Sowing {Chapter 1}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – Complicated – PG-17||

Length: Chapter|| Author: hyunhyunie||

*.*.*

Ha In terpaku saat menatap layar komputer di hadapannya. Berkali-kali ia mencoret panjang kalimat dan angka yang tertera pada lembaran kertas dari mapnya. Laporan keuangannya harus dirombak ulang. Ada beberapa hal yang harus dihilangkan dan juga ditambahkan ke dalam data Pembangunan Cabang baru di daerah Ilsan.

Jika saja sang kepala keuangan tidak sedang sakit, mungkin beban Ha In tak separah ini. Ini karena Ha In merupakan orang yang paling dapat dipercaya dan diandalakan di dalam departement-nya. Departement keuangan. Sehingga dialah yang tadi menjadi pengganti Kepala Gwon di dalam rapat perusahaan.

“Hei, kau tak percaya pada ucapanku hmm? Presdir dari perusahaan itu jelas menyukaimu. Akh, setidaknya dia tak pernah mengalihkan perhatiannya darimu sedikitpun saat itu.” Dana yang berasal dari departement perencanaan datang begitu saja ke dalam ruangan Ha In. Ia bersiteguh akan membuat Ha In mengalihkan dunia keuangannya.

“Diamlah Kim. Hanya pada saat rapat saja. Dan itu tak bisa dijadikan sebagai dasar dari atas argument-mu itu.” Berganti pada halaman berikutnya, halaman ke tiga puluh lima, Ha In tetap fokus pada apa yang dikerjakannya. Tanpa terganggu sedikitpun oleh ucapan Kim Hae Ri.

“Tapi bukan hanya,”

Sebelum dapat berkata lebih jauh lagi, Ha In segera memotong ucapan Hae Ri yang semakin lama membuat dirinya kesal sendiri. “Jika kau ingin terus menggangguku, setidaknya berikan segelas yoghurt untukku.”

Pria dengan tinggi diatas seratus delapan puluh centi itu tersenyum akan tingkah wanita pujaannya. Seorang wanita yang membuatny berpikir bagaimana rasanya menjadi seorang ayah dari buah hatinya bersama wanita tersebut.

Hae Ri berbalik setelah ia berdecak kesal karena ucapannya tak mendapatkan respon yang positif dari Ha In.

“Tu-” Hae Ri terdiam di tempat. Pria yang sejak tadi ia bicarakan berada dihadapannya kini. Dan ia tak mengetahui keberadaan pria itu sedari tadi. Dan sudah berapa lama pria itu berdiri di ambang pintu ruangan temannya ini. Berdiri dengan posisi setengah bersandar pada tiang pintu dengan kedua tangan yang terlipat serta ekspresi wajahnya yang tak bisa terbaca. Oh, yang jelas ia tengah mengagumi wanita bermarga Song. Karena itulah yang baru ia tahu mengenai wanita itu. Selebihnya? Mungkin teman dekat wanita itu, yang berasal dari departement perencanaan dapat membantunya dengan senang hati.

“Kemarilah.” Pinta Kyuhyun pada Hae Ri.

“Biarkan aku yang membuat apa yang ia inginkan. Kau tinggal mengatakan apa yang harus ku lakukan.”

Hae Ri hanya dapat mengangguk kaku memenuhi permintaan Kyuhyun. Dengan Kyuhyun yang memimpin jalan, Hae Ri dan Kyuhyun memasuki area pantry karyawan.

“Jadi apa yang harus ku lakukan.”

“Ini kuncinya.” Ucap Hae Ri pelan. Telapak tangan kanannya menunjukkan sebuah kunci kecil dengan buah apel yang tebuat dari besi sebagai gantungannya. Dan juga, kura-kura biru dengan lonceng kecil menghiasi kunci loker Ha In.

“Apa ini?”

Hae Ri mengendikkan bahu kirinya enggan. Haruskah ia mulai membongkar bagaimana temannya sekarang?

“Ha In, ia tak suka jika semua peralatan minumnya dan juga makanannya bercampur dengan yang lain. Tapi di dalam sana, hanya ada tersedia yoghurt dan beberapa cangkir minuman saja. Yang jelas, selama benda itu milik Ha In, maka tak ada satupun yang boleh memakainya secara bebas. Tanpa terkecuali.”

“Terlalu higienis.” Komentar Kyuhyun.

