Cranberry Sequel {The First Contradiction Heart}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – PG-17 – Complicated – Married Life – NC-21||

Length: Oneshoot|| Author: Hyun*ie||

 

 

Note: Hallo, terima kasih atas kunjungannya ke blog ini. Dan saya lebih berterima kasih lagi pada para pembaca yang telah meninggalkan jejaknya dan bagi anda semua yang telah mengikuti blog ini. Mohon maaf karena tidak bisa membalas satu persatu komentar kalian. Soalnya saya suka di bilang sombong dan jutek, jadi saya tak ingin menghilangkan image itu.

Emm, boleh dong bantu daku jika berkenan. Keyboard notebookku tengah merajuk. Huruf UIOPJKLM nya berubah jadi angka 0 sampai 6 dan /. Aku dah coba pake Ctrl+Shift+NumLK, Ctrl+NumLK, Fn+NumLK, tapi tetap tak bisa. Harus tekan Fn dulu baru huruf error itu bisa berubah jadi kembali pada asalnya. Kan gak lucu, masa iya aku harus teken terus tu tombol Fn tiap mau ketik huruf tersebut. Jika kalian tahu cara memperbaikinya, tolong beritahu {selain dibawa ke service computer tentunya}. Terima kasih.

*.*.*

Ha In segera memacu kecepatan mobilnya dengan cepat. Tak ada waktu untuk mengisi perutnya yang masih kosong sejak pagi tadi. Ha In tak terbiasa sarapan pagi. Biasanya ia akan makan siang di butik dengan bekal makanan yang ia buat sendiri di rumah. Tapi pekerjaannya yang menumpuk, membuat ia melupakan perutnya yang kosong.

“Ya?” jawabnya saat menerima sebuah panggilan masuk.

“Kau dimana?”

“Aku masih dalam perjalanan pulang. Jika oppa lapar, ada makanan di lemari es. Dalam kotak transparan warna biru, ungu muda, dan hijau. Aku akan segera ke sana.”

“Emm arra. Gomapta.” Terjadi jeda beberapa saat sebelum akhirnya Kyuhyun kembali bersuara. “Sayang,”

Ha In tersenyum senang begitu satu kata yang manis keluar dari bibir suaminya. “Ya suamiku. Kau mencemaskanku?” Tanyanya dengan geli.

“Ya.” Bisik Kyuhyun. “Berhati-hatilah dijalan. Jangan menambah kecepatan mobil diatas normal. Cuaca sedang buruk hari ini. Hujan dapat membuat jalanan licin. Aku tak mau terjadi apa-apa denganmu.” Tegasnya.

“Ne, arraseo. Aku tutup teleponnya emm?”

“Ya. Sampai jumpa dirumah. Aku merindukanmu.”

“Aku juga. Sangat banyak. Bye.” Ha In segera mematikan benda mungil yang menempel di telinganya. Belum sampai satu menit nasehat Kyuhyun pada Ha In, wanita itu malah melanggarnya. Ha In menginjak gasnya dalam. Ia ingin segera pulang ke rumah. Melihat Kyuhyun dan menjamu suaminya. Sedingin apapun Kyuhyun bersikap padanya, tapi ia tetap tak ingin terlihat buruk dimata suaminya.

“Astaga!” Ha In mengoper rem tangannya segera. Tadi ia tak melihat ada perbaikan jalan. “Mengapa harus hari ini?” Maki Ha In.

Dengan terpaksa Ha In memutar balik mobilnya, mengambil jalan pintas melalui jalanan perbukitan yang sepi dan penuh pepohonan.

“Oppa, aku ingin kau berada disini sekarang juga.” Lirih Ha In. “Aku ketakutan seorang diri di tengah-tengah hutan.”

Ha In kembali tak fokus mengemudikan mobilnya. Setelah sebelumnya ia tak memperhatikan rambu-rambu peringatan perbaikan jalan, kini ia nyaris menabrak salah satu rambu jalan. “Ya Tuhan. Sadarkan dirimu, tenangkan urat sarafmu, dan jangan kosongkan pikiranmu Song Ha In. Kau bukan ingin melihat suamimu jika seperti ini jadinya.” Maki Ha In lagi.

“Sekarang tenang, dan kita bergerak secara perlahan.” Ha In memundurkan mobilnya dengan perlahan, mengoper rem tangan, mengembalikannya lagi pada jalur yang semestinya, lalu segera menstabilkan lagi laju kendaraanya pada kecepatan 40km/jam. Biarkan seperti siput. Yang terpenting dirinya pulang dengan selamat.

“Tjk!” Hari ini mungkin tanda kesialan Ha In. Setelah berputar arah karena perbaikan jalan, lalu hampir menabrak rambu jalan, sekarang mobilnya mogok di tengah perbukitan yang gelap dengan sedikit penerangan dari lampu jalan. “Ada apa dengan hariku ini Tuhan. Aagggh!” Ha In menggebrak stirnya kuat. Membuka seat-belt, ia bergerak turun melihat penyebab mobilnya tak bisa bergerak kembali.

“Mesinnya terlalu panas. Air, aku butuh air segera.” Ha In berlari kembali menggapai daun pintu mobil, mengobrak-abrik isi dari dashboard, tas dan saku belakang joknya.

“Sial!” Ha In hanya dapat menemukan botol air yang kosong. Ah ya, dia menghabiskan isinya saat perjalanan tadi. Ha In kembali menutup kap mobil depannya karena percuma saja. Ia tak dapat memperbaiki mesinnya.

“Sekarang tak hanya mobilku yang tak bisa bergerak. Tapi bajuku juga basah karena air hujan. Sungguh sial!” Ha In meraih coat-nya yang ia simpan di jok samping pengemudi, memakai coat tersebut setelah terlebih dahulu menyeka air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya menggunakan handuk kecil yang selalu siap sedia di kotak P3K-nya.

Ha In menekan angka 1 pada layar di ponselnya. “Oppa!”

