Sowing {Chapter 2}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – Complicated – PG-17 – NC-21 – Married Life||

Length: Chapter|| Author: hyunhyunie||

*.*.*

“Ku dengar kau,”

“Ya Tuhan, apalagi yang kau dengar hmm?” Ha In mengeratkan kedua tangannya kesal. Mengapa di pagi yang cerah sekalipun dirinya tak bisa mendapatkan suatu pagi yang berkwalitas. Tentu dengan tidak adanya ocehan dari rekan kerjanya, Kim Hae Ri.

“Aku hanya memastikan dengan apa yang ku dengar. Mengapa kau sensitif sekali?”

Ha In mendesah lelah, benar apa yang dikeluhkan Hae Ri padanya, dirinya menjadi sangat sensitif semenjak tadi malam. Setelah ia mendengar dan membuat peraturan baru bersama Kyuhyun.

“Maafkan aku. Kau benar, aku terlalu sensitif akhir-akhir ini. Dia selalu saja menjadi beban dalam pikiranku. Menurutmu apa yang sebaiknya harus ku lakukan?”

Menyadari dirinya hanya membuat Ha In semakin bertambah buruk, Hae Ri mengampirinya, mengusap rambut Ha In yang tergerai, membungkus wajah wanita itu yang kini tengah tertelungkup di meja kerjanya.

“Maafkan aku. Seharusnya aku mengerti akan dirimu, tak selalu ingin tahu mengenai apa yang kau lakukan. Tapi Ha In, aku hanya ingin mengetahui bahwa kau baik-baik saja atau tidak. Karena aku biasanya dapat membaca perubahan hatimu, tapi kali ini tidak.”

Ha In terkekeh pelan di balik raut wajahnya yang tertelungkup. Jadi inikah alasan teman dekatnya ini selalu saja ingn mengetahui apa yang terjadi, karena ia tak bisa membaca suasana hatinya sehingga membuat ia penasaran?

Mengangkat wajahnya menatap Hae Ri, Ha In tak bisa tidak menahan tawanya yang ingin meledak. “Jadi selama ini selain kau bekerja sebagai ketua dari Team Perencanaan, kau juga merangkap menjadi seorang cenayang? Oh ya Tuhan, kau sungguh menggelikan. Katakan padaku berapa banyak kekayaan yang kau dapatkan dari profesi barumu itu?” Godaan Ha In membuat Hae Ri mengerucutkan bibirnya tak terima. Maksud hati ingin menghibur sahabatnya sekaligus membuatnya terbuka, tapi malah dirinya yang kini menjadi sasaran Ha In.

Dengan posisi semula Ha In yang tetap duduk, sementara Hae Ri beridiri disampingnya, Ha In memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Menyampaikan tanda permintaan maafnya yang tak tersampaikan lewat lisan. “Aku hanya bercanda oke? Jangan marah. Aku akan mengatakan segala sesuatunya padamu, dan ini bukanlah waktunya.” Melepaskan pelukannya, Ha In menampar pantat Hae Ri sedikit kencang. “Kembali ke tempatmu segera Lady.”

Hae Ri meninggalkan ruangan itu setelah dengusan kasar dari hidungnya, yang membuat Ha In semakin tertawa kencang. Sedikit terhibur akan kedatangan sahabatnya yang berkunjung di pagi hari.

Bunyi pesan masuk dengan nada mendenting mendatangi ponsel Ha In. Tak terdengar bunyi tersebut, Ha In tetap mengabaikan ponselnya yang terletak di dalam saku tas hijau tosca miliknya.

From:

Aku sudah kembali ke rumahmu setelah kau usir tadi pagi J jangan menjadi marah padaku karena aku membuat isi lemarimu kosong.

Aku akan menjemput dan membawamu pergi setelah jam kantor selesai.

Selamat bekerja sayang.

*.*.*

Ha In baru membuka ponselnya saat jam makan siang telah selesai. Dirinya melupakan ponsel putih tersebut yang disebabkan pekerjaannya menumpuk dan rapat dadakan untuk merumuskan kembali anggaran dana yang diperkirakan akan keluar untuk pembangunan cabang baru.

Baru saja Ha In menekan icon gembok pada layar ponselnya, panggilan dari telepon kantor menghentikan gerakannya membuka ponsel. Menekan tombol loud-speaker Ha In mendengarkan dengan seksama instruksi yang diberikan seseorang disebrang sana.

“Oke. Ya, aku bisa menggantikanmu. Kau jelas perlu istirahat. . . . apa yang bisa ku lakukan jika temanku si cenayang ini sakit hmm? . . . . istirahatlah. Aku yang akan menggantikanmu di pertemuan ini. . . . . ya, karena akupun turut diundang. . . . memang agak janggal. Mana ada departement Keuangan mengerti akan apa yang perlu dipikirkan dan dilakukan oleh team Perencanaan. Tapi ini kan hanya pertemuan biasa antar perusahaan. . . . . . Oke, jika begitu suruh assitant-mu untuk ikut bersamaku. . . . aku memang tengah sensitif akhir-akhir ini, tapi tak sampai menggigit orang lain. . . . berhentilh membual dan tidur.” Ha In memutuskan sambungannya segera setelah orang yang Hae Ri tunjuk ikut bersamanya masuk ke ruangan.

“Kau sudah menyiapkan materi yang akan dibahas?”

“Ya. Emm, Eonnie. Hae Ri eonni bilang aku tak perlu khawatir karena datang bersamamu.”

Mengambil tasnya yang tersampir di atas gantungan coat-nya, Ha In memasukkan ponselnya yang urung ia periksa.

“Ayo kita pergi sekarang juga, agar kita bisa pulang dengan cepat.”

Bunyi pesan kembali masuk pada ponsel Ha In. Namun wanit itu tak menyadarinya.

