Sowing {Chapter 4}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – Complicated – PG-17 – Married Life||

Length: Chapter|| Author: hyunhyunie||

*.*.*

––– chapter sebelumnya,

“Katakan padaku, apakah dia sudah memuja V mu?” tanya Dong Eun penasaran.

“Karena aku yakin. Pria seperti Kyuhyun bukan hanya sekedar ingin menjadikanmu sebagai bagian dari rencananya. Dia benar-benar jatuh hati padamu lady. Maka dari itu, aku sangat yakin jika dia pria yang hebat dalam bermain denganmu, bercumbu, bahkan dalam tahap yang lebih dalam. Bukankah begitu Nona Song”

“Apa dia pernah mencumbu V mu?”

Baru saja menguyah ramen yang berada dimulutnya, Ha In terbatuk-batuk hingga mengeluarkan semua makanan yang berada di dalam mulutnya. Bukan, bukan karena perkataan senonoh dari teman satu teamnya. Tapi di ujung sana seorang yang ia kenali tengah mengangkat tinggi ponsel miliknya. Menampilkan beberapa photo dengan berbagai macam linger padanya.

“Maaf. Aku permisi.”

“Hey! Akh sial. Apa perkataanku terlalu kasar untuknya? Bukankah dia sudah dewasa?” tanya Dong Eun meminta pendapat Hae Ri yang sejak tadi hanya terdiam. Tak mengatakan sepatah katapun.

“Mana ku tahu?”

*.*.*

––– Sowing chapter 4

Di dalam toilet, Ha In terus mengeluarkan makanan yang sebelumnya ia telan. Menguras habis makanan yang baru saja ia makan hingga sarapan paginya pun berakhir dihadapannya. Memuntahkan semua makanannya kembali, Ha In segera membersihkan mulutnya dari sisa-sisa makanan yang menempel di wajahnya. Sekali lagi ia menatap kembali wajahnya pada cermin kecil di meja wastafel.

“Hei,” raut wajah Kyuhyun yang semula bersemu merah akibat menahan tawa, kini berubah menjadi pucat pasi. Ha In terus memuntahkan isi perutnya tanpa henti, dihadapannya.

Dengan sedikit gemetar, Kyuhyun menyentuh bahu Ha In. “Sayang,” Niatnya merangkul dan membantu meredakan mabuk Ha In, tapi dirinya telah ditolak wanita itu. Ha In telah menjadikan tangan kirinya untuk mendorong Kyuhyun menjauh, hingga menahan tubuh pria yang terbilang cukup atletis untuk berdekatan dengannya.

“Tolong menjauhlah. Ini . . . . Sangat memalukan, dan . . . . Menjijikan. Jadi tolong, ugggh!!” Ha In berbalik kembali menatap tempat cuci tangan yang berada didepannya. Sementara itu, Kyuhyun yang tak perduli akan permintaan Ha In yang menyuruhnya untuk menjauh. “Tidak, aku yang,” tertahan di ujung lidahnya, Kyuhyun kembali panik saat Ha In tanpa henti terus memuntahkan makanannya, bahkan setelah makanan itu keluar, ia tetap merasa mual dan terus-menerus muntah.

Menggapai keran kecil di wastafel, Ha In berkumur-kumur membersihkan rongga mulutnya hingga area bibirnya. Lalu menyeka semua air yang menetes dengan tisue.

“Mengapa kau begitu keras kepala?” tanya Ha In dengan tangan kanan yang mematikan keran. Ha In akui, perasaannya saat ini sedikit kesal hingga rasanya ingin menertawai kekonyolannya.

Sudah sejak tadi, saat ia merasakan kehadiran Kyuhyun bersamanya, Ha In terus merunduk malu, tak berani menatap cermin yang memantulkan dirinya dengan Kyuhyun yang tak meninggalkan dirinya sendirian di saat situasi seperti ini.

Air muka yang bertambah murung, Kyuhyun tak pernah sedikitpun menunjukkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Ha In. Menggapai kedua lengan Ha In, dalam satu hentakkan ia berhasil membawa wanitanya ke dalam pelukan. Lalu membuatnya terduduk diatas wastafel. Menjadikan posisi diantara mereka menjadi seimbang.

“Maafkan aku.” Sesal Kyuhyun. Ia merasa sangat malu akan perbuatannya sendiri.

“Sudahlah.” Sanggah Ha In. Entah darimana asalnya ledakan tawa dari dalam diri Ha In begitu mendominasi dirinya saat ini. Dan wanita itu menunjukkannya. “Ini semua karena makanan pedas dan ucapan tak senonoh dari rekanku. Dan . . . . mungkin dengan ajaibnya kau datang, lalu membuatku terkejut dengan photo itu.”

Memiringkan kepalanya, Ha In kembali bertanya pada Kyuhyun. “Dari mana kau mendapatkan semua itu? Gambar dari benda itu nyaris membuatku mati.” Cibir Ha In disertai dengan tawa renyahnya.

“Well, tadinya aku ingin membuatmu panas dengan menunjukkan beberapa modelnya. Tapi nyatanya malah kejadian yang tak pernah ku kirakanlah yang terjadi. Apalah dayaku ini.”

“Oh bung.” Ha In melepaskan tinjunya pelan di bahu kiri Kyuhyun. “Ya itulah dayamu. Daya dari seorang pria yang gila akan hal-hal yang berbau wanita.” Melirik ke bawah, Ha In sedikit menggoda Kyuhyun dengan menyentuh area prianya. “Bukankah begitu honey?”

Satu tarikan napas yang disertai dengan geraman tertahan, Kyuhyun berusaha untuk tidak mengeluarkan desahan ataupun melakukan hal yang lebih pada Ha In.

“Ku pastikan kau memakai semuanya sayang. Malam ini.”