“Ya sayang. Ada apa? Kau terjebak macet?”

“Bukan. Bukan seperti itu. Aku, . . . Ada e-mail masuk dari salah satu pelanggan. Ia mengatakan bahwa bajunya tak sesuai dengan pesanannya. Hanya membutuhkan sedikit perombakan. Oppa tak apa jika aku tak pulang hari ini? Aku akan pulang pada esok pagi. Aku janji.”

Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari Kyuhyun yang berada di ujung sambungan sana. “Ya. Jangan mencemaskanku. Kau selesaikan dulu pekerjaanmu. Kau harus bertanggung jawab.”

“Ya oppa. Maaf mengecewakanmu.” Sesal Ha In.

“Tidak sayang, jangan berkata seperti itu. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Kau telah mempersiaplan segala sesuatunya untukku. Terima kasih.”

“Ya. Itu sudah menjadi kewajibanku.”

“Apa kau sudah makan?”

“Emm, belum. Aku akan makan sebentar lagi.”

Kyuhyun menatap benda-benda yang ada dihadapannya dengan tak suka. Oh, jika saja istri tercintanya berada di depannya, maka ia akan memberikan tatapan itu padanya, bukan pada benda mati seperti saat ini. “Makan. Kau harus banyak makan. Jangan lupa vitamin dan istirahat yang cukup. Kau harus belajar untuk menghargai dan merawat tubuhmu sendiri. Paham?”

“Ya Tuan. Aku tutup sambungannya. Kita bicara lagi lain kali.”

Kini giliran Ha In yang mendesah dalam. Mobilnya tak bisa bergerak kemanapun, dan sekarang dirinya basah kuyup. Belum lagi rasa lelah dan berdosanya ia karena harus berbohong pada Kyuhyun demi kebaikan semuanya.

“Mungkin aku akan menghubungi ibu sekarang juga jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi sekarang aku tak bisa melakukannya. Huh,” Ha In menarik nafasnya kembali. Betapa perubahan pada status dirinya dapat membuat segalanya berubah drastis. “Sekarang mari kita tidur.” Ha In memposisikan kursi kemudinya menjadi layaknya tempat tidur, mesikpun tak senyaman yang aslinya. Tapi hal itu cukup dapat membuatnya tidur lelap.

Sementara itu, di sebuah rumah yang berada di kompleks perumahan elit, di Seoul, Kyuhyun terlihat cemas sekarang. Meskipun ia telah bersiap akan pergi tidur karena merasa lelah, tapi pikirannya berkelana, jauh menembus dinding yang ada dihadapannya, memikirkan Ha In yang berada di kantor. Karena info itulah yang ia tahu dari mulut istrinya sendiri.

Kyuhyun bangun dari tidurnya, menyingkap selimut, lalu bangkit, berjalan mengambil ponselnya yang ia letakkan di coffe table. Menggeser tanda lock ke sebelah kanan, lalu beberapa saat kemudian ia menkan nama Moon-hwa pada layar ponselnya.

“Ya?”

“Ha-in berada bersamamu disana?”

“Ha-in eonnie?” terdapat jeda beberapa detik sebelum akhirnya Moon-hwa kembali membuka suaranya. “Seingatku bahkan tadi eonnie pergi lebih dulu. Ia mengatakan bahwa oppa akan pulang hari ini. Jadi dia meminta kami menjaga butik lebih lama lagi dari biasanya.”

“Kau yakin? Tadi Ha-in mengatakan bahwa ada pelanggangnya yang mengeluh mengenai rancangan bajunya karena tak sesuai dengan apa yang ia ingnkan.”

“Maksudnya Nyonya Han? Beliau sudah kami bereskan. Kami sudah menyelesaikannya dan segera mengantar gaun tersebut dalam perjalanan pulang tadi.” ucap Moon-hwa.

“Oke. Aku mengerti. Selamat beristirahat, maaf mengganggumu di malam hari seperti ini.”

“Tidak apa-apa.”

Kyuhyun mengeraskan kedua rahangnya. Bagaimana bisa Ha-in yang ia kenal menjadi seperti ini? Atau apa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya?

Tanpa berpikir lebih banyak lagi, Kyuhyun segera meraih kunci mobil yang berada di salah satu laci di kamarnya, memakai mantel hangat, lalu mengganti sandal rumahnya menjadi sepasang sepatu hitam.

“Kau membuat kesalahan pertamamu sayang. kau akan melihat bagaimana nanti akibatnya.” ucap Kyuhyun dengan nada yang sedikit jengkel.

Kyuhyun memutari jalanan kota, menggunakan jalan perbukitan dimana Ha-in beserta mobilnya berada disana.

“Apa orang gila itu mabuk ditengah jalan?” Kyuhyun terus menekan-nekan klakson untuk memberitahukan pengemudi mobil tersebut agar sedikit menepikan mobilnya yang berada tepat ditengah jalanan. “Jika kau mabuk sebaiknya panggil seorang supir bayaran atau panggil para bodyguard bodohmu itu!” maki Kyuhyun ditengah derasnya suara hujan.

Dengan perasaan dongkol, mau tak mau Kyuhyun berjalan menghampiri pemilik mobil yang ada di depannya, yang sejak tadi tak memperdulikan peringatan dirinya. Tentunya setelah terlebih dahulu mengenakan penutup kepala dari mantelnya. Ia tak mau jatuh sakit nanti.

“Nona, Tuan, atau siapapun dirimu, cepatlah keluar dan kita bicara secara baik-baik sebelum aku mendorong mobilmu masuk jurang sana.”

Kyuhyun melihat ke dalam mobil lewat kaca samping pengemudi. “Oh perempuan?” ucap Kyuhyun saat melihat wanita yang berada di dalam mobil tengah tertidur pulas, tak terganggu sedikitpun dengan makiannya yang sejak tadi dapat memekakan telinga orang lain, maupun suara gemuruh dari petir dan gemuruh hujan deras. Wanita tersebut tetap diam pada posisinya.

