Gray of Sunday – BAB I

Setelah menghabiskan malam natal dan tahun baru di Vegas, lalu melompat ke Los Angles, dan kemudian berakhir di daratan benua Eropa tempatku saat ini, aku merasa telah menua seiring berjalannya pergerakan bisnisku di dunia perindustrian Wisten House. Posisi sebuah kepala manajer dari departemen pemasaran, membuatku menikmati apa yang dinamakan kesempatan dan sebuah kesepakatan. Dan aku tak bisa menghindarinya, karena keduanya saling terikat dan berhubungan erat.

Aku meraih ponselku dari dalam coat coklat setelah merasakan dentingan dan getaran yang menggelitiki pahaku.

Oh, itu sebuah pesan singkat masuk.

From: Black Coffe

Antarkan segera berkasmu ke ruanganku dengan secangkir espresso panas.

 

Hah! Tanpa sadar, aku telah mendengus kasar di trotoar, di jalanan kota Watford. Dimana saat ini semua pasang mata menatapku dengan mata yang menyiratkan bahwa ‘seharusnya jika aku memiliki sebuah masalah, maka aku tak perlu bertindak sekonyol itu di hadapan banyak orang’.

From: Liliyana

Aku berada seratus tujuh lima meter dari gedungmu. Karena kau menginginkan si hitam, jadi aku harus berbalik kembali ke persimpangan jalan sejauh tiga ratus meter lagi ke belakang. Katakan, apa masalahmu pagi ini?

PS: teramat sangat kesal

Tak berselang lama, dia kembali membalas pesanku.

From: Black Coffe

Kau selalu menghMomr di pagi hari. Aku akan mengijinkanmu untuk terlambat. Tapi tak akan bertambah berat jika kau tak mendapatkan secangkir panas hitamku.

PS: mengetuk-ngetuk jari sampai kedatanganmu

“Fuck!” Aku mengumpat dengan suara yang berisi celaan, pelan, namun tegas dan jelas. Berdesis melawan suara angin dan lalu lintas padat di sepanjang jalanan. Orang lain mengira aku tengah bergumam. Ya, gumaman yang mengandung celaan pikirku.

Setelah memastikan ponselku tersimpan kembali di dalam saku coat, aku berbalik arah menuju café Jeremy. En Bloc.

Satu cup espresso, macchiato, dan beberapa cup cakes coklat dengan sepotong tiramisu terbungkus rapih di dalam kantung kertas bertuliskan En Bloc di print secara diagonal.

Jam sudah menunjukkan delapan empat lima. Dan itu artinya aku sudah sangat terlambat untuk masuk kantor. Meskipun si kopi hitam mentolerir waktuku, tapi aku tak merasa bahwa keterlambatan lebih bisa dijadikan alasan atas terhindarnya konsekuensi suatu hukuman.

“Mom.”

Aku mengabaikan suara gadis kecil dibelakangku. Sungguh tak masuk akal jika dia menunjukkan panggilannya untukku. Lagi pula kemana perginya Mom anak itu? Membiarkan gadis kecil di jalanan seorang diri tanpa pengawasan.

“Mom!”

“Mom!”

Aku menyingkirkan perasaan aneh saat dirasa derap langkah kaki anak tersebut begitu dekat denganku. Dengan pikiran terburukku, aku membayangkan bahwa anak itu memanggilku. Ia mengejarku dan memanggilku MOM! Astaga! Aku harus lari. Aku yakin para warga Watford tak akan terlalu setuju dengan apa yang ku lakukan ini, tapi anak itu sudah membuatku ketakutan dengan tak henti mengikutiku, lagi pula aku harus cepat memasuki kantor.

“MOM!”

Aku bersiap untuk berlari setelah menyelinap masuk pada sekumpulan mahasiswa yang sedang menunggu lampu hijau menyala. Dan, sial! Sebuah tangan menarikku dari sana. Membuatku mundur dan tersandung oleh kakiku sendiri hingga membuat isi En Blocku keluar dan menciprati bajuku. Bajuku kotor dan tanganku sakit.