“Itu menakutkan.” Balas Ha In dengan suara tawanya yang tak kunjung berhenti, mengingat reaksi yang Kyuhyun tunjukkan saat tadi ia memegang prianya.

*.*.*

Ha In, ia masih terlihat kesal. Sudah sejak tadi wanita itu terus menekuk wajahnya. Bahkan wanita itu tetap mempertahankan raut wajahnya walaupun mobil Maybach S26 sudah melaju sejak beberapa menit yang lalu meninggalkan kediaman mereka.

“Kau tak apa?” tanya Kyuhyun dengan tangan yang terulur ke sampingnya, mengambil sarapan pagi mereka. Kedua pasangan itu memilih untuk sarapan di dalam mobil setelah satu perdebatan panjang mengenai Kyuhyun.

604

“Tidak ada.” Ha In mencibir pada satu potong roti bakar renyah yang Kyuhyun dekatkan pada ujung bibirnya. “Kau saja yang makan. Aku tak ingin makan apapun.”

Mendapatkan reaksi seperti itu, Kyuhyun tak ambil pusing. Pria itu ikut tak perduli dengan mengendikkan sebelah bahunya, menunjukkan bahwa ia tak terganggu sama sekali dengan ulah Ha In padanya. “Baiklah.” Menahan sarapan paginya di udara, Kyuhyun kembali membuka suara. “Kau masih saja kesal ya?”

“Tentu saja Mimosa Pudica. Dari luar saja kau terlihat menyeramkan, tapi nyatanya kau gila akan pujian.” Cibir Ha In. Ingin rasanya ia mengusir pria yang kini berada disampingnya. {Mimosa Pudica nama lain dari tanaman putri malu.}

“Lain kali, kau harus mempersiapkan seorang asisten pribadimu sendiri khusus untuk stylish-mu.”

“Akan ku ingat itu.”

Sisa perjalanan kantor mereka berdua habiskan dalam kesunyian. Keduanya kembali dalam suasana hati dan pikiran masing – masing. Ha In yang masih terus mendumal dalam hati, sementara Kyuhyun yang tak ingin perduli padanya memilih untuk menghabiskan roti bakar dengan orange juice sebagai sarapannya.

*.*.*

Bukan hanya pada Kyuhyun saja ia menunjukkan wajah muramnya. Semua staf kantor yang ia temui hari ini pun ia perlihatkan wajah muramnya, seolah – olah menunjukkan bahwa ia sedang memberikan peringatan “Jauhi aku untuk hari ini!”.

Ha In tetap menyimpan wajah kesalnya sampai makan siang berlangsung. Satu porsi macaroni schotel di hadapannya pun hanya teraduk-aduk tak menentu. Membuat lawan bicara yang duduk disebrangnya merasa risih. Membayangkan susu yang bercampur telur saja sudah membuatnya mual, apalagi melihat satu porsi dihadapannya yang terus diaduk – aduk Ha In? Rasanya seluruh isi perutnya ikut teraduk – aduk sekarang.

“Hei, sudah sedari tadi pagi ku lihat, saat kau masuk kantor ini, dan mengapa sampai sekarang kau masih mempertahankan wajahmu itu hmm?”

“Jangan bertanya lebih dalam lagi oke? Kau hanya akan mengingatkanku pada kejadian tadi pagi di rumah.” Sungut Ha In. Tak memperhatikan ekspresi sahabatnya yang semakin pucat akibat adukan makanan yang ia lakukan.

“Oh ayolah katakan saja. Memangnya hal apa yang bisa kau sembunyikan dariku.” Goda Hae Ri kembali. Mencoba mengalihkan tangan Ha In untuk tak melakukan hal itu. Meskipun berulang kali ia terlihat menahan mabuknya {mual}.

“Tak sedikitpun. Tapi tidak yang satu ini.” Bukan sebuah rahasia yang akan merugikan orang banyak masalahnya, tapi dirinyalah yang akan dibuat kesal kembali jika teringat akan hal tersebut.

Hae Ri mencoba berpikir sejenak, mengganti pertanyaan yang akan dia ajukan. Yang berujung pada satu hal yang sama, membuat Ha In berbicara mengenai hal yang membuat ia seperti ini. “Ini tentang sesuatu yang biasa suami – istri perdebatkan bukan?”

“Ya, bukankah mereka biasanya mempertengkarkan sesuatu yang seharusnya tidak di pertengkarkan?”

“Ya, itulah mereka.”

“Tapi kami tidak.” Tegas Ha In.

“Apa?” Hae Ri terlonjak kaget akan ucapan Ha In. Hae Ri berpikir bahwa mungkin hubungan diantara Ha In dan Kyuhyun tidak harmonis lagi, hingga mereka akhirnya bertengkar hebat, dan wanita dihadapannya ini dengan sengaja ingin membuat dirinya kut merasakan perasaannya dengan mengaduk – aduk makanan yang sialan menjijikan menurutnya. Dan sekarang Hae Ri tengah berpikir akan masa depan Ha In dengan perut membuncit seorang diri karena Kyuhyun meninggalkannya.

Menyadari Hae Ri yang sedang terus terdiam, Ha In menyimpulkan bahwa wanita itu pasti tengah berpikir terlalu berlebihan akan dirinya. Dengan segera Ha In menyela lamunan Hae Ri sebelum apa yang dipikirannya benar-benar terjadi. “Ya Tuhan, apa aku harus memberitahukannya padamu?” Hae Ri menganggauk dengan antusias tinggi padanya. Mungkin setelah ini ia dapat mengembalikan selera makannya, karena ada jeda waktu sementara untuk mengistirahatkan mata dan lambungnya.

