Cranberry {Chapter 2END}

 

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – PG-17 – Complicated – Married Life – NC-21||

Length: Twoshot|| Author: Hyun*ie||

 

*.*.*

Ha In menatap ragu pada cincin yang kembali berada di jari manis lengan kirinya. Setelah ia berada selam lima bulan di Inggris, ada sebuah paket kiriman yang berasal dari Korea, yang berisi kotak perhiasan kecil berwarna biru dongker. Itu adalah cincin yang ia lemparkan pada saat dirinya mengunjungi kediaman Kyuhyun.

“Apa kau masih seperti itu? Tak berubah?” Ha In terus mengelus mata berlian yang berada tepat di tengahnya. “Apa aku egois jika masih mengharapkanmu?”

“Setidaknya aku harus memastikan janjimu satu tahun yang lalu sebelum aku menemuimu.” Ha In menarik tombol lock yang terdapat pada layarnya. Mencari sebuah nama yang bisa ia minta bantuannya. Cho Ha-neul. Sepupu dari Cho yang sangat bisa ia percayai.

“Hallo.”

“Oh eonnie. Kau sudah pulang?”

Ha In memberengut di kamarnya. Mengapa bisa sepupu dan tunangannya memiliki sifat yang sama-nh menyebalkan. Bukankah seharusnya ia menjawab sapaan yang diucapkan Ha In tadi. Bukan malah menjawabnya dengan sebuah pertanyaan.

“Tadi pagi.” Ia baru saja pulang tadi pagi, sekitar pukul dua dini hari. Penerbangannya mengalami delay selama lima jam. Jadi ia tiba dirumah dengan rasa kantuk dan pusing yang menderanya.

“Oh! Ada hadiah untukku?” Tanya Ha-neul to the point.

“Ya ada. Hanya jika kau mau memberitahukan apa saja yang dilakukannya selama satu tahun ini.”

“Dilakukannya?” ada jeda selama beberapa detik sebelum akhirnya Ha-neul berbicara kembali. “Ahh, makusd eonnie Kyuhyun oppa? Mengapa tak langsung saja bertanya padanya?” godanya.

Yang ditanggapi Ha In dengan cibiran tak bersuaranya. “Baik, bisnis selesai. Tak ada hadiah.” Ha In baru akan memutuskan sambungan teleponnya saat suara Ha-neul kembali terdengar.

“Jangan dimatikan dulu. Mengapa kalian sangat sensitive?”

“Kyuhyun oppa, dia sama sekali tak memiliki kekasih ataupun berhubungan lebih dengan seorang wanita, selain. . . ., urusan bisnisnyag Jika waktunya sedang tak PRODUKTIF, dia akan selalu menggunakannya untuk melihat album photo kalian. Dia juga berkali-kali kulihat sedang latihan di depan cermin hanya untuk menghapalkan TEKS lamaran untukmu. Mungkin dia tak ingin eonnie bertingkah gila lagi. Seperti, pergi.”

“Aku tak gila. Aku memiliki alasan yang sangat jelas untuk melakukan hal ini.”

Ha-neul kembali menantangnya. “Eonnie benar. Datanglah kemari. Bibi Cho dan paman juga merindukanmu. Eonnie dan bibi sama-sama lucu. Eonnie selalu bertanya padaku mengenai Kyuhyun oppa, sementara bibi Cho selalu menanyakan kabar eonnie dan apa saja yang eonnie lakukan disana. Mengapa kalian tak saling menyapa dan bertanya secara langsung saja? Tak melalui pelantara sepertiku.” Goda Ha-neul kembali.

“Karena aku memiliki banyak hadiah yang ku bawa dari sana. Aku ingin berbagi denganmu, tak tidak secara gratis tentunya.” Canda Ha In dengan nada suara yang ia buat menggoda.

“Tjk! Arra. Sekarang cepatlah kemari dan lihat sendiri apa yang telah eonnie lakukan pada oppa.”

“Yakk!” Ha In membentak tak terima dengan sikap kurang ajar Ha-neul lagi padanya. “Dia memutuskannya? Hah, dasar bocah tengik.”

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Ha-neul tadi, Ha In segera beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan kearah meja rias, lalu menggulung rambutnya asal. Kemudian bergegas ke kamar mandi. Hari ini ia akan menemui Kyuhyun lagi. Sore hari, tepat saat jam pulang kantor.

Ha In turun setelah mempersiapkan dirinya selama tiga puluh menit. Ia memakai kaos loreng orange-hitam, rok hitam bergelombang, dan scallop cardi yang berwarna peach, sepatu coklat dan tas tangan berwarna cream.

“Kau mau pergi kemana sayang? Bukankah kau perlu istirahat? Kau baru saja pulang tadi pagi.” Ucap Nyonya Song yang melihat putrinya tengah rapih kembali.

“Pergi lagi untuk ini.” jawab Ha In mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sebuah cincin. Hal itu membuat Nyonya Song tersenyum. “Jadi karena dia lagi?” candanya.

“Ya, karena dia lagi.” Ha In mengecup pipi kanan ibunya. “Aku pergi ibu. Sampai nanti.” Lambainya. Ha In berjalan ke ruang tamu dan mengambil beberapa kantung kertas untuk hadiah pada keluarga Kyuhyun.

“Ya ampun sayang, kau . . . . panggil bibi Nam untuk membantumu.” Tegur Nyonya Song saat melihat Ha In kewalahan dengan barang bawaannya.