“Hei nona, kau pingsan?” tanya Kyuhyun yang mulai khawatir melihat keadaan wanita di dalam mobil tersebut.

Kyuhyun hendak mendorong mobil wanita tersebut, saat dirinya secara tak sengaja menangkap satu brand ternama. H’style.

Kyuhyun menatap lama pada kantung tersebut. “Bukankah itu nama toko Ha-in? apa wanita ini termasuk salah satu dari pelanggannya?”

Tapi sedetik kemudian, ia menangkap aksesoris yang berada di dalam mobil, gantungan berbagai buah berry yang terbuat dari keramik. Ia tentu mengingat gantungan tersebut. karena ia yang memberikan keramik berry tersebut pada Ha-in saat berjalan-jalan sebelum hari pernikahannya di laksanakan.

“Apa mungkin, . .” tanpa keraguan sedikitpun, Kyuhyun meraih batu besar yang ada disana, lalu memecahkan kaca pengemudi. “Astaga!” sekarang ia dapat melihatnya dengan jelas. Wanita yang lima belas menit yang lalu mengatakan padanya bahwa ia terpaksa harus kembali ke butik karena suatu pekerjaan yang mendadak. Wanita yang ia cemaskan sejak sepuluh menit yang lalu tak menjawab panggilannya sebanyak tujuh kali. Dan wanita yang membuat ia tak bisa tidur, hingga berhasil telah membawanya kemari.

Kyuhyun meraih kunci dan membuka pintunya. “Sayang?” Kyuhyun terus menguncang-guncang tubuh mungil tersebut yang kini menggigil kedinginan.

“Hei, bangunlah. Ini aku. Bangun sayang.” Kyuhyun berkata dengan gelisah saat melihat wajah istrinya yang pucat pasi. Suhu tubuhnya yang tinggi, serta pakaian yang ia kenakan basah semuanya.

“Aku akan segera membawamu pergi dari sini setelah menyelasikan semua ulahmu.” Kyuhyun mengangkat tubuh Ha-in ke bagian kursi belakang mobilnya, memberikan coat-nya untuk menyelimuti Ha-in, lalu ia berlari kembali ke mobil Ha-in yang segera ia tepikan agar tak menghalangi jalan dengan cara mendorongnya. Ia tak mempunyai banyak waktu, bahkan untuk sekedar memastikan kerusakan apa yang ada terjadi pada mobil tersebut.

“Jalan perbukitan. Daerah . . . . Ya. Segera kemari jika hujannya telah berhenti. Tidak. Tidak ada korban. Hanya butuh penggerekan saja. Ya, terima kasih.”

Kyuhyun segera memutuskan panggilan tersebut saat sebuah petugas penggerek mobil mengatakan akan segera meluncur ke tempat dimana ia berdiri saat ini.

“Nah Nona, kau melakukan banyak kesalahan malam ini.” ucap Kyuhyun pada bayangan Ha-in yang terlihat dari kaca spion bagian pada depan. “Jangan mengulangi hal ini lagi, atau aku akan membuatmu berhenti bekerja.” desisinya.

*.*.*

Mereka telah sampai di rumah. Mematikan mesin mobil, Kyuhyun langsung membuka pintu belakang, mengendong tubuh ramping itu ke dalam rumah.

Kyuhyun membuka lemarinya asal. Ia mengacak-acak isi lemari tersebut. Ini pertama kalinya ia membongkar lemari bagian istrinya. Kyuhyun menatap bingung apa yang ada dihadapannya. Ada banyak jenis baju di dalam lemari tersebut. Dan juga pakaian dalam. Sekilas ia melirik pada Ha-in yang masih diam, tak bergerak sedikitpun. “Sayang, apa yang biasanya kau kenakan? Aku merasa bingung dengan semua pakaian di dalam lemarimu.” Tanya Kyuhyun yang kembali memfokuskan lagi penglihatannya pada lemari pakaian. Entah pemikiran darimana, tiba-tiba saja ia ingat akan malam pertamanya bersama Ha-in. Oh Tuhan, dia sangat seksi malam itu. Menggugah hati pria manapun yang melihatnya.

“Maafkan aku, jika aku salah mengambil pakaian dalammu. Tapi sungguh, kau sangat memukau dalam pakaian itu.” Kyuhyun meraih lingerie berwarna hitam. Lalu mengambil kemeja putih miliknya.

Setelah mendapatkan itu semua pada tangannya, ia berjalan menghampiri Ha-in. Saat Kyuhyun bergerak untuk melepaskan kancing pertama dari dress Ha-in, ia baru ingat akan air hangat untuk membasuh tubuh istrinya. “Kau perlu untuk sedikit dibersihkan. Tubuhmu pasti akan lebih baik lagi. Tunggu sebentar, akan ku ambilkan air hangat dan wash-lapnya.”

“Sekarang selesai.” ucap Kyuhyun saat semua pakaian yang ia ambil tadi sudah terpasang pada tubuh Ha-in. “Tidurlah yang nyenyak sayang. Aku akan menjagamu sepanjang malam untuk mengganti kompresanmu yang mulai tak dingin lagi.”

Kyuhyun mengangkat lebih tinggi lagi selimut tebal itu untuk menutupi tubuh Ha-in, hingga mencapai lehernya. “Selamat tidur. Mimpikan aku.” Kyuhyun mengecup dahinya dengan sayang.

*.*.*

Ha In terbangun dengan keadaan bingung. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan dimana ia berada sekarang. “Eoh?” Ha In menggelengkan kepalanya sekali lagi. “Bukankah aku tidur di dalam mobil semalam? Mengapa sekarang ada disini?”

Ha In meraba bajunya. “Kyuhyun?” Ha In tak tahu harus mengatakan apalagi saat terbangun pagi ini. Setelah dia menemukan dirinya berada di tempat tidur, dan sekarang dirinya berbalut kemeja putih milik Kyuhyun, suaminya.

