Sowing {Chapter 3}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – Complicated – PG-17 – NC-21 – Married Life||

Length: Chapter|| Author: hyunhyunie||

*.*.*

Ha In terperangkap dalam kukungan tubuh Kyuhyun. Sorot mata pria itu tak pernah berhenti mengintimidasi dirinya. Melalui pantula sinar matanya, Kyuhyun seolah berkata pada Ha In akan perasaannya saat ini. Bahwa dia, ingin menunjukkan kasih sayangnya dengan cara ini, bukan sekedar nafsu sebagai seorang pria saja.

“Kau,” Kyuhyun menyisir helai demi helai rambut Ha In yang tersebar disekitar area wajah gadis itu. Mengambil beberapa helai rambut tersebut, merasakan halus dan lembutnya tiap helaian rambut yang dimiliki gadisnya. “Aku menginginkanmu, sekarang juga sayang. Pahamilah.”

Menundukkan kepalanya lebih dekat, Kyuhyun menutup secara perlahan kedua kelopak matanya. Lalu menanamkan ciuman lembut diatas bibir Ha In, membuat wanita tersebut terenyuh, terbuai akan sikap lembut yang Kyuhyun lakukan. Membuat Ha In mulai mengikuti naluri dirinya. Secara perlahan, ikut terhanyut dalam arus gelombang yang pria itu ciptakan untuknya. Dan entah disadari atau tidak oleh sang pria, Ha In menepis lengan Kyuhyun yang menekan kedua lengannya untuk dapat bergerak. Satu malam bersama Kyuhyun, membuat dirinya menjadi berani dalam hal ini. Tanpa segan lagi, Ha In memeluk bahu Kyuhyun, merambat naik, wanita itu menempatkan kedua telapak tangannya di leher Kyuhyun. Mengelus, memijat, sedikit memberikan remasan kuat, hingga menempatkan bibirnya yang terlepas dari tautan mulut Kyuhyun berada di cerukan leher pria itu.

“Ya sayang, lakukanlah.” Desahan Kyuhyun parau. Ia tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dirinya saat ini. Ha In belajar cepat dalam menjalani hubungan singkat dikantornya ini. Yang paling utama ialah, wanita itu mengetahui bagaimana cara membuat dirinya merasa dicintai sebagai seorang pria.

Tak ingin Ha In yang membuat dirinya datang terlebih dahulu, Kyuhyun meraih kedua lengan Ha In yang masih erat memeluk lehernya. Melepaskan pelukan tersebut, Kyuhyun berhasil membuat dua lengan Ha In berada dalam satu cengkraman lengan kirinya.

“Akh!” Ha In kembali terbanting, terlentang di atas sofa tamu yang biasa Kyuhyun gunakan untuk menyambut tamunya. Tapi sekarang telah beralih fungsi menjadi, tempat berbagi diantara mereka.

“Jangan gila.” Ha In berbicara terbata-bata menahan desahan yang keluar dari mulutnya untuk fokus berbicara dengan Kyuhyun. “Aku masih waras.” Memejamkan erat kedua matanya dengan mulut yang terkatup rapat, Ha In terus berusaha berbicara dengan Kyuhyun. Berbading terbalik dengan Ha In yang mati-matian menahan diri, Kyuhyun melakukan kebalikannya. Dan sekarang pria itu semakin lihai membuat Ha In jatuh pada dunianya, dengan cara mengigit-gigit kecil putingnya, hingga menggulum payudara kanannya. “Sofa ini kau, gunakan untuk menyambut tamumu.” Ha In mendesah lelah diakhir kalimat.

Melepaskan kulumannya, Kyuhyun menatap wajah tersiksa Ha In ditengah rasa puasnya wanita itu, yang justru terlihat sangat seksi di dalam matanya. Bagaimana tidak. Seluruh permukaan wajah Ha In bersemu merah. Bahkan blush-on di kedua pipinya telah berganti warna menjadi pink pekat. Di tambah dengan cucuran keringat yang mulai bermunculan di sekitar pelipis, belahan dada, dan lehernya.

“Kau sangat menggoda sayang. Tubuhmu merespon dengan baik.”

“Tunggu, engh! Kyu.”

Ha In kewalahan akan sikap Kyuhyun yang tak terduga. Bagaimana pria itu menganggap keringat di belahan dadanya sebagai sesuatu yang seksi?

“Kyu, tolonglah.” Ha In bergerak gelisah dibawah kekangannya. Mendesah keras sama saja membuka kartumu, menahan desahan membuat dirinya lebih tersiksa.

“Astaga, jangan!” Ha In terlonjak kaget saat merasakan Kyuhyun yang menarik paksa atasan kerjanya yang berwarna biru laut.

Memicingkan matanya tajam, Ha In menatap Kyuhyun marah sekaligus kecewa. Sekarang Ha In berpikir bahwa tatapan Kyuhyun tadi hanya kebohongan belaka. Wanita itu marah karena satu kancing dari kemejanya telah terlepas, melayang, entah kemana.

“Kau, emmph!” Ha In melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun pada lengannya. Mendorong pria itu dalam sekali hentakan, hingga membuat Kyuhyun hampir jatuh ke lantai.

Bangun dari sofa, Ha In langsung memaki Kyuhyun dengan kedua tangan yang dilipat di bawah dadanya. Mengabaikan penampilannya yang acak-acakan. “Jika kau ingin melakukan ini, setidaknya jangan merusak benda apapun yang melekat ditubuhku! Dan jika kau masih memiliki kesadaran,” Ha In mengambil nafasnya yang pendek-cepat. “Jangan melakukannya di sofamu bodoh! Dan mmmm hey!” Ha In dibuat semakin kesal akan tingkah Kyuhyun. Di tengah luapan amarahnya, pria itu masih bisa mencumbu bibirnya.

“Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Jika aku meminta maaf, pasti kau mengira aku hanya mencemoohmu saja. Tapi jika aku tak meminta maaf padamu, kau akan berpikiran bahwa aku seorang pria yang buruk.” Kyuhyun membenarkan letak duduknya menjadi tegap, meskipun ia harus sabar menanti Ha In kesediaan Ha In melanjutkan hubungan mereka.

“Sayang, aku mencoba untuk,”

“Setidaknya jangan melakukannya di atas sofa ini, dan jangan sekali-kali merobek bajuku.”

Kyuhyun tersenyum menyeringai ke arah Ha In. Sangat menyadari akan ucapan Ha In padanya. Wanitanya bukan menolak melakukan hal ini, tapi ia ingin dilakukan secara hati-hati oleh dirinya. “Oh astaga sayang, oke, aku setuju.” Kyuhyun kembali menunduk, melepaskan tautan lengan Ha In, lalu meraih bokong wanita itu ke dalam pangkuannya.

“Jangan menyelaku lagi, oke?” Belum sempat Ha In menjawab pertanyaan dari Kyuhyun, dirinya kembali dibuat diam akan perlakuan Kyuhyun pada tubuhnya. Kini pria itu tengah mencumbu cerukan leher jenjang Ha In, membuat wanita yang berada di pangkuannya terduduk lemas tak bertenaga.

“Kita melakukannya diruangan pribadiku ya sayang.” Kyuhyun berbisik di telinga Ha In sebelum akhirnya pria itu mengigit-gigit kecil daun telinganya, sementara sang wanita hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan.

“Ehm, oppa.” Ha In mendesah lemah saat kejantanan Kyuhyun mulai memasuki dirinya. Entah sejak kapan pria itu bisa memasuki tubuh Ha In, padahal sejak tadi ia terus sibuk mencumbui tubuh wanitanya.

“Ya sayang katakan lagi. Aku suka mendengarnya.” Bisik Kyuhyun lagi pada telinga Ha In.

Kyuhyun mulai melangkahkan kakinya menuju walk in closet yang luasnya setengah dari luas walk in closet yang ada di kamar utama mereka. Memegang bahu tegap Kyuhyun, Ha In mengangkat kepalanya, melihat keadaan sekitar.

“Tak melepaskan baju?” Ha In mengernyit heran pada tubuh Kyuhyun. Pria itu sudah memasuki dirinya tapi tak sedikitpun kain yang jatuh hingga terlepas dari tubuhnya. Dan tubuh Ha In sendiri belum benar-benar telanjang. Pakaian atas, bra, rok, dan celana dalamnya hanya dibiarkan menyingkap sedikit saja.

Kyuhyun mengikuti arah mata Ha In yang menilai dirinya. “Kenapa sayang?”

“Meskipun aku tak suka terlihat telanjang dimatamu, tapi ini masih jam kantor. Aku tak mau jejakmu tertinggal dibajuku.”

Kyuhyun mengecup singkat bibir Ha In. Mematuhi maksud tersirat dari ucapan Ha In padanya. Tapi terlebih dahulu, Kyuhyun mengambil duduk di sofa panjang yang terletak dalam walk in closet tersebut sebelum akhirnya pria itu mulai melepaskan pakaian Ha In yang sudah berantakan.

“Kau memiliki ruangan ini di dalam kantormu?”

“Koleksi kemeja, jas, dan pakaianmu yang lainnya?”

“Dan kau juga menyimpan pakaian wanita?” Ha In memekik di akhir pertanyaannya. Pikiran buruk melayang dalam benaknya sekarang.

“Jangan katakan pakaian itu milik wanita lain yang pernah kau pakai.” Terlalu lama menanti jawaban Kyuhyun, Ha In mulai berang sekaligus kesal.

“Lepaskan penismu sekarang juga! Seharusnya aku tak percaya padamu.” Desis Ha In tak suka. Ia tak bisa bayangkan jika Kyuhyun melakukan hal yang kini mereka lakukan pada wanita lain di masa lalunya.

“Hei,” Kyuhyun kembali tersenyum senang menyadari kecemburuan Ha In. “Semua pakaian ini untukmu.”

“Kau yakin?”

“Ya. Pakaian ini baru datang tadi pagi. Aku baru saja mendapatkan ukurannya tadi malam.” Ucap Kyuhyun dengan tangan kanannya yang mulai menjelajah tubuh Ha In. Melepaskan kemeja biru lautnya, bra putih polet biru, rok span biru dongker, hingga merobek paksa underware warna senada dengan bra miliknya.

“Astaga, kau baru saja berjanji untuk tidak,”

“Aku mempunyai banyak penggantinya sayang. Kau bisa menggantinya dengan yang lain.” bisik Kyuhyun di atas bibir Ha In. Membuang koyakan underware-nya, Kyuhyun menyentakkan lebih dalam lagi penis yang semula hanya tiga perempatnya saja.

“Eengh, pelan. Jangan menyentakkannya sekaligus!”

“Kalau begitu sayang,” Kyuhyun melepaskan cengkraman tangannya dari pinggang Ha In. Menatap wanita yang berada dipangkuannya saat ini dengan sebuah tantangan. “Kau yang bergerak. Hentakan dengan cepat dan kuat. Aku sudah tak sabar menantikan kehangatan darimu.”