“Baiklah, tadi pagi,” Ha In meminum kembali yoghurt-nya, “Dia bertanya padaku akan penampilannya hari ini. Kau tahu bukan bahwa aku ini kurang perduli akan hal-hal yang seperti itu?” Hae Ri kembali tak bersuara dalam menanggapi pertanyaan Ha In. Wanita itu memilih untuk diam dengan anggukan kepala beberapa kali sebagai responnya.

“Aku yang sedang menyisir rambut hanya menggumam saja sebagai jawabannya. Sebanyak lima atau mungkin tujuh atau bahkan sepuluh kali ia menanyakan hal yang sama padaku soal penampilannya, dan sebanyak ia bertanya, sebanyak itu pula aku menggumam sebagai jawabannya. Kau tahu apa yang terjadi saat aku berbalik melihatnya? Dia tengah memakai baju yang lain dengan beberapa baju yang berceceran dimana – mana.” Ha In meniup kesal anak rambutnya ke samping. “Bukankah dia sangat berengsek untuk ukuran CEO ternama dan terhormat”

Ha In teringat kembali saat ia berbalik melihat Kyuhyun.

“Apa?”

“Kau tahu itu apa?” balas Ha In kesal. Dengan kedua tangan yang bekacak pinggang dan matanya yang melotot, marah.

“Kau hanya menanggapiku dengan menggumam. Jadi ku pikir kau secara tak langsung kau mengatakan padaku, bahwa pakaian itu tak cocok untukku.” Jawab Kyuhyun tenang. Menurutnya, reaksi yang Ha In tunjukkan sama sekali tak membuatnya takut.

“Oh ya Tuhan,” Ha In merosot ke bawah, terduduk lemas di lantai kamar mereka. Terlalu gila memikirkan apa yang telah dilakukan pria itu padanya. “Jadi sejak tadi kau mengganti semua yang kau kenakan hanya karena aku menggumam saja?”

“Seperti itulah. Bagaimana dengan yang ini?”

“Itu bagus.” Desah Ha In mungkin dua kata itu akan membantunya untuk menghentikan kegilaan Kyuhyun yang diluar dugaannya ini. Jika boleh jujur itu adalah setelan yang sebaiknya cocok dikenakan di taman kanak-kanak. Sebuah kemeja dengan rompi? Tapi kali ini Ha In membiarkannya saja. Bukankah pakaian kekanak-kanakkan itu akan tertutupi oleh jas juga?

“Oke. Ini pilihanmu. Aku menyukai apapun yang kau rekomendasikan padaku.” Kyuhyun menilai kembali dirinya. Dan ia merasa setuju akan hal yang diucapkan Ha In kali ini. Merasa kurang rapih, Kyuhyun menepuk bahu kanan – kirinya. Pria itu lantas mengulurkn tangannya untuk meraih Ha In. “Ayo kita pergi sayang. Kita tak ingin terlambat bukan?”

Ha In meraih tangan Kyuhyun yang terulur padanya. “Lalu siapa yang akan membereskan semua kekacauan ini?”

“Tentu saja kau? Memangnya siapa lagi?” Kyuhyun berbalik menatap Ha In. Mencolek ujung hidungnya. “Tak akan ku biarkan satu orang pun memasuki ruangan kita sayang. Kau yang bertanggung jawab penuh dengan semua barang yang ada disini.”

Ha In sedikit terhenyak ke belakang akan perkataan yang Kyuhyun ucapkan padanya. “Ah, jantungku. Rasanya kepalaku tergelincir ke bawah mata kakiku.”

“Lelucon di pagi hari sayang? Aku menyukainya.” Tanggap Kyuhyun.

Ha In berpikir bahwa ia benar-benar telah salah dalam memutuskan untuk menjalin hubungan ini dengan pria seperti Kyuhyun. Ha In kira, pria disampingnya ini tak akan semenyebalkan seperti sekarang ini. Berpikir bahwa Kyuhyun akan sangat menyenangkan, memahami akan dirinya, membuatnya bahagia, dan yang paling utama ialah, selalu membuat kepalanya dingin. “Oh, ibu.”

Hae Ri yang sejak tadi hanya fokus pada apa yang dikatakan Ha In, kini tengah tertawa terbahak-bahak. Tak dapat berhenti membayangkan pagi hari yang dijalani temannya. Setidaknya cerita Ha In ini membuat ia melupakan keadaan lambungnya.

“Oh diamlah. Kau harus diam jika tak ingin menjadi sasaran kekesalanku Kim Hae Ri!”

“Baiklah kawan.” Ujar Hae Ri, ia menyeka air mata yang keluar di kedua pelupuknya, yang diakibatkan terlalu kencang saat tertawa tadi.

“Dan sekarang, mengapa ia tak menghubungimu?” tanya Hae Ri mengalihkan perhatian dari tawanya yang tak dapat berhenti, namun nyatanya hal itu membuat Ha In semakin dirundung pada kekesalan yang semakin besar.

“Jangan ingatkan aku. Pertanyaanmu seperti sebuah alarm yang terkoneksi langsung pada isi kepalanya.”

Dan benar saja, pria itu langsung menghubunginya. Ponsel Ha In terus bergetar berkali-kali, namun wanita itu belum ingin menanggapinya. “Dan lihatlah akibat ulahmu ini.” ucap Ha In dengan tangan yang terangkat diudara bersama ponselnya. Memamerkan layar biru air yang telah berganti menjadi hitam karena ada panggilan masuk pada ponselnya.

“Oke, maaf. Tak akan ku ulangi di lain kesempatan.”

“Ayolah angkat.” Bujuk Hae Ri.

“Baiklah.” Menggeser warna hijau dibawah, Ha In meletakkan ponselnya pada daun telinga.

“Ada apa?”

“ . . . . ”

“Mengapa aku harus melakukan itu?”

“ . . . . ”

“Setahuku kau hanya mengatakannya saja. Kau belum pernah memberikanku benda pengikatnya. Ya, maksudku sebuah cincin setidaknya.”