“Tidak ibu. Aku masih bisa melakukannya. Annyeong.”

*.*.*

Ha In tiba dikediaman keluarga Cho setelah empat puluh lima menit berada di dalam mobil. Terjebak kemacetan.

Dengan wajah berseri-seri Ha In menekan tombol intercom.

“Siapa?”

“Song. Ha. In. imnida.” Jawabnya penuh dengan penekanan dan kebanggaan. Tentu saja bangga. Karena sebentar lagi iya akan bertemu dengan calon mertuanya dan tunangannya.

“Ah Nona Song? Anda sudah pulang? Kapan?” Tanya bibi Nam di intercom.

“Nde bibi. Tadi pagi. Aku membawakan hadiah untukmu.” Ha In mengangkat tinggi semua kantung yang ada ditangannya.

“Aku akan bukakan pintu untukmu. Sebentar.”

Tombol intercom telah dimatikan. Dan selang beberapa saat itu juga bibi Nam berlari menghampirinya yang masih setia berdiri dipintu gerbang.

“Ayo masuk.”

“Bagaimana dengan mobilku?” Tanya Ha In. ia paling tak menyukai jika mobilnya terabaikan begitu saja. Makusdnya, tak membawanya turut serta masuk di kediaman Cho. Setidaknya masukkan ia dipekarang depan milik mereka jika tak bisa ikut masuk ke dalam garasi.

“Kalau begitu masukkan saja. Bibi akan membukakan gerbangnya untukmu.” Ha In segera mencekal lenganya begitu bibi Nam akan berbalik.

“Tidak perlu. Bibi tolong bawakan ini saja. Dan aku akan membukakan sendiri gerbangnya.” Ha In menyerahkan beberapa bingkisan ke tangan bibi Nam. “Nah, mohon bantuannya.” Canda Ha In yang diikuti dengan membungkuk.

“Nona bisa saja. Kalau begitu bibi masuk terlebih dahulu.”

“Nde.”

*.*.*

“Aigoo, bibi Cho. Annyeong?” sapa Ha In. ia langsung memberikan pelukan dari belakang saat melihat Nyonya Cho sibuk memasak untuk makan malam mereka.

“Diamlah Haneul-ah. Kau selalu menipu bibi dengan panggilan itu.” Ucap Nyonya Cho tanpa menoleh ke belakangnya.

Ha In tersenyum saat mendengar hal tersebut. Jadi sepupu Cho Kyuhyun itu selalu berbuat ulah selama dia tak ada. “Ini aku, Song. Ha. In.”

“Apa?” Nyonya Cho langsung menoleh padanya dan melepaskan sayuran yang sedang ia cuci. Memeluk Ha In seketika itu juga dengan tangan basahnya.

“Aigoo bibi, kau membuat bajuku berair.”

“Anak nakal.” Nyonya Cho memukul punggungnya pelan. Ia melupakan rasa rindunya hari ini pada Ha In setelah kurang lebih selama satu tahun tak bertemu. “Mengapa tak memberitahukan bibi jika akan pulang sekarang? Bibi bisa menjemputmu.”

Ha In menepuk-nepuk pundaknya pelan. Menenangkan emosinya yang saat ini tengah menangis bahagia di dalam pelukannya. “Bahkan ibuku saja tidak tahu aku akan pulang tadi pagi.”

“Tadi pagi?” Nyonya Cho melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Ha In. “Pukul berapa tepatnya?”

“Dua dini hari. Penerbangannya mengalami delay. Jadi,” Ha In mengangkat sebelah bahunya kecewa. “Ya begitulah.”

“Oh sayang.” Nyonya Cho kembali memeluknya dengan erat. Lebih erat dari pelukan yang tadi. “Mungkin bibi akan menyuruh paman Young untuk menjemputmu.”

“Tidak perlu.” Ha In mencoba melepaskan pelukannya dengan bertanya. “Apa yang sedang bibi masak?”

“Ah, kami akan makan malam. Kau harus makan disini paham?”

“Kita lihat saja nanti.” Ucap Ha In dengan memiringkan sedikit kepalanya disertai mengangkatnya kedua bahu gadis itu. “Ayo ku bantu.”

“Ya, kau harus membantu ibu mertuamu.” Goda Nyonya Cho. Ia kembali sibuk dengan wortel dan kentang yang telah dibilasnya tadi. Memotongnya menjadi potongan kecil.

“Hanya jika putra bibi melamarku. Kalau tidak, aku akan bersama dengan Yoon.”

“Yoon? Kau memiliki kekasih lain?”

“Seperti itulah.” Ha In tertawa geli saat melihat ekspresi wanita paruh baya disampingnya. Jika saja ia tahu bahwa Yoon adalah seekor anjing Jindo, mungkin kedua mata sendu itu tak akan membulat begitu sempurna. “Memiliki alternative lain tak terlalu buruk bukan?”

“Bibi akan segera menyuruhnya untuk melamarmu.” Nyonya Cho mengambil potongan terakhir dengan meletakkannya secara keras diatas talenan. Kemudian memotongnya dengan bertenaga hingga menimbulkan suara yang keras.

“Wow, hati-hati bibi. Kau akan melukai dirimu sendiri.” Nyonya Cho tetap tak menghiraukannya. “Yoon, dia seekor anjing.” Ucap Ha In kembali. Kini ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Nyonya Cho yang kembali membulatkan mata dengan tatapan terkejut dan tak percaya.