“Apa?” Ha In tercengang dengan permintaan Kyuhyun padanya. Baru kali ini Kyuhyun meminta dirinya untuk bergerak. “Aku tidak mau. Kau saja. Bukankah kau yang menginginkannya? Bukan aku.” Elak Ha In tak setuju, walaupun ia juga harus menahan gejolak dalam dirinya yang ingin mendapatkan kenikmatan dari akhir permainan ini.

“Jangan bohong, kau juga menginginkanku bukan?” Menghindari pertanyaan Kyuhyun, Ha In memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain.

Merasa berhasil membuat Ha In membisu, hingga menimbulkan rona pipi diwajahnya, Kyuhyun meraih, menggenggam kedua lengan Ha In lalu menempatkan lengan itu di cerukan lehernya. “Kalau begitu sayang, mendesahlah yang keras karena aku akan membawamu dengan cepat.” Begitu Kyuhyun selesai mengatakan hal tersebut, Kyuhyun segera menghentakkan keras miliknya masuk lebih dalam lagi. Membawa Ha In dengan cepat dalam hentakan-hentakkan tegas miliknya. Satu sentakan lebih kuat dari sebelumnya, Kyuhyun mengakhiri permainan tersebut dengan semburan sperma yang meledak, memancar berhamburan di dalam rahim Ha In yang diiringi desahan lega dari keduanya.

Saling mendesah berat, Ha In dan Kyuhyun sama-sama berharap akan usaha kedua mereka ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Ha In pun berharap seorang bayi seperti yang Kyuhyun inginkan darinya, terlepas dari alasan kurang masuk akal Kyuhyun yang memilih dirinya.

“Kau sangat cantik selepas kita bercinta sayang. Aku semakin jatuh cinta setiap detiknya padamu. Song Ha In.” Setelah puas bercinta dengan singkat, Kyuhyun tetap memeluk Ha In erat meskipun dengan cucuran keringat dari tubuh keduanya. Kyuhyun tak melepaskan Ha In satu jengkalpun dari posisi mereka setelah bercinta tadi. Melepaskan Ha In saat ini, sama artinya ia membuang percuma sperma miliknya yang masih keluar sedikit demi sedikit. Siapa yang akan tahu jika sperma terakhirlah yang akan menang mencapai sel indung telur yang ada di dalam rahim wanitanya ini.

Menguap beberapa kali, Ha In yang mulai terkantuk, kedua matanya perlahan mulai merapat saat hendak memasuki alam mimpi, namun sedetik kemudian harus terjaga kembali, Kyuhyun mengangkat dirinya hingga pangutan antara V dan O harus terlepas. “Ehm, oppa.” Protes Ha In karena terlepasnya pangutan tersebut membuat tubuh bagian bawahnya ngilu, dan juga niat tidur siangnya yang hampir terjadi, kini urung dilakukan.

“Aku akan membukakan pintu dulu sayang. Tunggulah disini.”

Kyuhyun membaringkan tubuh polos Ha In diatas sofa dengan berselimutkan handuk mandi miliknya. Melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan hanya memakai celana kerjanya saja. Beberapa saat menghilang, Kyuhyun kembali menghampiri Ha In yang kini tengah susah payah membuka matanya, sedangkan kedua tangannya terus menjelajah lantai, mencari-cari keberadaan pakaiannya.

“Hei, kita mandi dulu. Selepas itu kau boleh memakai bajumu. Biar ku bantu.” Kyuhyun melepaskan genggaman Ha In pada pakaiannya. Merangkul tubuh Ha In agar bersandar di bahunya. “Kau kehausan, minumlah ini.”

Ha In hendak menolak minuman yang Kyuhyun berikan padanya, namun belum sempat ia melakukan itu, Kyuhyun sudah terlebih dahulu mencengkram kuat rahangnya hingga membuat Ha In tak bisa menolak minuman tersebut. Ditambah dengan posisi kepalanya yang sengaja pria itu tenggakkan membuat dirinya mau tak mau harus menelan minuman tersebut.

“Kau melakukannya lagi padaku? Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tak menyukainya? Setidaknya jangan rasa coklat. Aku ingin vanila. Tidak dengan coklat ataupun rasa yang lainnya.”

Kyuhyun tetap tenang ditengah ocehan Ha In yang terus menerus mengeluhkan susu pendukung untuk persiapan wanita hamil yang kini telah habis diminum olehnya. Sebenarnya ia tahu, sangat mengetahui bahwa Ha In bertolak belakang dengan dirinya. Kyuhyun menyukai susu coklat, sementara Ha In hanya bisa minum susu full cream atau dengan rasa vanila saja. namun Kyuhyun tetap bersiteguh memberikan Ha In susu dengan rasa yang paling wanita itu benci. Pria itu beranggapan bahwa kesukaan seseorang dapat berubah seiring perkembangan zaman, lingkungan, dan pergaulan. Dan bukan kali ini saja ia mendapatkan ocehan serupa dari Ha In. ocehan itu sering ia dapatkan selepas mereka habis bercinta. Karena sehabis bercinta itu pula Kyuhyun baru memberikan susu pendukung persiapan kehamilan tersebut.

“Sudahlah sayang, demi bayi kita. Sekarang minum vitaminnya.”