Ha In yang merasa curiga, segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. “Ya ampun Cho!” Teriak Ha In karena terkejut dan sedikit kesal. Pasalnya, Ha In hanya dipakaikan pakaian dalam dan baju kemeja milik Kyuhyun saja. Hingga bagian bawah dari paha sampai ke tumit kaki terekspos, memperlihatkan kulit putih mulusnya. Ha In sudah mengira hal ini akan terjadi. Karena pada saat malam pertama mereka, berkat pakaian yang ia kenakan seperti ini pula yang membuat Kyuhyun tak bisa tidur hingga membangunkan dirinya. “Aku suka kau berada dipakaianku. Kau terlihat sangat panas dan seksi. Aku akan membelikannya lagi untukmu. Menggantikan semua baju tidur satinmu dengan kemeja putihku.

Ha In mengendikkan bahunya malas. “Lagi pula sudah terjadi. Mungkin dengan seperti inilah aku dapat membuatnya bahagia.”

Ha In beranjak dari tempat tidurnya, membereskan tempat tidur, mengikat rambutnya, lalu pergi ke kamar mandi.

“Hai,” Ha In memeluk Kyuhyun dari belakang kemudian mengecup pipi pria itu.

Kyuhyun menoleh ke belakang sehingga dia bisa mendapatkan kecupan selamat paginya. “Hei, kau sudah bangun?”

“Emm.” Ha In menyandarkan kepalanya yang masih terasa berat dipunggung Kyuhyun.

“Masih pusing?” Ha In mengangguk pelan. “Ya masih. Aku tak akan pergi ke butik hari ini.”

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Ia pikir Ha In akan keras kepala seperti hari pertama pasca mereka melakukan hubungan. “Aku akan menemanimu.” Ucap Kyuhyun.

“Kau memasakkanku apa? Aku ingin sekali Bread Fried Ice Cream. Dengan saus strawberry, mayonaise, dan parutan keju.”

Kyuhyun dibuat bergidik mendengarnya. Mayonaise dan keju?

“Mengapa? Kau kedinginan?” Tanya Ha In heran. Bukankah dirinya yang sakit?

Kyuhyun menggeleng. Ia berbalik untuk menatap istrinya yang sangat extrem. “Sayang, mayonaise dan keju merupakan perpaduan yang. . ., bagaimana jika mayonaise dan saus strawberry saja?”

“Tidak. Aku ingin itu.” Ha In mulai merajuk. Menunjukkan sisi lain dirinya yang sangat manja. Ia berjalan ke arah beranda, meninggalkan Kyuhyun seorang diri di pantry.

“Ayolah lakukan itu untukku.” Bujuk Ha-in sambil membuka tab miliki suaminya.

“Baiklah. Asalkan kau mau memakannya.”

“Aku pasti akan memakannya. Mengapa mengatakan hal seperti itu? Seolah-olah aku tak pernah makan saja pada saat jam seperti ini.” ucap Ha-in. Kini wanita itu tengah mengotak-atik benda persegi tersebut, sambil tiduran di sofa.

“Karena ini baru jam sembilan lewat tiga puluh pagi.”

“Apa?” Pernyataan dari Kyuhyun membuat Ha-in terbangun dari tidurnya. “Kalau begitu aku akan menunggu sampai jam dua belas nanti. Tepat saat jam makan siang.” Ucapnya kembali. Ha-in memposisikan kembali tubuhnya untuk tidur di sofa.

Kyuhyun menghampirinya dengan perasaan kesal. “Jangan memikirkan jam makanmu yang hanya delapan jam. Sekarang makan!” bentak Kyuhyun sambil sedikit menghentakkan piring yang berisi pesanan istrinya.

“Oppa,” Ha-in bangun kembali saat suara dari benturan piring dan coffe table yang ada disampingnya memekakan gendang telinganya. “Jangan marah. Aku akan makan.” Bisik Ha-in dengan sedih. Baru kali ini ia mendapatkan bentakan dari Kyuhyun. Ha-in meletakkan tab yang ada di tangannya, menyimpannya di samping tempat duduknya.

“Enak.” Bisk Ha-in. Asal kau tahu saja, Ha-in yang cuek dan tegar ini, kini tengah menitikan air matanya.

“Maafkan oppa. Oppa lakukan ini karena oppa begitu menyayangimu. Bagaimana jika nanti kau jatuh sakit? Siapa yang akan merawatmu jika sampai itu terjadi. Oppa tak bisa selalu berada di sisimu setiap waktu sayang. Karena kita perlu makan {bekerja}.” Canda Kyuhyun. Ia semakin keras mendekap Ha-in dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggungnya dengan sayang. Bukankah seorang wanita akan menjadi lebih tenang jika kau menepuk-nepuk punggung, lengan ataupun bahunya?

“Sayang, tenanglah. Ayo makan lagi makananmu.” Bujuk Kyuhyun, yang hanya dijawab oleh gelengan kepala dari istrinya.

“Ayo makan. Sebelum aku kembali membentakmu.”

“Aww!” Kyuhyun mengaduh kesakitan saat dadanya dipukul oleh Ha-in.

“Kau menyebalkan!”

“Hei, aku hanya bercanda tadi padamu. Mengapa kau begitu serius dalam menanggapinya.”

Ha-in semakin menyembunyikan wajahnya. Ia terlalu malas untuk menanggapi pernyataan Kyuhyun.

“Aaa. . .” Ucap Kyuhyun dengan tangan kanannya yang kini tengah mengangkat satu sendok Bread Fried Ice Cream. “Ayo. Tanganku sudah mulai pegal.”

Ha-in menatap Kyuhyun sebentar, lalu membuka mulutnya lebar.

“Istri yang pintar. Kita habiskan makananmu.” Ha-in mengangguk setuju dengan pernyataan Kyuhyun kali ini.