“ . . . . ”

“Aku masih sangat kesal padamu. Tolong ingat itu.”

“Hei!” Hae Ri berseru kaget akan tindakan yang Ha In lakukan. Memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Itu terlalu berani untuk dilakukan pada orang dengan karakter sejenis Cho Kyuhyun.

“Apa? Kau memiliki masalah akan hal itu?”

*.*.*

“Ya?” Ha In terbangun setelah tiga kali bunyi yang berasal dari I-Phonenya tak kunjung berhenti. Sepertinya orang yang berada disebrang telepon, berusaha begitu gigih untuk membuat dirinya terbangun di pagi buta seperti ini. Pukul 05.00 KST pagi.

“Aku menelponmu sedari tadi sayang. Apa kau baru bangun?”

Ha In mencoba untuk duduk, bersandar pada dashboard dengan kedua matanya yang masih setengah terlelap, dan anggota tubuhnya yang masih belum siap untuk bergerak. Berulang kali ia kembali terjatuh pada bantalan miliknya sebelum akhirnya ia dapat terduduk dengan benar.

“Ya bu. Apa telah terjadi sesuatu? Mengapa ibu menelpon sepagi ini?”

“Siapa?” tanya Kyuhyun pelan. Pria itu rupanya ikut terbangun juga, sama seperti dirinya.

“Ibu.” Balas Ha In pelan.

Ha In dapat merasakan calon ibu mertuanya tengah tertawa diujung telepon sini. “Nanti saat makan siang, kau harus pulang ke rumahku. Maksud ibu ialah, kau datanglah kemari. Minta izinlah pada Siwon, katakan padanya bahwa kau memerlukan persiapan untuk acara pernikahanmu nanti.”

“Tapi mengapa sepagi ini?” Itu bukanah suara Ha In. Kyuhyun menyerobot I-phone miliknya. Entahlah apa yang ada dipikirkan pria itu. Mungkin ia takut jika ibunya akan mengatakan hal – hal yang diluar dugaan, seperti mengatakan keburukannya mungkin, atau mengetahui rahasia yang ia simpan bersama Ha In selama ini mengenai kehamilan palsunya.

“Hei, kau anak malas. Dengarkan aku, sebagai seorang wanita, menantuku itu harus mulai terbiasa bangun pagi. Menyiapkan sarapanmu, hingga mengurus kebutuhan rumah.” Kyuhyun memegang dadanya, merasakan sebuah kelegaan.

“Itu masih lama bu. Tak tahukah ibu, bahwa kami berdua baru saja tertidur satu jam yang lalu. Tolong jangan melakukan komunikasi seperti ini lagi di pagi hari. Itu sangat mengganggu.” Kyuhyun tetaplah Kyuhyun, walaupun ia berada dalam suasana hati yang tegang sekalipun, gaya bicaranya tetap menyalak seperti seekor anak anjing.

“Hei, jangan menyuruh ibumu ini untuk melakukan ini-itu. Dan, tunggu, kau mengatakan tadi bahwa kalian baru saja tertidur hmm? Mengusahakan sesuatu?” Nyonya Cho tersenyum di ujung telepon sana. Putranya pasti mengusahakan yang terbaik. “Berapa kali kau melakukannya hingga baru tertidur di saat dini hari?”

Salah pengertian, Kyuhyun langsung menyalak tak suka pada ibunya. “Oh ibu!” satu tarikan napas dalam, Kyuhyun kembali berucap. “Sudah oke? Aku yang akan mengantarnya nanti siang. Ibu tenang saja. Selamat tidur.”

“Selamat pagi sayang.”

“Oh, aku masih ingin tidur.”

“Baiklah, selamat tidur. Aku menunggu kalian.”

“Jadi bagaimana?” tanya Ha In yang sejak tadi diam, memperhatikan Kyuhyun yang tengah berbincang dengan calon ibu mertuanya.

“Ibu menyuruh kita untuk datang siang nanti. Mungkin untuk persiapan acara pernikahan sayang. Kembalilah tidur.” Pinta Kyuhyun. Pria itu menarik Ha In ke bawah hingga wanita itu terbaring disampingnya, lalu memeluknya dengan erat. “Masih terlalu pagi. Tidurlah.”

Tersenyum, Ha In tak ingin membantah perintah Kyuhyun. Dirinya bahkan tak keberatan dengan sikap Kyuhyun yang sedikit berlebihan seperti tadi saat ia tengah menyelesaikan laporan kantornya. Pria itu sangat romantis. “Baiklah.”

*.*.*

Sesuai pertemuan yang diadakan lima hari sebelumnya, pernikahan mereka akan pergi berlangsung dalam tiga minggu ke depan.

Tak bermaksud menghindari pernikahannya, mereka berdua berada dalam kesibukan masing – masing kini. Kyuhyun dengan jabatan CEO nya yang mengharuskan dirinya menghadiri beberapa pertemuan penting di beberapa luar kota, sementara Ha In yang senggaja menghindari pertemuan ke luar negeri untuk menghindari Kyuhyun. Wanita itu terlalu takut untuk berada dekat dengan Kyuhyun dalam waktu dekat ini. Ada suatu hal yang terjadi pada Ha In dan ia tak bisa mengatakannya pada siapapun. Tidak pada Hae Ri sahabat dekatnya, maupun pada Kyuhyun sebagai orang terdekatnya. Tidak untuk saat ini bahkan dalam waktu dekat.

Kesal karena tak mendapatkan kabar selama beberapa hari, Kyuhyun tak bisa mengendalikan dirinya lagi saat melihat Ha In yang baru saja akan masuk ke dalam kantor milik sahabatnya Choi Siwon. Cukup sudah, ia pergi kesana – kemari untuk menemukan Ha In tapi nyatanya wanita itu tengah berada di lingkungan kantornya.