Lagi-lagi Ha In dibuat kesal pada Kyuhyun, terlebih pada dirinya sendiri yang sungguh sial karena tak bisa meminum obat yang berbentuk kaplet dan kapsul. Multivitamin yang berada dalam genggaman Kyuhyun kebanyakan berbentuk kapsul dan kaplet. Hanya ada satu yang berbentuk tablet kecil yang menyerupai obat selaput.

“Perlu bantuan?”

“Huh,” Ha In tertawa mencemooh padanya. “Berikan saja aku airnya.” Mengamati telapak tangan Kyuhyun yang terulur dengan multivitamin yang berada di atasnya, Ha In segera menyambar segelas air putih dan vitamin tersebut. Mati-matian ia berusaha menelan dua bentuk obat yang menyiksa dirinya hingga berurai air mata.

“Tolong, hubungi Dr. Kaith, dan katakan padanya untuk mengganti vitamin ini dengan yang lain. Yang berbentuk tablet kecil, agar aku tak susah payah untuk menelannya.” Lirih Ha In diakhir penuturannya. Dan sekarang wanita tersebut mulai lemah, lemas tak bertenaga karena kelelahan ditambah karena tak ada asupan makanan untuk pekerjaan singkat ini yang telah membakar hamipr seluruh cadangan lemaknya.

“Berikan aku waktu lima menit oke? Aku sangat mengantuk.” Mengabaikan penampilannya saat ini, serta luapan emosinya yang menguras tenaga, Ha In memposisikan kepalanya untuk bersandar senyaman mungkin dibahu Kyuhyun. Hingga tak lama kemudian kedua matanya mulai tertutup rapat.

*.*.*

“Ssst.” Ha In tersentak bangun dari tidurnya. Tertidur kelelahan selama beberapa menit selepas bercinta dengan Kyuhyun di atas sofa tadi, menurutnya itu wajar saja. Mengingat isi perutnya yang kosong.

Melalui mata sayunya, Ha In berusaha untuk melihat keadaan sekitar. Dapat ia lihat bahwa di sekitarnya terdapat beberapa bupet kecil, dua handuk mandi, cermin bulat, dan yang lainnya. Ia berada di kamar mandi kini. Dan lagi-lagi berada dipangkuan Kyuhyun dengan bagian tubuh mereka yang sama polosnya.

“Sshh, Kyu.” Ha In mencengkram erat bahu Kyuhyun saat dirasakan kejantanan milik Presdir muda itu kembali memasuki tubuh bagian bawahnya.

“Kau telah berjanji padaku untuk tak melakukannya lagi. Tapi nyatanya kau masih menginginkanku di dalam kamar mandi.” Cibir Ha In tak suka. Pasalnya, demi melayani Kyuhyun tadi, ia harus melewatkan jam makan siangnya. Dan setelah ini ia harus segera bergegas menuju kantor Siwon yang cukup jauh, memakan waktu sekitar lima belas menit untuk menuju ke sana dari tempatnya berada sekarang.

“Sekarang beritahu aku, pukul berapa ini? Aku harus kembali ke kantor.” Melepaskan tautan lengan Kyuhyun yang memeluk bahunya erat, Ha In melihat-lihat isi kamar mandi tersebut, siapa yang tahu jika Presdir muda seperti Kyuhyun bisa saja menyimpan jam dinding di ruang pribadi seperti ini. Meskipun pada kenyataannya hanya sekitar 0,5% benar.

Menarik dagu Ha In untuk menatap dirinya, Kyuhyun menempatkan lengan kirinya di tengkuk Ha In. Mulai memberikan elusan, pijatan erotis, hingga remasan yang cukup merangsang wanita itu. “Masih ada waktu sayang. Percayalah padaku, dan tolong aku.”

Ha In terlonjak kaget saat Kyuhyun mengangkat tubuhnya secara perlahan lalu menarik dirinya ke bawah lagi, menghantamkan V-nya pada O Kyuhyun yang langsung menusuk dalam, terlalu dalam dari yang biasanya ia lakukan.

“Ya Tuhan Kyu. Bisakah kau lakukan dengan lembut.” Ha In menggeram sedikit sakit, ngilu, namun tetap dapat merasakan kenikmatan bercinta dengan Kyuhyun.

“Tidak sayang. Aku ingin cepat dan dalam, hingga dapat memabukkanmu.” Terlalu lelah untuk berkomentar kembali, Ha In memluk leher Kyuhyun erat. Menumpahkan perasaannya saat ini dengan mengigit kecil bahu Kyuhyun dengan kepala yang tertelungkup. Terus seperti itu hingga Kyuhyun membuatnya datang kembali dan menerima semprotan yang cukup banyak ke dalam dinding rahimnya.

“Owh sial. Bisakah kau bantu aku?” Ha In terus mengeluh sejak Kyuhyun berhasil memasukinya kembali di kamar mandi. Matanya terkatup-katup mengantuk, belum lagi tubuhnya yang pucat karena belum menerima makan siang. Melakukan pekerjaan seperti tadi telah menguras tenaganya bahkan cadangan makanan yang berada pada tubuhnya. “Bagaimana bisa aku menjadi selemas ini?”

Ha In menyerah memakai pakaian untuk dirinya sendiri. Terhitung sudah lima kali ia salah memakaikan baju tersebut pada tubuhnya. Jahitannya yang terbalik, letak kancing yang tak sejajar, tak bisa membedakan cardingan dan kemeja kerjanya, tangannya yang salah masuk, dan masih ada lagi yang lainnya.