Kyuhyun kembali ke dalam ruangan Ha In sementara Hae Ri memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Sama halnya dengan Ha In, ia juga perlu merevisi ulang semua data yang akan diperlukan untuk Pembangunan Cabang baru di Ilsan. Apalagi dengan posisinya yang bertugas sebagai kepala Perencanan. Membuat ia harus lebih bekerja keras dan memiliki dedikasi yang tinggi di perusahaan C’World Group. Perusahaan yang bekerja di bidang Hotel, Montel, dan Resort yang dipimpin oleh Presidir Muda Choi Siwon. Teman seklaigus rekan bisnis Kyuhyun sejak mereka di berada di bangku sekolah atas.

“Terima kasih.” Ha In segera meminum juice yoghurt strawberry tersebut tanpa melihat siapa yang mengantarkannya.

“Apa yang kau pikirkan mengenai pria itu?”

“Pria mana yang kau maksud? Oh, jangan bilang kau juga mendengar gosip baru mengenaiku? Hae Ri yang mengatakannya padaku Shim?”

“Aku hanya menduganya. Kau tak penasaran seperti apa dia?”

Ha In kembali berkali-kali melihat statistik jangka panjang yang akan perusahaan C’World dapatkan jika mereka membangun Resort dan Hotel baru disana. “Aku lebih tertarik dengan tingginya statistik maksimum, yang akan perusahaan ini dapatkan jika pembangunan ini sampai terwujud.”

“Aku yakin semua hal akan berjalan dengan lancar. Justru kau harus memikirkan bagaimana caranya dapat membujuk Presdir dari perusahaan Yeonghwa Group. Bukankah Persdir itu masih belum memutuskan kerja samanya karena seorang karyawan dari departement keuangan yang tak bisa membuat laporan dengan benar.”

Ha In tahu dengan pasti bahwa yang pria itu bicarakan mengenai dirinya.

“Aku tahu aku salah. Dan sekarang aku sedang memperbaikinya. Jadi bisakah sekarang kau meninggalkan aku? Dan satu hal lagi, berhentilah berkata apapun mengenai Presdir itu. Dia membuatku kesal setengah mati dengan tatapan dan komentarnya.”

“Jadi kau memperhatikan juga bagaimana cara dia menatapmu.”

“Itu lebih mirip seperti mengawasi seseorang dibandingkan dengan menatap seseorang.” Ha In menekan tombol enter dengan keras. Ia kembali teringat wajah Presdir dari perusahaan itu.

“Bagaimana jika dia mencintaimu.”

“Shim? Pertama, aku hanya seorang asistent rendahan dari departement keuangan. Kedua, aku tak percaya dengan fairy tale yang dibuat untuk menyenangkan hati seorang anak perempuan. Ketiga, aku tak suka berhubungan dengan orang-orang kelas atas sepertinya. Dan ke empat, aku berani bertaruh bahwa ia tak pernah memiliki perasaan sedikitpun pada wanita sepertiku. Puas?”

“Nona Song, ada beberapa hal yang perlu ku beritahukan padamu. Pertama, kau jelas bukan seorang asistent rendahan. Kau cantik, muda, berambisi, pekerja keras dan paling penting kau cukup berkompeten dalam bidang ini. semua orang tahu bahwa kau tak bisa dipandang sebelah mata. Kedua, fairy tale memang dibuat untuk membahagiakan anak perempuan, tapi ada kalanya cerita tersebut menjadi sebuah kisah nyata yang menyentuh beberapa orang di dunia ini. Ketiga, baru bisa menilai seseorang jika kau sudah mengenalnya. Aku yakin dia bukan pria yang buruk untukmu. Dan ke empat, apa yang akan kau pertaruhkan jika ia benar-benar jatuh hati padamu, bahkan ku dengar ia ingin segera memiliki seorang anak darimu.”

Ha In meremas seluruh kertas yang tengah ia periksa. Cukup sudah temannya nyaris membuat ia meledak di tempat. “Hey Shim! Arah pembicaraanmu sungguh keterlaluan.” Memutar kursi duduknya, Ha In menemukan sosok lain yang sekarang berdiri dihadapanya.

“Hai Nona Song. Selamat bertemu kembali.” Sapa pria tersebut yang merupakan Presdir dari perusahaan konstruksi Yeonghwa Group. Presdir Muda Cho Kyuhyun.

“Kau? Untuk apa kau berada disini? Tidakkah kau seharusnya menjaga semua material bangunan tetap berkwalitas sampai ke tujuan?” Mengendalikan diri. Itulah salah satu kelebihan Ha In. Ia tak gentar melawan siapapun itu. Termasuk pria yang berpengaruh dihadapannya.

