Sowing {Chapter 5}

Cast: Cho Kyuhyun – Song Ha In – OC||

Genre: Romance – Complicated – PG-17 – Married Life||

Length: Chapter|| Author: hyunhyunie||

Attention!!

Sebelum kalian kecewa berat, aku beritahukan dari sekarang bahwa cerita ini agak kurang sreg. Dan daya tulis untuk cerita ini menurun. Karena fokusku sekarang tidak ada di Showing. Maafkan aku emm? Mikiran ini-itu, belom lagi sulitnya nyari buku referensi buat Proposal. Jadikan mohon maaf sekali lagi. Jika berkenan, mungkin kalian dengan senang hati bisa membantuku emm?

*.*.*

Ha In kembali terbangun di malam hari. Ia masih tak tenang dengan laporan yang harus ia kumpulkan esok pagi sementara tadi, ia baru menyelesaikan satu perdelapan dari laporan keseluruhannya. Kyuhyun baru tiba di rumah pukul 23.00 KST, dan pria itu mendapati dirinya tengah tertidur diatas tumpukan dokumen dengan computer yang menyala. Kyuhyun membangunkan dirinya dan sedikit berteriak pada Ha In karena tak bisa menjaga dirinya dengan baik. Dan ia mengancam akan menyeret Ha In keluar dari kantor tersebut jika wanita itu bekerja terlalu keras seperti saat ini.

“Astaga, hei!” Ha In terlonjak kaget dari kursi kerjanya. Kyuhyun, pria itu terbangun dari tidurnya, dan kini tengah berdiri menyeramkan di samping Ha In.

“Bukankah sudah ku katakan untuk berhenti bekerja? Mengapa kau sangat kebal akan peringatanku hmm?”

Ha In mengabaikan tatapan Kyuhyun yang kesal padanya, tapi tetap menahan diri untuk terjaga. Ha In tahu, bahwa sebenarnya pria itu masih sangat ingin untuk tidur kembali, tapi kecemasan yang ada pada dirinya membuat ia terjaga dan menegur Ha In. “Maaf membuatmu khawatir sehingga tidurmu menjadi terganggu. Ini tinggal sedikit lagi, tunggulah aku di tempat tidur. Aku akan kembali ke sana dalam 10 menit.”

Kyuhyun bersimpuh di samping Ha In, mengambil lengan kanan wanita itu sejenak, lalu menempatkannya pada letak jantung Kyuhyun.

“Ada apa? Tolong jangan terlalu khawatir. Kau harus tahu bahwa aku sudah terbiasa akan . . . . ”

“Itu dulu.” Potong Kyuhyun. Ia tak perduli akan kebiasaan Ha In sebelum bertemu dengannya. Tapi yang jelas, wanita itu harus mulai menyesuaikan diri sekarang. Dengan berhenti melakukan hal – hal yang dapat membuatnya khawatir seperti saat ini.

“Kau dapat merasakannya?” Ucap Kyuhyun pelan.

“Ya. Di dalam sini,” Ha In ikut meletakkan tangan kirinya pada bagian tersebut. “Pergerakannya sangat lemah, hingga nyaris tak terasa.”

Kyuhyun tersenyum. Mencoba mencari sebuah ide untuk membuat Ha In paham akan kekhawatirannya saat ini. “Itu karena aku sangat mengkhawatirkanmu. Coba kau bayangkan jika saja kau setiap saat selalu membuatku seperti ini, usiaku yang seharusnya berjalan hingga delapan puluh tahun ke atas, menjadi empat puluh tahun. Apa kau ingin seperti itu?”

Ha In segera menarik lengan kirinya, memukul cukup keras pada bahu Kyuhyun. “Jangan membual padaku. Aku tahu apa maksudmu itu.”

Mendesah cukup dalam, Ha In mulai mencoba untuk menegur Kyuhyun. Pria itu harus diberitahu dengan perkataan yang lembut. “Tolonglah, ini hanya sebentar. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat. Please,” dengan kepala yang sedikit merunduk, dua bola mata yang bersinar, Ha In mencoba bersikap semanis mungkin.

Terbawa suasana, Kyuhyun ikut menghembuskan napas beratnya. “Oke, aku paham.” Kyuhyun melepaskan lengan Ha In, membiarkan wanitanya kembali bekerja supaya cepat selesai.

Masih dalam posisi yang sama, Kyuhyun menatap sejenak pada raut wajah Ha In yang terlihat sangat serius saat mengerjakan laporannya. “Kau sudah minum susumu?”

Menekan tombol Enter, Ha In menoleh pada Kyuhyun. “Astaga, aku lupa.” Ha In kembali melanjutkan ucapannya saat kedua mata Kyuhyun melotot tajam. “Tapi aku sudah meminum vitaminnya. Jangan memperlihatkan mata itu padaku.” Balasnya dengan picingan mata yang tak kalah tajam dari Kyuhyun.

“Baik, tunggu sebentar. Aku yang akan membuatkannya untukmu segera. Tunggulah.”

Kurang suka akan tindakan Kyuhyun padanya, tapi Ha In sadar, dialah yang salah. Sudah sepantasnya ia mendapatkan teguran. Keduanya selalu berusaha untuk melakukan hubungan intim hanya beberapa kali dalam seminggu. Itu dilakukan agar kualitas spremanya bagus. Dan saran itu dikatakan langsung oleh Keith pada mereka berdua saat sesi check up kedua mereka.

“Tidak perlu sesering mungkin. Biarkan tubuh kalian beristirahat dan fokus pada pekerjaan kalian masing-masing. Tapi jangan terlalu lelah juga, itu akan mengakibatkan kurangnya kualitas pada spermamu Kyu. Maka dari itu asupan gizi, minum vitamin, dan minum susu penunjang yang disarankan olehku.”

Dan itu sudah lebih dari lima sampai enam bulan berlalu. Hubungan mereka sudah sejauh itu, namun prioritas utama Kyuhyun adalah membuat Ha In hamil secepat mungkin, beda halnya dengan Ha In yang menginginkan dirinya untuk dinikahi terlebih dahulu. Tak heran jika mereka terkadang bersilat lidah terlebih dahulu sebelum akhirnya bersetubuh.

Lima menit berlalu, dan kini Kyuhyun kembali ke kamar mereka dengan segelas susu coklat.