Kyuhyun meraih lengan Ha In, membawa wanita itu untuk kembali duduk dipangkuannya. Dengan sabar, Kyuhyun melepas semua semua kancing kemeja Ha In, memasangkan kembali kancing kemeja wanitanya dengan rapih tanpa sedikitpun kesalahan seperti yang dilakukan Ha In, sementara Ha In sendiri terus terkantuk-kantuk ke depan akibat tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Mungkin saja ia akan terkatuk pada sudut lancip marmer dari wastafel jika Kyuhyun tak memegang tubuhnya.

Selesai dengan kancing ke enam, Kyuhyun kembali merengkuh tubuh mungil wanitanya untuk bersandar. Menyapu helaian rambut Ha In dengan lembut, dan menanamkan ciuman selembut beludru. “Itu wajar sayang. Kau bekerja seharian, dan itu menyita banyak tenagamu. Saat kau kesini, kau baru saja makan sedikit. Sementara aku, dengan tanpa hati langsung menerjangmu, dengan durasi waktu yang sangat lama. Maaf. Oh,” Kyuhyun membalikan tangan kirinya, melihat pada jam tangan platinumnya. “Ini pukul dua belas lima puluh {12.50 KST} sayang, kau akan terlambat.” Menciuman lembut pelipis Ha In, Kyuhyun tengah berusaha memberikan kenyamanan pada wanitanya.

Jika bukan karena ada beberapa pekerjaan yang menyangkut pembangunan cabang baru, Ha In pasti akan membuat alasan untuk menghindari kantor siang ini. Tapi mau bagaimana lagi, Presdir Muda bermarga Choi itu pasti akan mencarinya jika ia tak berada di ruang kerjanya saat ini. Dapat dipastikan jika Presdir tempatnya bernaung sekarang akan memotong bonus akhir tahun, dan gaji pokoknya.

Ha In merasa lebih baik lagi, walaupun masih terasa sangat emas dan kedinginan. Duduk dengan tegap, Ha In memegang lengan Kyuhyun yang melingkari pinggangnya. “Kau membuatku berada dalam masalah Presdir Cho. Berjanjilah mengenai satu hal.” Mencoba berdiri tegak meskipun tubuhnya agak sempoyongan, Ha In mulai berjalan dengan sebelah tangan yang masih memegang erat lengan Kyuhyun. Kepalanya masih terasa berat dan pusing dibagian kanan.

“Apapun sayang.” Ucap Kyuhyun yang tetap memegang tangan kiri wanita itu. Kyuhyun yakin, jika wanita itu akan terjatuh cukup kuat menghantam tajamnya sudut lemari jika saja dirinya tak memegang lengan Ha In dengan kuat.

“Kau harus mengganti makan siangku ini. Kau telah membuatku kelaparan sekarang.”

“Hanya itu? Baik, aku berjanji. Maafkan aku. Dan terima kasih untuk hari ini.” menucapkan kata tersebut dengan penuh penyesalan, tapi terdengar ebliknya di telinga Ha In. Bahkan Ha In dapat merasakan saat Kyuhyun menyeringai seperti seekor hewan buas padanya saat mengatakan “Makan siangnya sungguh sempurna. Dari makanan pembuka hingga penutup, serta tambahan camilan dan minumannya.”

Menanggapi ucapan Kyuhyun, Ha In membalasnya dengan tersenyum mencemooh mendengar perkataan Kyuhyun yang begitu frontal dan jorok. “Jika kau menganggap mulutku sebagai camilan dan sel telur itu minumanmu, kau benar-benar pria yang menakutkan.”

“Aku pikir tidak begitu sayang. Ayo, biar ku bantu kau untuk berjalan. Dan mungkin sebaiknya kau tidur saja disini.”

Ha In berbalik menatap Kyuhyun dengan kedua bola matanya yang menyala marah. Mendengar kata tidur kembali terucap dari pria disampingnya, membuat Ha In geram bukan main. Rasa kantuk dan lemasnya lenyap sektika itu juga, tergantikan amarahnya yang memuncak.

“Tidur yang sesungguhnya sayang. Aku tak akan mengganggumu. Atau kau ingin aku menelpon bagian HRD perusahaan Choi sialan itu untukmu. Kau juga dapat beristirahat di rumah jika kau tak suka berada disini.”

“Oh diamlah Cho, aku tahu kau tengah merayuku lagi. Tapi kau tetap tak akan bisa menipuku kembali.”

*.*.*

Derap langkah Ha In membelah lalu lalang pejalan kaki sepanjang trotoar yang menuju ke arah kantornya. Puas melayani Kyuhyun, wanita itu harus berburu waktu, mengejar keterlambatannya. Satu lebih dua puluh lima menit {13.25 KST}.

Memperlebar jarak langkahnya, Ha In mencoba untuk tak terlihat membuat kesalahan ditengah lalu lalang karyawan yang mulai sibuk dengan map yang berisi kumpulan data, berlari dari satu departement ke departement yang lainnya. Berhasil melewati loby dengan cepat tanpa satu karyawan yang memperhatikannya, Ha In segera menekan tombol lift untuk membawanya ke lantai tujuh. Satu dentingan, dan pintu lift langsung terbuka menyambut dirinya. Ha In berbalik ke arah kiri, berulang kali memperbaiki penampilannya, belahan rambutnya yang tertiup angin, serta menyampirkan poninya dibelakang telinga hingga tak menghalangi pandangan matanya.