“Aku? Aku disini tentu saja untuk berbisnis dengan rekan satu teamku. Yaitu kau. Dengar Miss Song, aku bersungguh–sungguh dengan ucapanku tadi. Dan akan ku pastikan kau menjadi istrku dalam satu bulan ke depan camkan itu.”

Ha In tak berkutik sama sekali di tempatnya. Entah bagaimana ia harus menghadapi pria bermarga Cho ini. jelas-jelas dirinya hanyalah seorang asistent biasa, dan bagaimana pria tersebut bisa terpikat kepadanya?

Kyuhyun melangkah maju, mendekatkan wajahnya untuk menatap Ha In seintim mungkin, lalu beralih pada daun telinga kiri wanita itu. “Dan akan ku pastikan kau segera mengandung anakku. Anak kita.” Bisiknya dengan suara yang lembut namun penuh penekanan dari setiap kata yang diutarakannya.

Chup, Kyuhyun mendapatkan ciuman pertama Ha In dengan hitungan detik. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus pipi plum Ha In yang telah bersemu merah.

“Sampai lusa sayang. Aku akan mengunjungimu nanti.”

Ha In tercekat. Tenggorokannya nyaris membuat ia mati, merasakan perasaan sesak seperti terlilat tumbuhan merambat yang mencekik lehernya.

Pria itu pergi begitu saja setelah membuatnya berada dalam kebingungan. Seluruh otot dalam tubuhnya menegang, membuat alira darah pada vena dan arteri sedikit terganggu. Dan itu semua diakibatkan oleh ulah pria itu. Seorang pria yang membuatnya harus merevisi ulang akan kinerja perusahaan C’World, dan pria itu juga yang mengatakan hal konyol akan pernikahan.

Menikah? Ha In tak menyetuji hal itu. Bagaimana ia bisa menikah dengan pria asing rekan dari Presdir tempatnya bernaung sekarang?

*.*.*

“Hei!” Hae Ri datang bersama Dong Eun menemui rekan kerjanya. Menyambut Ha In di pagi hari. Ha In menoleh sebentar pada teman prianya. Sekarang benar-benar sosok Shim Dong Eun lah yang berdiri dihadapannya kini, bukan pria itu lagi.

“Aku mendengar bahwa, dia melamarmu?”

“Benarkan apa yang ku katakan Ha In-ah. Dia tipikal pria yang sangat ambisius, tak jauh berbeda sepertimu.”

“Hei, berhentilah mengatakan yang tidak-tidak untukku. Dia . . .” ucapan Ha In terputus saat sebuah nada pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.

From:

Ini adalah rumah baru kita. Kemasi barang-barangmu, dan kita akan pergi menempati rumah ini besok.

rumah_klasik_modernthumb2

Sampai nanti sayang,

Suamimu, Cho Kyuhyun

Ha In dibuat meledak saat membaca pesan masuk tersebut. Tak lama, pesan masuk kembali menghiasi ponselnya. Kali ini pesan bergmbarlah yang masuk. tetap dari orang yang sama.

From:

Itu adalah rumahnya. Kau suka?

From:

Bagian sayap kiri rumah ini adalah duniamu 🙂

2a-rumah

From:

Kau tahu apa yang kupikirkan saat melihat ini? Aku yakin kau dapat memenuhinya. J 😉

1-Desain_Kolam_Renang_Indoor_Modern_tiperumahminimalis.blogspot.com

“Hei Song apa yang..” Hae Ri ikut terbawa suasana dengan apa yang dilihatnya. Apakah itu rumah sungguhan yang akan segera di tempati Ha In? Wanita dingin nan angkuh dan juga keras kepala?

“Waw it’s amazing. Katakan padaku apa yang sudah kau berikan padanya? Ciuman pertamamu? Itu indah. Kau benar-benar harus menerimanya segera. Jangan biarkan ia beralih menatap wanita lain.”

“Dong Eun-ah. Kau percaya ini pesan sialan dari Presdir brengsek itu?”

“Melihat bagaimana ia . . .”

Calling in . . .

Ha In menatap lama pada layar ponselnya. Haruskah ia mengabaikannya begitu saja? atau,

“Hey, apa yang coba kau terka? Angkat sekarang juga. Dia pasti sedang menunggumu.”

“Ya Ha In-ah. Hae Ri noona benar. Angkat saja. supaya kau bisa yakin apakah itu ulah orang iseng atau Presdir itu.”