“Dimasukkan langsung pada pancinya?” cegah Ha In sebelum ia menyetujui untuk meminum susu tersebut.

Dengan setengah mata yang berputar jengkel, Kyuhyun berkata “Tentu. Minumlah.”

“Terima kasih.”

“Habiskan segera. Dan tidur.”

Ha In menjilati tepian sudut bibirnya yang belepotan terkena air susu. Gerakannya itu bukan tak terlihat oleh Kyuhyun, justru pria itu langsung mendapatkan efeknya segera pada alat vitalnya yang mengencang. “Oke. Ini,” Ha In memberikan gelasnya kembali dalam keadaan kosong pada Kyuhyun. “Tak terlalu buruk jika diseduh dengan cara seperti itu.”

“Jika kau terus membuat gerakan menjilati bibirmu seperti itu, kau tak akan ku buat tidur malam ini Song!” bentak Kyuhyun sebelum mengambil langkah keluar, menuju dapur.

“Apa dia tak mengerti bahwa tindakan yang telah ia buat telah membuatku sakit. Bagaimana aku bisa menenangkannya?” bisiknya mengiba pada diri sendiri karena denyutan yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.

*.*.*

Kisah jalinan cinta antara Ha In dan Kyuhyun, bagaikan musuh bebuyutan yang terpendam rasa rindu untuk saling bertegur sapa. Bak serial kartun anak yang diperankan seekor kucing dan tikus, keduanya saling bertengkar memperebutkan sesuatu atau mempertahankan argumen masing-masing, namun beberapa menit kemudian bisa menjadi sangat bersahabat dan sangat dekat seperti tak pernah bermusuhan sebelumnya. Hari ini mereka baik-baik saja, melakukan beberapa kisah klasik yang menyentuh hati, dan tak lama setelah itu, timbul pertengkaran hebat diantara mereka. Seperti yang terjadi pada saat ini. Lagi dan lagi, Kyuhyunlah yang menyebabkan pertengkaran diantara mereka berdua.

“Ada apa denganmu?”

“Jangan bertanya!” Ha In membanting tas nya menghantam meja kaca tempatnya bekerja. Hingga akhirnya ia berbalik menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. “Setelah apa yang ku lakukan untuknya selama ini. Dan ehmmm,” Kedua telapak tangan Ha In terkepal sampai pembuluh vena hijaunya tampak secara jelas. “Kau tahu apa yang dikatakannya?”

Tak sempat ia menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya, tapi Ha In segera membungkam rapat bibirnya dengan terus berbicara tanpa jeda.

“Dia mengatakan bahwa aku memiliki hubungan satu jenis sebelumnya. Dan kau tahu atas alasan apa ia mengatakan hal menyakitkan itu?”

“Itu karena dia menemukan bukti bahwa sebelum aku menjalani hubungan konyol ini, aku tak pernah berkencan dengan pria manapun!”

Itulah Ha In, saat ia marah dan tak terkendali, ia akan menjawab sendiri pertanyaan yang terlontar keluar dari mulutnya. Jika saja ia tak sedang marah, mungkin dengan berbangga hati Hae Ri akan merasa terhormat melalui pena melayang yang mendarat di kepala Ha In. Suatu cara untuk membuat wanita itu tetap diam.

“Jangan menangis.” Hae Ri berdiri, mengambil langkah untuk berada sedekat mungkin dengan Ha In. “Akan ku hajar dia hingga tulang kering pada kakinya patah. Kurang ajar sekali dia telah menuduhmu seperti itu!” Hiburnya. Namun sejujurnya, Hae Ri sendiri tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Sebagian besar, apa yang dikatakan Kyuhyun mengenai Ha In memang benar adanya. Hae Ri sendiri merasa bahwa semua orang pantas menilai Ha In seperti itu. Wanita itu tak pernah menunjukkan ketertarikannya pada seorang lelaki dewasa. Jika bukan karena insiden gilanya dengan Kyuhyun, mungkin sampai detik ini sahabatnya tersebut akan bertahan hidup dengan menyendiri sampai akhir hayatnya. Bukannya Ha In tak normal. Dia sangat normal. Memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya. Hanya saja, Ha In ingin seluruh hidupnya untuk dua sampai tiga tahun ke depan terfokus pada pekerjaanya. Hanya itu.

“Dan sekarang, bagaimana hubunganmu dengannya? Kau tak sampai lari kembali ke rumah lamamu kan?” Setengah mati Hae Ri menahan dirinya untuk tak tertawa lagi dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan berkali-kali melakukan cubitan pada bagian lengannya sendiri.

“Tidak. Tentu saja tidak. Walau bagaimanapun aku masih istrinya. Meskipun ia menyakitiku. Bisakah malam ini kita pergi minum? Tolonglah. Aku benar-benar membutuhkannya.” Ha In menghapus air mata yang masih menggenang di bawah kantung matanya.

“Tidak, jangan. Bagaimana dengan bayimu yang berada disini? Jangan bertindak bodoh!”

Ha In mengernyit dalam setelah sebelumnya meringgis seperti orang kesakitan. “Apa kau sedang berpikir bahwa aku tengah memiliki seorang bayi sekarang?”

“Menebaknya. Bukankah kalian sedang memprosesnya ya?” Jawab Hae Ri menggoda.

“Kalau begitu temani aku makan ramen pulang nanti. Aku akan memesan porsi jumbo dengan banyak cabai. Sialan!”

“Oke. Kita lihat saja nanti.” Hae Ri menjawab sesingkat mungkin.

“Kau harus menemaniku atau aku akan memastikanmu menyesal dengan banyak minum soju nanti malam!”

“Ya Tuhan, ibu muda yang satu ini. Baiklah, aku akan menemanimu. Kau yang traktir?”

“Selalu saja seperti itu.” Balas Ha In malas. Hae Ri terkenal dengan sifat kikirnya akan uang. Ia sendiri mengatakan dengan bangga bahwa hidupnya di dedikasikan untuk bekerja membangun perusahaan ini, namun uangnya tak akan ia dedikasikan untuk orang lain bahkan dirinya sendiri bertahan hidup dengan cara berhemat. “Kembali ke mejamu sekarang!”

“Tadi kau membuatku khawatir dengan mencemaskan kedatanganmu dengan wajah yang seperti itu, dan sekarang kau mengusirku? Yang benar saja!”