“Apa? Dia hanya seekor anjing?”

“Ya, seekor anjing. Bibi, kau sangat lucu.”

Ha In segera berlari menjauh saat tangan Nyonya Cho terangkat diudara. “Anak nakal. Kemari kau.”

“Apa yang kalian lakukan? Yeobo, Ha-neul, hentikan!” Tuan Cho segera meralat ucapannya saat Ha In tersenyum dan membungkuk padanya. “Oh, kau! Kapan datang?”

Lihatlah pasang paruh baya ini. Mereka sangat gembira dapat melihat kembali tunangan putranya berada di kediaman mereka saat ini.

“Paman Cho, annyeong.”

“Aigoo!” Tuan Cho merentangkan kedua tangannya dan berjalan mendekati Ha In. “Uri ttal waseo?” ucapnya sedikit kencang. Ia terlampau bahagia saat ini. Mereka berdua tertawa riang, dan baru berhenti saat sebuah suara tertangkap di gendang telinganya.

“Ibu! Ayah! Kenapa berisik sekali? Aku sedang bekerja.”

Ha In terdiam sejenak saat mendengar suara bass dari arah jam dua, yang merupakan ruang kerja Kyuhyun dan Tuan Cho. “Ow, dia marah.”

“Itu karena dirimu.” tegur Tuan Cho dengan sedikit bercanda.

“Ayo kita cepat selesaikan makanannya.”

“Baik. Paman juga harus membantu kali ini.” bujuk Ha In.

“Tentu Nona. Paman akan membantu kalian kali ini.” Tuan Cho menggulung lengan kemejanya, bersiap menjadi seorang koki untuk malam ini. “Jadi apa yang harus ku lakukan?”

Ha In tersenyum melihatnya, andai saja Kyuhyun seperti ayahnya yang bisa bersikap sangat manis, tentu itu merupakan suatu moment yang selalu ia nantikan hingga saat ini. “Tolong masukan pasta ini, dan beberapa bumbu yang ada disana, tunggu sampai airnya mendidih dan sayurannya matang.”

“Baik Nona.”

“Ceritakan penerbanganmu tadi pagi.” Pinta Nyonya Cho yang tengah mengaduk sup tofu pedas.

“Aku tiba jam dua pagi. Dan menunggu selama lima belas menit sambungan dari ibu. Tapi ibu tak menjawabnya. Jadi terpaksa aku berjalan kaki sejauh satu kilometer dari bandara.” Ha In teringat kembali akan kepulangannya tadi pagi yang begitu melelahkan dan menguras emosi. “Ku pikir aku akan mati beku karena suhu di Seoul. Aku juga kerepotan karena barang bawaanku. Tapi untungnya aku segera menemukan seorang paman pengankut barang yang berbaik hati menawarkan tumpangnya padaku.”

“Memangnya ada jasa pengangkatan barang yang bekerja sepagi itu?” Tanya Cho Yeong-hwa yang begitu penasaran.

“Beliau mengatakan itu kepindahan saudaranya. Dia baru bisa membantunya pada malam hari. Karena siang harinya ia bekerja.” jawab Ha In.

“Yeobo, angkat kemari kari-nya. Makan malam akan siap sebentar lagi.”

Ha In mengambil alih mangkuk yang berada di tangan Nyonya Cho. “Biarkan aku yang menatanya.”

“Kau akan makan disini bukan?” Tanya Nyonya Cho yang membawa sepiring kimchi putih ditangannya.

“Tidak bibi. Lain kali emm? Sudah larut. Dan ibu tak akan suka jika aku pulang lebih dari jam sembilan.”

Nyonya Cho tersenyum menatap Ha In dari samping yang kini sedang merapihkan letak alat makan. “Kau tak berubah? Bibi pikir kehidupan di Inggris selama setahun telah merubahmu.”

Ha In berbalik padanya denga wajah masam. Ia marah. “Tentu tidak bibi. Asal bibi tahu saja, ibu selalu menelponku ke telpon apartement setiap hari saat jam Sembilan tepat waktu Inggris.”

“Dan jika kau telat?” Goda Tuan Cho.

Ha In berputar dan menatapnya. “Jika aku telat, maka aku akan terkena omelannya selama satu jam penuh.” Jawabnya sedih. Pasangan itu tahu betul dengan gadis dihadapannya ini. Ha In merupakan gadis yang tak tahan berbicara lama di telepon. Dia selalu mengatakan bahwa telinganya menjadi panas dan berdengung jika menerima telepon terlalu lama.

“Makan malamnya telah siap. Aku akan pergi sekarang.” Ha In berjalan mengambil Coat-nya.

gambar-4

“Sampai jumpa lagi.” ucap Ha In. ia berpamitan pada orang tua Cho Kyuhyun setelah terlebih dahulu mengecup pipi mereka berdua.

“Hati-hati dijalan.” Pesan Nyonya Cho yang mengantarkan sampai di depan pintu.

“Ya.”

“Kau tidak akan bertemu putraku?” Tanya Tuan Cho yang juga mengantarkan kepergiannya. Tak urung hal itu membuat Ha In tersenyum. Nada suara yang Tuan Cho keluarkan terdengar sangat sedih dan terpukul.

“Tidak paman. Tadi saja dia marah padaku. Aku akan mengunjunginya di saat yang tepat. Dan ini bukan waktunya.” Ha In menekan kuncinya. “Aku pergi. Terima kasih karena tetap menerimaku.” Ia melakukan busur 90° lagi pada mereka.