Ha In memutar kedua bola matanya kesal. Yang benar saja. bukankah dirinya yang memiliki ponsel yang tengah ia pegang sekarang? Lantas mengapa mereka berdua menjadi begitu pengatur akan ponsel dan kehidupan pribadinya?

“Aktifkan speaker phone-nya juga sayang. Kami berdua ingin mendengarnya.” Pinta Hae Ri bersemangat. Akhirnya, ia dapat menemukan teman kerjanya berada dalam sebuah pelaminan dalam waktu dekat.

“Oh dear, hand phone siapa ini. bagaimana bisa kalian. . . Oh, sudahlah.” Ha In menekan tanda yang mengaktifkan speaker phone-nya menyala.

“Puas?” mereka berdua mengangguk senang. Ingin tahu apa saja yang akan pria panas dan gila itu bicarakan pada rekan kerja sekaligus sahabatnya ini.

“Hallo sayang. Bagaimana, apa kau suka?”

“Maaf, mungkin kau salah sambung. Dan aku juga tak tahu dengan siapa aku bicara sekarang.”

Ha In meringgis pelan pada lengan kirinya. Ya, tanpa ia duga, Dong Eun mencubit bagian itu sedikit keras. Mungkin pria muda itu marah akan sikap kepura-puraan Ha In.

“Hei, ini adalah aku. Pria yang kemarin membuatkan juice yoghurt dan mendapatkan ciuman pertamamu setelahnya. Apa yang akan kau berikan padaku setelah kita menikah?”

Astaga, pipi Ha In bersemu merah. Bahkan kinerja jantungnya melebihi batas normal.

“A-apa yang coba kau katakan disini? Aku sibuk.”

Seolah memahami nada bicara Ha In, Kyuhyun dengan cepat menyela pembicaran mereka. “Tunggu, luangkan waktumu sore ini. Aku sudah meminta bagian HRD untuk membantu mengambil alih tugasmu. Kita bertemu di rumah untuk pertemuan keluarga. Bye sayang.”

Baru pertama kali ini Ha In menatap ponselnya dengan jijik. Haruskah ia membuang ponsel tersebut dan membelinya dengan yang baru. Bukankah ia dapat menggantikannya dengan ponsel keluaran terbaru tentunya dengan aplikasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan handphone blackberry putih tipe curve miliknya saat ini. Dengan posisinya yang sekarang mendapatkan promosi menjadi kepala bagian Departement Keuangan, sebuah ponsel terbaru tak sulit untuk ia dapatkan saat itu juga.

“Kau harus segera menjaga pola makanmu sayang. Lihat, sudah jelas bahwa pangeran itu tergila-gila akan dirimu.” goda Hae Ri yang semakin membuat Ha In ingin melampiaskan rasa kesalnya.

Tak ingin meledak di pagi hari, Ha In lebih memilih berbalik, menuju tempat duduknya, mengambil tumpukan map yang berada dihadapannya, mengamati laporan yang telah ia buat semalam. “Aku tak ingin membahasnya lagi. Sekarang keluar dari ruanganku, terkecuali kau Dong Eun. Kau bantu aku mempersiapkan rapat untuk siang ini.”

“Oke. Aku akan mendapatkan kursimu jika kau sampai menikah dengannya bukan?”

Ha In sedikit menggebrak meja kerja dihadapannya. Mengapa tindakan Dong Eun padanya seolah-olah mengatakan bahwa pria itu siap untuk dijadikan pelampiasan emosi dirinya hari ini.

“Hey! Aku tak akan menyerahkan kursi ini. Dan aku juga tak akan menikah dengannya. Jadi sekarang lebih baik kau fokus pada laporan ini. Perbaiki lagi letak data yang masih tak sesuai dengan yang diberikan oleh team perencanaan.”

Dong Eun bergidik mendengar apa yang dikatakan. Memang wanita itu tak mengatakan sebuah ancaman seperti yang selalu dilakukan Hae Ri jika wanita itu sedang kesal, tapi apa yang dikatakan Ha In biasanya selalu benar-benar terjadi, bukan sebuah gertakan seerti Hae Ri. Jika Song Ha In sudah berkata A maka ia akan melakukan kata A tersebut secepat mungkin. Dan beruntungnya Dong Eun kali ini, Ha In tak mengatakan bahwa wanita itu akan membuatnya menyesal.

*.*.*

Memarkirkan mobilnya, Ha In pulang pada saat jam makan malam telah lewat di keluarganya, pukul delapan lima belas {08.15 PM}. Dengan wajah lelahnya ia memasuki pintu besar bercat putih tersebut.

