Cranberry – The Last Sequel {Because of You}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: PG-17 – Romance – Comedy – Complicated – Married Life||

Length: Oneshoot|| Author: Hyun*ie||

Note:: Misunderstanding dan Not Sure nya nanti ya. . . Dalam proses editing dan tahap akhir.

*.*.*

“Temani aku di acara pesta perusahaan nanti.”

“Kapan? Apa aku harus memakai long dress?” Tanya Ha In yang kini sedang membuat makan malam untuk mereka berdua dengan menu Spicy Chiken Skewer dan Squid in Black Ink Sauce.

“Tentu sayang. Aku akan memilihkannya untukmu.”

Ha In berbalik menatap suaminya yang terkesan. . . sangat mengetahui bagaimana selera dirinya. Padahal tidak sama sekali. Tapi kemudian Ha In lebih memilih untuk berbalik kembali, melanjutkan acara memasaknya saat ia tak melihat respon apapun dari Kyuhyun yang sejak tadi terus fokus pada layar ponselnya.

“Baiklah, oppa yang pilih. Selama itu bukan warna cerah, aku akan memakainya.”

“Memangnya mengapa dengan warna cerah?” Ucap Kyuhyun tepat pada telinga kiri Ha In. Memberikan sedikit getaran halus pada tubuh wanita itu. Jangan lupakan pula tangan nakal pria itu yang kini berada di pinggangnya. Membelainya, lalu memberikan sedikit remasan kecil. Membuat Ha In sedikit terperanjat kaget.

“Huh,” Ha In meniup rambutnya yang ikut menganggu dirinya saat ini, sama halnya dengan Kyuhyun. Kedua hal tersebut telah merusak acara memasaknya. “Karena aku memiliki warna kulit yang pucat oppa sayang. Jika aku memakai warna cerah, otomatis warna kulitku akan mati. Aku akan terdominasi oleh warna cerah yang ditimbulkan dari baju yang ku pakai nanti. Sehingga, orang-orang akan melihat padaku seperti sehelai baju yang bisa terbang karena pemiliknya yang tak tampak.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Ha In, menempatkan dagu lancipnya pada pundak Ha In. “Tidak akan seperti itu sayang. Tapi baiklah, biru gelap oke?”

“Ya oke. Aku suka warna itu.” Ha In dapat merasakan bahwa suaminya ini sedang tertawa dibalik tubuhnya.

“Aku yakin itu. Kau memiliki hampir separuh dari isi lemarimu yang terdominasi warna itu.” Kyuhyun menegakkan tubuhnya, tapi kedua tangannya tetap tidak mau lepas dari tubuh wanita yang ia cintai. “Aku akan membelikannya besok siang untukmu.”

“Terima kasih.” Ha In memutarkan tubuhnya menatap Kyuhyun. “Nah suamiku, sekarang, bisakah kau melepaskan pegangan ini.” Ucap Ha In sambil meraba kedua lengan Kyuhyun yang tetap tak bergerak dalam memeluk bagian tubuhnya. “Aku sudah selesai memasak. Dan aku ingin kita berdua makan. Sekarang! Jadi lepaskanlah.” Tegas Ha In pada Kyuhyun.

Kyuhyun menurut, meskipun dengan raut wajah yang terlihat kesal. “Kau menjadi sangat bossy sekarang.”

Ha In tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang sekarang sedang menarik kursi makan untuk ia duduki. “Ya, karena sekarang akulah bosnya.” Ha In ikut menarik kursi dan setelah menyecahkan dirinya di kursi tersebut, Ha In mengambil plate milik Kyuhyun. “Jika dikantor oppa adalah bosnya, maka dirumah akulah yang pegang kendali. Terutama dibagian dapur.” bisik Ha In ditelinga Kyuhyun saat akan menyerahkan kembali plate milik suaminya yang sudah terisi nasi beserta menunya.

“Ya baiklah. Asalkan istriku ini bahagia dan akupun ikut bahagia, tak masalah bagiku.” Kyuhyun baru akan mengambil suapan pertamanya saat akhirnya ia angkat bicara lagi karena teringat suatu hal yang akan ia sampaikan pada Ha In.

“Selesai makan nanti, ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa?” tanya Ha In begitu penasaran. Ia sampai menurunkan lagi sendok makannya kembali. “Katakan padaku sekarang juga.”

“Nanti sayang. Sekarang makan!” tegas Kyuhyun membuat Ha In tak bisa berkutik lagi. Padahal sedetik yang lalu wanita itu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang boss, dan sekarang? Entahlah.

*.*.*

“Bagaimana, apa kau menyukainya?”

Hari telah kembali berganti, terus bergerak maju menuju hari berikutnya. Tapi itu bukan berarti dapat membuat sebuah jaminan perubahan yang baik pada diri seseorang. Bisa saja sesuatu buruk akan terjadi pada hari tersebut. Seperti halnya yang dialami Ha In kini. Wanita itu berdiri gugup menatap cerminan dirinya yang terpantul dari cermin berukuran dua meter dihadapannya. Apakah wanita yang berdiri sejauh satu meter itu benar dirinya? Ataukah itu hanya sebuah ilusi belaka?

“Ya. Perpaduan antara dress, sepatu, dan aksesorisnya sangat sempurna. Aku menyukainya. Oppa sangat hebat memilihkannya untukku. Terima kasih.” Ucap Ha In sambil menggapai dress tersebut dibagian kedua pinggiran jahitannya, lalu menunduk penuh hormat seperti seorang permaisuri menyambut pangeran dansanya.

Kyuhyun bergerak maju menggapai pinggang Ha In. Meraihnya, lalu mencengkramnya erat. “Jangan terlalu berlebihan. Aku merasa malu kau perlakukan seperti tadi.” Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Ha In, sebelum akhirnya menutup mata dan melakukan Eskimo Kiss. Suatu ciuman yang penuh akan kasih sayang, dengan menyentuhkan kedua hidung dan menggerakkannya maju-mundur.

“Aku tak akan mengulanginya lagi.”

“Bagus.” Dengan gerakan serentak, Kyuhyun menarik dirnya segera, hingga membuat Ha In sedikit limbung ke belakang. “Aku akan kembali membiarkanu untuk bersiap lagi.”

Tak ada satupun kata yang keluar dari wanita tersebut. Yang dilakukan Ha In hanyalah menunduk malu menatap jemari kakinya yang tak beralaskan apapun.

“Aku akan menunggumu diluar sayang.” ucap Kyuhyun kembali. Pria itu kemudian bergerak menggapai daun pintu, dan keluar.

Sepeninggalan Kyuhyun, Ha In menggigit ujung jari telunjuknya cemas. Pasalnya, gaun yang diberikan Kyuhyun berada satu nomor dibawah gaun yang biasa ia kenakan. Tapi itu tak terlalu menjadi masalah. Penyebab utama ia menjadi gelisah ialah sepatunya. Sepatu jenis Pumps yang berwarna biru tersebut, membuat Ha In sedikit ngeri saat menatapnya. Karena ia tak begitu yakin dengan ukurannya, apakah itu akan pas saat dikenakan di kedua kakinya?

“Ya Tuhan.” Ha In merasakan ngilu dibagian kaki kanannya saat ia mengenakan sepatu tersebut. Tepatnya pada jemari kelingkingnya yang terasa terjepit. “Bagaimana bisa seperti ini jadinya?”

Ha In mencoba untuk berjalan. Tapi kemudian ia berhenti kembali ketika bagian betis kanannya yang terasa pegal dan sakit.

“Bagaiamana nanti jika di pesta?” ia segera melepas kedua sepatu tersebut. Meraih kotak sepatunya untuk memastikan bahwa ia telah memberikan ukuran yang benar pada suaminya.

“38? Ini memang benar ukuranku. Tapi mengapa. . . .?” Ha In kembali menatap sepasang sepatu tersebut, yang kini tergeletak tak berdaya dilantai kamarnya. “Mengapa satu sisi terasa kebesaran untuk kakiku, sedangkan satu sisinya lagi begitu menyakitkan saat aku mengenakannya? Ini sangat aneh.”

“Sayang?”

“Ya.” Ha In tak mau ambil pusing lagi. Ia segera menempatkan sepasang anting berlian dikedua telinganya, mengambil coat dan mengenakan sepatu, serta sedikit memperbaiki letak tatanan rambutnya yang sedikit kurang rapih. “Aku segera ke bawah sekarang juga.” Teriaknya. “Tahan sebentar, hanya beberapa jam. Jangan mengecewakan suamimu.” Ucap Ha In pada dirinya sendiri.