“Nde.” Balas keduanya yang diiringi oleh suara tawa. “Berhati-hatilah.”

Mobil putih Ha In meluncur pergi meninggalkan pasangan paruh baya itu yang kembali tersenyum dengan terus saling merangkul satu sama lain.

“Siapa yang datang? Mengapa begitu ramai sejak tadi?” Tanya Kyuhyun yang datang dari arah belakang mereka.

“Kau,” keduanya berbalik menatap geram putranya.

“Apa yang salah?” Tanya Kyuhyun saat mendapatkan tatapan mematikan dari orang tuanya.

“Mengapa otakmu ini begitu bodoh?” cerca Tuan Cho yang pergi meninggalkannya. Masuk kembali ke dalam.

“Apa kau tak bisa mengenali suara tuanganmu sendiri hmm?” kali ini Nyonya Cho yang memarahinya. Meninggalkan ia yang tetap berdiri diambang pintu.

“Maksud ayah dan ibu, itu Ha In? Mengapa tak memberitahuku sejak tadi.” Kyuhyun ikut masuk kembali ke dalam dan berbalik bertanya pada orang tuanya.

“Kau sendiri yang secara tak langsung mengusirnya dari sini.” Jawab Tuan Cho yang disetujui oleh istrinya dengan anggukan kepala.

“Kapan?” Kyuhyun ikut duduk dimeja makan saat Nyonya Cho mengisi nasi di piringnya.

“Saat kau berkata ‘Ibu! Ayah! Kenapa berisik sekali? Aku sedang bekerja.’.” Ucap Nyonya Cho yang menirukan dirinya berteriak saat itu. “Dan tepat pada saat itulah dia mengurungkan niatnya untuk menemuimu.” Nyonya Cho melirik putranya yang tak mengeluarkan suara sama sekali. “Wae? Kau menyesalinya?” tanyanya pelan.

Nyonya Cho mengambil lengan putranya. Mengelusnya dengan pelan. “Kau bisa menemuinya besok. Dia membutuhkan banyak istirahat sekarang.”

“Nde.” Jawab Kyuhyun dengan sedih. Ia menyesali sikapnya tadi. Jika saja dia bisa menekan sedikit emosinya, mungkin Ha In akan bersamanya saat ini.

*.*.*

“Hallo.”

Kyuhyun datang dipagi hari dengan satu kantung kertas besar yang berisi bahan masakan didalamnya. Ia datang dengan membuat Nona rumah dipaksa bangun karena suara deringan intercom yang tak kunjung berhenti menggema sampai ke kamarnya.

“Apa yang . . .”

“Kita masak bersama. Lebih tepatnya, buatkan aku sarapan.” Ha In segera menepi saat Kyuhyun yang begitu saja masuk ke dalam rumahnya.

“Dimana paman dan bibi?” Tanya Kyuhyun saat melihat keadaan rumah sepi, seperti tak berpenghuni.

Ha In mengikutinya dari belakang dengan tangan kanannya yang sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Pergi menjenguk halmeoni.” Jawab Ha In. Ia menarik kursi di pantry, menyilangkan kedua tangannya diatas pantry, lalu tertidur kembali.

“Nenekmu sakit?”

“Tidak. Memangnya hanya orang sakit yang boleh dijenguk?” Tanya Ha In balik dengan matanya yang tetap tertutup rapat. “Ibu dan ayah sedang menjemput orang tua Yoon {anjing ras Jindo} untuk dibawa kemari.” Ha In memperjelas tujuan orang tuanya pergi.

“Ah.” Kyuhyun meletakkan bahan makanannya begitu saja diatas meja makan. Memutari meja bundar tersebut, lalu menyamakan posisi wajahnya dengan Ha In. “Sepertinya kau perlu alarm untuk bangun.”

Kyuhyun segera melumat bibirnya tanpa sedikitpun membiarkan Ha In bangun terlebih dahulu.

Ha In terbangun saat itu juga. Matanya berkelip-kelip beberapa kali, dan pada saat ia membuka mulutnya untuk bertanya, hal itu malah digunakan Kyuhyun untuk memasukan lidahnya. Mengubah ciuman lembut nan manis menjadi penuh gairah.

Ha In menggeram beberapa kali dan mulai hanyut akan perlakuan Kyuhyun. Bahkan ia tak sadar saat dirinya ditarik Kyuhyun untuk menggantung ditubuhnya, lalu membawanya duduk di single sofa yang berada di sudut dapur yang menghubungkannya dengan beranda.

“Hah,” hela nafas Ha In terdengar lega saat Kyuhyun menghentikannya ciumannya dan menggantikannya dengan kecupan ringan pada bibirnya yang telah berubah warna.

“Menikahlah denganku.” Ucap Kyuhyun penuh dengan permohonan dari dua kata yang diucapkannya.

Ha In tersenyum ditengah ketidaksadarannya yang masih mencapai 93%. “Ya.” Jawabnya dengan sebuah bisikan pelan dan lembut.

“Benarkah?” Tanya Kyuhyun memastikan pendengarannya.

Ha In mengganguk yakin. Ia membuka matanya. Menatap langsung pada Kyuhyun yang menantinya dengan sebuah keyakinan. Bahwa ia tidak bercanda.

“Ya sayang. Aku mau menjadi istrimu.” Ha In merekatkan pelukannya pada Kyuhyun. Memejamkan matanya kembali, melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh Kyuhyun.

