The String of Sentence for U

Teruntuk ibuku yang kini berusia senja,

Ibu, terlalu banyak kata yang tersusun dalam benakku. Terangkai menjadi berbagai kalimat yang berupa pertanyaan yang ingin ku sampaikan, tapi tak sampai nyali ku ungkapkan semuanya padamu.

Ibu, jika aku berpikir, mengulang semua masa-masa ku sebelum akhirnya aku sampai berada di titik ini, aku selalu merasa marah padamu. Marah padamu yang terlalu banyak melarangku melakukan hal ini dan itu, terlalu banyak menetapkan aturan yang aku sendiri tak pahami waktu itu. Yang membuatku terkadang ingin berteriak, mengatakan mengapa kau setega itu padaku? Karena mungkin aku tak akan memiliki teman lagi jika terlalu banyak aturan yang kau tetapkan padaku.

Tapi ibu, kini aku pahami hal itu. Aku begitu berterima kasih padamu yang telah membuatku mengukur kemampuan diri sendiri. Tentang, sejauh mana aku menyadari akan kondisi tubuhku sendiri. Mengenai aku yang tak boleh selalu bergantung padamu, aku yang harus mandiri, aku yang harus tetap diam jika tak bisa melawan semua orang yang mencercaku, terutama, mengenai kepercayaanmu padaku untuk bertindak, memilih dan mengambil sendiri dari sebuah resiko apa yang akan aku hadapi ke depannya.

Ibu, hal lain yang selalu membuatku menangis ialah, kau yang terlalu memihak pada kakak. Mengapa tak padaku? Mengapa aku yang selalu di nomor sekiankan? Tapi ibu, sekali lagi aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Seorang pendidik mengatakan bahwa, “Manusia tak akan pernah bisa adil, termasuk dalam membagi kisah cinta mereka.” Dari sanalah aku belajar untuk tak lagi menyalahkanmu. Belajar dengan diriku sendiri dalam sebuah ruangan hampa yang penuh dengan berbagai teori yang berkecamuk dalam benakku dan pertentangan antara logika dan hati. Aku mengerti itu kini. Maaf, karena aku begitu lambat mencari tahu akan segala sesuatunya.

Ibu, jikalau kau selalu mengatakan mengenai perbedaan kami yang cukup jelas, itu membuatku bangga sekaligus kesal. Bangga akan kemampuanku yang selalu kau puji, tapi menjadi kesal saat kau mengatakan bahwa dalam pendidikan kakak lah yang unggul. Bu, bakatku terletak pada bidang seni, bukan sciene seperti kakak, dapatkah kau menerima akan hal itu? Menerima bahwa seni merupakan bagian suatu keterampilan yang perlu dibanggakan? Tapi tentu tidak, aku paham akan hal itu. Karena dimata orang tua, bidang akademik lah yang menentukan segalanya dibandingkan apapun.

Bu, jika saja sebuah kata yang terangkai dalam bentuk kalimat membentuk syair yang merdu, aku ingin menuliskannya untukmu. Tapi kurasa aku belum bisa sampai pada tahap itu. Maafkan aku.

Ibu,

Terima kasih karena telah berjuang untuk melahirkanku di tengah ketidak berdayaanmu. Di tengah tajamnya pedang kehidupan yang pada saat itu menghunusmu. Tapi kau tetap menjagaku, dan membimbingku. Membawaku melihat dunia yang lebih luas dari rahim hangat yang berada dalam perutmu. Mengajaraiku berbagai hal, mengenalkanku pada seseorang yang begitu memahamiku hingga sampai saat ini. Walaupun tingkat kecerdasan mulutnya yang tak berhenti berbicara membuatku ingin menutup kedua telinga ini. tapi ibu, tanpa bantuanmu waktu itu, mungkin aku tak akan bertemu dengan beliau. Kau yang terlalu sibuk dengan pekerjaan membuatku bermain sendiri dengan dunia yang ku bangun sendiri. Tapi kemudian beliau datang menghampiriku dan mengajakku untuk bersosialisasi, berkeliling menyusuri alam liar, membuatku banyak bertanya padanya mengenai apa yang ku lihat. Dan yang paling ku ingat ialah, pelajaran bernyanyinya saat aku diam tak bersuara. Sekarang aku baru bertanya-tanya, apa beliau hendak menjadikanku seorang penyanyi? Mengapa selalu mengajakku untuk selalu bernyanyi? Tapi sampai sekarangpun aku tak terlalu pandai bernyanyi. Aku lebih suka mendengarkan orang lain bernyanyi.

Ibu, semua cerita yang ada pada diriku sampai sekarang, tak akan pernah terjadi jika kau tak ada. Mungkin sebuah kalimat buruk ini tak akan cukup untuk mengambarkan perasaanku padamu. Hubungan kita yang lebih terlihat seperti seorang teman bukan orang tua. Aku menyukainya. Aku menyukai bahwa ibu dan ayah tak memaksaku untuk bersikap sangat formal. Kau bahkan selalu membiarkanku mengajukan pendapat dalam sebuah diskusi keluarga ataupun topik lainnya. Tahukah ibu perasaanku pada saat itu? Aku merasa bangga. Bisa diterima dalam pandangan orang dewasa meskipun usiaku sepertiganya darimu. Mungkin hal itu pulalah yang memicuku ingin selalu berkumpul dengan orang dewasa, mereka selalu melihat ke depan akan setiap permasalahan yang terjadi pada mereka. Bukan seperti anak gadis kebanyakan yang tertimpa masalah lalu murung, dan menyalahkan beberapa pihak di dalamnya.

Ibu, aku juga berterima kasih padamu akan setiap sikap dan pelajaran mendidikmu yang tegas. Kau mungkin menetepakan bahwa hubungan anak dan orang tua harus seperti seorang sahabat, tapi kau juga bisa menempatkan dirimu untuk bersikap tegas padaku. Terima kasih untuk segala hal yang indah terjadi padaku. Aku selalu ingin memandangmu layaknya intan permata yang berharga. Meskipun, terkadang dunia selalu memberikan banyak goresan pada dasar permukaannya. Tapi aku selalu berusaha memandangmu tanpa cela.

Ibu, tak perduli hari apapun ini dan tanggal berapa aku menuliskan untaian kata ini, kau tak perlu tahu, bahwa setiap harinya bagiku adalah hari ibu. Hari dimana aku harus selalu menjadi kebanggaanmu, hari dimana aku harus selalu membuatmu tersenyum, dan hari dimana aku harus selalu membuatmu bahagia dengan tindakan sederhanaku.

 

By. Hain-ie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s