“Wow, lihatlah, kau begitu menakjubkan saat ini sayang. Tapi kau selalu menakjubkan dengan pakaian apapun yang kau kenakan. Kau begitu cantik. Sangat cantik.”

Ha In memukul suaminya kesal. “Jangan terlalu banyak memujiku. Ayo, lebih baik kita pergi sekarang juga.”

Kyuhyun dengan penuh hormat memberikan tangan kanannya untuk Ha In raih.

“Dengan segera Tuan Putri.”

“Oppa!” tegur Ha In. Ia begitu malu sekarang karena mendapatkan perlakuan yang terlalu berlebihan dari suaminya ini.

“Hahah, baik. Ayo kita pergi.”

*.*.*

Ha In memberikan senyum setengah hatinya saat tiba di pesta. Ia sungguh tersiksa, merasa tak nyaman dengan kaki kanannya.

“Sayang, ada apa? Mengapa sejak kita tiba disini kau terlihat sangat tak nyaman. Apa ada sesuatu hal yang membuatmu terganggu? Katakan padaku sekarang.”

“Ehm,” lagi-lagi Ha In meremas-remas jari-jemarinya. Ia tengah ragu, apakah Kyuhyun akan tersinggung jika ia berkata yang sebenarnya? Sakit hati? Hingga nanti pria itu tak akan lagi membelikan sesuatu untuk dirinya dikemudian hari. Ataukah ia biarkan saja? Berkata bohong lagi atau mengalihkan topic pembicaraan?

Ha In menengadahkan wajahnya yang semula terus ia tundukkan ke bawah, menatap sepatunya yang semenjak berada di kakinya menimbulkan rasa ngilu, pegal, dan sakit. “Aku hanya tak terbiasa berdiri selama ini. Bisakah kita duduk sekarang?”

“Tentu sayang. Mengapa tak kau katakan sedari tadi? Ayo, aku antar kau untuk duduk di salah satu kursi yang berada di . . . .” mata Kyuhyun berpencar ke seluruh ballroom, mencari spot yang paling bagus untuk mereka berdua. “Disebelah sana?” Tunjuk Kyuhyun pada satu set kursi dan meja yang terletak disebelah sisi kanan mereka berdiri dan dekat dengan pintu keluar.

Ha In mengangguk setuju. Kedua tangannya, segera ia gunakan untuk mengapit lengan kekar Kyuhyun. Oh, ia gunakan juga sebagai penyangga dirinya yang mungkin saja akan terjatuh nanti. “Aku akan ikut kemanapun kau memilihkan tempat duduk untukku. Asalkan kita segera kesana. Kakiku sudah tak bisa berkata lagi.” Rajuk Ha In.

“Hey, memangnya sejak kapan kakimu bisa berbicara?”

“Itu hanya sebuah peribahasa.”

“Sejak kapan?” goda Kyuhyun kembali.

“Oh oppa, ayolah.” Kyuhyun semakin dibuat tersenyum akan tingkah laku istrinya yang semakin merajuk saat ini.

Hah, akhirnya, Ha In merasa sedikit lega sekarang. Setelah berdebat dengan konyol bersama Kyuhyun tadi, akhirnya ia bisa menyecahkan dirinya di kursi. Ha In menengok kanan-kirinya, melihat ke bawah pada kain yang berjuntai, menutupi meja dihadapannya, kemudian ia segera melepaskan kedua sepatu tersebut, menyembunyikannya di bawah meja yang tertutupi kain bersamaan dengan kedua telapak kakinya.

“Kau merasa tak nyaman dengan dudukmu?”

“Hmm?” jawab Ha In tak mengerti.

“Tempat dudukmu sayang. Kau berdiri dulu sebentar, aku akan sedikit mendorong kursinya ke depan untukmu.” Ha In ikut berdiri setelah dengan panik ia memakai sepatunya kembali yang sempat bergeser menjauh dari jangkauan kakinya.

“Sekarang, duduklah.” Ucap Kyuhyun begitu ia selesai memposisikan tempat duduknya untuk Ha In. “Kau menginginkan sesuatu untuk ku ambilkan?” Tanyanya kembali setelah beberapa saat kemudian. Ia dapat melihat gelagat Ha In yang masih tak nyaman berada disini. Bisakah wanitanya bertahan untuk satu jam setengah ke depan? Berada di tempat seramai ini hingga acara ulang tahun salah satu putri rekan bisnisnya selesai?

“Tidak oppa.” jawab Ha In yang disertai gelengan kepala. “Oppa,” Ucapnya lagi.

“Ya, ada apa?”

“Memangnya untuk apa sih kita kemari? Mengapa tak kulihat satupun diantara tamu disini salah satunya adalah pengantin pria? Atau kita terlalu cepat datang kemari?” bisik Ha In ditelinga Kyuhyun.

Kyuhyun dibuat tersenyum dengan pertanyaan istrinya yang lebih mirip seperti seorang balita yang ingin tahu mengenai banyak hal. “Kita kemari bukan untuk acara pernikahan sayang.”

“Lalu?” Ha In sedikit bergeser, menatap suaminya dengan penuh tanya. “Ulang tahun pernikahan?” Tanyanya kembali.

“Bukan juga. Tapi, ulang tahun putri kesayangan Tuan dan Nyonya Jung. Jung Ah In.”

“Nyaris sama seperti namamku. Hanya penempatan huruf dan nama belakangnya yang berbeda.”

“Dan berbeda pula bentuk tubuhnya.” Ujar Kyuhyun menambahkan dengan sebuah seringai di akhir kata. Dan reaksi tersebut membuat Ha In tertarik untuk memicingkan matanya.

“Aku tahu maksud dari perkataanmu itu Tuan. Kau sungguh tak sopan pada seorang wanita. Dimana letak etikamu saat ini?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya pelan. “Aku sedang tak menggunakannya sekarang. Perhatikan ke depan. Tuan putri akan segera datang.”

Ha In ikut melihat ke depan seperti apa yang dikatakan Kyuhyun padanya. Oh, dan benar saja, Tuan Putri Jung Ah In sangat, menakjubkan. “Oppa, apa aku tak salah lihat. Itu, wanita yang berdiri disana adalah wanita yang kau maksud sedang berulang tahun hari ini?” Tanya Ha In dengan nada yang terkejut dan tak percaya.

“Ya dialah orangnya. Bagaimana menurutmu?”

“Wow, maksudku, dia sangat diluar dugaanku. Ku pikir dia gadis belia. Tapi . . . . dan, kau benar oppa, dia memiliki tubuh yang berbeda dari gadis kebanyakan. Begitu berisi, tapi tetap memiliki pesonanya sendiri. Bentuk tubuhnya tak membuat ia terliht memiliki point minus, justru dia tampak sangat elegant, anggun, berkelas, dan luar biasa memukau bagi siapapun yang melihatnya. Aku iri padanya.”

Pendapat yang dikemukakan Ha In tadi membuat Kyuhyun nyaris tak percaya. Apa wanita yang ada dihadapannya ini benar-benar Song Ha In yang ia kenal sejak dulu?

“Sayang, kau telah begitu banyak berubah.”

“Seseorang memang harus terus berubah menuju hal kebaikan. Aku sedikit tersinggung dengan ucpanmu oppa.”

Kyuhyun merangkul pundak Ha In, lalu mengacak-acak tatanan rambut istrinya. “Maafkan aku sayang.”

“Aku akan berbicara dengan beberapa teman lamaku dan rekan bisnisku. Kau tunggulah disini.” Kyuhyun yang baru saja hendak melangkahkan kakinya, menjadi berhenti karena cekalan tangan Ha In yang telah mengusik dirinya.

“Aku tak kau ajak ikut untuk berkeliling? Mengenalkanku pada teman-temanmu?”

“Tidak sayang. Kau duduklah disini. Aku tak akan lama. Lagi pula, kakimu akan terluka lebih parah lagi jika kau gunakan terus untuk berjalan. Aku hanya sebentar.” Kyuhyun pergi menemui temannya setelah ia memberikan satu kecupan manis diatas kepala istrinya.

“Mengapa dia bisa tahu?” Tanya Ha In. Ia melirik ke bawah kakinya kanannya, tepat pada jari kelingkingnya yang sudah bersemu sangat merah dan hampir lecet. “Apa secara tidak langsung aku telah menyinggungnya tadi?”

*.*.*

“Jangan langsung tidur, bangunlah.” Kyuhyun menarik kaki kedua telapak kaki Ha In, meletakkan kedua kaki itu diatas pahanya. Membuat Ha In yang hampir terlelap, kembali membuka kedua matanya dengan enggan.