“Huh, sungguh gila Presdir sialan itu.” Ha In mengumpat di tengah-tengah jari-jarinya yang sedang merapikan geraian rambut panjangnya. Ia tak lagi mengikat rambutnya seperti tadi pagi. Ha In sengaja melakukan itu. Kyuhyun yang menyuruhnya, dan lagi, rambutnya masih agak lembek meskipun sekarang cukup kering. Sempat terpikir dalam benak Ha In bahwa Kyuhyun memang tak main-main dengan program bayi diluar nikah bersama dengan dirinya ini. Cerita singkat mereka saat di kantor tadi, membuat Ha In bergidik. Ruang seluas 12x15m2 itu, mampu membuatnya mengeluarkan cairan dalam jumlah yang cukup banyak.

“Dan aku yakin tak lama tubuhku akan terlihat buruk. Entah itu berkurang atau bertambah.”

*.*.*

Suasana kantor cukup kondusif, Yoon Mi sang assistant berada di balik meja kerjanya, beberapa karyawan dalam satu departementnya tengah sibuk dengan komputer masing-masing, hanya menyisakan satu kursi yang kosong, kursi itu milik Shim Dong Eun.

Ha In berdiri, bersandar pada kaca pemisah ruangan umum karyawan departement-nya dengan ruangan pribadi miliknya. Dengan kedua tangan yang saling bersilang, Ha In mulai mencibir kursi Dong Eun geram. “Ku pikir pria setengah wanita itu tak hanya pandai bergosip saja. Tapi juga pandai mncuri waktu. Lihat saja nanti, kau tak akan lolos Dong Eun.” Hampir tersandung menabrak pintu kaca di depannya, lengan Ha In tercekal kuat oleh pria yang berdiri menghalangi langkahnya. Shim Dog Eun.

“Tunggu,” melepaskan cekalan lengannya, Dong Eun melihat jam tangan hitam dengan lekat. “Telat lebih dari dua puluh lima menit, ini bukanlah dirimu. Dan,” Tak cukup puas mengintrogasi ketua departement-nya, Dong Eun mengendus wangi aroma yang keluar dari pakaian wanita itu. “Kau, wangi, rapih, bersih, seperti habis mandi. Tapi mengapa wajahmu terlihat lelah dan mengantuk?”

Dan lihatlah pria bawahannya ini. Begitu kurang ajar. Bertindak sesuka hati, berkata tak terkendali, hingga bersikap tak sopan padanya. “Ayolah Shim, aku perlu ke ruanganku segera oke? Kau bisa mengintrogasiku lain kali. Tapi tidak sekarang.”

Mengetahui dirinya hanya mengelak dari pertanyaan Dong Eun, pria itu tak memberikan jalan masuk. Ia menjadikan dirinya tameng dengan cara berdiri di tengah pintu masuk.

“Jangan konyol, ayolah Shim sayang. Sebelum aku marah oke? Segera menyingkir!”

“Aku tak sedang bercanda ketua Song. Aku bawahanmu, sahabatmu, dan aku juga cuckup memliki peranan penting disini. Aku harus tahu bagaimana dirimu sekarang. Karena itulah tugas yang diberikan Hae Ri dan bibi padaku. Memata-mataimu, mengintrogasimu, dan jika bisa, membaca pikiranmu.” Bisik Dong Eun diakhir kalimat.

“Kau, gajimu akan hangus bulan ini jika tak kau biarkan aku masuk ke dalam sekarang juga.” Satu putaran mata ke arah Dong Eun, Ha In berbalik mencekal lengan kirinya, dalam satu sentakan kuat wanita itu berhasil membuat Dong Eun menyingkir dari ambang pintu.

“Bukankah sudah ku katakan untuk menepi selagi aku masih berbaik hati padamu.” Ucap Ha In saat melihat Dong Eun yang terjerembab menyentuh lantai akibat tarikannya yang terlalu kuat.

*.*.*

“Bagaimana tadi di kantor? Menyenangkan?”

“Ehm,” Ha In menanggapi pertanyaan Kyuhyun singkat. Tak terlalu suka dengan pertanyaan Kyuhyun yang dirasanya masih asing. Belum terbiasa untuknya mendapatkan perlakuan seperti, membukakan pintu menyambut kedatangannya, bertanya mengenai harinya, hingga menuntun dirinya untuk duduk di sofa. “Aku tak ingat apa saja yang telah aku lakukan paska makan siang itu. Mataku terkatup-katup, aku kelaparan, dan aku tak tahu mengapa bisa selelah ini.”

Kyuhyun meraih pinggang Ha In, membimbing wanita itu untuk duduk di sofa agar setidaknya ia bisa beristirahat sejenak sebelum makan malam dimulai. “Aku yakin kau hanya belum terbiasa. Aku akan menjadi kokimu malam ini. Bersiaplah.” Belaian Kyuhyun pada puncak rambutnya membuat dirinya tenang. Ha In sempat lupa bahwa mereka disatukan dalam permintaan Kyuhyun yang menginginkan bayi darinya. Ia merasa tengah bersama dengan pasangan yang sesungguhnya. Seorang pria yang mencintainya dengan tulus, mengenal ia dengan baik, hingga memperlakukannya secara istimewa.

“Kita makan di rumah?” tanya Ha In mengernyit ke arah Kyuhyun. Menjadi koki untuk dirinya? Ha In tak sampai berpikir akan kemampuan Kyuhyun dalam hal meracik menu makanan.

Balas mengernyit Ha In, Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya, melengkung sempurna. “Ya tentu. Atau kau menginginkan tempat lain untuk makan malam kita? Aku bisa menyewa tempat manapun yang kau suka, kau hanya tinggal mengatakannya padaku.”