From:

Datanglah ke pertemuan kali ini denganku. Lima belas menit lagi aku akan sampai disana.

Lima belas menit berlalu, satu pesan dari orang yang sama datang lagi menghiasi ponsel Ha In.

From:

Sial. Bukankah sudah ku katakan untuk diam disana? Dan bersama siapa kau pergi sekarang ini?

From:

Setidaknya jangan abaikan pesanku. Apa kau sesibuk itu hingga mengabaikan pesan ini?

*.*.*

Menahan kekesalannya yang tak dipertemukan Ha In di pertemuan rapat tadi, Kyuhyun kembali mengunjungi kantor Ha In setelah jam kerja selesai. Menarik paksa lengan perempuan itu saat ia melihat sosok tersebut keluar dari loby.

Hampir terjerembab ke depan, Ha In tersandung kakinya sendiri karena hentakan yang ditimbulkan oleh tarikan paksa dari tangan Kyuhyun pada pergelangan tangan kirinya.

“Ikut denganku sekarang juga.”

“Hei,”

Membuka pintu samping pengemudi, Kyuhyun mendorong Ha In masuk ke dalamnya. Sementara dirinya sendiri memutar arah, ddan mengambil duduk dikursi pengemudi.

Mengelus pergelangan tangannya, Ha In berkata kesal pada Kyuhyun. “Tidak seharusnya kau perlakukan aku seperti ini. Orang-orang akan melihat aku,”

“Emm.” Ha In dibuat bungkam dengan mulut Kyuhyun yang memaksanya untuk *beradu mulut. Ya, Kyuhyun menciumnya dengan kasar. Melumat, menggigit, dan mengapit bibir plum tersebut dengan nafas yang berburu.

Melepaskan ciumannya pada Ha In, Kyuhyun mengelus pipi kanannya dengan lembut. Putus asa saat menghadapi bibr Ha In dihadapannya yang telah memerah. “Sayang, buka mulutmu.”

Tak langsung mengikuti apa yang Kyuhyun katakan padanya, Ha In tetap diam, tak bereaksi meskipun kali ini Kyuhyun menciumnya dengan lembut.

Please.” Baru setelah kata itu terucapkan, Ha In membuka mulutnya dengan ragu. Apa yang Kyuhyun lakukan membuatnya bingung dalam menafsirkan arti dirinya di mata pria tersebut. Seperti wanita murahan kah? Atau orang yang benar-benar pria ini cintai?

Saling memangut satu sama lain dengan perlahan dan lembut, Kyuhyun menempatkan tangannya di tengkuk Ha In, sementara lengan yang lainnya ia gunakan untuk meraih pinggang wanita itu. Sedikit tarikan, Kyuhyun memindahkan tempat duduk Ha In menjadi diatas pangkuannya.

Secara perlahan, Ha In mulai mengikuti intensitas bibir Kyuhyun padanya. Ia juga ikut menempatkan lengan kanannya diatas lengan Kyuhyun yang masih mengelus tengkuknya. Ha In tahu, bahwa Kyuhyun tengah memicu dirinya agar ikut terbuai dan terangsang.

“Oppa, apa yang salah?” Kyuhyun tersenyum tulus. Ia senang mendengar kata panggilan itu terucap dari bibir wanita yang dicintainya. Menekan kembali tengkuk Ha In, Kyuhyun mencuri kesempatan untuk mencium wanita itu.

“Katakanlah apa yang terjadi? Apa ada hal buruk yang terjadi padamu hari ini?”

Tak menjawab pertanyaan Ha In yang ditujukan padanya, Kyuhyun lebih memilih untuk tersenyum menanggapi hal itu. “Jangan tersenyum seperti seekor keledai padaku saat aku bertanya dengan serius padamu. Cepat katakan padaku apa itu? Katakan padaku apa yang terjadi.”

Kyuhyun kembali menghiraukan pertanyaan Ha In. Kali ini ia memilih menarik tubuh Ha In erat. Menempatkan kepala gadis itu berada di cerukan lehernya. Berkali-kali mengecup rambut Ha In yang tergerai indah.

“Tidak sayang. Aku tidak apa-apa. Hanya terlalu khawatir akan dirimu hari ini. Kau tak menjawab satupun pesan dariku. Ku pikir kau lari dariku, atau mungkin telah terjadi sesuatu padamu.”

Ha In menggenggam lengan Kyuhyun. Melepaskan lengan itu dari tengkuknya.

“Maafkan aku oke? Aku sibuk. Ya kau benar. Tapi lebih tepatnya aku mengabaikan ponselku untuk hari ini. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini lebih cepat.” Ha In menatap ke samping, mengendikkan bahu kirinya spontan. “Well, seharusnya kau tak marah lagi. Bukankah aku sudah berada disini?”

Entahlah, mengenal pria dihadapannya ini baru dua hari, Ha In sudah merasakan ketenangan dan kenyamanan yang diberikan Kyhyun padanya. Perhatian, sikap over protective, kasih sayang dan cinta yang diberikan Kyuhyun padanya membuat ia tak perlu meragukan pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan menelisik.

“Sekarang kita pulang?”

“Ya. Kita pulang, ke rumahku.” Mengangkat kembali tubuh Ha In, Kyuhyun mengecup bibir Ha In yang telah merah padam, bahkan sekarang menjadi bengkak.

“Berhentilah menciumku.”

“Tentu. Karena sekarang aku harus mengemudi. Ini yang terakhir.” Kyuhyun menarik tengkuk Ha In, menekan, dan mengelus bagian itu dengan mengoda. Melepaskan pangutan bibirnya, Kyuhyun membuat Ha In terenggah dalam. Memburu nafas dengan serakah karena pasokan oksigen {O2} yang sempat menipis. “Tapi tidak dirumah nanti. Kau sepenuhnya milikku seorang.” Kerlipan mata Kyuhyun pada Ha In, membuat wanita itu bergidik takut. Ia bisa membayangkan dirinya yang akan terdominasi lebih dari tadi yang pria itu lakukan padanya.