“Biarkan saja oppa. Besok pagi juga akan kembali pada semula.” Ucap Ha In yang mencoba menyingkirkan tangan Kyuhyun yang menahan kedua kakinya.

“Tidak. Ini tak akan sembuh jika kau hanya membiarkannya saja. Bangunlah sebentar. Atau kau bisa tetap tidur jika kau merasa begitu lelah.”

Mau tak mau Ha In bangkit dari tidurnya, bersandar pada dashboard.

“Kau juga butuh istirahat oppa. Ayo kita tidur saja.” bujuk Ha In. Masalah kakinya tidak terlalu penting sekarang. Lebih penting kedua kelopak matanya yang tak mampu lagi untuk terbuka.

Tapi Kyuhyun tak menggubris sedikitpun apa yang diucapkan Ha In padanya. Ia tetap bersiteguh untuk meredakan memar dan bengkak yang terjadi pada kaki Ha In karena ulahnya sendiri.

“Oppa, apa menurutmu Tuan dan Nyonya Jung tidak salah melakukan pesta sebesar itu untuk putrinya? Maksudku, aku tahu setiap orang tua sangat menyayangi anaknya, tapi apa yang dilakukan oleh Tuan dan Nyonya Jung pada Ah In terbilang cukup berlebihan. Mengingat usia Ah In sudah memasuki dua puluh sembilan tahun dan dia masih melajang sampai saat ini. Seharusnya Tuan dan Nyonya Jung mengatur kencan buta untuk putrinya bukan malah mengadakan perayaan ulang tahun. Payah.” Komentar Ha In yang pada akhirnya pasrah, mengikuti keinginan Kyuhyun.

“Oh, aaaww!” Ha In mengubah posisinya menjadi duduk tegak, memadang Kyuhyun dengan marah. “Apa yang oppa lakukan dengan kakiku?” keluhnya. Ha In menghempaskan lengan Kyuhyun yang masih tetap berada kakinya.

“Maafkan oppa. Oppa hanya gemas padamu. Sini, berikan kakimu lagi.” Kyuhyun masih melihat tatapan kekesalan Ha In yang ditunjukkan pada dirinya. “Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.” ucapnya menyakinkan istrinya sekali lagi.

“Tidak. Lebih baik aku tidur. Terima kasih untuk perawatan dan PIJATAN MEMATIKANNYA.” Ha In meraih kembali selimutnya, kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya.

Kyuhyun mendesah lelah. Ia hanya ingin bercanda dengan Ha In, tapi sepertinya ia telah memilih waktu yang kurang tepat untuk melakukannya.

Kyuhyun meraih kembali kaki Ha In, melanjutkan perawatan pada kaki istrinya yang masih terlihat bengkak dan merah. “Oppa baru saja memujimu sewaktu di pesta tadi. Karena kau yang ada di pesta tadi, begitu dewasa. Kau memuji Ah In dengan tatapan penuh kekaguman. Dan kemudian, kau baru saja menghinanya begitu kejam.”

“Itu karena aku memilki beberapa pandangan mengenai dirinya. Dari berbagai aspek dan sisi.” Bantah Ha In.

“Arra. Merasa sudah baikan?”

Ha In menggangguk. Ia memutarkan badannya yang semula membelakangi Kyuhyun menjadi menghadap pada dirinya. “Ya. Terima kasih. Aku ingin oppa segera tidur bersamaku.” pinta Ha In dengan kedua tangan yang direntangkan.

“Oppa akan menyimpan benda-benda ini terlebih dahulu. Tunggu sebentar.”

Kyuhyun kembali ke atas tempat tidur setelah membereskan peralatan tadi. “Tidurlah dibawah lenganku. Seperti dalam sebuah drama.” Pinta Kyuhyun yang telah merentangkan tangan kanannya untuk Ha In.

Ha In tertawa geli mendengar apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun untuk merayunya. Drama? Memangnya sejak kapan suaminya ini menyukai drama? “Oppa, kau terlalu berlebihan. Tapi baiklah.” Ha In sedikit mengangkat tubuhnya untuk bergerak menggapai lengan dan tubuh Kyuhyun. “Apa tidak sakit? Kepalaku sangat berat oppa. Bagaimana jika esok hari kau . . . .”

“Ssstt, diamlah. Oke? Oppa baik-baik saja. Jangan khawatirkan apapun. Mari kita tidur. Tutup matamu.” Kyuhyun mulai memejamkan kedua matanya dengan tenang, sementara Ha In terus menatap langit-langit diatasnya. Entah apa yang wanita itu pikirkan sekarang.

“Oppa?” Ha In terus diam menunggu jawaban dari Kyuhyun. Mungkin saja pria itu sedang ikut membayangkan sesuatu seperti yang dilakukan dirinya.

“Oppa? Kau sudah tidur?” tanya Ha In kembali saat Kyuhyun tak juga berbicara. Ha In bangun kembali untuk melihat wajah suaminya. “Kau sudah tidur rupanya. Padahal aku ingin berbagi cerita denganmu.” Terlalu lama memandang wajah suaminya yang tengah terlelap, Ha In menjadi tertarik untuk merasakan kecupan manis pada bibir Kyuhyun, saat tertidur seperti ini.

Chup.

“Mimpi yang indah.” Ucap Ha In sebelum akhirnya ia memeluk Kyuhyun kembali dengan kepala yang bersandar pada lengan suaminya.

“Selamat tidur sayang. Mimpikan aku dalam tidurmu.” Ucap Kyuhyun dengan mata yang terpejam, tapi ia tak sepenuhnya tidur terlelap, belum.

*.*.*

“Sekarang buka kedua matamu.” Bisik Kyuhyun.

Disnilah mereka berdua sekarang. Setelah berdebat cukup alot mengenai tempat bagus yang akan dijadikan berbulan madu, akhirnya mereka memutuskan untuk berada di pulau Jeju. Ha In yang menginginkan rencana bulan madu dan program bayinya dilakukan disini. Meskipun ia harus berdebat dengan keinginan Kyuhyun untuk terbang ke negeri Paman Sam. Tapi ia bisa memenangkan perdebatan tersebut dengan bantuan kedua orang tua Kyuhyun yang mendukung sepenuhnya atas keinginan Ha In.

“Ya Tuhan.” Ha In tak bisa mengatakan hal apapun selain. . . dua kata tersebut. Apa yang tampak di depannya kini membuat ia bergidik jijik.

Ha In berbalik menatap bingung pada Kyuhyun. “Oppa?”

“Ya? Kau suka?” Kyuhyun bergerak mendekap Ha In dari belakang. Membelitkan kedua lengannya erat pada tubuh wanita yang ia cintai itu. “Itu semua bunga asli. Langsung di datangkan dari pusat budidayanya. Hanya untukmu.” Bisik Kyuhyun tepat pada daun telinga Ha In.

Jujur, Ha In sangat tersentuh atas perhatian Kyuhyun padanya yang diluar dugaan. Tapi, ini bukanlah apa yang diinginkan Ha In. Aroma menusuk yang ditimbulkan lilin aroma therapy membuat Ha In pusing, ditambah lagi dengan kelopak bunga yang bertebaran diatas tempat tidur yang akan mereka gunakan nanti, membuatnya semakin kelimpungan hanya untuk sekedar menyeimbangkan posisi berdirinya. Semua ini, hal-hal yang dilakukan Kyuhyun padanya, tak satupun masuk ke daftar kesukaannya, justru sebaliknya. Lilin beraroma therapy dan bunga adalah dua dari sekian banyak hal dibumi ini yang paling ia hindari. Ha In tak menyukai aroma yang ditimbulkan dari kedua hal tersebut.

“Oppa,” Ha In berputar untuk menatap Kyuhyun secara langsung. dapatkah ia megutarakan maksud hatinya?

“Ya sayang, katakanlah.” Bujuk Kyuhyun. Kyuhyun dapat melihat dari pancaran mata Ha In, bahwa istrinya ini sedang menahan diri untuk mengutarakn sesuatu. Ia tahu pasti akan hal itu. Dari gerakan matanya yang tak fokus, jari-jemari istrinya yang terus saling dibelitkan satu sama lain, dan juga, wajah Ha In yang terus menerus tertuduk, tak mau untuk menatap Kyuhyun lebih lama.

“Sayang, ada apa? Katakanlah padaku.” pinta Kyuhyun kembali sambil menarik dagu Ha In menggunakan tangan kanannya.