Ha In tertawa di tengah kegusaran Hae Ri akan perubahan sikapnya yang cepat. “Itulah aku Kim. Kau masih belum juga mengenaliku ya?” Godanya mengedipkan mata.

*.*.*

Rencana Ha In untuk menghabiskan malamnya dengan Hae Ri gagal. Kyuhyun melarangnya melalui peringatan keras. Mengatakan ini-itu, nanti kau begini-begitu, belum lagi menjadikan ibunya sendiri sebagai dasar alasannya agar Ha In ikut pulang bersamanya, tak melakukan perjalanan jauh bersama orang lain, kecuali dengannya. Dan itu semakin menimbulkan rasa kesal pada Ha In. Belum sepenuhnya reda kemarahan Ha In pada Kyuhyun, dan pria itu semakin meningkatkan perasaan marahnya semakin menjadi.

Kemarahan Ha In bukannya tak berujung ia sudah akan memaafkan Kyuhyun saat mereka berada pada satu mobil yang sama saat pulang kantor tadi. Itu bisa saja dilakukan, jika Kyuhyun mampu menahan mulutnya untuk tak bercanda lagi mengenai sesuatu yang berkaitan dengan ‘hubungan’.

Mencoba menyamakan keadaannya yang sekarang bersama Ha In persis seperti yang dilakukan Angelina Jolie dan Brad Pitt, merupakan ide terburuk untuk dicoba. Tapi Kyuhyun tetap melakukan itu.

 

“Bagaimana jika kita hanya hidup bersama saja?” Kyuhyun membuka suara. Menepis kesunyian diantara mereka.

“Apa maksud dari perkataanmu? Kau sudah menjadi sangat bosan denganku sekarang?”

“Tidak, bukan seperti itu.”

“Lalu apa yang kau maksud? Beri aku pencerahan dengan permainan katamu.” Jawab Ha In sinis. Ha In mengharapkan sebuah permintaan maaf yang keluar dari mulut Kyuhyun. Bukan sebuah pertanyaan lain yang membuatnya semakin kesal. Mendidihkan ubun-ubunnya.

“Maksudku adalah, kita bisa tetap hidup bersama dengan memiliki banyak anak tanpa adanya sebuah ikatan suci. Tidak ada pernikahan, tapi kita tetap bisa tinggal di tempat yang sama selama mungkin. Selama yang kau inginkan.”

“Shh,” Ha In meringgis seperti orang kesakitan dengan pernyataan Kyuhyun. “Itu artinya kau tak ingin bertanggung jawab denganku. Kau ingin memiliki kehidupan yang bebas. Kau tak ingin aku menjadi bagian terpenting dari hidupmu. Dan, kau tak ingin aku mendapatkan tempat dalam hatimu.” Jawab Ha In sedih. Air matanya bukan hanya sekedar menetes, tapi sudah mengalir banyak dengan kecepatan yang cukup intens.

“Ha In,” Dengan cepat Ha In menepis lengan Kyuhyun yang menyentuh pergelangan tangannya. Lebih dari itu, Ha In menggeser duduknya semakin jauh dari Kyuhyun.

“Sayang, aku tak seperti itu.”

“Kau memang tak seperti itu. Bibirmu tak mengatakannya seperti itu. Tapi aku bisa membaca bahwa, hati dan pikiranmu yang mengatakan hal itu padaku. Aku tahu Kyuhyun. Jangan mencoba membohongiku. Jangan membuatku terlihat begitu bodoh lagi dengan penyangkalanmu. Aku mengerti semua dengan permainan katamu.”

“Sayang,”

“Tidak, topik ini selesai untuk dibahas. Tak ada pernikahan diantara kita seperti yang kau inginkan. Tak akan ada lagi bayi, tak ada lagi aku di rumahmu, dan aku akan menjauh darimu. Itu keputusanku.”

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Tak seharusnya ia mengatakan hal itu di saat ia telah membuat Ha In patah hati melalui leluconnya di pagi hari dan pernikahan mereka tinggal lima hari lagi. Semua wanita akan berpikiran hal yang sama seperti Ha In. Membicarakan bagaimana kehidupan dua selebritis Hollywood tadi di saat pernikahan mereka sudah ada di depan mata, itu sama artinya dengan meminta untuk berpisah.

 

Dan hasil dari uacapan Kyuhyun sangat buruk. Mereka bertengkar hebat, hingga Ha In meninggalkan kediaman mereka sekarang.

“Kau sudah berbicara padanya?”

“Dia tetap menolak.”

“Coba untuk membujuknya kembali. Buat ia yakin Kyuhyun. Pernikahanmu akan dilakukan lusa. Jangan bercandakan semua ini. Jangan menganggap bahwa tamu undangan pernikahan seperti teman minum koktailmu yang bisa kau anggap biasa saja. Ini mengenai martabat sebuah keluarga, tanggung jawab, dan rasa hormat. Jangan lupakan pula akan kedudukanmu dan apa yang telah kau lakukan pada gadis malang itu. Jangan berpikiran sempit. Buat isi kepalamu lebar dengan mencari solusi atas permasalahan yang kau timbulkan sendiri.” Nyonya Kim tak bisa hanya diam dan menerima kekalahan dari putranya yang menyerah untuk menyakinkan Ha In.

Sebagai seorang ibu, pernikahan pada anak mereka merupakan suatu moment yang berharga dan tak boleh terlewatkan. Termasuk membuat kekacauan sebelum pesta pernikahan itu digelar. Memastikan semuanya aman dan terkendali sudah menjadi prioritas utama untuk dilakukan oleh seorang ibu. Apalagi Cho Kyuhyun merupakan seorang putra tunggal yang berada di keluarga mereka.

“Bagaimana aku harus membujuknya. Untuk berdekatan denganku pun ia tak mau. ia terus menghindar dariku. Ia menatapku jijik saat berada dekat dengan dirinya.”

“Itu sudah jelas. Kaulah penyebabnya. Tak salah jika ia sampai bersikap seburuk itu padamu. Sebagai ibumu, aku tak menginginkan jawaban apapun yang kau gunakan sebagai alasan bahwa kau menyerah untuk mendapatkan Ha In kembali. Kau akan mati ditanganku jika kau sampai melakukan hal itu.”