“Oh! Mobilku?”

Assitant-ku yang akan mengambilnya.”

“Darimana ia, oh sudahlah. Kau memiliki segala hal yang tak dapat terbaca olehku yang bisa kau lakukan.”

“Kau benar. Itulah aku. Aku mencuri kuncinya dari meja. Kau meninggalkan kunci itu saat pertemuan tadi.”

“Pantas saja.” decak Ha In kesal.

*.*.*

Bila kota Seoul selalu menyibukkan Kyuhyun dan Ha In untuk bekerja keras, maka wilayah di luar Seoul mampu memberikan waktu istirahat yang menyegarkan dan membangkitkan vitalitas kehidupan bagi mereka berdua. Dan disinilah kediaman mereka San 11-5 Jeonsu-ri, Ganhamyeon, Yangpyeong-gun, Gyeonggi.

Kawasan perumahan elit yang berada di Provinsi Gyeonggi-do tersebut, menyediakan tempat tinggal yang layak untuk mereka yang terlalu jenuh akan suasana kehidupan hiruk-pikuk warga Korea Selatan. Tak jauh dari sana, terdapat Rumah Sakit Pyeongtaek St Mary, di Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi.

Menempuh perjalanan selama lima puluh satu kilometer {51km}atau setara dengan tiga puluh dua mil {32mil}, Ha In dan Kyuhyun tiba di rumah besar mereka. Bagian sisi sebelah Timur dari kota tersebut.

“Ayo, kemarilah sayang.”

Kyuhyun menggenggam tangan Ha In erat. Mengecup tangan tersebut, lalu menempatkannya untuk merangkul lengan bagian atasnya sendiri.

Ha In membulatkan kedua matanya ketika pintu utama terbuka begitu lebar di hadapan mereka berdua. Sederet orang penting tengah menunggunya, berdiri menyamping di sebelah kiri, mereka semua tersenyum menyambut kedatangan kedua orang tersebut.

“A-apa yang terjadi disini?”

Dihadapannya kini tengah berdiri beberapa orang yang berpakaian secara resmi. Beberapa diantaranya masih mengenakan pakaian kerja, yang salah satu diantaranya pria berstelan jas kantor. Tapi diantara mereka semua, yang paling menarik pandangan Ha In adalah, kedatangan dua orang wanita berseragam putih dokter. Melihat bahwa ini adalah penyambutan dirinya dirumah Kyuhyun, tentu kedatangan seorang dokter merupakan hal yang tak wajar dan mengejutkan bagi dirinya.

Mengendalikan diri dalam empat setengah detik {4,5 detik} kemudian, Ha In menatap Kyuhyun dengan kerutan pada dahinya yang menukik tajam.

“Seperti inikah caramu menyambutku?” Tanya Ha In kembali pada Kyuhyun dengan nada yang sedikit kesal. Hanya ada dua argument yang bersarang di kepala wanita itu. Pertama, apakah karena dirinya berasal dari keluarga sederhana maka Kyuhyun melakukan semua ini? Seperti proses penyaringan atau filterasi? Atau mungkin ia ingin mengadakan check up kesehatan pada tubuhnya, melihat dan mendeteksi apakah dirinya memiliki riwayat penyakit kronis? Menyadari pilihan yang kedua membuat Ha In tersenyum melecehkan. Jika penyakit asam lambungnya yang tak tertolong termasuk pada penyakit kronis, apakah pria masih ingin melanjutkan hubungan dengannya?

Mengabaikan pertanyaan Ha In yang menunjukkan ketidaksukaan, Kyuhyun memilih menatap ke depan, memperkenalkan mereka satu persatu, tak terusik sedikitpun dengan tatapan tajam dari Ha In yang berdiri disamping dirinya.

“Ini adalah Dr. Kaith ahli kandungan dari Seoul National University Hospital. Pengacara pribadiku, Kwon Byonhosanim {Pengacara Kwon}. Pria yang bertubuh kekar itu asistentku Lee Young Dae, dan seorang wanita cantik yang berpakaian santai itu merupakan dokter pribadi keluargaku, Dr. Lee Dae Mi.”

Ha In seperti kehilangan ruhnya pada saat pertama kali Kyuhyun mengenalkan wanita yang memakai kemeja peach dengan rok span sepanjang paha bagian bawahnya. Dan pada saat itu juga ia teringat alasan bagaimana dirinya bisa sampai di tempat ini. Menjalankan perjanjian yang telah dibuat malam itu. Melanjutkan generasi Cho.

“Dan wanita paruh baya ini ibuku keduaku. Kepala Pelayan Moon. Moon Dae Hwa.” Kepala Pelayan Moon menunduk hormat pada Cho Kyuhyun dan Ha In yang tak akan lama lagi menjadi Nyonya besar dirumah tersebut.

Ha In memerah merasakan panas di pipinya akibat malu dan kembalinya ia pada dimensinya saat ini. Ia melewatkan beberapa orang yang Kyuhyun kenalkan padanya tadi. Sehingga ia hanya dapat mengingat dua nama, Dr. Kaith dan Kepala Pelayan Moon. Entah kemana perginya ruh Ha In setelah ia mendengar nama Dr. Kaith sebagai dokter ahli kandungan. Isi kepala wanita itu terpenuhi dengan bagaimana nantinya ia akan terlihat sebagai wanita hamil di rumah ini dengan statusnya yang belum jelas. Belum lagi akan posisinya yang tengah bekerja sebagai Kepala Departement Keuangan, tentunya tindakan yang Ha In ambil akan membahayakan dirinya sendiri. Mendapatkan cemoohan, dianggap wanita tak baik, digunjing setiap mata yang melihatnya, dan hal buruk lain yang belum pernah ia pikirkan sekalipun.