Sepertinya aku tak akan rela melihat raut wajahnya yang akan berubah. Sebagai gantinya, Ha In tersenyum manis pada Kyuhyun untuk menghilangkan sedikit kegelisahannya. Bahwa diamnya ia selama beberapa detik, bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan. “Tidak ada. Tidak ada apapun yang harus ku katakan padamu oppa. Aku hanya, aku hanya tersentuh dengan semua perhatianmu malam ini. Kau telah memperlakukanku selayaknya putri raja. Sementara aku tak melalukan hal apapun yang dapat membuat oppa . . . . ”

Ucapan Ha In segera terhenti oleh gerakan tangan Kyuhyun yang menyuruhnya untuk diam, berhenti berkata apapun itu.

“Sayang, aku adalah seorang pria. Sudah seharusnya aku melakukan hal ini pada wanita yang aku cintai. Pria manapun di dunia ini, akan melakukan hal yang sama untuk wanita yang dicintainya. Jangan lupakan itu.”

“Tapi oppa,”

“Ssttt, tidak sayang. Berhentilah berkata tapi. Aku sudah sangat bahagia kau tak menolakku setelah perlakukan kurang ajarku padamu saat kita masih seorang mahasiswa. Maafkan aku pada waktu itu. Aku hanya tak menyadari bahwa, apapun yang ku lakukan berada diluar kendaliku. Aku yang pada saat itu belum terbiasa menjalin hubungan yang begitu serius dengan seorang wanita manapun membuatku . . . . Aku hanya ingin memiliki banyak teman. Tapi yang ku lakukan malah melukai teman dekatku ini. Maafkan aku. Sungguh, aku begitu menyesalinya sampai saat ini.” lirih Kyuhyun. Oh, dia begitu malu sekarang sampai harus mengemukakan lagi siapa dirinya pada saat itu. Pria muda yang tak memiliki etika dan terkenal sebagai seorang pemain {playboy}.

“Hey, berhentilah mengungkit masa lalu. Kau tampak sangat hebat sekarang. Aku menyukai seorang Cho Kyuhyun yang pada saat masih menjadi seorang mahasiswa, pekerja bawahan ayahnya, dan seorang Cho Kyuhyun yang kini telah menjadi suamiku. Aku menyukai semuanya. Selama itu adalah orang yang sama, Cho Kyuhyun. Putra tunggal dari pasangan Tuan Cho Yeonghwa dan Nyonya Kim Hana.”

Kyuhyun menarik hidung Ha In gemas. Sedikit menjepitnya dengan keras. “Kau membuat pria ini menjadi begitu malu dihadapanmu.”

Ha In menepis tangan Kyuhyun yang tak mau berhenti untuk tidak menjepit dan menarik-narik hidungnya. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga. Sangat.” Kyuhyun mulai mendekatkan dirinya untuk mengecup Ha In. kecupan yang berakhir dengan Sandiwch Kiss setelah mencapai klimaksnya dengan melakukan French Kiss.

“Ku pikir oppa akan segera membawaku keranjang.” ucap Ha In yang diiringi gelak tawa. Oh, entahlah. mengapa ia bisa menjadi sebahagia ini sekarang.

“Tidak. Nanti malam. Sekarang mari kita lihat keseluruhan ruangan ini. Mengukur rekasimu. Apakah kau menyukainya atau tidak.”

membuat-hiasan-rumah-dari-botol-bekas

“Wow, ini semua diluar dugaanku.” Ha In termangu sekarang. Ia pikir, Kyuhyun hanya menghias atau melakukan dekorasi singkat hanya pada tempat tidunya. Tapi meja bekerja untuk mereka juga. Bukankah mereka kini tengah melakukan acara bulan madu? Tapi mengapa masih diperlukan sebuah meja, bahkan disana sudah terletak laptop miliknya.

“Oppa, kita masih perlu bekerja saat berada disini? Ku pikir kita sedang berlibur dan menjalankan rencana untuk program bayi.” keluh Ha In.

“Sayang. Kita disini memang untuk melakukan hal-hal seperti yang kau katakan tadi. Tapi aku sangat tahu kebiasaanmu itu sayang. Inspirasi selalu datang kapan saja dan terjadi secara tiba-tiba. Aku hanya berjaga-jaga jika nanti selama kita disini, kau mendapatkan banyak inspirasi untuk rancanganm. Itu saja.”

Ha In menatap Kyuhyun tak percaya. Apa yang baru saja dikatakan suaminya itu, benar-benar diluar dugaannya. Kyuhyun begitu memperhatikan hal-hal sekecil apapun untuk dirinya. Menjaga kesehatannya, mengingatkan dirinya untuk tidak telat makan siang, selalu menyiapkan segelas susu hangat sebelum tidur, dan kali ini, Kyuhyun telah menyiapkan hal yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Ha In sekalipun.

Ha In mulai dibuat berkaca-kaca oleh pria dihadapnnya. Tak menemukan sebuah kalimat apapun untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya, Ha In mengambil langkah cepat, memeluk suaminya dengan keras. “Terima kasih. Oppa bekerja terlalu keras untukku.”

“Hey, ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak hal yang bisa ku lakukan untukmu. Selama aku bisa melakukan semua ini, mengapa tidak. Aku tak akan bosan mencoba hal baru untuk membuatmu tersanjung padaku. Tidak, meskipun kau mulai jenuh.”

“Aku tak akan pernah jenuh oppa. Terima kasih.”

Kyuhyun sedikit memberikan celah diantara mereka. “Mari kita lihat apa yang terjadi dengan ruang santai dibawah sana.”

“Aku sudah tak sabar menantikannya. Ayo.” Ha In dengan cepat menarik lengan kiri Kyuhyun, keluar kamar. “Ke sebelah mana oppa? Kanan atau kiri?” tanya Ha In yang agak bingung dengan bagian rumah ini. Pasalnya yang pertama kali ia lihat adalah kamar tidur mereka yang penuh dengan hiasan kelopak bunga mawar. Karena Kyuhyun menutup matanya saat pertama kali ia sampai di pintu gerbang.

Kyuhyun tersenyum sekali lagi menyadari antusias istrinya yang sudah tak terbendung lagi. “Lewat sini sayang.”

“Wah, indah. Sangat indah. Pencahayaannya bagus. Dari sini kita bisa melihat pemandangan halaman belakang dan kau juga bisa menontonku saat berenang nanti.” ucap Ha In dengan nada bicara yang sengaja ia buat menggoda.

Dekorasi-vas-bunga-pot-tanaman-ruang-tamu

“Aku pastikan juga bahwa kau akan melihat tubuh atletisku ini yang akan menggodamu saat berolahraga nanti.”

“Owh, memangnya oppa suka berolahraga? Semenjak kita bersama, aku tak pernah sekalipun melihat oppa berolahraga. Ah, apa ini karena program . . .” Ha In menyelesaikan kalimatnya dengan bahasa tubuhnya yang menepuk-nepuk pelan permukaan perutnya. “Karena hal ini bukan.” Ucap Ha In memastikan.

“Ya.” Kyuhyun meraih Ha In dalam pelukannya. Membalikkan tubuh wanita itu agar ia bisa memeluknya dari belakang. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku hanya menebaknya secara asal. Hey oppa hentikanlah. Kau membuatku geli. Oppa!” Meskipun Ha In meminta pria tersebut untuk berhenti, tapi bukan Kyuhyun namanya jika ia tak bersikap jahil. Kyuhyun terus memeluk Ha In erat. Menggelitiki wanitanya dengan kumis dan janggut tipis yang mulai tumbuh.

“Oppa!” Ha In terus memprotes sikap Kyuhyun yang saat ini semakin menggelitikinya dengan menempatkan wajahnya dan mulai menggerak-gerakkan dagunya maju-mundur. “Hey Tuan Cho, mau kau apakan diriku ini? Oppa jangan gila.” Ha In mulai meronta dalam pelukan Kyuhyun dan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Kyuhyun saat ia menyadari niat buruk Kyuhyun. Dan byur! Ha In baru tersadar bahwa dirinya kini tak lagi dalam pelukan Kyuhyun. Melainkan sudah berada di dalam kolam renang.

“Sekarang tunjukkanlah gaya renangmu itu. Siapa tahu aku akan mulai tertarik ikut berada disana bersamamu.”

Ha In memicingkan kedua matanya, tanda bahwa ia begitu kesal akan sikap suaminya. “Bermimpi sajalah kau ini Tuan.” ucapnya sambil mulai bersiap untuk meluncur dari dalam kolam.

*.*.*

Jika di siang hari mereka gunakan untuk beristirahat, berenang, makan, setelah sebelumnya menempuh perjalanan yang cukup lama, setibanya malam hari, saat rembulan bersinar dengan terang, mereka memutuskan untuk memulai programnya. Program bayi.

“Oppa tolong ambilkan air putih untukku juga. Dua gelas.” Teriak Ha In dari dalam kamar mandi.