“Hei. Kau tak boleh tidur kembali. Aku ingin melihatmu dengan mata terbuka. Dan aku lapar sekarang.”

“Arra.” Ha In melompat dari pelukan Kyuhyun. Berjalan menuju meja makan, mengeluarkan semua bahan masakan yang dibawa Kyuhyun.

Kyuhyun mengikutinya dari belakang.

*.*.*

Kyuhyun dan Ha In telah resmi sekarang menjadi sepasang suami istri. Pasca lamaran singkat, padat, dan jelas yang Kyuhyun lakukan padanya dipagi hari itu, mereka memutuskan untuk segera menikah. Tiga minggu setelah lamaran itu terjadi. Lebih tepatnya, Kyuhyun yang memaksa ingin segera menikahi Ha In. dia cukup sadar diri akan posisinya yang tak bisa menjadi pria manis yang penuh kata-kata sanjungan. Jadi sebisa mungkin ia ingin Ha In menjadi miliknya.

Dan sekarang, mereka telah sampai di sebuah villa yang terletak jauh dari Seoul. Berada di sebuah kaki bukit yang sangat hijau. Tapi sayangnya, mereka tiba saat malam hari jadi tak melihat pemandangan tersebut.

“Istirahatlah terlebih dahulu. Ada beberapa pekerjaan yang menungguku.” Ucap Kyuhyun. Ha In hanya menggangguk mengerti. Tubuhnya sudah mengingkan ia untuk berbaring saat ini juga. Sangat lelah dan letih.

Ha In memutuskan untuk mandi secepat yang ia bisa saat tiba di kamar, lalu berganti pakaian menjadi sebuah lingerie dan memakai kemeja putih Kyuhyun, yang kebesaran ditubuhnya. Lalu beranjak naik ke tempat tidur. Dengan posisi setengah melingkar seperti kucing.

Kyuhyun masuk ke dalam kamar setelah menerima lima panggilan masuk. dua diantara dari sahabat lamanya yang meminta maaf karena tak bisa hadir di acara pernikahannya. Sementara sisanya, panggilan itu berasal dari kantor bagian direktur yang menginformasikan hasil rapatnya kemarin.

“Kau sudah tidur?” Tanya Kyuhyun saat melihat Ha In yang telah nyaman, berbaring diatas kasurnya.

“Aku akan mandi dulu. Setelah itu menyusulumu.” Kyuhyun kembali berucap saat melihat Ha In tersenyum dalam tidurnya. Mungkin ia mengira jika wanita tersebut sedang berpura-pura tidur untuk menghindari dirinya.

Ketika Kyuhyun selesai mandi dan menyusul Ha In ke tempat tidur, kalimat yang ia lontarkan adalah, “Aku menginginkanmu.” Dan pada saat itu juga Kyuhyun mencium tengkuk Ha In. Beralih ke leher, pipi, lalu melumat telinganya.

“Yoon-ah, diamlah. Aku mengantuk. Besok saja mainnya.” Pinta Ha In sambil memukul-mukul kepala Kyuhyun yang tak berhenti melakukan aktivitas gila itu.

“Yoon?” Tatap Kyuhyun tak percaya padanya. “Ku pikir kau masih terjaga dan menungguku.” Lanjutnya kembali dengan suara lesu. Sepertinya ia harus bisa menahannya sampai Ha In terbangun nanti.

“Ayo kita tidur saja.” Kyuhyun menarik tubuh Ha In lebih rapat ke arahnya. Lalu berusaha tidur sebisa mungkin.

*.*.*

Ha In terbangun ditengah tidurnya. Orang yang tidur disebelahnya tak berhenti bergerak. Membuat dirinya tak bisa melanjutkan tidurnya kembali.

“Jam berapa sekarang?” Ha In menghidupkan lampu tidur disebelahnya, melihat jam beker yang tak jauh dari lampu tidur berdiri. “Jam dua-lima belas? {02.15}”

Ha In berbalik menatap Kyuhyun yang gelisah. “Oppa ada apa? Mengapa tak tidur?”

“Kau terbangun?” Kyuhyun menengok ke arahnya dengan perasaan tak enak. Bagaimana hanya karena ingin menuntaskan keinginannya ia bisa bersikap egois hingga membangunkan Ha In?

“Tidurlah kembali. Jangan hiraukan aku.”

Ha In tak mengikuti perkataan Kyuhyun. Dia lebih memilih untuk duduk, bersandar pada dashboard untuk beberapa saat sampai semua kesadarannya mencapai 100%.

“Wae? Katakan saja.”

Kyuhyun melirik cemas kearahnya. Haruskah ia mengatakannya? “Aku. . ., ah tidak. Tidurlah cepat. Kau kelelahan karena acara kita.”

Kyuhyun hendak menarik tubuhnya kembali untuk berbaring. Tapi secepat kilat Ha In melepaskannya. Menatap Kyuhyun dengan rasa penasaran yang tinggi. “Tidak. Sebelum oppa alasannya padaku. Ada apa?”

“Ayo katakana.” Bujuk Ha In.

“Oppa!” bentak Ha In pada akhirnya. Ia kesal karena Kyuhyun tak mengatakan apapun setelah berhasil membuatnya terjaga.

“Aku, aku ingin. . . .”