Kyuhyun tertunduk lemah. Raut wajahnya yang terlihat lelah semakin tampak terlihat. Pernikahan yang akan dilakukan lusa nanti membuatnya lelah, tapi sikap Ha In padanya semakin membuat ia lelah dan membunuhnya. Tidak, Ha In tak salah. Dialah yang salah. Memulai berbagai pembicaran tak masuk akal untuk Ha In. Ha In sudah tertekan semenjak pendarahan yang terjadi beberapa pekan yang lalu. Wanita itu terus merasa ketakutan mengenai dirinya sendiri. Tubuhnya kah yang mengalami masalah? Ataukah Ha In menderita suatu penyakit ganas yang dapat merenggut nyawanya? Itulah yang selalu bertahan dipikiran Ha In, yang tak diketahui oleh Kyuhyun sama sekali. Dan wanita malang itu lebih tertekan lagi atas pembicaraan Kyuhyun saat perjalanan pulang kantor mereka mengenai hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.

Kyuhyun kembali menghampiri Ha In di apatementnya. Semenjak mengatakan ‘hidup bersama tanpa ikatan pernikahan’, Ha In bersikeras pergi dari kediaman Kyuhyun. Wanita itu membulatkan keputusannya untuk pergi dari sana, dan menerima kenyataan bahwa dirinya tak diinginkan lagi.

“Apa kau akan tetap keras kepala seperti sebelumnya?” Ha In menyambut kedatangan Kyuhyun dengan wajah yang menunjukkan rasa ketidaktertarikan. Berdiri angkuh diatas kakinya, sementara pria dihadapannya tertunduk lesu. Duduk bersimpuh memohon belas kasihan darinya.

“Ya. Aku akan melakukan itu. Aku akan pertaruhkan hidupku untuk membawamu kembali. Tolong.” Lelah bercampur dengan keputusasaan menghinggapi Kyuhyun.

“Aku tak ingin. Kau sudah membuatnya menjadi jelas diantara kita melalui percakapan itu. Cho Kyuhyun dan Song Ha In akan batal menikah.”

“Ha In, sayang, jika kau tak ingin melakukannya untuk dia, maka lakukanlah untukku, putriku.” Suara lain mengintrupsi mereka berdua dari arah pintu masuk. Itu ibu Kyuhyun. Berdiri diambang pintu dengan tangan kanan yang memegang bungkusan besar.

“Kyuhyun memang anakku. Tapi aku tak pernah memberikan contoh yang buruk kepadanya. Aku tak ingin melindunginya dari kesalahan yang telah ia buat. Tapi sayang,” Nyonya Kim mendekati Ha In. Mengambil posisi yang sejajar dengan calon menantunya tersebut. “Jangan hanya karena kau marah padanya, maka kau melupakan segalanya. Kau melupakan rasa cintamu untuk putraku. Kau juga melupakan bagaimana perasaan sayangku untukmu Ha In. Kyuhyun bercanda, tapi itu sangat keterlaluan. Jangan hanya karena kesalahan pada bibirnya, lantas kau dibutakan akan rasa kesalmu dan melibatkan pernikahanmu. Anakmu akan membutuhkan ayahnya. Dan kau akan membutuhkan seseorang yang akan melindungimu.”

Ha In terdiam untuk beberapa saat. Yang diucapkan Nyonya Kim memang benar. Ha In masih sangat mencintai Kyuhyun. Begitupun dengan pria itu. Kemarahannya semata-mata karena Kyuhyun selalu menjadikan pembicaraan sensitif sebagai sebuah lelucon. Mereka hanya tinggal saling membuka diri untuk memahami satu sama lain.

“Kau benar bu. Akulah yang sepenuhnya bersalah disini.” Ha In terisak-isak di antara pembicaraannya. “Tak seharusnya aku bersikap berlebihan sampai sejauh ini. Maafkan aku. Aku hanya terlalu lelah akan pekerjaan, dan akhir-akhir ini, emosiku tak dapat ku kendalikan. Aku selalu kesal dan marah akan suatu hal yang sepele. Maafkan aku.”

“Tidak sayang,” Nyonya Kim bergegas memeluk Ha In sebelum wanita itu jatuh terduduk akan keseimbangan badannya yang rapuh. “Aku mengerti dirimu. Aku juga sempat melalui fase yang sama sepertimu.” Nyonya Kim membuat Ha In senyaman mungkin dengan menjadikan dirinya sebagai sandaran wanita itu untuk menumpahkan emosinya. Terus menangis saat berada di pelukasn ibu Kyuhyun hingga akhirnya Ha In merasa tenang dan tanpa sadar tertidur akibat kelelahan.

“Kita langsung membawanya pergi.” Nyonya Kim menyerahkan Ha In pada Kyuhyun sementara dirinya disibukkan untuk mengemas kembali pakaian Ha In dan membawanya pergi dari sana.

“Ibu sudah mengemasnya disini.” Nyonya Kim memperlihatkan koper besar yang berada di sampingnya. “Kita pergi sekarang. Bawa dia dengan hati-hati.”

Cukup lama Ha In tertidur, dan kini ia terbangun di atas kasur yang besar. Di kamar Kyuhyun. Ia tak ingat sama sekali kapan dirinya sudah berada disini dan tertidur diatas kasur.

“Sayang, kau sudah bangun?” Kyuhyun berdiri dari duduknya setelah melihat Ha In yang sedang bersandar pada dashboard. Kyuhyun dapat melihat Ha In masih sedikit pusing melalui pandangan matanya yang tak fokus. Melirik ke sekelilingnya seolah-olah ini baru pertama kali bagi dirinya berada di tempat tersebut.

“Ehm, aku masih pusing. Bisa teolong tinggalkan aku? Aku akan berbaring kembali untuk beberapa saat. Itupun jika kau tak keberatan.” Ada perasaan tak suka saat Ha In terbangun dan melihat wajah Kyuhyun. Mengapa pria itu harus berada disana dengan tak melakukan hal apapun? Hanya terus mengawasi dirinya yang tengah tertidur. Dan sekarang pria itu berjalan mendekat kepadanya.

“Ha In,” panggil Kyuhyun pelamn. Kyuhyun akan mencobanya lagi kali ini. mencoba untuk membuat Ha In memaafkan dirinya.