“Ya sayang. Apa aku perlu membawakan satu teko besar untukmu?” goda Kyuhyun dari dalam kamar.

“Tidak perlu suamiku sayang. Hanya dua gelas. Aku akan selesai sebentar lagi.”

“Baiklah.”

Kyuhyun kembali ke dalam kamar mereka saat Ha In tengah membuka uraian rambutnya yang tadi sempat ia roll.

“Rambutmu jadi ber-volume.” Puji Kyuhyun. Pria tersebut meletakkan permintaan istrinya tadi pada kabinet yang terletak di samping tempat tidur mereka.

“Aku menyukainya.” Bisik Kyuhyun sambil ikut membantu Ha In melepaskan beberapa roll yang masih melekat di rambutnya.

“Aku akan melakukan apapun yang oppa sukai.”

Kyuhyun tersenyum bahagia, merasa terhibur dengan apa yang baru saja dikatakan Ha In padanya. “Berikan sisirmu padaku. Aku yang akan menyisirnya.” pinta Kyuhyun yang kini sudah menadahkan tangan kanannya.

“Ini, lakukan dengan perlahan.”

“Tentu.”

Beberapa saat kemudian, Kyuhyun menggantikan adegan tersebut dengan menyentuh tengkuk Ha In secara perlahan dan menggoda.

“Ahh oppa, rambutku belum selesai kau sisir.” ucap Ha In yang berusaha mengendalikan desahannya yang mulai keluar. Oh setidaknya tidak pada saat ini. Melakukan hubungan intim di depan cermin? Itu terlihat sangat panas dan luar biasa malu untuk pemula seperti Ha In. Karena ia bisa menyaksikan sendiri bagaimana perbuatan Kyuhyun dapat berpengaruh begitu besar terhadap dirinya.

“Aku sudah menyelesaikannya. Sekarang kita mulai program kita. Membuat bayi.”

Ha In mencengkram erat lengan Kyuhyun yang berada di pundak dan pinggangnya. “Tidak disini oppa. Ini sangat . . . . Ahh hah hah hah.”

“Oppa!”

*.*.*

Ha In mendesah lega. Usaha yang mereka lakukan berdua akhirnya bisa berakhir juga. Ia sangat kelelahan menghadapi sikap Kyuhyun yang tak ia duga akan sesemangat ini.

“Lelah?” Ha In menggangguk, mulai mengantuk dengan sendirinya.

“Kemarilah. Tidurlah di lenganku.” Kyuhyun sedikit bergerak untuk mendekatinya, meraih kepala Ha In begitu ia telah selesai memposisikan tubuh Ha In agar menempel padanya, sangat menempel satu sama lain, seperti prangko dalam sebuah amplop. Meraih lengan kiri istrinya untuk ia simpan diatas perutnya. “Tidurlah dengan nyenyak. Aku akan menghangatkanmu.” Kyuhyun mengecup Ha In lagi. Memberitahukan pada wanita yang kini berada dalam pelukannya, bahwa ia sangat mengasihinya, teramat dalam.

Kyuhyun menurunkan sedikit wajahnya. Melakukan Eskimo Kiss yang menandakan sebagai ciuman yang penuh kasih sayang, dan berakhir dengan meraih jemari kiri Ha In yang semula ia tempatkan diatas permukaan perutnya. Mengecup jemari Ha In yang mengenakan cincin pernikahan dan tunangannya.

“Aku akan selalu menjagamu.” Bisik Kyuhyun.

*.*.*

“Selamat pagi.” Bisik Kyuhyun pada teliga Ha In.

“Oppa.” Keluh Ha In. Kedua matanya belum terbuka secara sempurna, tapi suaminya ini, melalui sikapnya, telah mampu membuat Ha In segera tersadar secara sepenuhnya. “Mengapa kau emm oppa! Hentikan.”

Ha In mendorong wajah Kyuhyun untuk menjauh darinya. Sebisa mungkin pergi dan menjauh dari cerukan leher, rahang, pipi dan pundaknya yang terbuka.

“Wae?” tanya Kyuhyun tak terima, meskipun ia sangat hapal apa yang menjadi penyebab Ha In bertindak seperti tadi.

“Kau, kumis dan janggutmu sungguh membuatku geli. Berhentilah menggelitikku oppa.” Cukup. Ha In sudah tak tahan lagi dengan perangai Kyuhyun yang semakin menjadi-jadi. Karena sekarang, pria itu tak hanya menjelajah pada cerukan leher, rahang, pipi dan pundaknya, tapi telah masuk ke dalam selimut mereka dan mengendus-endus payudara miliknya disertai gesekan halus yang ditimbulkan kumis dan janggutnya. Membuat Ha In geram karena peringatannya yang tak digubris oleh Kyuhyun sejak kemarin sore untuk menghilangkan kedua rambut halus yang tumbuh pada wajah suaminya.

“Ayo bangun.” tegur Ha In. Wanita itu bangun, menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh mereka, meraba area lantai, mengambil bra, kemeja putih milik Kyuhyun, dan underware miliknya, lalu berjalan dengan sempoyongan menuju meja rias setelah meneguk setengah gelas air putih yang masih tersedia diatas kabinet.

Berbeda dengan Ha In, Kyuhyun malah tak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya. Ia sangat mengagumi aktivitas Ha In yang baru saja wanita itu lakukan dihadapannya, dan bagaiamana cara berjalan Ha In saat memasuki kamar mandi.

“Kemarilah.” Seru Ha In di balik ambang pintu kamar mandi, membuat Kyuhyun dengan bersemangat meloncat dari tempat tidur, memakai celana pendek, dan t-shirt hitam miliknya.

“Kita akan melakukannya lagi disini?” tanya Kyuhyun dengan antusias. Ha In selalu terlihat menggiurkan, memabukkan, dan senanatiasa menggoda dirinya dengan pakaian apapun yang wanita itu kenakan.

Tanpa menunggu komandao apapun dari Ha In, Kyuhyun dengan inisiatifnya sendiri memilih untuk duduk di kursi kayu yang sudah tersedia dalam ruangan tersebut.

Tips Merenovasi Kamar Mandi Untuk Rumah Idaman Keluarga Bathroom Remodel Design Ideas

Duduk dengan tenang sambil memperhatikan apa yang dilakukan Ha In dihadapannya.

Ha In menoleh ke belakang. Melihat suaminya yang sangat tenang saat ini. Menantikan dirinya untuk bergerak. “Tidak sayang. Aku memiliki rencana lain dengan wajahmu. Melakukan sedikit perombakan.” Ucap Ha In dengan nada menggoda.

Ha In berjalan mencari peralatan mandi milik mereka, menggeledah isi tas mandi, membuka beberapa laci. Sampai akhinya ia menyerah bertindak sok tahu. “Dimana oppa meletakkan pisau cukur beserta krimnya?”

“Dalam tas koper. Kau belum mengeluarkan semua isinya bukan?”

“Ah ya, aku lupa. Tunggu sebentar. Ini tidak akan lama.” ucap Ha In sambil melenggang pergi, kembali ke kamar mereka.

“Ini dia.” Ucap Ha In sambil memperlihatkan apa yang ada ditangannya. Ha In mengambil air hangat dalam baskom kecil, handuk kecil, beserta krim dan pisau cukurnya. “Oppa bersandarlah pada dinding. Angkat kursinya.”

“Sudah.”

Dengan hati-hati Ha In mencelupkan handuk kecil tersebut ke dalam baskom, membasuh wajah Kyuhyun terutama pada bagian sekitar mulut dan dagunya

“Andai saja setiap hari kita memiliki aktivitas menyenangkan seperti ini.”

“Akan sangat membosankan bila setiap hari kita memiliki aktivitas yang sama dan dilakukan secara berulang.” jawab Ha In yang kini tengah meratakan krim pada area kumis dan janggut Kyuhyun.

“Oppa, sedikit tenggakkan kepalamu.”

“Seperti ini?”

“Ya. Tahan untuk beberapa saat, jangan bergerak.”

Kyuhyun mengangguk patuh dan tetap diam seperti yang Ha In katakan. Ia begitu menikmati kegiatannya pagi ini. Sangat berbeda, sedikit erotis dengan tatapan yang terus tertuju pada tubuh istrinya, serta gerakan tubuh Ha In yang berjalan mondar-mandir di sekitarnya.

“Sudah selesai.” Ucap Ha In bangga. Pekerjaan petamanya ini tak menimbulkan sedikitpun luka pada wajah suaminya. “Tapi tunggu oppa, wajahmu belum benar-benar bersih. Masih ada krim yang menempel pada wajahmu.” Ha In berjalan ke washtafel, mengganti air baskom dengan yang baru lagi, lalu mencelupkn handuk kecil tadi ke dalamnya, membilas bersih wajah suaminya.