Ha-in sedikit bergeser dari tempat duduknya. Memberikan celah dirinya untuk bergerak. “Oppa juga makan.” Ucap Ha-in sambil meraih sesendok Bread Fried Ice Cream untuk Kyuhyun.

“Kau yakin ini baik untukku?”

“Aku saja masih duduk dengan utuh disampingmu.” jawab Ha-in tak suka. Karena itu terkesan bahwa Ha-in tengah memasukkan racun ke dalamannya.

“Baiklah.”

Mereka menghabiskan sarapan paginya bersama dengan iringan canda tawa yang mereka ciptakan sendiri.

*.*.*

Ha-in dan Kyuhyun kembali menikamti harinya. Mereka berdua sedang memiliki banyak waktu luang. Jadi tak ada salahnya jika mereka menghabiskan hari ini, mengisinya dengan hobi mereka berdua. Ha-in yang kini sedang membaca majalah fashion, sambil tiduran di paha Kyuhyun. Sementara suaminya yang tengah asyik memainkan tab.

“Oppa sedang apa? Bekerja?” tanya Ha-in yang mulai bosan karena tak ada sedikitpun percakapan yang terjadi diantara mereka.

“Emm?” Kyuhyun melirik sebentar ke arah Ha-in yang menatapnya dengan pensaran. “Tidak juga. Tidak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Ha-in bangkit dari tidurnya. Sekarang ia lebih tertarik dengan apa yang sedang dikerjakan Kyuhyun. “Oh?” Ha-in menatap bolak-alik antara tab yang di pegang suaminya dengan wajah suaminya sendiri. “Oppa kau terlalu besar dan tua untuk hal itu.”

“Siapa yang mengatakan hal itu?” tanya Kyuhyun yang tak terima posisinya seperti terpojokkan hanya karena ia sedang melakukan hobinya.

“Kau tahu siapa yang menciptakan game?” Ha-in menggeleng tak tahu. “Apa kau juga tahu siapa juara games di dunia?”

“Yang jelas itu bukan kau ataupun aku.” Jawab Ha-in dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sangat tak suka arah pembicaraan Kyuhyun.

“Aku juga tak tahu siapa dia. Yang jelas, sayang, kedua orang itu bukan anak kecil yang masih mengenakan seragam anak sekolah. Mereka masih muda, dan kalau tak salah mereka berumur tak jauh dariku.”

“Kau mau aku mengajarimu?” tanya Kyuhyun kembali.

“Benarkah?” Jujur saja Ha-in sedikit tertarik dengan apa yang Kyuhyun kerjakan. Hanya saja ia sedikit malu karena telah terlebih dahulu mencela suaminya melakukan hobi tersebut.

“Ya. Aku akan mengjarimu sampai pandai.”

“Berikan padaku.”

“Ini. Kau tekan tombol yang berada di sudut kiri itu untuk memulai permainan.”

“Aku tahu tanpa kau kau berikan arahanpun. Karena disini tertulis kata Play.” Cibir Ha-in pada Kyuhyun.

“Hahaha sayang, aku hanya ingin memberitahukannya saja padamu. Karena sekarang kau tak memakai penutup toples lagi {kacamata}.”

“Jangan meledekku lagi. Sekarang katakan padaku cara mainnya. Bagaimana memainkan permainan ini.”

“Geser kanan, lalu ke kiri. Tekan pula tanda bom itu agar membunuh semua musuhnya. Jangan, jangan lakukan itu. Akh!” Kyuhyun meremas, dan menarik rambutnya kesal. “Mengapa kau mengarahkannya pada musuh? Jadi mati bukan?”

Ha-in menanggapinya dengan santai. “Kita tinggal menekan tanda Play kembali.” ucapnya sambil menunjukkan tanda tersebut pada Kyuhyun.

“Ya, terserah bagaimana dirimu saja. Kau membuatku terkena serangan jantung karena tindakan cerobohmu tadi.”

“Berlebihan.” Cibik Ha-in pada Kyuhyun yang kini tengah bersandar dengan mata tertutup.

*.*.*

Seperti itulah hari-hari mereka yang tampak konyol dengan berbagai tindakan yang mereka lakukan bersama.

Tapi hari ini sepertinya kebersamaan mereka agak sedikit terusik karena masalah pekerjaan.

“Aku tak bisa menemanimu untuk peluncuran fashion di Eropa. Maaf.”

Ha In menatap Kyuhyun kecewa. Terlihat sangat jelas dimatanya yang menjadi muram dan kosong. “Mengapa? Aku telah menyiapkan semuanya.” Ha In sejenak diam menatap jemarinya yang saling berkaitan. “Apa ini karena pekerjaan?” Oh, ada apa dengannya sekarang? Wanita mandiri yang kini berubah menjadi pemurung dalam satu hari karena rencananya yang gagal untuk membawa ikut serta Kyuhyun bersamanya.

“Ya, ini tentang pekerjaan. Dan maafkan aku yang tak bisa menemanimu.”

Ha In mencoba mengendalikan dirinya dengan terus menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa.”

“Kau yakin?” Kyuhyun menyakinkannya sekali lagi. Pada kenyataannya, di dalam hati pria itu tengah menahan tawa terhadap perilaku istrinya.

“Ya. Pergilah. Aku juga akan segera pergi.”

“Baiklah, aku pergi.” Kyuhyun merengkuh Ha-in dalam pelukannya, mengecup dahinya dalam. “Jaga dirimu baik-baik selama disana sayang. Jangan lupa makan dan perbanyak istirahat.” Kyuhyun meraih wajah Ha-in yang terus tertunduk. “Kau butuh semangat kan sayang?” Tanpa banyak kata lagi Kyuhyun meraih dagu Ha-in, menariknya ke depan lalu sedikit menengadahkan wajahnya. Memulainya dengan sebuah kecupan, lumatan, lalu menghisap dalam bibir bagian bawahnya, memaksa Ha-in untuk membuka mulutnya. Saling membelitkan lidah mereka berdua dengan gemuruh cinta yang membara.