“Ingin?” perjelas Ha In. ia gemas akan sikap Kyuhyun. Tak bisakah suaminya ini mengatakan secara cepat keinginannya? Seperti saat Kyuhyun memintanya untuk menikahi pria itu.

Ha In menatap Kyuhyun lama. Beberapa saat kemudian ia mendesah berat karena Kyuhyun tak mau bicara lagi. Ha In hendak berbaring kembali saat tatapan matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang menggembung dibalik selimut.

“Kau menginginkanku?” bisik Ha In. ia terlampau terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dan ia juga melupakan kewajiban dirinya sebagai seorang istri.

“Ya.”

Ha In berhasil menguasai dirinya pada detik ke sembilan. Raut wajah terkejutnya berhasil ia ubah menjadi seringai jahat.

Ha In menyingkirkan selimut yang menutupi dirinya dan Kyuhyun, menggulungnya, lalu melemparkannya begitu saja dilantai.

“Nah oppa, jika kau menginginkanku, maka lakukanlah.” Tantang Ha In. Tangannya sudah menyilang di atas perutnya. “Apa yang akan kau lakukan?” lanjutnya kembali.

Kyuhyun bangkit saat itu juga. Menatap Ha In yang berada di sampingnya. “Aku yakin akan melakukan sesuatu padamu. Dan aku pastikan, ini akan menjadi sangat lama.” Bisiknya menggoda di telinga Ha In.

“Kalau begitu, segera lakukan.” Ha In membalas perlakuan Kyuhyun dengan mengigit telinganya.

Ha In ditarik menjadi tertidur kembali di atas tempat tidur.

Ha In berteriak kencang karena perlakuan Kyuhyun yang secara tiba-tiba padanya. Dan teriakan Ha In tersebut menandakan awal dari kegiatan mereka yang tengah saling berkomunikasi dengan cara yang lain. Melalui bahasa tubuh.

*.*.*

Ha In baru saja terlelap sepuluh menit yang lalu. Tapi kemudian dia bangkit dengan kesusahan dan mulai meracau. “Butiknya!”

Kyuhyun tengah berada dikamar mandi, saat Ha In meracau. Secepat mungkin ia kembali disamping Ha In, menenangkannya. “Tenang sayang.”

“Butiknya. Bagaimana dengan butiknya?” Tanya Ha In dengan mata setengah terpejam.

Kyuhyun mendekapnya erat. Berkali-kali ia membelai rambut Ha In dan mengecup pelipisnya. “Tenang.” Ucapnya berkali-kali. “Buktimu aman. Sun-ae dan Moon-hwa yang menjaganya. Tidurlah lagi, jangan panik. Kau kelelahan.” Bisik Kyuhyun.

Ha In menurut dan kembali tertidur memeluk tubuhnya.

“Kau sangat cantik sayang.” Sekali lagi Kyuhyun mengecupnya. Tepat pada bibir ranumnya yang membengkak.

“Butik.”

Kyuhyun tersenyum geli saat menyadari kegigihan istrinya ini. “Oh biarkan saja sayang. Sekarang kita tidur kembali.”

Ha In tertidur tengkurap dengan wajah menghadap ke samping, tempat tidur Kyuhyun. Ia terlalu lelah dan mengantuk untuk memperbaiki posisi tidurnya.

Jam menunjukkan pukul 05.05 KST, masih cukup gelap untuk terbangun dipagi hari. Kyuhyun bergerak-gerak ditidurnya, dan tak lama kemudian kedua matanya terbuka lebar. Ia menoleh ke samping dan mendapati dirinya tak sendiri lagi. Ia sudah menikah sekarang.

Ia tersenyum sebentar, kemudian tangannya terangkat membelai wajah istrinya. “Manis.”

“Dan kau hanya milikku.” Dengan gemas Kyuhyun mencubit pipinya kencang hingga Ha In mengaduh kesakitan tapi tetap matanya tertutup rapat. “Ya ampun, maaf sayang.”

Kyuhyun terlebih dahulu pergi menyalakan mesin mobilnya. Sementara Ha In masih tertinggal jauh. Ya, dia masih bergerak perlahan menyusuri villa keluarga Kyuhyun dengan langkah tertatih-tatih dan meringgis kesakitan saat merasakan setiap gerakan yang ditimbulkannya. Jalannya nyaris sama seperti induk bebek. Wek, wek.

Kyuhyun menoleh ke belakang untuk berteriak, tapi niat itu urung dilakukan saat orang yang akan diteriakinya sudah terlihat.

Kyuhyun mengernyit tak mengerti. Ia terus memperhatikan bagaimana jalan istrinya. “Cepatlah sayang.” Godanya pada Ha In yang kini malah berhenti di tangga menatap Kyuhyun dengan wajah masam.

“Aku sudah cepat. Jadi diamlah.” Ucapnya sambil kembali berjalan.

Kyuhyun menangkap pinggulnya saat Ha In telah berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengannya. “Baik. Maaf.” Kyuhyun menyingkirkan beberapa lembar helaian rambut Ha In yang menutupi wajahnya, kemudian mengendus, mengecup, melumat, dan menghisap bagian pundak dan leher Ha In. Coba saja jika mereka berada dikamar, mungkin Ha In akan kembali memberikan respon yang lebih sebagai apresiasinya akan tindakan yang Kyuhyun lakukan disalah satu anggota tubuhnya.

“Ayo pergi.” Ucapnya masam karena Ha In tak memberikan respon apapun sejak ia mengendus bagian area tersebut. “Ibu tak akan suka jika kita melewatkan acara makan siangnya dengan terlambat.”