Jujur, posisi dirinya yang lebih tinggi dari Ha In yang kini tengah berlutut dihadapannya, membuat ia tergoda untuk melakukan hal yang semalam lagi.

“Merasa lebih baik?” tanya Ha In yang masih setia membilas wajahnya.

“Ya. Merasa lebih baik dibandingkan hal apapun dibumi ini yang pernah terjadi padaku, selama kau yang melakukannya untukku.” Ucap Kyuhyun. Tangan kirinya kini menggenggam tangan kanan Ha In yang memegang handuk, membuat Ha In hilang fokus, dan mulai terhanyut oleh tatapan Kyuhyun padanya. Hingga akhirnya Kyuhyun kembali berhasil untuk mengecup bibir ranumnya.

Kyuhyun menyadari sikap Ha In yang sedikit menghindari dirinya. “Sudah bersih sayang. Tak ada lagi krim.” Bisik Kyuhyun.

Ha In diam tak bereaksi, sampai beberapa detik kemudian Kyuhyun mengambil alih atas dirinya lagi, ia menarik tengkuk Ha In, meraih tubuh Ha In ke dalam pangkuannya, dan melangsungkan program mereka lagi.

*.*.*

Kyuhyun dan Ha In kini berada di ruang santai, dilantai pertama. Berbalut selimut biru hangat, tubuh keduanya masih polos tak mengenakan apapun yang menutupi lekuk tubuh mereka selain berbalut selimut yang mereka kenakan.

“Oppa yakin tidak akan ada yang datang kemari? Kita tak memakai apapun saat ini.”

“Ya sayang. Villa ini milik keluargaku. Memangnya siapa yang akan bertandang ke sini. Aku telah mengusir semua petugas kebersihan, pelayan, dan keamanan untuk sementara waktu, selama kita berada disini. Jangan khawatir.”

Ha In bersandar dengan tenang pada dada Kyuhyun. dekapan yang diberikan oleh Kyuhyun membuat tubuhnya begitu hangat dan nyaman.

“Aku suka kau mengurai rambutmu.” Bisik Kyuhyun di kepala Ha In.

Ha In dan Kyuhyun sama-sama terdiam. Menikmati hembusan angin yang berasal dari pintu kaca terbuka lebar. Mendengarkan dengan cermat alunan music perkusi dari burung-burung yang hinggap di ranting dan dahan pohon. Keduanya bersepakat untuk memejamkan matanya, menghadap ke depan, menantikan mentari pagi untuk bersinar di ufuk Timur.

*.*.*

Bulan madu mereka telah berakhir. Tepatnya satu minggu yang lalu. Dan mulai Senin lalu juga mereka telah bekerja kembali. Mengisi pundi-pundi uang mereka yang telah sedikit berkurang karena program yang kemarin mereka lakukan selama hampir lima belas hari berada di Pulau Jeju.

Ha In terbangun dari tidurnya. Ia merasa kepanasan dan gatal diseluruh tubuhnya.

“Ada apa denganku?” Ha In mulai menggaruk-garuk permukaan kulitnya yang merah. Tak tahan dengan rasa gatal yang telah mengusik dirinya hingga membangunkan dirinya yang tengah tertidur tadi.

“Sial!” Ha In menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya, beranjak ke meja rias untuk sedikit merapihkan rambutnya, meraih sweater yang tergantung dalam lemari, kunci mobil, dompet dan handphone yang berada diatas cabinet tempat tidurnya.

Wanita itu berjalan dengan terburu-buru untuk menggapai daun pintu utama rumah mereka. “Semoga ibu berada dirumah sekarang.” Ucap Ha In saat memasuki mobil putih miliknya.

Begitu sampai di tujuan, Ha In langsung masuk ke dalam rumah orang tuanya, tanpa membunyikan bel terlebih dahulu.

“Ibu. Ibu, kau dimana?” teriak Ha In mulai dari pintu masuk. Ia berjalan ke area keluarga, perpustakaan, ruang makan, dapur, beranda, tapi tetap tak menemukan sosok wanita paruh baya yang dicarinya.

“Ibu.” Teriaknya kembali. Ha In semakin kesal dengan gatal dan panas pada permukaan kulitnya dan sosok ibunya yang tak muncul juga sampai sekarang.

“Hey, putriku berada disini? Bagaimana bisa kau sampai berada disini? Suamimu datang bersamamu?” tanya Nyonya Song yang baru tiba setelah berbelanja kebutuhan mereka di supermarket terdekat.

“Ibu, sekarang itu tidak penting. Lihat tubuhku. Kulitku memerah semua, gatal, dan panas. Bagaimana ini? Au sudah tidak tahan lagi.” Tanya Ha In yang masih menggaruk-garuk kulitnya yang gatal.

Nyonya Song membelakakan matanya kaget. Dengan seketika ia menjatuhkan barang bawaannya. Berlari, menghampiri putrinya segera. “Apa yang kau makan sayang? Mengapa bisa kau seperti ini lagi?” tanya Nyonya Song dengan panik.

“Aku tak tahu.”

“Jangan berbohong. Katakan pada ibu apa saja makanan yang kau makan selama seminggu ini, yang masuk ke dalam perutmu.”

“Senin kami memakan spaghetti, telur gulung. Selasa,” Ha In berpikir sebentar, mengingat kembali apa yang ia makan pada hari Selasa. “Ah, ayam panggang, omurice, kue ikan. Untuk Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu, suamiku yang memasaknya. Jadi aku memakan apapun yang telah ia sediakan untukku. Seperti pasta, dduk-galbi, kue beras, Spicy Chiken Skewers, Albodigas, dan masih banyak lagi.”

“Bagus. Sangat bagus.” Puji Nyonya Song yang sebenarnya adalah sebuah celaan. “Kau lupa jika kulitmu memliki alergi terhadap makanan tertentu?”

Ha In menggeleng dengan takut. Terlihat sangat jelas kemarahan yang tersirat dari wajah ibunya.

“Jangan makan olahan apapun yang mengandung telur, mie, dan ayam. Kau memiliki alergi terhadap makanan seperti itu. Pantas saja jika sekarang seluruh tubuhmu memerah.”

“Lalu bagaimana mengatasinya. Ini sangat menyiksaku.”

“Naik ke kamarmu sekarang. Ibu akan menyediakan susu hangat untukmu. Kita panggil dr. Han kemari.”

Ha In mengangguk, ia tak bisa lagi membantah perkataan ibunya. Ha In berjalan dengan kepala yang tertunduk menuju kamarnya yang dulu. Sedikit sakit hati dengan nada tinggi yang ibunya ucapkan tadi saat menegur dirinya.

“Sayang. Ibu sangat mengkhawatirkanmu.” Bisik Nyonya Song yang melihat kepergian putrinya dengan sedih. Ia sangat menyadari jika tadi, sewaktu menegur Ha In, nada bicaranya terlalu tinggi.

“dr. Han akan segera kemari. Kau tidur saja lagi. Ibu akan membuatkan bubur untukmu sementara kita menunggu kedatangan dr. Han.” Ucap Nyonya Song saat memberikan segelas susu hangat untuk putri kesayangannya.

“Ya bu. Terima kasih. Maaf, aku datang kemari dan langsung merepotkan ibu. Seharusnya aku bisa mengurus diriku sendiri.” Sesal Ha In.

Nyonya Song membelai putrinya dengan lembut. Mengatakan secara tak langsung bahwa ia sangat menyayangi putrinya melalui bahasa tubuh. “Tidak sayang. Ibu tak merasa direpotkan. Ibu justru kehilangan sosok putri ibu yang manis ini. Ibu senang kau datang kemari lagi. Dan ibu juga senang kau masih memiliki kepercayaan pada ibu untuk merawatmu saat kau masih sakit. Seperti sekarang.”

“Apa menantu Cho mengetahui kau berada disini?” tanya Nyonya Song kembali.

“Tidak. Oppa sudah berangkat sejak pukul lima dini hari tadi ke Ulsan. Ia memiliki jadwal bisnisnya disana. Baru akan pulang nanti malam.” Jawab Ha In.

“Dan apa kau sudah memberitahukan keberadaanmu disini?”

“Tidak. Jangan lakukan itu. Aku malu jika harus terlihat dengan wajah dan anggota tubuh lainnya yang mengerikan ini. Dia pasti akan mencari wanita lain setelah melihatku seperti ini.”