“Tidak, di rumah saja. Karena aku ingin segera berganti dengan pakaian yang lebih lembut. Seperti baju tidur mungkin.”

“Aku yang akan memilihkannya untukmu. Warna putih?”

“Dan sekarang kau menjadi pengamat pakaianku. Mendominasi.”

“Percayalah, aku hanya ingin melakukan hal konyol ini padamu.”

“Dan percayalah, aku sangat ingin memukul keras kepala sialanmu itu.”

*.*.*

Kumis tipisnya menggoda kulit Ha In. Terus menelusuri setiap inci dari aliran darah vena dan arteri yang terlihat di permukaan kulit putih wanita itu. Lidah panasnya menjentik puting Ha In, berputar-putar semakin cepat, membuatnya merasa geli sekaligus nikmat. Tubuh Ha In secara refleks melengkung kearah mulutnya, mengerang dengan suara indah karena kenikmatan, yang hanya membuatnya semakin bernafsu.

Seseorang yang tengah terjaga sedang asyik membuat dirinya datang sebelum sarapan pagi dimulai. Cara terbaik untuk memulai harinya bersama dengan pria yang mencintai dirinya. Mata Ha In bergetar, terbuka dan mengunci matanya, bangunnya Ha In seperti sinar mentari di pagi hari. Ha In mulai menyukai dibangunkan Kyuhyun seperti ini. Bobot tubuhnya yang menekan Ha In, pinggulnya menempel erat di antara kaki jenjang wanita itu, dan tangannya yang menjepit tubuh Ha In ke tempat tidur. Matanya berkobar, menyala saat kemaluannya mengisi Ha In dengan gerakan yang penuh penekanan. Membuat Ha In menyuarakan kenikmatannya, melengkung keatas untuk bersentuhan dengan tubuh pria dihadapannya sedekat mungkin. Dia hanya menyentuh mulut Ha In dengan lidahnya dan menemukan bagian lain dari tubuh wanita itu untuk diklaim.

Nikmat. Itulah kata yang tergambarkan Ha In saat tubuhnya diklaim oleh Kyuhyun. Terasa begitu nikmat. Bergerak secara perlahan, lambat, namun mantap, membangun irama dengan dorongan begitu dalam dan berakhir dengan sedikit meliuk setiap kali pria itu memutar pinggulnya. Berulang kali Ha In meremas dengan kuat otot bagian dalam di sekeliling kemaluannya, ia cukup tahu itu bahwa apa yang dilakukannya akan membantu prinya untuk mendapatkan pelepasanku yang lebih cepat. Mulai detik ini, Ha In serakah untuk mendapatkan hal tersebut.

“Belum sayang. Kau harus menungguku kali ini.” Ucap Kyuhyun pelan, berburu dengan nafasnya yang tak beraturan.

“Aku akan datang bersamamu, dan aku akan memberitahumu kapan itu.” Dengan suara serak ia membisikan kalimat itu pada telinga kanan Ha In. Cukup lama Ha In dibuat mengelinjang ke kanan-kiri, hingga tubuhnya terangkat sempurna membentuk setengah lingkaran saat Kyuhyun dengan kuat mendorong kejantanannya masuk sangat dalam. Mengantarkan ribuan sel sperma masuk dalam rahimnya. Menghela nafas sejenak, Ha In terus terenggah-enggah selama beberapa menit, berusaha mengatur kembali pernafasannya secara normal.

“Kyu?” Ha In membuka matanya secara perlahan. Menemukan mentari pagi yang tengah tersenyum ke arah seolah ingin mengatakan ucapan selamat pagi di hari yang cerah.

“Ya sayang. Puas berorgasme?”

“Apa?” Ha In langsung tersadar dalam hitungan detik. Tubuhnya kembali mengejang seperti perasaan saat dirinya akan berhubungan dengan Kyuhyun.

“Jadi tadi itu?” Tanpa sempat ia sadari, dengan refleks lengan Ha In terulur, menyentuh selangkangannya yang basah. “Sial!” desis Ha In merasa begitu malu akan peristiwa yang menimpanya kini. “Jadi aku separah itu?” tanya Ha In pada dirinya sendiri. Bangun dari tidur Ha In tak menghendaki jika peristiwa inilah yang terjadi pada dirinya. Berorgasme dalam mimpi? Ayolah, baru kali ini ia bermimpi buruk hingga terbawa pada kenyataan.

“Ya sayang, itulah kamu. Ku pikir aku telah berhasil mengubah dirimu menjadi seperti ini.” Menatap ke depannya, dirinya merasa bertambah malu, apalagi saat Kyuhyun menutup lembaran dari koran yang dibacanya. Seakan tengah menyiksa Ha In, secara sengaja Kyuhyun melakukan gerakan kecil yang ia yakini bisa membuat wanitanya tercekat. Tanpa menghiraukan reaksi Ha In yang terpaku menanti kejelasannya, pria itu lebih memilih untuk mengambil secangkir coffe yang mengepul, mengeluarkan aroma khas yang segar di pagi hari.

“Ini enak sayang. Kau mau?” tawar Kyuhyun. Mengangkat tinggi mug-nya di udara.

Merasa serba salah, Ha In tak mampu lagi untuk menatap Kyuhyun. Ia sungguh malu pagi ini. Paginya ia mulai dengan mengeluarkan banyak cairan akibat mimpi erotisnya sendiri. “Tidak. Terima kasih. Aku akan pergi bersiap.”