Ha In memejamkan matanya lagi diakibatkan menahan rasa pusing pada kepalanya. Ia hanya menanggapi Kyuhyun dengan menggumam. “Ehm?”

“Aku salah. aku bersalah atas semua hal yang terjadi pada kita. Aku selalu menggodamu dengan menggunakan berbagai hal yang sensitif terkait suatu hubungan sebagai suatu lelucon. Aku juga berkata kasar padamu dengan mengatakan kau memiliki hubungan satu jenis. Maafkan sayang, aku kira ini hal lumrah. Tapi nyatanya tidak. Aku baru menyadari bahwa lelucon antara pria dan wanita memiliki perbedaan yang cukup jelas.”

“Aku memaafkanmu.” Jawab Ha In setengah hati. Sebenarnya dia mengatakan hal itu agar Kyuhyun berhenti mengoceh dan membuatnya bertambah pusing.

“Hei,” Kyuhyun naik ke atas tempat tidur dan menarik Ha In ke dalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat dan mesra.

Bukan Ha In tak merasakan sosok Kyuhyun yang kini mendekapnya dari belakang. Ha In tahu itu Kyuhyun. Namun rasa enggan untuk melihat wajahnya masih mendominasi Ha In dan hanya membuat dirinya bertambah buruk.

“Apa kau tahu, aku melupakan cincin pertunangan kita.” Kyuhyun menjeda waktu bicara untuk melihat bagaimana reaksi Ha In akan hal ini. ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak bercanda mengenai hal apapun saat ini.

“Memang benar kita tidak bertunangan terlebih dahulu. Tapi kau tahu, lamaranku bukan tak bermakna apapun. Aku tak ingin melewati fase pertunangan yang hanya akan membuat banyak persiapan ini-itu. Tapi sayang,” Kyuhyun menarik pelukan pada leher Ha In untuk berada semakin dekat dengannya. Memberikan kecupan tulus diatas puncak kepala wanita yang sudah ia kasihi selama ini. “Yang sudah terjadi, tak akan bisa kita ubah, kita hanya bisa menjadikan hal itu sebagai tolak ukur agar kita selalu mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum melakukan hal apapun. Ha In, sikap dan ucapanku telah menyakitimu begitu banyak. Namun sayang, aku tak pernah menyesali apa yang telah kita lalui. Bercinta denganmu dikantor, berdebat denganmu, membawamu kemari, membohongi orang tua kita, dan masih banyak lagi. Semua itu sangat bermakna untukku. Aku bahagia bisa melewati semua itu denganmu. Dan lagi,” Kyuhyun menurunkan lengan kanannya pada perut Ha In. Mengelus-elusnya secara perlahan dengan gerakan memutar.

“Kita akan memilikinya nanti. Kau, aku dan anak kita. Dia adalah bukti dari semua perjuangku untuk mendapatkanmu sayang. Tak bisakah kau bayangkan betapa bahagianya aku saat ini.” Kyuhyun melepaskan pelukannya pada Ha In. Ia memilih untuk berbaring terlentang dengan kedua tangannya yang menyilang dibalik kepalanya.

“Kau bahagia?”

“Tentu sayang. Aku bahagia.” Kyuhyun tersenyum senang saat ini. Ha In kembali berkomunikasi dengannya. Setelah sekian lama, akhirnya, . . . . Kyuhyun menarik kepala Ha In, lalu mencium bibirnya lembut.

“Sebahagia itukah?” tanya Ha In penasaran.

“Ya sayang. Kau memberikan dia {bayi} padaku. Maksudku ialah, kau hamil Ha In. Kau hamil sayang. Keith mengatakan itu sudah terjadi sekitar lima belas minggu, hanya saja kau tak merasakan kehadirannya. Dan ini wajar. Karena kau dan aku masih terlalu dini untuk mengetahui berbagai hal ini.”

“Aku?”

“Ya sayang.” jawab Kyuhyun menyakinkannya.

“Sejak kapan kau tahu itu? Bahkan saat kunjungan kita terakhir kali, Keith tak mengatakan hal apapun pada kita.”

“Ya, Keith memang sengaja ingin merahasiakannya. Itu dia lakukan karena semata-mata untuk membuat kita menyadari sendiri kehadirannya. Tapi aku menjadi gila dengan lelucon bodoh itu, dan kau semakin kacau, hingga akhirnya Keith memberitahuku tak lama setelah kau pergi. Maka dari itulah aku tak ingin melepaskanmu. Aku tak ingin mencampakkanmu dan bayi kita. Tidak akan, dan tidak lagi.”

Kyuhyun melanjutkan bicaranya kembali. “Jangan salah paham sayang. Bukan karena kau sudah memilikinya {bayi}, jadi aku terus menerus mengejarmu. Tapi karena, kehadirannya telah membuatku mengerti akan arti cinta dan kasih sayang. Dia belum dapat ku lihat tapi sudah membuatku bertambah dewasa.” Ucap Kyuhyun bercanda, mencoba membuat ringan suasana mereka agar sedikit mencair.

“Aku senang mendengarnya.”

Kyuhyun sedikit bangun mengambil kotak biru tua dari saku belakang jenasnya. “Ini.”

“Apa kau. . . .” Ha In terpana melihat sepasang cincin yang berada di dalam kotak tersebut. Sederhana, namun tetap memberikan kesan mewah.

2016-fashion-new-design-font-b-angel-b-font-font-b-wings-b-font-925-sterling

“Ya, ini cincin lamaranku. Anggap saja ini cincin pertunangan kita.”

“Ini, ini indah. Aku mneyukainya.” Ucap Ha In dengan linangan air mata yang tanpa terasa menetes, mengalir jatuh pada pipinya.

“Sebenarnya,”

“Apa?” tanya Ha In penasaran.

“Aku memberikan lebih dari satu untukmu.”

Ha In terkekeh pelan, mengusap air matanya secepat yang ia bisa. Membeli banyak cincin? Oh, Ha In dibuat penasaran sekarang akan berapa banyak yang dibeli Kyuhyun untuknya. “Tunjukkan padaku.” Pintanya.

“Oke. Ini.”

Satu kotak berwarna merah, dan satu lagi berwarna hitam. Keduanya memiliki ukuran yang sama, hanya berbeda tingginya saja.

“Kau membuatku tertawa. Ini konyol.”

“Terserah. Ngomong-ngomong, kau akan menggunakan yang mana untuk lamaranku.”