Menyadari setiap mata memandangnya penuh harap, dengan rasa tak nyaman, Ha In segera melepaskan rangkulan tangannya pada Kyuhyun. “Hallo. Maaf begitu merepotkan kalian semua.” Sesal Ha In dengan sebuah senyuman tulus dari bibirnya.

“Nah sekarang, kita akan memaparkan pembicaraan serius akan hal ini. Kwon Byonhosanim, Dr. Kaith, dan Dr. Lee, ikuti kami menuju ruang keluarga.”

Menyadari kegugupan Ha In, Kyuhyun meraih kembali telapak tangan wanita itu yang semula terlepas dari rangkulannya. “Tenang, kau akan baik-baik saja.”

classic-modern-interior-design-1024x768-1024x768

*.*.*

“Sekarang, biarkan Tuan Kwon berbicara terlebih dahulu.” Instruksi Kyuhyun untuk memulai pembicaraa serius ini.

“Baik, terima kasih Tuan.”

Membuka halaman ke tiga, Pengacara Kwon mulai berbicara dengan formal.

“Jadi Nona Song, seperti yang telah di ajukan Tuan Muda Cho padaku minggu lalu, anda akan mendapatkan 2,5% dari saham perusahaan, uang bulanan sebesar 35% dari hasil gaji yang di hasilkan tuan Cho, perawatan pribadi mengenai kesehatan, dan konsultasi khusus untuk kandunganmu. Untuk dua hal terakhir, Dr. Lee dan Kaith yang akan menjelaskan semunya pada anda.”

Membuka tas kerjanya, Dr. Lee meminta Ha In untuk duduk disampingnya.

“Anda dalam keadaan baik. Hanya, tolong perhatikan asupan makan, jaga kesehatan anda, dan jangan terlalu lelah bekerja. Dengan begitu anda bisa menghasilkan sel indung telur yang berkwalitas.”

Menyela pembicaraan mereka, diam-diam Dr. Kaith yang juga duduk di samping Ha In mengamati tubuh wanita itu dengan seksama. “Katakan padaku kapan terakir kali anda mengalami haid.”

Ha In berbalik ke belakangnya. Menatap tak suka akan pertanyaan yang di ajukan Dr. kaith padanya. Setidaknya Dr. muda itu bisa melihat dimana dan bersama siapa saja ia sekarang.

“Katakanlah, jangan hiraukan pandangan pria-pria itu. Anggap saja hanya ada aku, Dr. Lee, dan anda tentunya. Katakan.”

Melirik pengacara Kwon dan Kyuhyun berkali-kali, pada akhirnya Ha In tertunduk malu dalam menanggapi situasi ini.

“Itu, satu bulan yang lalu. Sekitar tanggal dua puluh enam April {26 April}. Dan sekarang,”

“Aku tahu. Kau beruntung Tuan Cho. Nona Song sedang berada pada masa subur saat ini. dimana sel telur dalam tubuhnya tengah berada pada puncaknya. Dan itu akan membuat prsentase keberhasilan anda tinggi.”

“Dan apa yang akan terjadi jika Ha In membiarkan sel telur itu pada tubuhnya begitu saja?”

Geram dan gemas. Itulah gambaran yang Ha In rasakan begitu mendengar pertanyaan Kyuhyun yang kurang berkenan di hatinya.

Sama halnya akan Ha In, Dr. Lee dan Kaith memandang sam pada Kyuhyun. “Tentu saja ia akan mengalami menstruasi itu. Kau bertanya seperti orang dungu. Tak sepadan dengan posisimu sebagai Presdir muda di perusahaan itu.” Decak Dr. Kaith.

“Hei Kaith, jangan sampai aku menggantimu dengan yang lain.”

“Lakukanlah. Bukankah kau masih sangat membutuhkanku.”

Tak mengerti akan pembicaraan mereka berdua, Ha In mengerutkan dahinya dalam. Menyadari akan hal itu, Kyuhyun merangkul pundak Dr. Kaith bersahabat.

“Kami adalah teman satu fakultas. Dia pernah membantuku menyelamatkan sepupuku pada saat kecelakaan itu. Sejak itu kami berteman. Jangan cemburu sayang, tatapan matamu seakan ingin menelanku. Kami hanya berteman oke?”

Ha In membuang wajahnya ke arah lain. “Apa yang kau katakan? Seolah-olah aku yang takut kehilanganmu. Padahal jelas-jelas kaulah yang seperti itu.”

Melepaskan tangan yang berada di pundaknya, Dr. Kaith menuliskan beberapa kata di atas kertas berwarna putih tersebut.

“Kau benar. Abaikan saja pria ini. kau bisa mendapatkan yang lebih baik.”

“Kaith!”

“Ini obat dan vitaminnya sayang. Dan untuk susu pendukungnya, aku telah memberikan minuman itu pada suamimu tadi siang. Minum setiap hari, dua kali dalam sehari. Jaga asupan makan, jangan terlalu lelah, dan bersemangatlah.” Bangkit dari sofa, Dr. Kaith menatap Kyuhyun dengan sengit. “Jangan lupa uangku.”

“Oke. Segera di kirim dalam rekeningmu Beruang, Brizly.”

“Tjk. Bye sayang, kita bertemu dipertemuan berikutnya. Kabar baiklah yang ku tunggu.” Dr. Kaith melangkah pergi meninggalkan wajah Ha In bersemu merah lagi. Mengapa beberapa orang seperti terlalu senang membuat diirnya dalam posisi ini?

“Dan ini daftar makanan yang harus anda konsumsi. Lakukan aktivitas seperti yoga, renang ataupun olah raga lain yang dapat membantu dalam proses ini.” mengikuti jejak Dr. Kaith, Dr. Lee dengan cepat memasukkan barang-barangnya kembali.