Satu tarikan paksa, Ha In berjalan dengan terseret-seret mengikuti langkah Kyuhyun. Belum sempat ia menunjukkan protes akan perlakuan Kyuhyun yang tak bersahabat, drinya sudah di dorong masuk ke dalam kursi penumpang, disamping pengemudi.

“Hei!” Ha In menyalak marah dengan kedua bola mata yang tak lepas mengawasi pria dihadapannya.

“Sudah?” Ha In terdiam membaca raut wajah Kyuhyun. Tidak baik jika ia terus menaggapi perkataan Kyuhyun. Posisi keduanya sama – sama dalam keadaan yang memerlukan tempat untuk meluapkan emsoi mereka.

“Setidaknya katakan ‘tolong ikuti aku’. Bukan seperti ini.” Keluh Ha In tak terima namun dengan nada bicara pelan dan terukur. Ha In menarik seat belt yang berada di sampingnya, memasangnya dalam diam, sementara Kyuhyun menutup pintu disampingnya dengan sedikit keras. Masalahnya ialah, bukan kali ini saja Kyuhyun memperlakukan dirinya seperti ini. Ditarik, lalu di seret berjalan cepat menyamai langkah kakinya yang besar dan cepat. Bagaimana bisa seorang pria melupakan hal kecil seperti itu? Bahwa langkah wanita tak sama dengan langkah pria.

“Dan setidaknya kau memberi kabar kepadaku sejak dua hari yang lalu.” Desis Kyuhyun kembali menyulut Ha In untuk bertengkar dengannya.

Menyadari penyebab sikap Kyuhyun yang seperti ini, Ha In diam seribu bahasa. Jika ia berkata lagi, dapat dipastikan bahwa itu semua hanya akan menyebabkan bertambah buruk suasana hati diantara mereka saat ini.

Menghidupkan mesin mobil jenis Maybach miliknya, dengan sembrono, Kyuhyun membelah jalanan ibu kota Seoul nyaris mendekati kecepatan seratus sepuluh kilo meter perjam {110km/jam}, membuat Ha In yang duduk di sampingnya gelisah, tak melepaskan tangannya dari pegangan mobil yang berada diatas pintu. Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit melewati jalanan kota, dan perumahan, Kyuhyun membelokkan mobilnya ke arah kanan saat di pertigaan, memasuki dataran ilalang yang tingginya satu meter lebih.

Parkir di ladang ilalang, Kyuhyun kembali menyeret Ha In dari dalam mobil. Sedikit membanting tubuh wanita itu diatas kap mobil hitam .

“Jika aku salah,”

Tanpa sempat melanjutkan perkataannya, Ha In dibuat membisu kembali. Kyuhyun langsung menyerang bibirnya dengan kasar. Mengigit kedua bibirnya dengan cukup kuat, serta kedua tangannya yang aktif dalam mengekang Ha In. tangan kiri ia gunakan untuk menekan tubuh Ha In agar tetap diam, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudara wanita itu. Tidak ada kata halus dan perlahan, semuanya terasa tergesa – gesa, memaksa, dan kasar. Teramat sangat kasar.

“Please.” Lirih Ha In begitu Kyuhyun melepaskan sikasaan pada permukaan bibirnya, membiarkan dirinya untuk mengambil nafas sejenak. “Please.” Ulangnya kembali. Ha In tahu, Kyuhyun yang ia kenal bukanlah seperti ini. Pria itu hanya tak bisa mengendalikan diri dan emosinya saat ini.

“Jangan memohon seperti itu padaku di saat kau dengan sengaja menghilang dariku!”

Ha In menggeleng penuh ketakutan. “Tidak, bukan seperti itu.”

“Jangan berkata apapun lagi padaku! Sudah cukup kau membuatku kesal setengah mati.” Mencengkram atasan blouse miliknya, Kyuhyun menarik kencang blouse tersebut. Lebih tepatnya pria itu merobek atasan yang Ha In kenakan.

“Ku mohon.” Pinta Ha In dengan tangan kanannya yang memegang erat blouse yang ia kenakan. Menepis kasar lengan yang menghalanginya, Kyuhyun tak memperdulikan sikap Ha In yang terus memohon padanya. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya untuk merusak pakaian Ha In. Blouse yang dirobek lalu dilemparkan ke sembarang arah, bra dan underware yang entah kemana, hanya menyisakan sepatu pump hitamnya. Kyuhyun langsung melakukan penetrasi dengan cepat dan kasar hingga cairan merah itu keluar lagi. Hal inilah yang Ha In takutkan terulang kembali. Hal yang sama terjadi padanya tiga hari yang lalu.

*.*.*

Ha In berjalan menghampiri Kyuhyun setelah ia membersihkan dirinya dari sisa pergumulan semalam dan, tadi pagi. Ia tampak lebih segar dan semakin mempesona dengan balutan kaos berlengan panjang milik Kyuhyun dengan batas bawah badannya nyaris menutupi kedua lutut kecilnya.

“Kau,” Kyuhyun menoleh ke samping mengabaikan isi bacaan korannya saat ia mendengar langkah kaki yang secara perlahan mendekat ke arahnya.

“Tampak seperti, wow . . . .” Ucapnya takjub. Kedua bola matanya terus mengikuti tubuh Ha In yang hendak mengambil duduk di samping kirinya.

“Mengapa? Kau tampaknya sangat senang dengan perubahan ini? Membuatmu seperti berada dalam suasana musim dingin di bulan December.” Balas Ha In. Sekarang ia merasa seperti sedang memenangkan sebuah pertempuran hanya karena dapat melawan perkataan pria yang menatapnya tanpa kedipan.

