Satu Zat, Dua Perbedaan

 

 

Saat ku coba merangkai sebuah kata dunia,

Dunia putih melarangku

Menghapus semua kata, kalimat, dan paragraf yang telah ku susun rapih

Dia marah padaku

Menegurku dengan mata elangnya yang menukik tajam

“Bagaimana bisa kau bertindak seperti itu?”

Membuatku menunuduk malu, dan tak bisa berkata lagi

Berpindah pada lain haluan,

Aku tetap menentang dunia putihku

Membuatku semakin gila

Membandingkan antara dunia fana dan realita

Apa yang harus ku lakukan?

Aku mencari dan terus mencari arti dari sebuah makna yang sedang ku pelajari

Mengharapkan sebuah solusi, ataupun narasi yang berarti

Tapi tetap tak ku temukan jalan yang benar

Jalan yang menetapkan antara hubungan minyak dan air itu saling berkaitan

Setidaknya, tak saling membelakangi satu sama lain

Tapi semuanya terlalu jelas untuk dilihat

Minyak adalah minyak, cairan kuning keemasan licin yang sedikit mengental

Sementara air tetaplah air, yang selalu mengalir, begitu jernih, putih, nan suci

Memarahi semua orang bukanlah hal yang tepat, yang dapat ku lakukan

Terus memandang semua akan adanya persamaan, jelaslah salah

Karena semuanya berdiri pada pondasinya masing-masing

Dan tak dapat dipandang sama dari perspektif manapun

Tetapi, bagaimanapun jua,

Aku tetap melakukan hal yang salah walaupun aku tahu itu tak dapat dibenarkan

Menumpahkan minyak yang licin, diatas pertentangan air yang mengalir jernih dibawahnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s