“Hah,” Ha-in mendesah lega saat pautan itu terlepas. “Oppa selalu bisa membuatku seperti ini.”

Yang dibalas dengan sebuah tatapan kagum dari Kyuhyun. “Karena aku memang selalu bisa melakukannya padamu.”

“Pergilah oppa. Kau bisa membuatku tak jadi pergi jika terus berada disini. Pergilah.” Ha-in mendorong tubuh Kyuhyun untuk memasuki mobil.

Kyuhyun yang tak melawan segera masuk ke dalam mobil karena dorongan yang diakibatkan dari gerakan Ha-in. “Baik-baik, aku akan pergi tanpa kau suruh sekalipun. Sampai jumpa minggu depan sayang.” Kyuhyun mealjukan mobilnya setalah membrikan flying kiss untuk Ha-in.

“Nah Song Ha-in, kini kau harsu segera mengambil caot, dan barang-barangmu.” Ucap Ha-in yang berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri.

*.*.*

“Eonnie, apa kau telah lama menungguku? Maksudku kami?” ralat Sun-ae pada atasannya.

“Hanya sekitar. . . . sepuluh menit. Ayo kita pergi sekarang juga. Pesawat akan segera berangkat.”

“Ya.” Jawab Sun-ae kembali.

“Menurutmu ada apa dengan dirinya?” tanya Moon-hwa pada rekannya tersebut.

“Mana ku tahu. Mungkin ia mendapatkan paginya dengan baik hari ini. Atau mungkin juga sebaliknya.” Jawab Sun-ae dengan diikuti kedikan dari kedua bahunya. Ayolah cepat sebelum eonni mulai meradang.”

“Tjk, aku hanya bertanya padamu.”

*.*.*

“Kita duduk di kursi VIP?” Tanya Moon-hwa dan Sun-ae tak percaya. Bagaimana bisa?

“Tentu. Kalian berdua rekan satu timku. Jadi harus selalu berada dekat dengan diriku. Paham?”

“Tapi eonni, kurasa ini terlalu berlebihan. Kami hanya. . .”

“Ssstt. Diamlah oke? Aku akan tidur. Kalian boleh memesan apapun yang kalian inginkan. Hanya satu, jangan menggangguku ataupun membangunkanku. Paham Nona-nona?”

Mereka dengan sepakat mengisyaratkan kata OK dengan jarinya.

“Bagus, aku akan tidur sekarang.”

Ha-in memejamkan matanya dengan erat. Mencoba melupakan kekesalan hatinya yang harus pergi tanpa Kyuhyun yang berada disampingnya.

“Permisi,” ucap seorang pria yang memakai jaket hijau tua dan masker yang menempel diwajahnya.

“Oh!” Moon-hwa dan Sun-ae menoleh ke belakang mereka, saat suara tersebut terdengar jelas di telinganya. Terus memperhatikan pria itu yang kini duduk disamping atasannya. “Bukankah itu. . .”

“Hai.” Ucap pria tersebut yang tak lain adalah Kyuhyun. Ia membuka masker dan menurunkan penutup kepalanya.

“Oppa kau. . . Astaga.” Kedua wanita itu tak bisa menahan rasa keterkejutannya saat ini. Apa yang dilakukan Kyuhyun sangat bodoh. Tak tahukah ia jika istrinya itu terus menampakkan wajah murungnya sejak tadi.

“Jangan katakan hal apapun padanya. Aku kesini karena urusan bisnis. Oke?” Ucapnya dengan berdusta.

“Ne.” Jawab keduanya yang masih sedikit terguncang, dan bingung.

Meraka kembali pada aktivitasnya masing-masing. Seperti apa yang Kyuhyun katakan pada dua wanita itu, mereka terus berpura-pura tak saling kenal dengan cara tak saling berbicara.

*.*.*

“Bagaimana peluncuran fashionnya? Kau tentu mendapatkan banyak rangkaian bunga bukan?”

“Ya. Sangat teramat basi sekarang. Apa yang sedang oppa lakukan disana?” tanya Ha-in yang kini berada di atas jembatan. Coba saja kalau Kyuhyun berada disini saat ini. Mungkin ia tak akan seperti ini. Begitu kesepian di antara banyak pasangan yang tengah memadu kasih disekitarnya.

“Aku? Aku sedang berada dibelakangmu saat ini.”

Ha-in membelakakan matanya ke depan. Menatap tak percaya pada aliran air yang bergerak-gerak di sunagi sana. “Kau. . .”

Ha-in hendak berbalik untuk melihat kebenarannya, tapi segera dicegah oleh Kyuhyun. Pria itu mendekap tubuhnya dengan keras. Menyalurkan perasaan rindunya pada Ha-in. “Jangan berbalik. Ini aku. Aku begitu merindukanmu sayang. Sangat.” ucapnya dengan penuh rasa syukur.

“Mengapa baru sekarang?”

“Aku sudah berada disini sejak hari pertama. Bahkan kita berada pada satu peswat yang sama, dan aku duduk tepat disampingmu sayang.”

“Kau sangat tega padaku oppa.” Ucap Ha-in yang disertai pukulan kecil pada tangan Kyuhyun yang masih memeluknya dengan erat.

“Maafkan aku. Ini adalah kejutan. Bagaimana, apa kau terkejut?”

“Sangat. Ekhm.” Ha-in merasa tenggorokannya kering sekarang. Ia ingin sekali pergi ke kedai yang ada di sebrang sana. Tapi ia juga tak sampai hati harus melepaskan pelukan hangat ini. Pelukan yang telah lama ia nantikan selama beberapa hari terakhir ini.

“Tunggu sebentar disini. Jangan pergi kemanapun.” Kyuhyun mencium rambut Ha-in lalu melepaskan pelukan itu. Membuat raut wajah Ha-in kembali murung.