“Aku juga pamit, Tuan, Nyonya. Permisi.” Menyampirkan tali tasnya, Dr. Lee mengurungkan dirinya untuk berdiri. Kyuhyun menghentikan niatnya.

“Dr. Lee, kau berbicara terlalu formal padanya.”

“Itu karena kami belum mengenal satu sama lain. Lain kali akan ku pastikan kami berteman dengan baik.” Ucap wanita muda yang usianya dua tahun diatas Ha In.

“Jaga dirimu baik-baik Nona Song.” Merangkul Ha In, Dr. Lee berbisik di telinga gadis itu. “Dia bisa menjadi sangat agresif.”

“Saya juga pamit Tuan, Nyonya. Anda bisa menghubungi saya kembali jika memerlukan sesuatu lagi. Saya siap kapanpun.”

“Ya Pengacara Kwon. Terima kasih banyak.”

*.*.*

Ha In meletakkan semua barangnya di kamar utama yang terletak pada lantai dua bangunan tersebut. Kyuhyun menyuruh dirinya untuk berada pada satu kamar yang sama, dan itu kamar utama dengan konsep simple namun tetap elegant dan mewah. Yang terdominasi oleh warna cokelat tua dan muda. Ditemani pencahayaan yang lembut, membuat suasana kamar tersebut menjadi nyaman dan tenang saat pertama kali ia memasuki ruangan ini. Dan Ha In yakin, jika semua hal ini Kyuhyun lakukan agar mereka bisa berhubungan dengan baik.

Desain-Kamar-Tidur-Utama-14

Sementara Kyuhyun tengah berada di kamar mandi, Ha In menunggu dengan duduk di sofa yang ada pada kamar tersebut. Menunjukkan ketidak nyamanannya. Berada dalam posisi yang serba salah. Jika ia berkeliaran bebas disini, itu sangatlah tidak sopan. Tapi jika ia terus menunggu dengan duduk di sofa, rasanya benar-benar menyiksa. Bagaimana tidak, sebentar lagi dirinya akan melakukan hubungan itu dengan Kyuhyun.

“Hei,” sapa Kyuhyun begitu keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya mengenakan handuk mandi dibalik tubuh polosnya.

“Mandilah dengan air hangat. Kau akan merasa lebih baik.””

“Ya.”

“Sementara kau membersihkan diri, aku akan membuat beberapa panggilan kantor. Tak akan lama. Begitu kau selesai, maka aku juga selesai. Pergilah. Air hangatnya sudah ku siapkan.”

“Oke.”

Memasuki kamar mandi, Ha In mulai merasakan keresahaannya semakin bertambah. Semua interior yang berada di ruangan tersebut malah semakin membuatnya stress.

“Mengapa patung sialan ini harus berada di kamar mandi? Jika seperti ini caranya, apa bedanya antara aku mandi bersama manusia sungguhan atau ditemani ketiga patung ini?”

Tanpa melepaskan bra dan underware-nya, Ha In dengan sedikit terburu-buru membasuh wajahnya, membersihkan tubuhnya dari debu, serta secepat kilat ia menggosok giginya pada saat itu.

desain-kamar-mandi-klasik-65f

Selesai dalam waktu sembilan menit, Ha In memasuki walk in closet terburu-buru. Mungkin karena saking gugupnya ia, hingga melupakan pakaiannya yang tak terbawa ke kamar mandi.

Membuka pintu dihadapannya, Ha In cukup tercengang dengan luas dan banyaknya pakaian yang tertata rapih pada lemari tersebut.

Hanya satu hal yang membuat ia benar-benar berpikir bahwa Kyuhyun tak masuk akal. Sebuah ruang tv kecil. “Apa yang coba ia lakukan dengan meletakkan tv di ruangan seperti ini.”

Rumah-Tinggal-Mewah-dengan-Gaya-Kontemporer-26

Kembali berjalan semakin dalam, Ha In menemukan deretan sepatu yang tertata rapih pada tempatnya. Bukan hanya sepatu dirinya yang berderet disana, tetapi juga beberapa diantaranya sepatu milik Kyuhyun.

8dbf2ecd02eb1ff5dbfb5ad9d63eb882

“Masuk lebih dalam lagi, itu adalah koleksimu. Aku membelikan beberapa pasang di dalamnya. Lihat, dan cobalah pakai.” Kyuhyun masuk ke dalam tempat tersebut tanpa Ha In sadari. Ia masuk, dan langsung memeluk tubuh Ha In yang masih berbalut handuk mandi dengan erat. Mencium bagian bawah telinganya, pria itu kemudian berbisik di telinga Ha In. Lagi, mengeratkan pelukan belakangnya pada tubuh wanita mungil tersebut.

“Dan ini,” Kyuhyun mendorong wanita tersebut untuk berjalan ke depan lalu belok ke arah barat. “Semua pakaiamu berada disini. Khusus untukmu. Baru saja selesai saat kemarin malam.”

9d2bdf0a64c580e72017728074fc3b2c

“Apa kau menyukainya? Aku sengaja mengecat semua dinding dan juga menggantikan furniture disini menjadi warna putih.” Tak mendapatkan respon segera, Kyuhyun memutar balik tubuh Ha In agar berhadapan dengannya.

“Hey, kau sudah siap?”

Tak berani menatap Kyuhyun, Ha In memalingkan wajahnya ke arah lain. “Apa perlu kita melakukan ini? Mungkin sebaiknya kau mencari yang lain.” Gundah Ha In. Sekarang ia berada dalam posisi serba salah. Jika ia tak melanjutkan rencana Kyuhyun, ia akan mendapati dirinya sendiri terdampar di balik jeruji. Dan jika ia melakukannya? Bukankah ia terlihat tak ubahnya wanita jalang?

“Hei,” Kyuhyun menarik dagu lancip yang terbelah dua itu, menantikan Ha In untuk menatapnya kembali.

