untuk pergi menjauh. “Lalu apa maumu? Orang akan berpikir aku telah memiliki kekasih karena cincin ini, yang pada kenyataannya tidak sama sekali.” Ha In melepaskan cincinnya lalu menggenggamnya. “Apa ini sebuah lelucon lagi? Seperti yang kau lakukan padaku satu setengah tahun yang lalu. Apa seperti itu?” tak ada reaksi dari Kyuhyun. Ia hanya menatap terus pada tangan Ha In yang terkepal. “Jadi benar pernyataanku tadi?” Tangannya yang terkepal terangkat ke udara, lalu melemparkan cincin pemberian dari Kyuhyun, berbunyi dentingan kecil.

“Terserah kau mau membenciku sekarang ataupun nanti. Aku tak akan memperdulikannya. Aku pergi. Jangan menemuiku di rumah lagi.” Ha In beranjak pergi menggapai daun pintu saat suara bass nan serak menghentikan langkah kakinya.

“Mengapa aku tak boleh menemuimu lagi?”

“Karena aku tak akan berada di rumah lagi.”

“Apa karena aku? Kau menjauhiku?”

“Ya dan tidak. Tidak keseluruhannya. Ada sebuah lowongan pekerjaan disana dan aku ingin mengisinya. Aku telah lama menantikan semua ini. Aku ingin dunia baru dan sebuah perubahan baru yang terjadi pada diriku.”

“Aku mohon, . . . . aku, mencintaimu. Maafkan aku. Jangan pergi.” Pinta Kyuhyun yang terdengar seperti sayatan luka begitu Ha In mendengarnya.

Ha In menatap marah pada Kyuhyun. Jadi semudah ini cara seorang pria megatakannya? “Tidak. Sudah terlambat.” Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia menyesali tindakan bodohnya tadi siang. Tak sedikitpun menjelaskan tentang cincin itu.

“Kau bisa menungguku selama satu tahun. Hanya jika kau mau.” Ucap Ha In kembali.

Pernyataan itu membuat Kyuhyun mengangkat kembali wajahnya, memaksakan tersenyum dengan susah payah. “Ya, aku akan menunggumu. Jangan menerima siapapun selama satu tahun itu.”

“Kita lihat nanti.” Ha In merasa lega dengan dirinya sekarang. Semua beban yang ingin ia lampiaskan pada Kyuhyun, kini terbayar sudah. “Aku pergi. Selamat tinggal.”

“Sampai jumpa.” Balas Kyuhyun. Ha In pergi setelah mengatakan selamat tinggal padanya. Tak mendengarkan apa yang Kyuhyun katakan selanjutnya. “Kita tak akan berpisah, kita akan berjumpa kembali. Satu tahun kemudian.”

*.*.*

To Be Continued

Advertisements

4 comments

  1. Kyuhyun kan sunbaenya ha in udah lulus kah?? Aku pikir slama ini mereka cuman chatting doank gak ktmu eh trnyata udah jalan bareng dan ibunya kyuhyun udah kenal ha in kwkekeke, bagus ini critanya tp alurnya sedikit membingungkan mnurutku hahaha keep write yaa

    Like

  2. Ha in nya juga salah , udah tau kyu org nya dingin , haus nya dyah lebih peka atas sikap kyu hemmmp jadi gemes ama pasangan ini , ha in waktu 1 tahun itu terlalu lama:| kenapa ghak satu minggu ajah hhehehe langsung nikah deh wkwkwkkw:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s