“Ugh! Hei!” Kyuhyun membuatnya terjatuh tengkurap di atas kedua paha pria itu. Bagian wajahnya menyentuh permukaan sofa marun dengan kasar saat mendarat tadi.

Bangkit dengan bantuan topangan dari kedua lengannya, Ha In menoleh ke belakang, menyalak pria itu yang sedang menertawakan dirinya kini. “Kau menyeka jalanku?!” Protes Ha In tak terima. Ia mengubah posisi kakinya untuk menekuk, jadi posisinya sekarang menungging, baru setelahnya ia berusaha untuk duduk dengan wajah marah dan mulutnya yang siap untuk mencerca Kyuhyun.

“Untuk ukuran pria sepertimu, akh! Ya Tuhan!” Dengan kedua tangan yang saling bersilang di depan dada, Ha In membuang wajahnya kesal ke arah lain. Lalu kembali menatap Kyuhyun yang tak menyesal sama sekali akibat perbuatannya.

“Kau benar-benar berengsek! Kau tahu itu.” Sungutnya.

Oh, come on honey. Don’t get your knickers in a twist.” Bujuk Kyuhyun. Dan hal itu tak lucu sama sekali menurut Ha In. Sebagai responnya, wanita itu menanggapi hal tersebut dengan kedua bola matanya yang tak berhenti mengikuti gerakan tangan dan lekuk tubuh pria itu, mengawasi setiap gerakannya. {Jangan marah besar hanya karena urusan sepele.}

Menggunakan sebelah lengan kanannya, Kyuhyun membawa Ha In masuk ke dalam dekapannya. Mungkin lebih tepat untuk dikatakan bahwa pria itu telah memaksanya duduk dipangkuannya.

Menghapus jarak diantara mereka, Kyuhyun membuat kecupan pada katupan bibir Ha In yang tampak seperti buah cherry dimatanya. Permukaan bibirnya yang mulus, ukuran yang kecil, dan bentuknya yang melekuk sempurna, membuat ia tak bisa menahan diri untuk berhenti mencumbu bagian tersebut.

Semakin mendekat, Kyuhyun dengan sengaja menghembuskan nafasnya di area wajah Ha In, menerpa daun telinga hingga terasa sampai dicerukan leher Ha In. “Sexy sayang. Baju kebesaran ini tampak sempurna untukmu. Tapi sebaiknya kita pergi berbelanja bajumu.” Bisiknya dengan nada suara yang dibuat naik-turun.

Merasa sangat malu, Ha In memilih melihat kembali bajunya, dengan jemari kanan yang memegang ujung jahitan. “Ini sudah cukup. Bajumu terasa nyaman untuk dipakai. Dan aku tidak keberatan untuk menunggu pakaianku kering kembali.” Ucap Ha In sedikit gemetar. Bahkan pembicaraan yang lebih tak senonoh dari ini pun sering ia dengar dari Kyuhyun. Tapi setiap kali ia mendengarnya, secara berulang kali itu pula jantungnya berdetak secara tak beraturan. Terkadang berdenyut lebih cepet, namun beberapa saat kemudian ia merasa seperti jantungnya berhenti berdetak karena sulitnya ia untuk menghirup udara di sekitarnya.

“Baiklah. Tapi, apa kau . . . . ” Kyuhyun mengalihhkan perhatiannya pada tubuh Ha In lalu berhenti di pangkal paha wanita itu.

“Memakai . . . .”

“Aww, hei!” Ha In tersentak kaget saat jemari Kyuhyun dengan cepat meraba area vaginanya.

“Celana?” Tanya pria itu jahil. Setiap harinya selalu ia penuhi dengan candaan dan godaan pada Ha In. Kyuhyun telah beranjak menjadi pria dewasa sekarang. Apalagi hidup berdua dengan seorang wanita yang menemani setiap harinya, hingga candaannya pun berujung pada hal-hal berbau dewasa. Pria itu, Cho Kyuhyun, ia paling senang jika sudah menggoda Ha In dengan meraba vagina wanita itu, berbisik jorok di telinganya, bahkan sampai menjilat cerukan leher jenjang ataupun remasan pada payudaranya pun ia lakukan itu. Dimanapun, dan kapanpun saat ia sedang bersama wanita bermarga Song itu. Siapa yang dapat mengira jenis cinta seperti ini. Berawal dari kebohongan hingga membuat dirinya sendiri terjerat. Ia sangat menyukai Song Ha In. Wanita

“Celana?” Tanya pria itu jahil. Setiap harinya selalu ia penuhi dengan candaan dan godaan pada Ha In. Kyuhyun telah beranjak menjadi pria dewasa sekarang. Apalagi hidup berdua dengan seorang wanita yang menemaninya setiap hari, hingga candaannya pun berujung pada hal-hal yang berbau dewasa. Pria itu, Cho Kyuhyun, ia paling senang jika sudah menggoda Ha In dengan meraba vagina wanita itu, berbisik jorok di telinganya, bahkan sampai menjilat cerukan leher jenjang ataupun remasan pada payudaranya pun ia lakukan itu. Dimanapun, dan kapanpun saat ia sedang bersama wanita bermarga Song itu. Siapa yang dapat mengira jenis cinta seperti ini. Berawal dari kebohongan hingga membuat dirinya sendiri terjerat. Ia sangat menyukai Song Ha In. Seorang wanita muda yang memiliki ambisi akan segala hal yang sedang dijalaninya.

“Tentu saja tolol. Bahkan aku memakai `celana satu jengkal` untuk tambahannya. Karena aku tahu, akhir-akhir ini lenganmu seperti sebuah ranting yang hanyut di sungai.” Tanggap Ha In jenggah. Namun hal itu ditanggapi lain oleh Kyuhyun. Secara perlahan, jari-jemari dari tangan kirinya masuk ke dalam bagian intim kewanitaan Ha In. Menarik celana pendek bermotif kotak-kotak merah marun dan peach tersebut, lalu melemparkannya kesembarangan arah.