“Tidak akan sayang. Tapi baiklah, untuk sementara ibu tak akan menghubunginya. Tapi jika menantu Cho menanyakan kabarmu kemari, ibu akan memberitahukan padanya kondisimu.”

Ha In menggangguk setuju dengan apa yang dikatakan ibunya. Setidaknya ia bisa tertidur kembali dengan tenang untuk beberapa saat, tanpa memikirkan kecemasan dirinya yang akan di duakan oleh Kyuhyun.

*.*.*

Tertidur selama beberapa jam akibat obat yang diminumnya, Ha In mulai terbangun saat suara Kyuhyun terdengar di dalam gendang telinganya.

“Oppa sudah pulang?” tanya Ha In dengan sedikit bingung.

“Ya.” lirih Kyuhyun. Terdengar nada khawatir melalui kata yang keluar dari dalam mulutnya.

“Menelpon ibu?” tanya Ha In kembali. Tapi sedetik kemudian ia langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. “Oppa bisa menceraikanku jika melihat keadaanku sekarang. Aku akan segera membaik. Keluarlah.” Bujuk Ha In dari balik selimutnya, membuat Kyuhyun terkekeh geli.

“Tidak akan sayang. Memang ada apa dengan tubuhmu? Kau terlihat sangat cantik tanpa make-up saat ini. Apa aku suamimu ini tak diizinkan untuk melihat wajah istrinya yang cantik?” Tanya Kyuhyun yang sedikit mulai terhibur oleh sikap istrinya.

Ha In sedikit menurunkan selimut, menatap Kyuhyun lama untuk memastikan apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Bukan dusta, atau omong kosong belaka. “Benarkah? Tak ada lagi bintik-bintik merah ataupun warna merah padam yang terdapat pada wajahku?”

“Tidak. Tidak ada warna merah pada tubuhmu. Selain warna kulitmu yang pucat pasi sekarang.” Ucapnya kembali dengan nada sedih.

“Benarkah?” Ha In merangkul Kyuhyun segera. Memeluk tubuh suaminya dengan keras. “Berarti aku telah sembuh?”

“Belum sepenuhnya sayang.” jawab Nyonya Song membenarkan. “Kau masih harus menjaga asupan makananmu mulai detik ini. Tolong ingatkan putriku untuk menjaga kesehatannya menantu Cho.”

“Pasti ibu. Aku tak akan mengecewakanmu.”

Nyonya Song tersenyum manis pada Ha In dan menantunya. Ia kembali menutup pintu kamar Ha In setelah mengantarkan makanan untuk mereka berdua.

“Oppa maaf, ini kedua kalinya aku bertindak ceroboh. Sehingga menyusahkanmu dan membuatmu harus mengabaikan tugas kantormu.” Ucap Ha In setelah mereka berdua menyelesaikan makan malamnya.

“Ey, tidak sayang. Aku senang bisa memanfaatkan waktu senggangku bersamamu. Meskipun dengan cara seperti ini. Tapi lain kali, aku begitu berharap kita dapat menghabiskan waktu senggang kita dengan indah.”

“Pasti. Aku akan mewujudkannya saat aku sembuh nanti.” Ha In semakin menarik selimutnya ke atas. Dia sangat kedinginan sekarang.

“Tidurlah dengan nyenyak sayang.” Kyuhyun mengecup dahi Ha In sekali lagi. Oh, bahkan ia ingin melakukannya berulang kali. Memeluk istrinya erat, memberikan kehangatan.

*.*.*

“Sayang,”

“Ya.” Ha In terus memainkan jari jemari mereka yang kini saling bertautan satu sama lain. Mereka kini tengah berada di halaman belakang rumah. Berada pada satu kursi jemur yang sama dengan Ha In yang berada dipangkuan Kyuhyun, berbagi selimut hangat bersama, memandang rerumputan hijau, pohon palawija dan bunga-bunga yang begitu segar setelah terguyur hujan beberapa menit yang lalu. Dan Ha In telah sembuh sekarang. Ia telah memulai kembali aktivitasnya sejak dua hari yang lalu.

“Mengapa tak kau katakan dari awal bahwa kau memiliki alergi akan beberapa benda dan makanan?”

Ha In menjawab santai pertanyaan yang Kyuhyun ajukan padanya, sambil tetap mempermainkan jemari Kyuhyun yang memakai cincin yang sama, yang terdapat pada salah satu jemari kirinya. “Karena aku juga baru ingat sekarang oppa. Jangan merasa begitu menyesal.”

Ha In merubah perhatiannya yang kini tertuju pada wajah Kyuhyun. Membelai bekas tipis kumis dan janggut Kyuhyun yang telah hilang berkat ulah dirinya pagi itu. Pagi yang sungguh mengagumkan setelahnya. Ha In masih mengingat memori itu sampai sekarang, lebih tepatnya, ia selalu teringat moment itu jika menyentuh bagian tersebut.

“Aku tak ingin masalah sekecil apapun dapat menggoyahkan atau bahkan menghancurkan hubungan kita berdua. Mengenai diriku, aku baru ingat jika ada beberapa hal yang tak seharusnya aku makan. Sungguh. Baru kali ini lagi aku merasakan kembali gatal-gatal dan panas pada area kulitku. Ditambah dengan ruam yang merah. Aku akan berhati-hati lagi lain kali.”

Kyuhyun meraih lengan Ha In yang terus mengelus dagunya. “Sejak kapan kau memilikinya? Apa salah satu orang tuamu memiliki bakat tersebut?”

“Ibuku bilang sejak aku berusia dua tahun. Awalnya kulit wajahku akan merah padam jika aku memakan telur. Tapi aku yang nakal ini, tak menghiraukan ucapan dokter dan ibu, dan alergiku malah semakin parah. Aku tak lagi alergi terhadap telur jika memakannya sampai beberapa kalipun. Tapi tubuhku akan segera bereaksi dengan cepat jika aku memakan mie terlalu banyak dan ayam. Aku juga memiliki alergi terhadap tungau. Kau tahu oppa,” Ha In kini memelas dalam menatap Kyuhyun. “Terkadang ibu terlalu banyak melarangku melakukan banyak hal saat aku kecil. Kulit sensitifku ini membuatku tak bisa banyak bermain. Aku tak bisa main ke sungai mencari ikan, tak bisa bermain tanah berlumpur, dan masih banyak lagi. Tapi aku sadar, itu semua karena ibu sangat mengkhawatirkanku dan ingin menjagaku terus dari kemungkinan sekecil apapun yang dapat membuatku alergi lagi. Dan ibu juga memiliki bakat alergi itu. Terlihat sangat jelas, ada lingkaran hitam dibawah kelopak matanya. Sepertiku.”

“Baiklah. Aku mengerti. Sekarang aku dapat mengantikan peran ibumu untuk memperingatikanmu dan memantau semua asupan makanan apa saja yang masuk ke dalam mulut ini.”

“Oh diamlah oppa. Jangan menarik-narik bibirku. Yang nantinya akan memerah dan bengkak. Oppa!”

“Arra sayang.” Kyuhyun melepaskan lengannya yang menarik bibir Ha In, menggantikannya dengan sebuah pelukan erat pada tubuhnya. “Aku sempat berpikir bahwa, aku suami yang buruk. Membiarkanmu jatuh sakit kembali. Tapi kau tak mengeluh sedikitpun padaku ataupun mengatakan keluh kesahmu selama ini akan sikapku. Apa kau merasa menyesal telah menikah denganku?”

Ha In meraih kedua lengan Kyuhyun, ia menempatkan kedua lengan tersebut untuk memeluk dirinya. Ha In kini mengembalikan posisi dirinya, membelakangi Kyuhyun sehingga ia bisa bersandar pada tubuh pria tersebut. Lalu meletakkan kedua lengannya diatas lengan Kyuhyun.

“Jika aku menyesal telah menikah denganmu, sudah sejak sembilan bulan yang lalu aku mengatakannya padamu. Dan mungkin saja sekarang kita sedang berada di dalam rumah yang berbeda dengan menunggu surat keputusan dari pengadilan. Apakah oppa mau itu terjadi pada kita?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya heran padamu. Kau tak pernah sekalipun mengatakan keluh kesahmu akan sikapku yang menjengkelkan. Terutama dengan bunga-bunga itu.” Kyuhyun berucap dengan sedih.

“Kau menginginkanku seperti teman pasanganmu yang bernama Hae Rin?” Tanya Ha In yang dijawab gelengan kepala dari suaminya. “Dia terus menerus mengomel pada temanmu, seperti yang oppa bilang padaku.”