“Jangan berpikir seperti itu, ku mohon.”

“Jika kau mencintaiku, mengapa kita tak menikah besok lusa saja? Dan baru melakukan ini. Oh ya Tuhan, ada apa dengan diriku ini.” Ha In menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang sudah mulai memucat.

“Sayang, dengarkan aku. Aku bukan tak ingin menghargaimu, tak menghormatimu, bahkan menjunjungi tinggi martabatmu sebagai wanita. Tapi kau tahukan, bahwa lidah manusia tidak dapat terkendalikan dengan mudah? Aku sudah terlanjur berucap pada kedua orang tua kita bahwa kau sedang hamil. Untuk itulah kita berada disini sekarang.” Ha In memberanikan dirinya menatap Kyuhyun. Melihat air muka Kyuhyun saat memberikan penjelasan padanya.

“Ibu tak akan pernah memaafkan siapapun yang berkata bohong pada keluarga kami. Dan lagi pula, pernikahanku denganmu, aku tak ingin segala sesuatunya dipaksakan selesai secepat mungkin. Aku menginginkan semuanya sempurna. Dan kesempurnaan itu di dapatkan melalui proses yang panjang. Jadi sekarang,”

“Baik, lakukanlah.” Ha In mengatakan hal tersebut dengan kesal. Dirinya tak bisa berkata tidak untuk menolak hal ini, tapi juga ragu akan apa yang telah diputuskannya.

Mengikuti naluri yang berada pada dirinya, Kyuhyun secara perlahan mulai mendekati Ha In lebih intents lagi, menggenggam lengan wanita itu dengan lembut. Beralih pada bibir plum-nya yang terlihat menggoda. Menyatukan bagian itu dengan bibirnya.

Memundurkan kepalanya, Kyuhyun kembali melihat raut wajah Ha In. Memperhatikan dengan teliti, bagian dari setiap anggota tubuh gadisnya. Hidung, mata, teliga, pelipis, anak rambutnya yang menggemaskan, selalu membuat Kyuhyun tak merasakan rasa bosan saat menatap wajah Ha In. Bahkan untuk seharian penuh pun, ia sanggup berdua dengan Ha In dengan hanya saling menatap seperti yang ia lakukan ini.

Kyuhyun mengernyitkan sebelah dahinya. Getaran dari ponsel yang berada saku celananya membuat ia menggeram kesal. “Apalagi kali ini yang pria tua itu inginkan?”

“Pria tua? Siapa? Ayahmu?” Mau tak mau Ha In dibuat penasaran akan nada bicara Kyuhyun seperti tadi.

Menanggapi hal tersebut, Kyuhyun berucap disertai gelengan kepalanya. “Bukan. Choi Siwon. Bosmu bukan?”

Ha In tertawa kecil menyadari penyebab Kyuhyun seperti ini. Mengerucutkan bibirnya, berkata masam, hingga memalingkan wajahnya ke arah lain, bak seorang anak laki-laki usia tujuh tahun.

“Seingatku masih dia. Kau harus menjawabnya dengan ramah dan sopan. Dia masih hyung-mu bukan?”

“Oke. Pakai baju terlebih dahulu, dan aku akan siap setelah panggilan ini berakhir. Sungguh yang terakhir sayang. aku akan mematikan ponsel ini segera.”

“Ya.”

Begitu Kyuhyun keluar, Ha In segera mengambil bajunya secara asal, memakainya dengan terburu-buru sebelum pria itu kembali masuk. Ha In tetap membiarkan gulungan handuknya diatas kepala. Berjalan ke arah depan, Ha In memilih duduk di sofa panjang yang terdapat di area walk in closet Kyuhyun. Merasa lebih tenang, Ha In membuka gulungan handuk tersebut yang menyelimuti seluruh rambutnya yang basah. Menyalakan head layer, Ha In menguraikan rambutnya sedikit demi sedikit. Baru seperempat dari rambutnya kering, Ha In mengambil jeda sementara untuk diam. Setelah ini selesai, apa lagi yang akan ia lakukan di tempat orang lain? Rasa-rasanya kenyamanan yang selalu ia rasakan saat tiba dirumah, lenyap begitu saja saat ini. Perasaannya selalu dihantui akan kegelisahan dan ketakutan. Walau bagaimanapun kini ia berada di tempat orang lain, dan bersama orang yang tak ia kenal secara keseluruhan.

“Hei,” Kyuhyun menghampiri Ha In yang masih menyalakan pengering rambutnya tanpa ia gunakan. “Melamun lagi?” Tak mendapati Ha In yang menyadari kehadirannya, Kyuhyun mengambil pengering rambut tersebut dan melanjutkan pekerjaan yang Ha In lakukan sebelumnya.

“Tenangkan dirimu. Aku akan menjadi seseorang yang kau kenal mulai detik ini. Seseorang yang akan mencoba memahamimu, mengerti akan dirimu, dan mengasihimu. Aku akan menjadi tempat kau berlari pada setiap lintasan akhirmu. Itulah aku mulai sekarang sayang.”

Ha In mengambil nafas dalam, menatap pria yang duduk disampingnya dengan tersenyum ragu. “Oke. Akan ku coba.”

Manis. Itulah pendapat Kyuhyun saat ini. Ha In terlihat sangat manis dimatanya hingga mampu membuat dirinya tersenyum. “Rambutmu sudah kering.”

“Aku tahu.” Ha In terus memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun yang kini tengah menggulung kabel dari pengering rambutnya. Meletakkan secara asal pengering rambut tersebut di atas lantai, lalu kembali fokus kepadanya.