“Sayang,” sambut Nyonya Song. Beliau langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan menghampiri putrinya yang berwajah pucat pasi.

“Ada apa bu? Mengapa ibu bersikap seperti ini?” tanya Ha In yang semakin dibuat bingung dengan sikap dan raut wajah ibunya yang gelisah dan khawatir.

Merasa ada mata lain yang memperhatikan dirinya, Ha In langsung menoleh ke samping, di seberang sana. “Oh, kau!” Baru saja ia ingin melupakan pria itu, tapi nyatanya pria itu mencoba menunjukkan kepada dirinya bahwa ucapan yang dikatakannya pada Ha In tempo hari benar-benar akan terjadi.

“Hai Nona Song.” Mengabaikan nada suara Ha In yang tinggi, Kyuhyun melangkah maju, berdiri dihadapan wanita itu. Sedikit mengernyit namun tetap berbicara. “Aku tengah sedikit berbincang dengan ibumu bersama orang tuaku.” Kyuhyun menilai penampilan Ha In dari atas ke bawah, terus seperti itu selama dua kali.

“Bukankah aku sudah memintamu untuk pulang lebih awal lagi?”

Mengabaikan pertanyaan Kyuhyun, Ha In lebih memilih untuk bertanya balik pada sosok yang ada dihadapannya.

“Apa yang. . . .”

Dengan gerakan cepat, wanita paruh baya yang duduk disebelah pria berwajah lembut itu segera berlari, meraih Ha In ke dalam pelukannya. Sebenarnya sejak Ha In masuk ke dalam rumahnya sendiri, dua pasang mata lain, yang sosoknya tengah duduk berhadapan dengan ibunya tak henti sedikitpun mengalihkan padangannya dari Ha In. Membuat wanita itu merasa tak enak hati karena dua tatapan dari mata yang berbeda itu tak bisa ditebak tengah menilai mengenai apa akan dirinya ini.

“Sayang, maafkan ibu. Ibu tak tahu jika putra ibu telah memiliki seorang kekasih, dan ku dengar kau sedang hamil? Kau hamil cucuku.” Nyonya Cho segera melepas pelukannya dan beralih menatap Ha In. “Kau terlihat sangat pucat. Kau harus berhenti bekerja mulai sekarang. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu maupun calon cucuku. Kyuhyun akan mengurus semuanya.” Sama seperti putranya, atau mungkin kebalikannya. Kyuhyun dan Nyonya Cho sama-sama tak bisa mengendalikan bibirnya untuk berucap satu kalimat saja pada Ha In. Dan satu hal lainnya. Ia begitu pengatur.

“Hamil?” Ha In mengernyit tak mengerti dengan apa yang dibicarakan wanita paruh baya dihadapannya ini. Dia bahkan belum mendapatkan tanda-tanda merah itu akan datang untuk bulan Mei ini.

“Aku tidak,” tak ingin rahasianya terbongkar, Kyuhyun segera menghampiri Ha In. Merangkul pundak wanita tersebut secara lembut namun tegas. Lalu menurunkan rangkulannya hingga mencapai bagian pinggangnya. Pria itu dengan sedikit kencang meremas bagian tersebut.

“Dia belum mengetahuinya. Aku baru saja akan memberitahukan padanya nanti malam.” Kyuhyun mengecup bibir Kyuhyun cepat, tak menghiraukan bagaimana ekspresi dari wanita itu. “Tapi ibu sudah terlebih dahulu memberitahukan padanya.”

“Huh?” dengus Ha In kesal bukan kepalang. Apakah pria ini tak sedang bermain-main dengannya?

Rencana indah Ha In gagal total. Semula ia merencanakan akan segera pergi tidur setelah berendam di kamar mandi nanti, melepas penat yang ia rasakan setelah mengurus beberapa dokumen yang menyita banyak waktunya.

“Iya sayang kau hamil. Kau senang? Kita akan mempercepat hari pernikahan kita dari rencana awal.” Kyuhyun mengecup dahi Ha In yang malah membuat wanita itu semakin mengerutkan dahinya tak mengerti. Mungkin pria muda ini ingin orang tuanya membatalkan pernikahan perjodohan yang biasanya menyentuh kalangan elit seperti posisi Kyuhyun sekarang. Ha In tetap diam, tak ingin berkomentar lebih banyak lagi. Remasan tangan Kyuhyun pada pinggangnya, cukup membuat ia paham bahwa dirinya harus diam.