“Cho, jangan. Kau sudah mendapatkannya semalam.” Cegah Ha In.

“Ayolah sayang.”

Ha In dengan sekuat yang ia bisa mencegah tangan Kyuhyun untuk menyentuh dirinya, namun nyatanya hal itu sia-sia saja. Pria itu telah berhasil merobek celana dalamnya. Dan . . . .

“Aww, Kyu . . . . Pedih.”

Kyuhyun menggunakan dua jarinya untuk menusuk Ha In. Jari tengah dan telunjuknya masuk secara kasar ke dalam tubuhnya. Membuat denyutan kuat dengan ngilu yang menjalar mencapai keseluruh sel dalam tubuhnya serta rasa sakit itu semakin kuat dirasakan Ha In.

Kyuhyun menyaksikan sendiri, bagaimana Ha In terisak kesakitan karena ulahnya.

Sebetulnya, Ha In akan membicarakan hal ini dengan Kyuhyun. Kejadian yang telah terjadi lima hari sebelumnya, kini harus terulang kembali. Tapi, bagaimana ia bisa menjelaskan akan kondisinya saat ini jika pria bernama Cho Kyuhyun tersebut tak mau mendengarkan sedikitpun apa yang akan dikatakannya.

“Maaf,” sesal Kyuhyun. Secara lembut pria itu mengeluarkan jarinya dari dalam tubuh Ha In dengan beberapa tetesan darah yang ikut terbawa oleh jarinya.

“Maaf sayang.”

Tidak. Ha In tak dapat berpikir jernih sekarang. Bahkan untuk sekedar memaafkan Kyuhyun. Dimatanya kini, seorang Cho Kyuhyun hanya menganggap bahwa dirinya sama seperti wanita malam diluaran sana. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari Kyuhyun untuk sementara waktu.

“Sayang ku mohon.” Dengan jemari kanan yang masih terdapat tetesan darah, Kyuhyun menekan wajah Ha In yang tetap membisu. Ha In hanya dapat meneteskan air matanya tanpa berkata apapun. Pikirannya tengah berperang, saling bertarung mempertahankan berbagai argument mengenai dirinya, maupun Kyuhyun.

“Hei,” tegur Kyuhyun, berusaha menyadarkan Ha In.

Ha In menoleh padanya, sedikit melirik meskipun dengan tatapan kosong.

“A, aku pikir aku harus ke atas.” Jawabnya terdengar ragu.

“Bukan itu kalimat yang ku harapkan darimu.”

“Hmm?”

“Kita harus pergi ke dokter sekarang juga.” Ucap Kyuhyun panik saat aliran merah muda yang cukup pekat terus mengalir hingga ke mata kaki Ha In.

“Tidak perlu. Aku, shh . . . Ini akan sembuh dengan . . . .”

“Tidak!” Mencengkram erat pinggang dan paha Ha In, Kyuhyun membawa Ha In dalam pelukannya dengan berjalan tergesa – gesa mencapai daun pintu utama setelah terlebih dahulu meraih kunci mobil yang berada di cabinet dekat rak sepatu. Membawa Ha In masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman depan.

“Apa perlu kita mengganti sepatumu?” Tanya Kyuhyun agak bodoh saat melihat kedua kaki Ha In yang memakai sandal rumah yang berbentuk kodok. Ha In yang tak dapat mengatakan hal apapun karena menahan kesakitan yang ia rasakan, hanya bisa menggelengkan kepala sebagai responnya.

“Kalau begitu kita bawa pakaian ganti untukmu.” Selepas mengatakan hal tersebut, Kyuhyun segera berlari kencang kembali ke dalam rumah. Meninggalkan Ha In yang tengah tertawa di saat sakit pada bagian intimnya masih terasa ngilu, pedih dan sakit.

“Terkadang kau berpikir tak wajar dan diluar akal manusia normal.” Lirih Ha In menatap jendela yang berada disampingnya, memperhatikan langkah kaki Kyuhyun yang kini telah berjalan menuju mobil.

*.*.*

Dr. Keith meninggalkan Ha In di ruang pemeriksaan, membiarkan wanita itu kembali memakai celana dalamnya.

Melepaskan sarung tangannya, lalu mencuci tangan dan membuka maskernya, hingga wanita itu mendesah berat untuk mengambil jeda waktu yang terbilang singkat. Sebelum akhirnya ia berbicara menghadap Kyuhyun yang memasang raut wajah khawatir sejak masuk ke dalam ruangannya. “Biarkan dia istirahat untuk beberapa hari.” Ujar Dr. Keith.

“Bukankah begitu Ha In sayang?” Tambahnya kembali meminta tanggapan Ha In.

“Ya?” Ha In berhenti merapihkan pakaiannya. Ia tak dapat menerka Dr. Keith akan bertanya padanya, meskipun mereka berada di ruangan yang berbeda.

Dokter muda itu tersenyum manis saat Ha In ikut bergabung bersama mereka berdua. “Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu. Duduklah.”

“Oke.”

“Jujur saja, ini pernah terjadi sebelumnya padamu kan?”

“Emm, itu . . . . Aku . . . .” Canggung, malu, dan tak nyaman, itulah hal yang dirasakan Ha In. Belum tertutupi benar rasa malunya saat ia harus membiarkan dokter dihadapannya ini melihat bagian pribadinya, dan sekarang ia dicerca akan hal yang sama.

“Katakan saja. Bukankah tidak ada siapapun selain kita bertiga?”

“Emm, tapi aku . . . .”

“Dia adalah suamimu. Aku yakin dia sudah terbiasa melihat dari yang lebih ku lakukan padamu tadi, maka ku pastikan dia harus siap juga mendengarmu. Katakan.” Pinta Keith dengan tulus.