“Aku dapat memilihnya?”

“Ya, tentu.”

“Ini pertama kalinya aku mendengar tawaran cincin untuk sebuah lamaran. Biasanya kami, kaum wanita menerima begitu saja untuk cincin lamaran. Kecuali untuk pernikahan. Itu baru perlu dirundingkan.”

“Oh baiklah, anggap saja aku satu-satunya diantara seribu pria yang melakukan ini. segera putuskan.”

“Mengapa?”

“Karena sisanya, aku akan mengembalikannya kembali ke toko perhiasan.”

Ha In cemberut, berpura-pura merajuk. “Dasar kikir.”

Setelah beberapa kali menimbang baik-baik tiga kotak ditangannya, pilihan Ha In jatuh pada kotak hitam yang menampilkan sepasang cincin dengan model X yang lebar. Untuk prianya, ditengah-tengah cincin terdapat permata kecil. Sedangkan untuk wanita, cincin tersebut dihiasi banyak permata pada salah satu diagonalnya.

“Ini. Aku pilih yang ini. kau bisa mengembalikan keduanya. Namun aku ingin kau memakaikannya dijariku terlebih dahulu sebelum kau mengembalikan semua yang tak terpakai.”

“Oke.” Dengan hati-hati Kyuhyun menempatkan cincin itu pada jari manis Ha In yang sebelah kiri.

“Indah, dan sesuai dengan ukuranku.” Puji Ha In kembali. Ia memuji bukan untuk Kyuhyun. Melainkan untuk cincin yang ia kenakan sekarang.

“Lalu untuk pernikahannya?”

Ha In menoleh pada Kyuhyun. Mengerutkan dahinya karena pertanyaan yang Kyuhyun katakan tak dapat ia pahami.

“Cincinnya. Kau akan menggunakan cincin yang mana diantara dua pilihan itu. Atau kau ingin kita memilihnya lagi di toko perhiasan?”

“Owh,” Ha In terdiam beberapa saat. Lalu mengambil kotak merah dihadapannya. “Bagaimana pendapatmu dengan ini?”

“Ya aku setuju. Saat aku melihat ini, aku tahu kau akan jatuh hati padanya.”

“Aww, terima kasih.”

*.*.*

Di malam hari setelah pernikahan mereka, Kyuhyun dibuat sibuk dengan kondisi Ha In yang drop. Baru saja mereka mengucap janji suci tersebut tadi siang, seharusnya sekarang mereka bersenang-senang sekarang. Memulainya dengan makan malam, pergi berjalan-jalan, menonton tv, dan tidur dengan tenang di malam hari. Tapi itu tak terjadi, tak sesuai dengan rencana. Tiba-tiba saja Ha In sakit. Wanita itu marah-marah dan melemparkan kalung pemberian dari Kyuhyun.

“Jangan pernah memakai benda apapun pada leherku jika kau tak ingin ku hajar.” Maki Ha In saat itu. Ia merasakan gatal pada lehernya. Ha In memiliki alergi yang cukup parah pada bagian itu. Kalung merupakan hal yang paling buruk untuk lehernya.

“Maaf, oke.”

Dan sekarang, Ha In terbangun kembali dari tidurnya. Setelah ruam merah pada lehernya dapat teratasi, masalah lain muncul.

“Mom, Ha In demam, flu, batuk juga. Apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku begitu khawatir melihat raut wajahnya hari ini. Ia terlihat sangat buruk.”

“Hey, egh!” Ha In terhenyak lalu terbatuk-batuk tanpa henti. Membuat Kyuhyun yang sedang melakukan panggilan dengan ibunya jadi semakin khawatir.

“Kyu, menantuku? Sebaiknya kau buatkan dia bubur abalone. Resepnya, tapi tunggu, berikan saja bubur yang ditambah sayur-sayuran agar dia juga mendapatkan asupan seratnya. Tapi lebih baik, buatkan kue jahe dan susu hangat. Astaga, bukan susu tapi teh jahe hangat. Dan sebaiknya,”

“Bu, kau terlalu bertele-tele dan banyak berkata. Membuat isi kepalaku nyaris pecah. Bicaralah pada intinya dengan solusi yang paling tepat untuk sekarang.” Jawab Kyuhyun yang semakin resah.

“Oke. Dengarkan ibu,”

“Ya. Aku akan mendengarkannya dengan baik.”

“Menantuku demam, flu, dan juga batuk. Kyuhyun, demam yang ia alami itu wajar. Dan lagi, kau pasti terlalu lama membuatnya tak memakai busana bukan? Anak nakal!”

“Aku tahu aku salah. Maka dari itu, aku meminta saran dari ibu.

“Berikan obat oles penghangat dibagian leher, dada, dan punggung atasnya. Baru kau berikan bubur atau makanan apapun yang bisa kau buat untuknya.”

“Aku mengerti. Terima kasih untuk informasinya bu. Maafkan aku ditengah malam seperti ini. Aku pasti menganggu tidurmu.”

“Itu sudah sangat jelas. Tapi yang terpenting, menantuku sembuh. Jaga dia dengan baik.”

“Oke. Selamat malam.” Panggilan terputus setelah ima belas menit Kyuhyun dan ibunya Kim Nana berkomunkasi. Pria itu kembali melirik pada istrinya yang terus terbatuk-batuk dengan hidung yang tersumbat mesikpun kedua matanya terpejam rapat. Bahkan warna hidungnya serupa dengan buah tomat matang sekarang. Begitu merah menyala.

“Akan aku oleskan obat ini di area lehermu.” Dengan tangan kanan yang mengambil obat oles tersebut, serta tangan kirinya yang mengangkat dagu Ha In, Kyuhyun mulai mengoleskan obat penghangat itu secara merata di area yang diperintahkan ibunya. “Cepatlah sembuh. Kau membuatku sangat khawatir akan hal ini.”

Menaikkan kembali selimut yang membungkus Ha In, Kyuhyun menyeka tangannya yang berbau obat terapi beraroma lavender tersebut. “Aku akan turun ke bawah menyiapkan makan malam untukmu. Sekarang tidurlah dengan nyaman.” Bisik Kyuhyun. Ia menempatkan ciuman pada dahi Ha In sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamarnya.