Lima menit kemudian Kyuhyun berjalan kembali menghampiri Ha-in. “Ini untukmu.” Ucap Kyuhyun sambil menyerahkan ice tea pada istrinya.

“Wah.” Ha-in tersenyum saat menatap minuman segar di depannya. “Teriam kasih oppa.” Ha-in mengecup cepat pipi kanan Kyuhyun, sebelum akhirnya ia mengambil minuman tersebut dari tangan suaminya.

“Emm, sangat menyegarkan.” Pujinya pada minuman yang berada ditangannya, dan pada tingkat keperdulian Kyuhyun padanya.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun yang seolah tak percaya pada apa yang diucapkan istrinya itu.

“Aku bersungguh-sungguh. Oppa mau mencobanya?”

“Jika kau mengijinkan.” Kyuhyun sedikit meminum minuman tersebut untuk menghargai istrinya. “Ya, sangat enak sayang. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sekarang?”

“Ayo.” Ha-in mengulurakn tangan kanannya untuk Kyuhyun raih. “Aku akan ikut kemanapun oppa membawaku pergi hari ini.”

“Baiklah, kita pergi ke taman kota, berkeliling kota dengan baik bus, lalu mengajakmu pergi ke pasar lokal untuk memuaskan hasrat belanjamu mengenai aksesoris.” terang Kyuhyun.

“Oh ya ampun. Suamiku yang tampan ini begitu bermurah hati pada istrinya. Ayo!”

*.*.*

Mereka kini berada diatas sebuah kapal pesiar yang berada di dermaga. Kapal yang tak pernah berhenti membawa para pengunjung pergi melihat bagaimana keindahan dari Negara Pizza itu.

“Oh dear, ku pikir tak ada yang istimewa dariku.” Ha In menatap tenang ke depan. Tepat pada air laut yang mengalir dengan tenang, hanya menimbulkan sedikit riakan yang timbul dipermukaannya. “Aku hanyalah segumpal darah yang diberikan kehidupan berupa nyawa oleh Tuhan. Tak lebih.”

“Jangan menghina dirimu sendiri. Kau lebih dari sekedar pantas untuk dicintai.”

Ha In berbalik menatap Kyuhyun yang menyambutnya dengan senyuman manis. “Ya itu pemikiran kuno. Sekarang tidak lagi.”

“Bagus.” Kyuhyun menampakkan seringai puasnya setelah mendengarkan apa yang dikatakan Ha In. “Sekarang,” matanya menatap penuh pada Ha In seolah ingin menimbulkan kesan serius dan intim. Sekali lagi dia tersenyum manis pada istrinya. “Ayo kita makan.” Ucap ia pada akhirnya. Dengan kecepatan 0,31 detik, Kyuhyun telah membuat Ha In terkatuk ke depan akibat tarikan pada tangannya.

“Apa? Ku pikir kau akan mengatakan sesuatu yang romantis padaku oppa.” Keluhnya. “Setelah menunggu jeda beberapa detik yang mencekam, kau hanya ingin mengajakku makan? Sungguh tak dapat dipercaya.” Ha In terus menggerutu kesal pada suaminya. Tak menerima bahwa Kyuhyun hanya mempermainkan dirinya saja.

Kyuhyun menoleh padanya, lalu menyamakan langkah kaki mereka, menarik Ha In untuk lebih menepel padanya. “Jangan lupakan bahwa aku pria dingin.” Bisik Kyuhyun.

Ha In tersenyum seketika karena satu hal yang membuatnya geli. Ia kemudian mengikuti apa yang Kyuhyun lakukan padanya tadi. “Pria dingin yang keren dan seksi.” Ha In melumat sedikit ujung telinga Kyuhyun hingga menimbulkan sedikit geraman dari suaminya.

“Ayo, kau hanya akan membuatku berpikir ulang mengisi kekosongan lambung kita.” Kyuhyun membawa Ha-in keluar dari kapal tersebut, menyeretnya masuk pada sebuah rumah makan yang berada sekitar lima meter dari dermaga.

*.*.*

The End

ALL FLASHBACK

Dua hari sebelum pernikahan dimulai

“Antarkan aku pergi ke suatu tempat.”

“Tapi orang tua kita bilang, kau dalam masa perawatan untuk menjadi istriku.”

“Aku sudah melakukannya semua selama tiga hari berturut-turut, apa masih kurang? Jika kau seperti ibuku yang berpikiran sama untuk melakukan sebuah perawatan lainnya, lebih baik kita lupakan pernikahan ini. Kau tak bisa menerimaku dengan terbuka.”

Ha-in langsung mematikan panggilan tersebut, membuat Kyuhyun yang berada di ujung sambungan tersebut berdecak kesal. Ia jelas tak mau sampai mendapatkan malu karena pernikahannya gagal, lagipula ia hanya ingin menikahi Ha-in. Tidak dengan wanita yang lainnya.

“Apa aku menghubunginya kembali lalu membawanya pergi ke tempat yang ia inginkan?” tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri. “Tapi tidak. Itu artinya aku telah melanggar ketentuan yang telah di tetapkan warga Korea.” Kyuhyun berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil sesekali berdecak ataupun meremas keras rambutnya.

“Masa bodoh dengan hal itu. Aku yakin tak akan terjadi apa-apa dengan kami jika sampai aku melanggarnya.”

“Jangan merajuk, ku mohon. Aku akan pergi ke rumahmu sekarang juga. Bersiap-siaplah.” Ya, Kyuhyun lebih memilih untuk melaggar aturan tersebut, dibandingkan harus kehilangan calon pendampingnya.

Ha-in tersenyum senang mendengar pernyataan Kyuhyun. “Aku akan menunggu oppa di jalan yang menuju ke rumahku. jalan besar.” Ha-in menutup panggilan tersebut dengan perasaan yang membuncah. Akhirnya, ia bisa juga membujuk calon suaminya untuk membawanya pergi ke temapat yang ia inginkan?