“Itu, . . . . sebenarnya tiga hari yang lalu pun aku mengalami hal yang sama. Ku pikir aku mengalami menstruasi untuk itu aku tak mengatkannya pada kalian.”

“Dan?”

“Dan?” tanya Ha In balik. Pertanyaan satu kata dari Ketih sangat menggantung untuk dipahami dirinya.

“Ku pikir kau mengerti apa yang ku maksud.”

“Aku teringat kembali perkataanmu yang mengatakan bahwa aku dalam keadaan masa subur beberapa pekan yang lalu. Aku tak merasa ini pendarahan dari rahim. Jadi aku menyimpulkan sendiri bahwa ini karena . . . . Ku pikir karena itu.” Jelas Ha In menekan kalimat terakhir yang ia ucapkan. Setelah sebelumnya ia sempat mencuri pandangan untuk melirik pada Kyuhyun.

“Aku paham. Dasar sialan!” Kyuhyun terkejut akibat lemparan sebatang pena yang mengenai pelipisnya. Ya, Keith yang melakukan itu padanya.

“Jangan kau pikir dia cantik dan menarik hingga kau mengurungnya seperti seekor burung Beo. Dia istrimu.” Caci Keith kembali.

“Akan ku tuliskan resepnya untukmu.”

Sejenak, Keith menatap kembali pada Ha In. Menghentikan tangan kanannya untuk menulis. “Kau yakin tak merasakan hal aneh lainnya? Seperti muntah dipagi hari atau setelah kau makan?”

“Ya, tapi itu diakibatkan karena aku tersedak makanan akibat ulahnya.”

“Bagaimana dengan pusing, mual, atau secara tiba – tiba kau membenci suatu hal. Apakah kau merasakan salah satu itu?”

“Tidak.”

“Oke. Ini resep untuk obatmu. Makan teratur, asupan gizi dan nutrisi dari buah – buahan dan sayuran. Dan hentikan hubungan itu untuk waktu yang cukup lama. Kau dengar itu?” Makinya pada Kyuhyun. Nasihat yang terakhir itu ia tunjukkan pada temannya yang sejak tadi diam membisu. Antara bingung, merasa menyesal, dan tak tahu harus berbuat apa.

Mereka semua berdiri tegak saling memberi hormat. “Terima kasih dokter Keith.”

“Keith.” Jawabnya penuh penekanan. “Jangan sungkan. Datanglah kembali nanti. Aku ingin mendengar kabar baik saat kau kembali berkunjung nanti.”

“Akan ku usahakan.” Jawab Ha In, tersenyum tulus menanggapi leluconnya.

*.*.*

Saling diam, Ha In merasa suntuk karena perjalanan pulang kembali menuju villa harus dihabiskan dengan saling mendiami satu sama lain. Sebenarnya ia sudah memaafkan Kyuhyun, namun ia terlalu malu untuk memulai sebuah percakapan. Beda halnya dengan Kyuhyun sendiri. Ia merasa telah menjadi pria paling keji bagi Ha In.

Memasukan kabel USB yang tersambung pada I – Phonenya, Ha In mulai lagu pertama dari Celine Dion. Pada awalnya mereka merasa biasa saja, sampai pada puncak lagu, keduanya saling menoleh. Ha In dengan wajah humornya, sementara Kyuhyun menunjukkan perasaan sedih yang semakin mendalam.

A love that I could not forsake

‘Cause I’m your lady

And you are my man

Whenever you reach for me

I’ll do all that I can

Lost is how I’m feeling lying in your arms

When the world outside’s too much to take
That all ends when I’m with you

“Sorry.” Ucap Ha In penuh penyesalan.“Aku tak bermaksud. Aku ganti oke?”

“Itu seperti mengingatkanku akan tindakan yang telah ku lakukan padamu.”

“Maaf. Aku baik sekarang. Percayalah.”

As long as you love me

We could be starving

We could be homeless

We could be broke

 

As long as you love me

I’ll be your platinum

I’ll be your silver

I’ll be your gold

As long as you love, love me, love me

As long as you love, love me, love me

“Kau menyukanya sekarang?”

“Of course. Same as my fell for you.”

“Oh! Berhentilah membual.”

*.*.*

To Be Continued

––– chapter selanjutnya,

“Hei, jangan terus menekuk wajah cantikmu sepert itu lady. Ini hari terpenting dalam hidupmu bukan?”

“Aku tak menyukainya!”

“Itu lucu sayang. Tapi tidak untuk dikatakan pada hari ini. Katakan itu nanti malam dihadapanya.”

–––

“Jangan pernah memakai benda apapun pada leherku jika kau tak ingin ku hajar.” Maki Ha In di pagi hari.

“Maaf oke.”

–––

**Hallo, maaf di pending terus. Padahal teasernya untuk muncul duluan minggu lalu. Mau bagaimana lagi? Ujian dadakan terjadi, semua hal yang aku kerjakan seperti berlarian di dalam kepalaku ini. Refreshing yang nyatanya malah menambah tekanan, dan outbond yang menyita tenaga membuatku jadi gila. Ya jadinya di tahan sementara waktu untuk berhenti mengetik. Dan maaf juga tak sesuai teaser. Ada perombakan di beberapa bagian, sebagian dibuang dan yang lainnya di simpan untuk chapter berikutnya.

Semoga kalian tak kapok untuk tetap berkunjung disini. Mohon komentar, kritik, dan sarannya.

Terima kasih.

#happy22

Advertisements

4 comments

  1. Hemp kyu emang otak nya kudu di laundry 😀 wkwkkwkw , parah banget , aku kira mereka udah nikah eh ternyata baru mau menikah? Hemp kaka kurang panjang hehhehe:D ini khan penantian ff ini buruh kesabaran

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s