*.*.*

“Bagaimana, apa dia romantis padamu sayang.”

“Emm,” Ha In mengaduk makanannya dengan gelisah. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Mengenai sifat putra dari ibu mertuanya yang ia nikahi ini.

“Katakanlah,” Ha In menoleh kepada Kyuhyun. Dia tak mengira jika satu kata tersebut akan keluar dari mulut dinginnya seorang Cho Kyuhyun. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum lalu membenarkan letak duduknya menjadi tegak dan percaya diri.

“Ibu, jujur saja. Pada awalnya ku pikir aku telah menikahi seorang robot.” Nyonya Cho terdiam sejenak. Apa sifat putranya bertambah buruk dan tak mengalami kemajuan yang berarti? “Dia begitu kaku dan formal. Melihatku seperti melihat padamu ibu. Aku pikir karena ia baru pertama kali bisa sedekat ini dengan seorang wanita, jadi aku memakluminya. Saat sikapnya tak kunjung berubah juga, ku pikir ini bukanlah kecanggunggan, melainkan dia sebagai dirinya yang sebenarnya. Aku hendak menegurnya untuk tak bersikap demikian. Tapi otakku segera bekerja dengan cepat, dia berkata dan memberikan perintah padaku untuk tetap diam menerima semuanya. Karena kita tak akan suka diperintah oleh orang lain, maka kita tak berhak untuk melakukan hal yang sama pada orang lain.” Ha In menoleh pada Kyuhyun sejenak sebelum pandangannya kembali tertuju pada Nyonya Cho. “Kau bukan orang lain bagiku Tuan Cho, tapi aku tetap akan memberlakukan hal itu padamu.” Nyonya Cho terpaku mendengar penuturan dari menantunya. Mungkin wanita lain akan mundur, mengeluh dan mengomel lalyu angkat tangan pada sikap dingin seorang Cho Kyuhyun. Tapi tidak dengan menantunya, Song Ha In.

“Aku tak keberatan dengan sikap dingin dan tak perdulinya. Karena jika aku terus mengeluhkan hal itu, maka kita tidak akan bisa sampai pada tahap ini. aku juga belajar begitu banyak hal darinya bu, memaknai arti kesabaran yang sesungguhnya, kepercayaan yang harus ku tunjukkan pada dirinya, dan sikap tenang hingga dapat membuatnya nyaman berada didekatku sedekat mungkin. Itulah yang sedang coba aku lakukan sekarang.” Nyonya Cho berkaca-kaca menatap putranya, lalu pada Ha In. mereka bahagia. Putra semata wayangnya dan menantunya dapat bahagia dengan cara mereka sendiri.

“Kau membuat ibu menangis.” Keluh Cho Kyuhyun pada Ha In dengan tetap memakan makanannya dan melihat pada arah lain.

Ha In tersenyum, beberapa saat kemudian pandangannya tertuju pada sang ibu mertua. “Tidak apa, aku dapat memastikan itu air mata bahagia. Apakah benar kataku ibu?”

“Ya sayang, itu benar.” Menggunakan ujung baju lengannya, Nyonya Cho segera menghapus jejak air mata yang menghalangi matanya untuk melihat suatu kebahagian siang ini. “Jangan terlalu khawatir Kyuhyun-ah. Ibu hanya terlalu bahagia. Dapat melihat kau diterima oleh seorang gadis yang tak kusangka berhati malaikat dan menyaksikannya sendiri dengan kedua mata tua ini, ini merupakan suatu moment yang tak ingin ku lupakan. Percayalah.”

Ha In menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat. Kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Kyuhyun untuk memastikan bahwa semua yang ibunya katakan itu benar. “Karena engkau yang duduk disampingku saat ini, yang sedang ku genggam jemarinya, dan yang kini telah menjadi suamiku, engkau pantas dicintai lebih daripada apapun. Tuhan memberikan suatu pandangan yang berbeda padaku saat mengenalmu. Dia mentakdirkan kita untuk bersatu pada jalan ceritanya. Kau yang selalu menjadi cela bagiku sebelumnya, kini menjadi tanpa cela sedikitpun, karena terbukanya pikiranku mengenai dirimu. Kau yang selalu menerimaku dan ku harap kau akan selalu demikian padaku. Karena aku telah memutuskan untuk siap menjadi sebagian dari dirimu selamanya.” Ha In menyelesaikan pernyataannya dengan tenang dan penuh perasaan. Menatap cinta pada seorang Cho Kyuhyun.

Kyuhyun melepaskan tangannya yang digenggam Ha In. melihat langsung pada sepasang mata coklat terang yang tetap setia melihat padanya.

Ha In tersenyum sejenak pada Kyuhyun, kemudia mencondongkan wajahnya untuk mengecup pipi kanan suaminya. “Kau nyaris tanpa cela dimataku sekarang. Percayalah.” Ha In menarik dirinya kembali. Suaminya, Cho Kyuhyun. Ia adalah tipikal pria dingin. Karena itu Ha In selalu mengupayakan dirinya menunjukkan apa yang ia katakan secara jelas tanpa berbelit-belit memakai kata perumpamaan atau kata yang dapat mengindikasikan dirinya meminta sesuatu pada Kyuhyun. Tidak, pria seerti suaminya tak akan mengerti hal itu. Dia akan semakin kebingungguan.