“Aku mengetahuinya saat kau jatuh sakit minggu lalu, dan dr. Lee menelponku tadi pagi. Ia meminta maaf karena kesalahannya waktu itu. Diagnosismu waktu itu bukan akibat asam lambungmu yang tinggi, tapi kau tengah hamil muda sayang. Dia baru tiga minggu.” Bisik Kyuhyun ditelinga Ha In dengan sebelah telapak tangan kanannya yang mengelus perut Ha In.

Melepaskan rangkulan, Kyuhyun duduk berjongkok dihadapan Ha In. Menempatkan kedua telapak tangannya mengelus permukaan datar yang kini menjadi sasaran dirinya. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja? Apa ibu terlalu membuatmu kelelahan hari ini? Apa kau sudah cukup makan?” tanyanya penuh dengan keyakinan. Seolah-olah apa yang ia katakan merupakan sebuah kebenaran.

Tak mendapatkan reaksi ataupun gerakan sedikitpun, Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap pada Ha In. “Kau terlalu banyak bekerja bukan? Aku akan memarahi Choi Siwon sialan itu karena telah membuat wanita dan bayiku kelelahan sampai seperti ini.” decak Kyuhyun kesal. Dan inilah ucapan kebenarannya. Ia bersungguh-sungguh dalam melindungi wanitanya. Tak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita yang kini sudah berada di dalam rengkuhannya.

“Nah sayang,” Kyuhyun kembali berdiri dan memposisikan dirinya berada disamping Ha In. Meraih Ha In ke dalam pelukannya. “Kau perlu beristirahat. Aku akan membantumu.” Ucap Kyuhyun, mendorong tubuh Ha In untuk pergi dari sana, meninggalkan orang tuanya dan ibu Ha In.

“Bu, ingat kau harus mempercepatnya. Paling lambat satu bulan. Jangan buat anakku lahir dengan statusku yang belum resmi menjadi ayahnya secara hukum.”

“Kau paling pandai memerintah.” Sahut Tuan Cho menanggapi sikap anaknya.

Mengabaikan komentar ayahnya, Kyuhyun kembali berkata saat mereka akan menaiki anak tangga dihadapannya. “Ayo sayang. Berhati-hatilah, aku akan memegangmu.” Langkah Kyuhyun terseret-seret mengikuti langkah kaki Ha In yang cepat dan lebar. Ia tahu bahwa Ha In akan meminta penjelasan lebih akan tindakan luar biasanya kali ini.

Ha In segera menepis lengan Kyuhyun begitu mereka memasuki lantai dua. “Apa yang kau lakukan disini? Dan apa yang baru saja ibumu dan dirimu katakan? Bahwa aku hamil? Kau benar-benar menggelikan.” Cibir Ha In tak terima. Dan sekarang ia mengetahui arti tatapan kedua orang tua Kyuhyun saat mereka pertama kali saling bertatapan. Tatapan geli dan rendah.

“Kau, sebaiknya kau dan ibumu pulang. Aku lelah dan tak ingin kau ganggu.”

Ha In berbalik menghadap pintu bercat peach dihadapannya. Memasuki ruang kamarnya dan berniat menguncinya segera saat dengan cepat gerakan dari Kyuhyun telah menghentikan dirinya.

“Apa yang kau lakukan? Keluar dari kamarku segera.”

“Ha In sayang, kau sudah tidur nak? Setidaknya kau perlu makan terlebih dahulu. Sayang?”

Ha In hendak berkata namun lengan Kyuhyun mencegahnya untuk berbuat demikian. Dan sebagai gantinya ialah yang berbicara.

“Ha In sangat kelelahan bu. Ia sudah mulai terlelap. Aku akan mengajaknya makan begitu ia bangun. Sekarang, biarkan dirinya beristirahat dulu.”

“Baiklah, aku tak akan mengganggu kalian. Dan nak, ibu dan ayahmu tengah menunggumu diluar.”

“Aku akan segera menyusul ke sana sebentar lagi. Ha In sedikit terusik dari tidurnya.” Ha In semakin tak terima. Dengan dorongan keras dari sikutnya, Ha In berhasil membuat Kyuhyun meringgis dibagian kiri perutnya.

“Sssh. Setidaknya gunakan kekuatanmu pada saat kita menjadi satu. Bukan sekarang ini.”

Walaupun rasa sakit itu cukup dalam, Kyuhyun tetap menempatkan telapak tangannya di mulut Ha In. Barulah setelah terdengar langkah derapan kaki yang semakin menjauh, Kyuhyun menurunkan lengannya yang semula ia gunakan untuk membekap mulut Ha In.