Ha-in bergerak cepat. mengambil atasan warna biru muda, celana jeans, dan akeseoris kalung berhiaskan batu-abtu intan.

Out {Song Ha In}: Aku sudah sampai di jalan besar. Segeralah kemari, oppa J

In {Cho Kyuhyun}: Kau memang paling pandai dalam membujuk seorang pria tak berdaya sepertiku. Aku dalam perjalanan ke sana. Tunggu.

Out {Song Ha In}: Karena itulah aku memilihmu untuk menjadi priaku selamanya.

“Hei,” sapa Kyuhyun pada Ha-in yang berdiri di atas trotoar. “Menunggu lama?”

“Tidak begitu alam. Hanya, hampir lima menit berlalu. Ayo!”

Ha-in tersenyum pada Kyuhyu dengan kedua tangannya yang terulur, meminta pria itu untuk memeluknya. “Mengapa kau jadi manja hmm?” Tanya Kyuhyun yang kini tengah membelai Ha-in dalam dekapannya.

Ha-in tersenyum dibalik bahu kekarnya. “Karena aku begitu merindukanmu oppa. tidakkah kau merasakan hal yang sama sepertiku?”

“Ya, oppa juga. Oppa begitu meridukanmu. Kita melanggar pra-pernikahan. Kau wanita nakal yang membuatku harus melakukan ini semua. Ayo kita segera pergi dari sini sebelum ada keluargamu yang melihatnya.”

Ha-in melepaskan pelukan Kyuhyun yang diiringi dengan tawa gelinya. “Tidak akan Tuan. Kecuali jika kau berteriak kencang sekarang juga. Ayo.” Ha-in menggenggam lengan Kyuhyun, membawanya masuk ke pintu samping penegemudi, dan membiarkan dirinya yang berada di balik kemudi.

“Hei, apa yang kau lakukan!” teriak Kyuhyun yang tak terima dengan poisi dirnya saat ini.

“Tidak ada. Selain, mengambil alih kemudi.” jawab Ha-in dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Biarkan aku yang mengemudi emm? Aku sangat merindukan bagaimana rasanya kembali memngendarai sebuah mobil.” pinta Ha-in dengan sedih. Yang sebenarnya itu hanyalah sandiwara belaka.

“Hm,” Kyuhyun menahan suara tawanya untuk tidak keluar di saat seoerti ini.

“Wae?” tanya Ha-in yang curiga dengan tingkah Kyuhyun. “Jangan menertawiku Tuan. Atau kau ingin ku buat mobil audy sport-mu ini terluka?”

“Tidak, jangan lakukan itu.” Bentak Kyuhyun.

“Nah, kalau bgitu diamlah dan ikuti kemanapun inginnya aku pergi. jangan memprotes, jangan memakiku, jangan pula bertanya kita akan pergi kemana. Arra?”

“Oke”. Kyuhyun memberikan gerakan menutup mulut lalu menguncinya.

Ha-in berputar menuju arah kanan, keudian berhenti saat menemukan toko yang menjual berbagai aksesoris wantia dan berbagai hiasan lainnya.

“Kau akan membeli aksesoris lagi? Bukannya, . . .” Ha-in segera menyela Kyuhyun dengan menempatkan jari telunjuknya, tepat berada diatas bibir pria itu.

“Bukankah oppa berjanji unyuk diam tadi. Tak bertanya apapun padaku.”

Kyuhun menatap Ha-in dengan kesal. “Arraseo!” Ia lebih memilih untuk pergi tempat semua jenis gantungan kunci maupun akssoris mobil wanita berada.

Setelah berjalan dan mengamatai benda-benda tersebut, Kyuhyun meraih gantungan mobil yang berbentuk macam-macam berry. Terbuat dari keramik.

“Indah. Kau pasti akan menyukainya.” Tanpa menghiraukan beberapa tatapan wanita muda yang berada disana, Kyuhyun berjalan ke arah kasir untuk membayar gantungan berry terebut.

“Semuanya jadi 35$.” Kyuhyun baru akan membuak suaranya untuk protes. Karena ini memang tak masuk akal. Baimana bisa harga sebuah gantungan sebanding dengan separuh harga baju kaos. tapi niat itu urung saat ia menoleh pada Ha-in yang memberikan tatapan senyum padanya.

“Ini.” ucap Kyuhyun sambil menyerahkan uang kertas senilai 50$.

“Terima kasih. Selamat berkunjung kembali.”

Kyuhyun menghampiri Ha-in setelah memastikan benda yang ia beli tadi aman di saku akntung jeansnya.

“Sudah selesai?”

“Ya. Oppa tunggu saja diluar. Aku hanya akan membayar ini, setelah itu kita pergi untuk kuliner.” ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya. Ah, Ha-in sangat tahu bagaimana ia harus bertindak pada Kyuhyun, agar pria itu tak merasa bosan ataupun merajuk hari ini.

“Aku akan menunggumu sayang. Cepatlah.”

Kyuhyun memasuki mobil segera. ia membongkar kantung belaknag jeansnya, mengelurakan gantungan berry yang baru saja ia beli tadi. “Nah, kau akan terus mengingat hari ini saat kau menatap berry-berry tersebut di depanmu.” ucap Kyuhyun dengan bangga.

*.*.*

Advertisements

3 comments

  1. Puas banget cerita nya tidak mengecewakan 😀 wkwkwkkw tapi kak penulisan nya agak rapihin lagi hehhe masih ada kata untuk jadi unyuk hehehhe:) tapi puas banget ama sequel nya malahan akan berharap ff ini dijadiin series ajah wkwkwkkw:D mood nulis nya udah balik lagi nieh kya nya mommy aku ff nya jadi menarik lagi wkwkwkkw:D rat 21 kok ghak ada adegan nya wkwkwkkw hehhe ma’lum lg kangen ama eunhyuk ahjussi jadi ikut ikutan agak yadong wkwkwkkw

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s