Kyuhyun telah salah besar dalam bertindak. Obat oles yang diberikan pada leher Ha In telah membuat wanita itu semakin memburuk keadaannya. Lehernya merah, lecet, panas, dan pedih yang tak tertahankan semakin mengganggu Ha In. Wanita itu menggaruk kasar lehernya, membuatnya semakin buruk. Membuat Kyuhyun tak banyak berpikir lagi untuk segera memanggil dokter Lee untuk mengobatinya.

“Ck, aku tak tahu jika kau juga alergi terhadap aroma therapy.”

“Leherku memang tak pernah bisa bersahabat dengan hal apapun itu.”

“Itu sebabnya kau tak pernah memakai kalung pemberian dariku hmmm?”

“Ya, itu sebabnya. Kulit leherku terlalu sensitif akan banyak hal. Jadi jangan pernah memakaikan apapun pada leherku oke?”

“Akan ku ingat. Bagaimana sekarang?”

“Batuk dan fluku mulai sembuh. Terima kasih. Tapi sepertinya, leherku akan terus memerah seperti ini sampai besok pagi. Dan ini lumayan gatal.”

“Astaga, jangan digaruk. Aku akan membersihkannya. Tunggu sebentar.”

*.*.*

Dua hari sudah berlalu sejak insiden malam hari tersebut. Dan disinilah Ha In sekarang, ia tengah membuka halaman ke delapan puluh lima pada buku novelnya, Ha In mengernyit tak paham dengan sinar matahari yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Membuat tubuhnya yang tengah bersandar menjadi setengah duduk.

“Apa yang kau baca?”

“Owh ya Tuhan.” Ha In menghiraukan Kyuhyun yang terus berada di depannya. Wanita itu kembali bersandar nyaman pada kursi malasnya di tepian kolam renang. “Bisakah kau menepi sedikit. Kau membuat matahariku hilang.” Ucap Ha In sedikit kesal.

“Oke.” Kyuhyun memutuskan untuk berhenti menggoda istrinya. Ia berjalan menghampiri Ha In dan mengambil duduk dikursi yang satunya lagi.

“Berikan kakimu padaku.” Kyuhyun menarik kaki jenjang Ha In. Menempatkan kaki tersebut di pangkuannya dan mulai memotong rapih jari kaki Ha In yang mulai panjang. “Wanita hamil tak boleh banyak bergerak dan melakukan hal yang melelahkan.” Candanya.

Buku yang di pegang Ha In tak lagi menarik. Kyuhyun telah berhasil mengalihkannya saat ini. “Oh berhentilah membual oppa.”

“Aku mengatakan yang sebenarnya, karena aku terlalu menyukaimu, dan ingin menjagamu selalu. Salah satunya dengan melakukan hal ini. Well, bukankah ini tak terlalu buruk. Iya kan?”

“Ya, kau benar. Ini adalah salah satu hal terbaik yang kau lakukan untukku.” Jawab Ha In senang. Wanita itu terus memperhatikan dengan teliti pada jari-jari kukunya yang sedang dipotong rapih. Sesekali Ha In menepuk tangan Kyuhyun jika pemotong kukunya terlalu dekat dengan kulit, atau pria itu dibuat meringgis dengan omelan Ha In mengenai arahan menggunakan semua alatnya.

“Jika ku tahu memotong kuku bisa semelelahkan ini, aku tak akan mau untuk mencobanya.” Kyuhyun mendengus kesal, namun senyum diwajahnya seketika terlihat dengan jelas. Ya, Ha In selalu bisa melakukan hal apapun padanya, dan ia tak akan mempermasalahkan hal itu. Ia terlalu menyukai berdebat dengan Ha In.

*.*.*

To Be Continued—

Hai, mengenai pernikahan Ha In, maaf ya hanya singkat cerita. Malas berpikir sampai sejauh itu. Aku tak bisa konsen ngetik pernikahan soalnya, suasana hatiku agak kacau. Bukan kacau dalam arti yang buruk, tapi kejadian pada hari Minggu telah membuat diriku sendiri tertawa konyol tentang nasihat pernikahan. Sahabatku menginginkan nasihat pernikahan dariku yang masih singel. ini menggelikan.

Sahabatku yang baru bertemu lagi pada hari tersebut mengatakan bahwa dirinya dijodohkan. Dia merengut kesal padaku. Semua orang didekatnya memarahi dia dan membuat ia terpaksa menerima cincinnya. Sebenarnya saat aku tiba dirumahnya, aku sudah curiga dengan cincin yang lumayan tebal dan sederhana. Padahal aku hanya ingin menggodanya, tapi itu ternyata benar-benar cincin pertunangan.

Bukannya aku tak turut bahagia padanya. Tapi ia membuatku malah bereaksi lain. Aku tak berhenti tertawa akan nasihat yang ku berikan padanya. Aku juga harus membuatnya menerima takdir ini. Pernikahannya jatuh di awal tahun depan. Dan dia tak bisa menarik mundur pertunangannya. Berkata bahwa,

“Jika kau tak dapat menerima dia, maka lakukanlah demi orang tuamu. Orang tua selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Jika suatu hari pernikahanmu gagal, kau hanya tinggal menyalahkan orang tuamu saja.” ucapku menggodanya.

Belum lagi dengan melodi drama dan tangisan, aku berkali-kali kebingungan bagaimana caranya membuat ia tenang. Karena sejak aku mengenalnya, dia memang seallu seperti itu, sensitive dan mudah sekali menangis.

“Semua jalan hidup kita tak akan terduga. Siapa yang dapat menebak dengan apa yang akan terjadi padamu esok hari? Semua orang memiliki jalan yang terduga dikehidupannya.”

“Kau tahu, aku bahkan lebih bersedia untuk menerima perjodohan. Aku mengatakan bahwa perjodohan adalah jalan yang terbaik. Aku sudah mengatakan pada orang tuaku. Pria manapun yang ia pilihkan, aku akan mencoba menerimanya. Cinta itu tak akan tumbuh dengan sendirinya. Kekerasan hatimu akan melunak dengan sikapnya padamu. Yang menajdi masalah ialah, justru jika kau mencintai orang lain terlebih dahulu, kemungkinan besar orang itu akan menyalahgunakan cintamu. Biarkan da mencintaimu, dan kau akan belajar dari cintanya padamu. Bahkan temanku saja menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak, dan ia tak memiliki masalah dengan itu.” Walaupun aku tak tahu apakah itu benar yang ku inginkan. Belum sempat aku menyusun kata apalagi yang akan ku utarakan, dia sudah maju terlebih dahulu untuk menantangku kembali.