“Kemarilah, aku akan menenangkanmu. Ekspresi dari wajahmu mengatakan bahwa kau sangat tengang.” Mengikuti ucapan Kyuhyun, Ha In bergerak sati inchi ke arahnya. Hanya sebatas itu, ia tak mampu lagi untuk bergerak lebih dekat. Dan karena hanya sebatas itu Ha In bergerak dekatnya, maka kali ini Kyuhyunlah yang mendekatinya. Menyentuh secara perlahan jemari lentik wanita tersebut, sebelum mengecupnya. “Cobalah untuk tenangkan dirimu.”

“Ya.”

Dengan sebelah tangannya yang masih menggenggam jemari Ha In, tangan yang lainnya ia gunakan untuk meraih tengkuk wanita itu. Menyentuh, mengelus, hingga memijatnya dengan gerakan naik-turun. Dan mulai saat itulah Ha In mulai terangsang.

“Kau sengaja melakukannya?” lirih Ha In dengan nafas yang tersendat. Ia tak pernah tahu akan kondisi tubuhnya sendiri. Mengapa daerah itu terasa sangat sensitif lebih dari biasanya.

“Tentu. Sangat menggodamu bukan?”

“Ya. Tolong jangan seperti ini.”

“Tapi ini efektif untuk membuatmu tetap diam dan tenang. Yang terpenting ialah, kau tidak tegang dan terangsang. Itulah intinya sayang. Dan sekarang,” Kyuhyun mengalihkan pandangan matanya melihat mata Ha In yang terpejam erat dengan gigi yang terkatup satu sama lain, hingga jemarinya yang semakin erat menggenggam tangan Kyuhyun.

“Kau sudah siap sayang.”

Secara perlahan, Kyuhyun mulai mendekati wajah Ha In, membelai berkali-kali wajah gadis itu dengan lembut setelah terlebih dahulu ia melepaskan tangannya yang sejak tadi Ha In genggam.

Mengecup, menarik lembut bibir plum tersebut hingga melumatnya dengan pelan dan penuh penekanan, Ha In dibuang melambung oleh Kyuhyun. Perasaan ingin meledak seketika muncul dari dalam diri wanita tersebut saat ia merasakan belaian tangan Kyuhyun tidak lagi pada wajahnya, melainkan berada dipuncak payudaranya yang masih terbalut bra dan baju tidur.

Menghentikan ciuman pada bibir Ha In, Kyuhyun menurunkan bibirnya, menelusuri area wajah wanita tersebut. Dari dagu, rahang, dan sekarang ia begitu menikmati mencumbu wanitanya dia area lehernya yang cukup jenjang, namun tetap tak meninggalkan tangannya yang masih berada di tengkuk dan salah satu payudara wanita itu. “Shh Hyun.” Ha In mendesah parau karena ulah jemari Kyuhyun padanya. Berkali-kali ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri, menyampaikan pada Kyuhyun apa yang sedang dirasakannya.

Yakin bahwa dirinya telah membuat Ha In melambung pada puncak gairah, Kyuhyun kembali melepaskan pangutan bibirnya pada tubuh Ha In. Pandangan dan hasratnya teralihkan untuk menatap Ha In yang sekarang begitu menggoda dimatanya. “Kita lakukan disini sayang?”

“Kamar. Kita lakukan dikamar eggh!” Ha In melonjak kaget saat Kyuhyun menarik putingnya kencang.

Kembali mencium bibir Ha In dan leher wanita itu secara bergantian, Kyuhyun meraih pinggang Ha In agar duduk dipangkuannya, mengambil kedua kaki wanita tersebut agar merekatkan pelukannya. Lalu berjalan keluar dari walk in closet menuju tempat tidur, membaringkan tubuh Ha In di atas tempat tidurnya.

*.*.*

“Sakit?”

“Hmm.”

“Katakan padaku, bagaimana perasaanmu saat ini.”

“Mmm.”

“Oh sayang, ayolah, bicaralah padaku.”

“Hmm.”

Ha In menguap besar. Memiringkan kepalanya ke samping Kyuhyun, dengan posisi badan yang tertelungkup. Dan beberapa saat kemudian wanita itu tidur dengan tenang. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.

*.*.*

From: Cho Kyuhyun

Datanglah ke kantorku pada saat jam makan siang. Kita makan siang bersama.

Ha In memutar matanya jengah. Apa lagi yang akan dilakukan pria itu terhadap dirinya kali ini?

From: Istriku Ha In

Maaf, dengan penuh hormat, aku menolak ajakanmu. Aku terlalu malas untuk pergi ke sana. Dan aku juga sudah siap pergi makan siang dengan team-ku.

Kyuhyun langsung menggeram kesal saat membaca isi teks pesan singkat yang diterima dari Ha In. Semula ia ingin merasakan suasana makan siang di kantor bersama dengan Ha In, tapi kini ia menginginkan hal lain. Bayangan semalam kembali terngiang di dalam kepalanya. Ha In yang mendesah, menjerit nikmat, dan terkapar lemas akibat perlakuannya. Kyuhyun mengingkan itu kembali terjadi. Hari ini, dikantornya.

Menekan Speed Dial 1, Kyuhyun langsung terhubung dengan Ha In.

“Apa? Kau ingin memarahiku hanya karena tak bisa datang?”

Tak mengucapkan sepatah katapun, Kyuhyun lebih memilih untuk mendengus keras sebagai tanda kekecewaannya.

“Kau sungguh marah?” nada Ha In yang semula angkuh dan arogant menjadi lemah. Ketakutan karena dengusan yang Kyuhyun lakukan.

“Ya. Kau tak bisa bayangkan bukan apa yang akan ku lakukan jika aku marah?”

“Aku minta maaf, hanya saja, berikan sedikit waktu luang untukku. Kau selalu meminta . . .”

“Ya, memintamu untuk melakukan itu. Bukankah kau sudah tahu akan perjanjian ini hmm?” dengan tarikan napas dalam, Kyuhyun kembali mengubah nada bicaranya menjadi pelan dan lebih lembut lagi. “Sayang?”