“Ingat, jangan macam-macam. Aku akan menginap disini, dikamarmu. Aku akan menjelaskan semuanya pada kedua orang tuaku terlebih dahulu.”

Belum sempat Ha In protes, Kyuhyun segera pergi dari kamarnya, mencabut kunci kamar tersebut.

“Hei!”

“Ini agar kau tidak mengunci pintumu. Aku tak akan lama.” Teriak Kyuhyun sedikit keras.

*.*.*

“Dia sudah tertidur?” Nyonya dan Tuan Cho kini sudah berada di pekarangan rumah Ha In. Mereka sudah berdiri disamping mobilnya yang sebentar lagi akan membawa mereka ke rumah peristirahatan keluarga yang berada di Gangwon-do. Seratus delapan puluh kilometer dari tempatnya berdiri saat ini, Seoul. Kediaman keluarga Ha In berada di Seoul sementara orang tua Kyuhyun menempati daerah Gangwon-do untuk tempat tinggalnya. Dan Kyuhyun sendiri? Ia lebih memilih Provinsi Gyeonggi-do yang akan menjadi tempat peristirahatan sekaligus pusat dunia keluarga kecilnya bersama Ha In disana. Dan ia sedang tak main dengan ini. Bukankah keadaan rumah disana sudah ia abadikan dalam bentuk dua dimensi? Dan langsung ia kirimkan ke dalam ponsel Ha In.

“Ya.”

“Baguslah. Dia memang memerlukannya. Wajahnya sangat pucat. Dan ia terlalu kurus untuk ukuran seorang wanita hamil kau harus lebih memperhatikannya. Ibu pamit.” Ucap Nyonya Cho mengakhiri pembicaraan mereka. Namun hati seorang ayah seperti Yeonghwa tetap tak bisa tenang. Ia ingin memastikan sesuatu pada anaknya.

“Kau akan menginap?”

“Ya ayah. Aku tak tega jika harus meninggalkan wanitaku saat keadaan seperti ini.”

Di tengah hembusan nafasnya Tuan Cho merasakan sebuah kelegaan. Anak lelakinya sudah mengatahui apa yang harus ia lakukan tanpa perlu ia arahkan sedikitpun. “Apa yang kau lakukan sudah benar. Perlukah paman Yoon mengantarkan beberapa pakaianmu?”

“Tidak perlu. Aku akan mengajak Ha In untuk berkemas besok. Kami akan menempati rumah yang berada di Gyeonggi-do.”

“Bergerak lebih cepat emm? Mereka telah menyetujuinya. Ayah berkata di telepon tadi bahwa kita akan mengadakan pembicaraan kedua di minggu kedua bulan ini. Kita bahas hal ini lusa saja. Segera masuk ke dalam, dan temani ibu dari anakmu.” Ucap Tuan Cho dengan sebuah tepukan keras pada pundak Kyuhyun.

“Ok dad. Selamat jalan. Berhati-hatilah, ini sudah malam.”

“Ya sayang. Sampai bertemu lusa.”

Melihat bahwa laju kendaraan dari mobil ternama Bentley Continental Flying Spur 6.0. pergi, Kyuhyun kembali masuk ke dalam kediaman Ha In dengan wajah ceria. Akhirnya, ia bisa menjalankan rencananya dengan baik sejauh ini.

“Orang tuamu sudah pergi?”

Kyuhyun dibuat mundur satu langkah dari tempatnya berdiri saat ini. “Ibu? Kau belum tidur?”

Berjalan melewati Kyuhyun, Nyonya Song duduk kembali menempati kursi sofa yang semula ia duduki. “Kemarilah, duduk. Ada yang ingin ibu sampaikan padamu.”

Mengambil gerakan berbalik, Kyuhyun mengikuti saran Nyonya Song untuk ikut di ruang keluarga.

“Kau benar-benar menyukai anakku? Bukan karena ia tengah mengandung anakmu?”

“Tidak bu. Tidak sama sekali. Aku begitu mencintainya. Aku mencintai Ha In dengan tulus. Justru aku yang ingin bertanya, apakah kehadiranku dalam keluarga ini mengganggu? Maksudku, apakah aku diterima masuk dalam keluarga ini?”

Wanita paruh baya tersebut sedikit menarik nafas leganya. Setidaknya ia bisa sedikit tenang sekarang. Mengetahui bahwa putri semata wayangnya di cintai dan dihargai begitu besar oleh pria dihadapannya kini, tak ada hal lain yang ia inginkan untuk saat ini.