“Apa kau juga bersedia seperti itu? Menikah dengan pria duda yang memiliki anak?”

“Tentu. Itu akan menjadi petualangan berbeda. Karena sudah memiliki anak, jadi aku tak perlu bersusah payah mendorongnya lagi dari perutku. Lagi pula, setahu yang ku dengar, bersalin adalah sesuatu yang mengerikan. Aku belum mendapat pencerahan bahwa melahirkan itu menyenangkan.” Aku menjawab sekenanya saja. Bodoh memang. Tak berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu.

Dan lagi pembicaraanku mengenai keyakinan dirinya. Aku mengatakan,

“Dengar, kau mengatakan dia sudah matang. Dia pernah menikah, lalu bercerai. Kau juga mengatakan hal itu terjadi karena pihak wanita yang bermasalah meskipun kau tak tahu apa itu masalahnya. Aku hanya bisa mengatakan bahwa, seorang pria yang terluka membutuhkan sandaran baru untuk mendapatkan ketenangan hatinya. Kau bisa merasakan sendiri bukan? Bahwa seseorang yang telah patah hati memiliki perasaan yang lebih rentan. Dia rapuh, dan membutuhkanmu untuk bangkit kembali. Untuk itulah dia memilihmu. Bukannya dia tak memperhatikanmu selama ini, sampai-sampai dia datang ke rumahmu begitu saja untuk melamarmu. Aku yakin dia telah memperhatikanmu selama ini, maka dari itulah dia memutuskanmu untuk menjadi miliknya. Kau baik, pendiam, penyayang, dan itulah yang dia butuhkan saat ini. Anggap saja begini, dia membutuhkanmu untuk bangkit kembali melalui kesetiaan yang akan kau berikan, dan kau membutuhkan dia untuk melindungi baik hari ini atau pun ke depannya.” Dan kalian tahu, dia termenung cukup lama setelah perkataan panjangku. Ya Tuhan, jika saja dia tak bersamaku saat itu aku pasti sudah meledakkan tawaku. Dia menginginkan pencerahan dariku yang belum pernah sama sekali belum melalui fase tersebut. Mengapa nasihatku begitu mengena? Hanya karena aku sering mendengarkan orang dewasa disekitarku berbicara, majalah dan artikel, telah menjadikan diriku dewasa.

Alhasil saat sampai dirumah aku terus tertawa. Aku seperti gurunya dalam bidang ini. Berkata bijak kesana kemari dengan kata-kataku yang muncul begitu saja. Tuhan,

Sowing Chap.6 nya disambung nanti lagi ya, see ya J 😉

Advertisements

15 comments

  1. Haha asal tau aja… aku juga dijodohkan oleh orangtuaku, bahkan sudah beberapa kali aku punya pacar pasti nggak disetujuin. Dan saya dengan ikhlas juga mundur, meskipun sebenarnya nggak enak hati sama orang itu. Nah giliran saudara saya yang datang bilang mau dijodohin sama ponakannya malah langsung diterima 😊😊 lah entah gue yang saking sayang dan nurutnya sama orangtua mau gitu aja. Padahal orangnya aja saya belum pernah liat, tapi demi kedua orangtua saya menerimanya. Aku nggak pernah hawatir kalau soal masalah cinta, karena cinta bisa datang karena terbiasa. Karena menurut saya, pilihan orangtua adalah yang terbaik daripada pilihan kita sendiri 😊 😊😊 malah curhat saya.

    Like

  2. Huaaaaa mereka berdua udah nikah akhir nya yg di tunggu** , tapi aku sempet jengkel ama kyu , yg ghak mau punya ikatan hemmmp:( suka deh kyu yg mengalah kya gitu , ampe kacau banget mangkanya kyu kl punya mulut tuh dijaga

    Like

  3. huwaaaa eonniii akhirnya dilanjut…. kukira kyuin bakal gajadi nikah.. eh ternyata jadiii….
    emng bener yaaa klo kesalah pahaman yg besar itu bisa muncul dari bahan lelucon kitaaa….
    tapi its okay lahh karna aku dibuat laughing laughing pas ha in trnyt hamill…
    semangat eonni nulisnyaaa hwaitingg!!!!

    Like

      • huhuuu aku menghilang sementara dr dunia perff-an enjii… soalnya masih belum pede sama project2 akuu… huuhh takutnya mengecewakannn…

        sementara lagi vakum jadi author abal… aku lg belajar main potosop biar gak cuma bisa buat cerita tijel doangg tp bisa buat covernya juggaa heeheee…

        Like

          • padahal ceritanya bagus2 tuhhh-_-//bener tuhh eonn lanjutkan skripsimu!!!.. btw aku juga lagi bener2 rehat….

            soalnya aku udh gak ada mood ngelanjutin.. eonni juga kann psti pernah ngerasa males buat lanjutin cerita krn siders yg membeludak mungkin… tp perandingan yg view ff kita sm yg comment&like itu jauhnya udah kaya rel kereta di train to busan…
            bener2 sebel sama siders yg maunya enaknya doang… dia gak tau perjuangan yg bikin ff buat sampe ke timeline wp dia… gatau susahnya berfikir& berimajinasi ditengah sulitnya real life yg kalo lg males berasa di lumutin sama tugas2 dosen killer.

            dan juga akhir2 ini kalo aku prhtiin gak di blog aku… di blog yg sering aku stalk(tmsk blog yg udah besar bgt &banyak yg tau).. itu readersnya entah pd kmn tau… pdhl banyak cerita2 baru ygmenarik& bagus2, tp tetep aja diantara siders nyebelin itu gaada yg tergerak buat comment…

            nah itu juga jadi slh satu faktor author2 yg aku kenal buat pending dulu nulis& ngirim ffnya ke blog2 A B Z dimanapun itu…

            duhhh jadi curcoll nih eonnn😂😂😂😂😂… miannn….

            btw sowing chapt 5 bener2 bikin aku jungkir balikk… kerenn & aku suka krn cerita & alurnya paas eonn… 😄😄😄👍👍👍👍 goood joobbb

            Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s