Kyuhyun tertawa keras saat melihat Ha In tersandung selimut yang tegulung dibawah kakinya. “Berhati-hatilah sayang, aku takan akan menangkapmu pagi ini.”

“Oh diamlah Cho.”

“Kyu.” Ejek Kyuhyun menirukan suara desahan Ha In saat sedang tertidur beberapa menit yang lalu.

“Diam! Aku benar-benar muak mendengarnya.”

Kyuhyun semakin bersemangat menggoda Ha In. dengan sengaja ia kembali mengulangi panggilan Ha In untuk dirinya. “Kyu.”

“Cho Kyuhyun. Kau tak akan pernah menemukanku lagi.”

“Kyu.”

“Hei!”

“Kyu.”

“Arrgh! Tutup mulutmu sialan.”

*.*.*

Datang terlambat, Ha In tak sempat bertemu dengan Hae Ri maupun Dong Eun yang biasanya akan mengunjungi ruang kerjanya setiap pagi secara rutin. Saat memasuki loby kantor, Ha In ditarik paksa tanpa sempat melawan oleh Yoon Mi. Assistant itu berkata bahwa ia sudah sangat terlambat untuk hadir dalam rapat kantor.

Tak sampai disitu, selesai dengan rapat kantor, Ha In harus kembali melewati harinya bertemu dengan klien sampai waktu makan siangnya berkurang banyak. Tapi sekarang, ia sedang berkumpul bersama Dong Eun dan Hae Ri, menikmati makan siang bersama di caffe dekat kantornya.

“Katakan padaku, apakah dia sudah memuja V mu?” tanya Dong Eun penasaran. Ia masih belum putus asa untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan Ha In dan Presdir Cho. Kesal dengan reaksi Ha In yang hanya tersenyum dengan kepala tertunduk, Dong Eun kembali mengajukan pertanyaan yang ia yakini akan membuat Ha In geram, hingga mengatakan yang sebenarnya.

“Karena aku yakin. Pria seperti Kyuhyun bukan hanya sekedar ingin menjadikanmu sebagai bagian dari rencananya. Dia benar-benar jatuh hati padamu lady. Maka dari itu, aku sangat yakin jika dia pria yang hebat dalam bermain denganmu, bercumbu, bahkan dalam tahap yang lebih dalam. Bukankah begitu Nona Song?” Kembali tak mengatakan hal apapun, dapat dipastikan jika pria yang dihadapannya ini semakin jengkel. Ha In yakin jika pertanyaan berikutnya akan lebih tajam dan kurang ajar.

“Apa dia pernah mencumbu V mu?”

Baru saja menguyah ramen yang berada dimulutnya, Ha In terbatuk-batuk hingga mengeluarkan semua makannan yang berada di dalam mulutnya. Bukan, bukan karena perkataan senonoh dari teman satu teamnya. Tapi di ujung sana seorang yang ia kenali tengah mengangkat tinggi ponsel miliknya. Menampilkan beberapa photo dengan berbagai macam linger padanya.

Terus terbatuk-batuk tanpa henti, Ha In segera membekap mulutnya. Berulang kali ia mengagguk-anggukan kepalanya meminta maaf pada teman satu mejanya karena sudah berlaku tidak sopan.

“Maaf. Aku permisi.” Sedikit berlari, Ha In pergi ke arah jam empat caffe tersebut. Mencari letak toilet wanita untuk memuntahkan sisa makanan yang tersedak di tenggorokannya.

“Hey! Akh sial. Apa perkataanku terlalu kasar untuknya? Bukankah dia sudah dewasa?” tanya Dong Eun meminta pendapat Hae Ri yang sejak tadi hanya terdiam. Tak mengatakan sepatah katapun.

“Mana ku tahu?”

*.*.*

To Be Continued

Kelamaan ya kan? Akunya kecapean dan kurang istirahat, jadi sampai sekarang kondisi tubuh tuh naik-turun. Pengen tidur, tapi inget belom selesein chap. ini. Pas dilanjutin ngetik malah gak nyambung. Untuk itu mohon maaf. Terkadang aku suka iri ama kalian yang punya banyak waktu luang dibuang percuma. Sementara aku kekurangan waktu. Kerja dari pagi sampai petang itu menyiksa fisik dan batin. Begitu pulang, mandi, makan, lalu tidur. Sungguh ancur deh Ramadhan kali ini. Mohon ampuni aku ya? 😉 😉 🙂

Andai saja sepupuku mau jadi assistant pribadi yang bisa ngetik beberapa ceritaku. Tentunya itu akan sangat teramat membantu. Karena jujur, yang sulit itu luangkan waktu untuk ngetik, bukan ngekhayal jalannya cerita.

Dan kalian juga harus tambah sabar lagi untuk chap berikutnya. Soalnya UAS PTK semester 6 ketinggalan. Masa iya sih soal yang harusnya ada tgl 24 Mei ilang entah kemana dan baru muncul sekarang di saat semua udah pada sibuk dengan liburan dan aktivitas lain diluar kampus. Lucu-lucu kesel aku.

And the last, jika memrlukan aku, hubungi {+6287767934810} atau lewat BM 26C4AFFD Terima Kasih….

Advertisements

2 comments

  1. Owh jadi itu semua hanya mimpi erotis nya ha in ? Kenapa ha in ghak kerja jadi sekertaris nya kyuhyun ajah sih? Hehhehe:D iya nieh kelamaan part 3 nya part 4 nya jgn kelamaan juga yah mmih:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s