Ha In sedikit menghela nafas. Mengambil sejenak jeda untuk dirinya bisa berbicara kembali. “Oppa, kau tahu mengapa banyak pasangan yang dimabuk cinta lalu mendeklarasikan cinta mereka berdua dengan megahnya tapi beberapa saat kemudian mereka berpisah? Karena mereka terlalu banyak mengeluh tentang kekurangan ataupun kesalahan pasangannya. Terutama seorang wanita sepertiku. Seperti yang Hae Rin lakukan.” Bisik Ha In.

“Tapi sayang, tetap saja,”

“Ssttt, diam oppa. Nyonya muda Cho ini sedang berceramah. Dengarkanlah dengan baik.”

“Oke.”

“Ya, memang akupun memiliki beberapa keluhan untukmu. Tapi, itu bisa ku atasi. Aku tak ingin hubungan kita renggang atau bahkan kita mempertengkarkan sesuatu hal kecil yang sebenarnya tak perlu di pertengkarkan. Meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa `pertengkaran adalah bumbu dari sebuah percintaan` tapi jika terlalu banyak bertengkar juga sangat berbahaya untuk keberlangsungan suatu hubungan.”

“Aku setuju dengamu.” Kyuhyun menarik dagu Ha In ke belakang, tanpa banyak berkata lagi, ia segera mengecup bibir Ha In. “Terima kasih. Seperti apa yang kau katakan tadi sayang, mari kita hidup tanpa saling mengeluhkan kekurangan dan kesalahan kecil yang kita miliki.”

“Ya, agar kita bisa hidup bersama selama mungkin, hingga maut memisahkan kita.”

*.*.*

Tiga bulan kemudian.

Tepatnya, empat belas bulan usia pernikahan mereka.

“Aaaaa.”

“Ada apa sayang?” Kyuhyun bangun dari tidurnya dengan denyutan yang cukup hebat berasal dari kepalanya. Karena ia bangun secara serentak.

“Oppa,” Ha In menatap Kyuhyun resah. Seluruh tubuhnya bergetar secara tiba-tiba, dan suhu tubuhnya menjadi dingin. “Mengapa perutku buncit? Apa selulitku kembali lagi?”

Istrinya berteriak sepagi ini hanya karena sebuah selulit? “Jika itu selulit, perutmu akan membentuk lipatan-lipatan.”

Ha In menatap Kyuhyun dengan malas. Yang benar saja! “Sayang, aku sedang berdiri sekarang. Jika aku duduk, baru akan tampak lipatan tersebut.” Ha In menutup kloset duduknya menggunakan penutup kloset tersebut sebagai alas tempat duduknya. “See?”

“Aku melihatnya. Tapi tak ada sedikitpun lipatan dalam permukaan perutmu.” Ucap Kyuhyun yang ikut memperhatikan perut istrinya semakin dekat. Ia bahkan sampai berlutut dihadapan Ha In untuk memastikan kebenarannya.

“Apa mungkin. . .”

“Apa mungkin?” Ulang Kyuhyun mengcopy ucapan Ha In.

Ha In menjadi gelisah tanpa sebab sekarang. Pancaran matanya bergerak liar menatap kedua bola dihadapannya yang sendu dan penuh kekhawatiran.

“Aku terkena suatu penyakit mematikan?”

Kyuhyun bernapas lega. “Eiy mana mungkin. Jangan mengada-ngada. Kita tidur sekarang.” Kyuhyun menurunkan kemeja miliknya yang dikenakan Ha In. Kemudian menggenggam kedua telapak tangan wanita yang dicintainya. “Sayang, kau hanya terlalu lelah hingga berpikir yang tidak-tidak. Apapun yang terjadi disini,” Kyuhyun meraba permukaan perut Ha In kembali, sedikit mencengkramnya setelah melakukan beberapa kali belaian. “Aku berharap itu hal baik. Jika sekalipun ini adalah gumpalan lemak, aku tak akan menjauhimu lantas memandang wanita lain jika itu yang kau khawatirkan. Kau akan tetap bersamaku, dan aku tak akan melepaskan pandangan kedua bola mata ini darimu. Percayalah.”

“Aku percaya. Maaf, telah meragukan dirimu oppa.” Ha In ikut menempatkan kedua tangannya pada punggung tangan Kyuhyun yang masih setia berada di atas perutnya. “Kau benar. Aku hanya terlalu lelah. Sama sepertimu. Apapun yang terjadi pada perutku, aku berharap ini adalah pertanda baik.”

Kyuhyun tersenyum lembut pada Ha In. “Nah, istriku telah kembali. Sekarang, ayo kita tidur kembali. Ini baru pukul satu empat lima {01.45 AM} dini hari.”

Ha In menurut pada ucapan Kyuhyun. Ia kembali masuk ke dalam kamar, berbaring diatas tempat tidur dalam pelukan Kyuhyun. Tapi, saat Ha In mencoba memejamkan matanya, ia ingat akan suatu hal mengenai perutnya.

Menyingkirkn lengan Kyuhyun beserta selimut yang membungkus tubuh mereka, Ha In merogoh ke dalam laci teratas yang berada di kabinet sebelah kanannya. Mencari ponsel miliknya.

“Ibu!” teriaknya. Menganggetkan orang yang berada diujung sana dan suaminya yang baru saja kembali terlelap.

“Song Ha In!” ucap Nyonya Song dan Kyuhyun hampir bersamaan.

“Ha In. Ini terlalu pagi untuk melakukan sebuah komunikasi. Tidak bisakah kau menunggu setidaknya sampai matahari terbit, baru menghubungi ibu?”

“Tidak ibu. Dan maafkan aku sayang. Tidurah lagi.” ucapnya pada Kyuhyun yang kini duduk disamping, merajuk, kesal.

“Ibu aku hamil. Aku sedang mengandung cucumu.”

“Jangan bercanda.” komentar Nyonya Song yang masih sedikit kesal dan belum tersadar sepenuhnya.

“Aku tidak bercanda.”

“Benarkah? Aaa yeobeo cepat bangun. Ha In mengatakan dia sedang hamil saat ini. Hey yeobeo bangun. Hain-ah, nanti siang kau mampirlah kemari bersama Kyuhyun. Ibu ingin memastikanya sendiri.” Ucap Nyonya Song dengan antusias.

“Baik. Maaf telah mengganggumu ibu, di pagi buta seperti ini.”

“Tidak apa sayang. Ibu senang kau memberitahukannya segera mengenai kabar baik ini. Jangan lupa nanti siang.” Ucap Nyonya Song mengingatkan kembali putrinya.

Sambungan telah terputus. Tapi seseorang yang berada disamping Ha In terlihat bingung dan masih belum mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Kau hamil?” tanya Kyuhyun memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Tentu. Kau ingin aku membuktiknnya. Kita bisa memastikannya dengan tes kehamilan. Aku telah membeli beberapa alatnya.”

Kyuhyun memeluk Ha In erat. “Tidak perlu sayang. Kita bisa langsung membuktikan kebenarannya sekaligus memeriksa keberadaannya di dalam sini.” Jawab Kyuhyun dengan tenang. Kesadarannya telah terkumpul seratus persen. “Aku ingin melihat dia sudah sebesar apa sekarang. Mengingat perutmu yang mulai membuncit.”

“Terima kasih telah memberikan kebahagian lain untukku. Aku akan lebih menjagamu dan bayi kita mulai detik ini. Ingat, jangan terlalu banyak bekerja.”

“Ya. Tapi aku tetap diperbolehkan bekerja dalam batas sewajarnya bukan?”

“Aku tak akan menghalangi aktivitasmu, selama kau tahu batasan untuk dirimu sendiri dan tak membahayakan bayi kita.”

Ha In mengangguk paham. Hari ini adalah dua kali paginya yang terindah yang pernah mereka dapatkan setelah insiden membersihkan kumis dan janggut Kyuhyun sebelumnya. Mereka tak mengubah posisinya sekarang, tetap bersandar pada dashboard, saling berpelukan dengan mata yang terpejam. Berharap bahwa esoknya akan semakin indah untuk mereka lewati bersama.

*.*.*

The End

Terima kasih telah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca postingan ini. Berharap tidak terlalu mengecewakan.

Advertisements

2 comments

  1. Aku fikir tadi nya ada yg bakalan ngebuat ha in dan kyu marahan disebabkan kyu ketemu mantan pacar atau apa hehehhe:D ha in emang istri idaman menahan sakit demi terlihat baik** saha di depan suami + ghak mau ngecewain suami wkwkwkkw:D huaaaaaaaa congratulation buat kyuin:D ditunggu saat ** hain nyidam nya buat kyu kelimpungan kyu nya baby cho faigting;)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s