Lima detik berikutnya Kyuhyun tersenyum manis membalas Ha In. “Aku percaya sayang.”

Nyonya Cho menghapus kembali air matanya. Sepertinya makan siang kali ini tak bisa ia selesaikan dengan baik. Perutnya serasa sudah terisi banyak makanan begitu mendengar berbagai penuturan dari menantunya. “Sekarang,” Nyonya Cho kembali merapihkan sendok, garfu, dan piringnya untuk menjauh, karena ia merasa sudah kenyang sekarang. “Katakan pada ibu impian kecilmu bersama seorang pria. Ibu yakin kau mempikan hal lain untuk kau wujudkan.” Ucapnya dengan lembut.

“Oh ibu, kau begitu perhatian padaku. Dan ya, aku memlikinya. Itu dulu, sebelum aku memahaminya.” Ha In mentap kembali pada Kyuhyun. Mereka seolah tengah berbicara melalu tatapan mata bahwa kita akan menjadi kita dengan apa yang kita sukai.

“Aku menyukai pria yang bisa berlaku manis padaku dan memanjakanku. Tapi saat mengenalnya, semuanya berubah. Bukan pria manis dan memanjakanku lagi yang ku inginkan. Tapi seorang pria yang dalam diamnya, dia tetap memahami aku dan memperhatikanku.”

“Ya Tuhan, kalian membuatku iri.” Nyonya Cho memandang Kyuhyun yang terus memandang Ha In dengan tatapan bertanya-tanya. “Cho, ku pikir Ha In benar. Dia adalah sebagian dirimu dalam bentuk lain. dia begitu memahamimu dan mencelamu tanpa ragu. Sebuah keterbukaan antar pasangan sangat penting. Kalian akan bahagia. Sekalipun ada suatu hal yang membuat kalian retak, ibu yakin kalian dapat saling menempatkan diri dan melakukan sebuah tindakan bijak untuk menyelesaikannya. Aku menjadi sangat tenang sekarang. Ini sama seperti aku mempercayakanmu pada seorang guru wanita saat kau masih kecil.”

Kyuhyun menoleh seketika dan langsung tak menyukai pernyataan terakhir dari ibunya. “Ibu, aku tak ingin dipandang seperti itu dimatamu. Dan aku tak ingin pula kau mempermalukanku di mata istriku yang sejak tadi memujiku dengan sepenuh hatinya. Jangan meretakkan kepercayaannya bu.”

“Tentu tidak. Aku yakin dia akan semakin belajar padamu.” Ucap Nyonya Cho kembali memandang sang menantu yang kini tersenyum puas menatap kembali padanya.

*.*.*

The End

Note: {Flashback}

15 Mei 2013, satu bulan sebelum pertemuan di Sungai Han

“Temani aku makan.” Tarik Kyuhyun pada lengan Ha In saat mereka baru saja keluar gedung aula, tempat dimana Ha In baru saja dinyatakan resmi telah lulus dari Kyunghee University.

Ha In hanya terus mengikutinya dari samping. Hanya pasrah mengikuti tangannya yang terus digenggam Kyuhyun. “Kemana?” tanya Ha In saat mereka berada di dalam mobil dan tengah memasang seat-belt.

“Merayakan hari kelulusanmu. Aku yang membayarnya. Kau pilihlah apapun yang kau sukai.”

Mereka sampai ditujuan setelah lima belas menit yang mencekam di dalam mobil. bagaimana tidak, mereka saling diam dan tak mengeluarkan suara selama di perjalanan. Seperti dua orang asing yang baru saja bertemu.

“Ayo masuk.” Kyuhyun menjulurkan tangannya untuk Ha In raih, yang dibalas tatapan mengernyit dari Ha In. Ini pertama kalinya seorang Cho Kyuhyun menyambut dirinya dengan uluran tangan dan membukakan pintu untuknya.

Begitu tangan Ha In ada pada genggamannya, Kyuhyun mengangkatnya ke udara. Meneliti sebentar. “Jari-jariku lebih besar darimu.”

Ha In yang bingung menatap langsung pada apa yang dimaksud Kyuhyun. “Oh, tentu saja. Jariku setengahnya dari jarimu Tuan. Bahkan ibu jariku saja, emm, hanya satu ukuran dengan kelingkingmu. Sangat lucu.” Tunjuk Ha In pada kedua jemari mereka.

“Tapi tunggu, itu hanya jari kanannya. Kita belum tahu dengan yang kiri.” Kyuhyun mengangkat lengan kirinya dan membandingkannya kembali dengan jari jemari Ha In. “Lihat, jari manismu sama dengan jari kelingkingku.” Ha In ikut memperhatikan apa yang dikatakan Kyuhyun padanya.

“Oh, benar.”

“Sekarang aku tahu ukuran dari lingkaran cincin yang pas untukmu.” Ucap Kyuhyun dalam hatinya. “Ayo kita masuk Nona, dan merayakan kelulusanmu.”

“Ayo Tuan kaya. Untuk hari ini kau adalah pelayanku.” Canda Ha In

*.*.*

Advertisements

5 comments

  1. Eonni ijin baca FFnya ya .. hwaa bagus alurnya dan pemilihan katanya…hoho..
    agak binggung di beberapa scene tapi tetep bisa ngikutin alurnya..
    heumm emang susah-susah-gampang sih ya ngomong sama tipe2 kayak penggambaran kyuhyun di cerita…hehe :3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s