“Ya, tentu saja. Kau diterima dalam keluarga ini. Jika tidak, mungkin anakku akan melahirkan seorang bayi tanpa ayah. Dan aku tak suka itu terjadi. Kembalilah ke kamarnya, temani dia. Ibu percaya padamu.”

“Ya bu, kau pun harus segera istirahat. Aku pamit.”

*.*.*

“Bangunlah. Ada yang ingin ku sampaikan padamu.”

“Nanti saja.” ucap Ha In denga malas.

“Ayolah. Hanya sebentar, agar kau mengerti dan memahami semua ini.”

“Nanti Presdir Cho, aku mengantuk.” Ha In semakin mengubur dalam kepalanya diatas bantalan lembut yang terbuat dari kapas kwalitas terbaik.

“Hei,” Kyuhyun menarik tubuh Ha In yang terus membelakanginya. “Duduklah sekarang juga atau aku akan membuatmu duduk dengan cara yang lain.” desis Kyuhyun diatas bibirnya.

“Oh Tuan, baiklah.” Ha In mendorong keras wajah Kyuhyun agar segera menjauh dari hadapannya. “Sekarang apa?” Ha In duduk dengan kaki dilipat dan tangan yang bersilang di dada. Mengisyaratkan pada Kyuhyun bahwa ia telah menjadi pengganggu untuk dirinya.

“Besok kita akan pindah. Tinggal bersama sampai kapanpun itu.”

Menarik diri dari sandaran dashboard, Ha In berdesis tajam di hadapan Kyuhyun. “Kau tak salah bicara?”

“Tidak. Dan mulai besok kau harus tidur denganku. Dikamarku, diatas tubuhku.”

Ha In melepas tautan tangannya segera. Mengepalkan kedua lengannya erat, hingga mengangkat cukup tinggi kepalan tersebut. “Sialan. Memang apa hakmu untuk berbuat seperti itu padaku Hah!” Marah, Ha In meledak tak terima dengan apa yang dikatakan Kyuhyun kepadanya. Tidur berdua? Cukup sudah dirinya di katakan tengah hamil dipertemuan kedua orang tua, dan sekarang? Ia tak bisa mentorerir hal ini terjadi lagi.

Kyuhyun mencekal kedua lengan Ha In agar membuatnya sedikit tenang.

“Dengar sayang. Kita akan menikah itu pasti. Aku berjanji akan menikah denganmu. Tapi aku lebih berjanji lagi jika kau dinyatakan positif memiliki seorang bayiku, maka setelah it kita menikah.”

“Apa yang kau pikirkan? Apa kau sudah tidak waras lagi? Aku bukan pelacurmu. Dan mengapa orang itu harus aku? Katakan padaku alasannya.” Ha In memicingka matanya saat teringat akan suatu hal. “Apa ini hanya strategi licikmu agar perusahaanmu mau bekerja sama dengan tempatku bekerja? bermimpi saja kalau begitu.”

“Tidak sayang, mengertilah. Ini semua karena aku mencintaimu. Aku sudah terlanjur termakan ucapanmu yang membuatku berpikir sampai sejauh ini. Tolong, miliki anakku segera dan menikahlah denganku.” Pinta Kyuhyun dengan tulus.

Tak dapat menyakinkan Ha In, Kyuhyun menarik tubuh hangat itu diatas pangkuannya. Memberitahukan pada wanita itu bahwa ia siap untuk menjadikan dirinya sebagai pusat dunia Kyuhyun di bawah telapak kaki Ha In.

“Oke. Asal kau berjanji untuk membuat beberapa surat hukum denganku.”

“Apapun sayang.”

*.*.*

To Be Continued

Long time no see LOL J

Advertisements

7 comments

  1. Aku reader baru thor salam kenal…
    Aku bingung disini, itu kyuhyun kenapa pengen punya bayi dulu?? Seharusnya nikah in.dulu baru punya bayi…
    Ini kyuhyun bener2 cinta kan sam ha in??

    Like

  2. Izin baca yah thor ^^ nae reader baru disini hehe…kyu bisa bgt dah masa biar cepet nikah dy rela bohong sih😂😂 pke ngaku kalo ha in hamil lg 😂 bs bgt dah alasan kyu ini😂

    Like

  3. Gentle banget kyu aku suka banget:D saking cinta nya ampe ha in di suruh ngaku hamil wkwkkwkw lucu juga sih:D sabar kyu cinta itu hadir karna terbiasa nanti juga ha in jatuh cinta juga wkwkkwkw:D suka banget sikap kyu ama ha in

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s