“Ya?”

“Tolong, datanglah kemari. Supir Kwan akan menjemputmu sekarang juga. Aku ingin merasakan suasana makan siang bersamamu, di kantorku.”

Selang beberapa detik, Ha In baru menjawab permintaan Kyuhyun yang ditujukan kepadanya. “Ya. Kau akan menyimpan tangan nakalmu itu bukan?” tanya Ha In ragu. Oh, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di siang nanti jika ia tiba dikantor Kyuhyun.

“Aku tak bisa berjanji sayang. Tapi aku akan mencoba untuk mengikuti ucapanmu. Jadi kemarilah segera.”

“Oke.”

“Waw, waw, waw.” Ha In dibuat meloncat dari kursi duduknya. Ia terkejut dengan suara cemoohan dari arah belakang tubuhnya.

“Han?” peringatannya tak suka.

“Tuan Presdir itu menghubungimu kembali hmm? Katakan padaku, sudah sejauh mana kau berhubungan dengannya? Tangan dengan tangan? Bibir? Mulut? Atau oh, jangan bilang kau sudah mendapatkan ia di balik rokmu.”

“Hei! Apa yang baru saja kau katakan?” Ha In merekatkan kedua giginya hingga berbunyi gertakan.

Ia tahu akan penilaian yang rekan kerjanya dari departement yang berbeda, tapi bisakah wanita itu tak ikut campur hingga berkomentar sepedas itu padanya?

*.*.*

Ha In tiba di depan pintu ruangan Kyuhyun. Setengah mati ia menahan gelisah dan gugup pada dirinya. Haruskah ia mengetuk pintunya? Menguhubungi Kyuhyun agar ia membukakan pintu dihadapannya? Atau masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut?

“Nona Song?”

Ha In berbalik pada lawan bicara yang menyapanya. Suara seorang wanita dari arah jam dua. “Ya itu aku.”

Wanita itu tersenyum manis, menyambut kedatangan Ha In. “Mengapa berdiri disitu saja? Tuan Cho sudah sedari tadi menunggumu di dalam. Masuklah. Atau, apa perlu aku memberitahukan kepadanya bahwa anda sudah berada disini?”

Dengan panik Ha In mengangkat kedua tangannya. Mengerakkan kedua tangan tersebut ke kanan dan kiri. “Aku bisa melakukannya sendiri.” Dengan salah tingkah Ha In memegang handle pintu tersebut lalu mendorongnya cepat.

“Aku permisi terlebih dahulu.”

“Hei.” Belum habis jantungnya berpacu kencang, Kyuhyun sudah menyambutnya dengan sikap dan perlakuan yang di luar akal nalar. Setibanya Ha In masuk ke ruangan tersebut, Kyuhyun menyambut dirinya dengan menempatkan kedua lengan kekarnya dipinggul Ha In dan bibirnya yang sudah berada di dekat telinganya. Membuat bulu kuduk Ha I seketika berdiri.

“Kau sudah berkata padaku untuk mencoba menjauhkan tangan nakalmu.” Pinta Ha In dengan ketakutan.

“Aku calon suamimu. Tapi baiklah. Ayo duduk, kita makan.”

Satu menit, dua menit bahkan setelah menit ke sembilan, Kyuhyun masih bisa menahan dirinya untuk makan bersama Ha In, meskipun semua rasa masakan yang enak tersebut menjadi terasa hambar di lidah Kyuhyun. Bagaiamana tidak, akal sehat pria itu terpenuhi dengan khayalan Ha In yang tengah bercumbu dengannya saat ini di dalam ruangannya sendiri.

Tak mampu menahan gejolak jiwanya, Kyuhyun merampas sumpit nasi yang tengah dipegang Ha In. Mengalihkan wanitanya untuk duduk dipangkuannya.

“Maafkan aku. Aku menginkari ucapanku padamu. Kau pun sudah bisa merasakan bagaimana diriku sekarang.”

“Hei. Aku tengah menikmati makan siangku. Mengapa kau selalu berbuat seenaknya?”

Sebenarnya, Ha In juga merasakan hal yang sama dengan Kyuhyun. Sudah sedari tadi, sejak Kyuhyun melihat dirinya masuk ruangan tersebut, saat itu pula ia merasakan ketidaknyaman yang dialaminya. Itu karena Kyuhyun tak pernah sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada Ha In. Benar-benar konyol jika kau bisa tetap makan dengan tenang, seolah tak terjadi apapun, saat sepasang mata mengamati begitu dekat.

Melihat kedua rahang Kyuhyun yang mengeras, Ha In memilih untuk menundukkan kepalanya dalam. Iya memang tahu keadaan Kyuhyun sekarang, sudah sedari tadi ia lihat Kyuhyun menahan dirinya untuk tak segera *beradu mulut, dan ia cukup bersyukur, Kyuhyun membuktikan bahwa dirinya tulus mencintai Ha In, hingga bisa menahan dirinya untuk sementara waktu.

Dalam satu gerakan cepat 0,25 detik, Kyuhyun menarik lengan wanita itu cukup tegas. “Cukup. Aku sudah tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi.”

“Tu-tunggu.”

*.*.*

To Be Continued

*maaf kelamaan posting. Dan untuk pengertiannya juga, untuk chap berikutnya aku tak bisa berjanji menyelesaikan chap tersebut dalam waktu dekat. Ada drama dan acara tv lainnya yang lebih menarik perhatianku 😉 sorry.

*dan jika masih ada salah-salah kata ataupun kalimat, mohon beritahukan padaku. Terima asih telah berkunjung disini.

See you*

Advertisements

4 comments

  1. Ayo dong kyu in nya cepatan nikah jgn nunggu hamil dulu , wkwkkwkw ghak sabar gimana kalo mereka nikah pasti ada ajah ulah ha in wkwkkwkw:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s