Aku membuang napas kasar, wajahku menandakan bahwa aku sedang tak baik untuk saat ini. Dua bola mataku setengah memutar sebelum akhirnya aku angkat bicara. Namun pria besar berbobot ratusan pound, mengawasiku dengan pandangan yang tak suka. Double crap!

“Aku berdiri sejak tadi disana. Dan bukannya aku tak memperhatikanmu dengan apa yang kau lakukan Nyonya.” Desisnya penuh kebencian. Baik aku salah dalam hal ini. seharusnya aku mendekati anak itu dan membuatnya tenang meskipun aku sama sekali tak mengenalnya.

“Aku tahu . . . .” Dia menyelaku. Tak membiarkanku menyelesaikan apa yang aku jelaskan padanya. Tapi aku mengerti itu. Jika aku pun jadi dia, mungkin aku akan memilih untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku saat ini. Marah-marah pada orang asing.

“Kau tahu, tapi kau masih membiarkan anakmu menangisimu sepanjang jalan? Sebenarnya, apa masalahmu. Aku tadinya hanya akan diam disana, tapi kau membuatnya menjadi urusanku saat kau berusaha untuk lari.”

“Apa?” aku menganga tak percaya akan penilaiannya. Aku? Momnya? Aku melirik ke bawah samping kiriku. Anak itu sudah berhenti menangis, namun ia tetap tersedu-sedu. Aku mengabaikan hal itu. Lebih memilih untuk melihat wajah orang asing yang terus mencekal lenganku.

“Aku memang bersalah Tuan. Aku bersalah karena mengabaikan dia yang menangis dan memanggil Momnya. Hanya sebatas itu aku bersalah. Seharusnya aku menenangkannya, mengatakan padanya bahwa kini dia aman, dan aku membantu menemukan Momnya, tapi hal itu tak ku lakukan.”

“Apa maksudmu?” Aku gagal dalam membuatnya tenang. Pria itu malah menatap kasar dan marah padaku. Dan itu berefek pada cengkramannya yang semakin menguat, hingga membuatku meringgis. Satu hal yang baru ku sadari, tak semua warga UK dapat bersikap tenang dan ramah.

“Aku melihatmu keluar dari café yang berada di ujung jalan tersebut. Sementara anak itu kebingungan mencarimu. Dan saat dia menemukanmu, kau malah bersikap seolah-olah kau bukanlah Momnya. Kau bersikap seperti orang asing padanya.” Dia berkata sinis sementara kedua bola matanya tak berhenti terus menilaiku dari ujung sepatu hingga puncak kepalaku. Aku tak suka dipandangi seperti ini. Aku bukan sebuah patung atau lukisan disini.

“Jika kau tak percaya, kau bisa mengajukan siapa aku padanya. Bahkan dia tidak tahu namaku sama sekali.”

Pria itu mencondongkan wajahnya padaku, mendengus kasar menerpa kulitku, sebelum akhirnya mengalah dengan menerima saranku.

Aku merasa sedikit lega karena cengkramannya pada lenganku terlepas. Aku bebas. Haruskah aku mengambil kesempatan ini untuk lari? Karena anak itu sudah bertemu orang lain yang tentu akan perduli padanya, dibandingkan aku. Tapi itu akan membuatku semakin berengsek. Aku seorang wanita, seharusnya perasaanku lebih sensitive akan hal ini. Jadi ku putuskan untuk bersamanya sementara waktu.

“Sayang,” Pria itu berlutut dihadapannya, menyeka air matanya dan memberikan sapu tangan putih miliknya untuk menyeka hidungnya yang sama-sama mengeluarkan emosinya.

“Apa kau mengenal wanita ini?”

Anak itu mengangguk dan mengatakan “Ya, dia Momku.”

Aku memicingkan mataku pada anak itu. Namun pria itu malah balik melotot padaku setelah tahu bahwa aku menakut-nakuti anak tersebut. Sial! Apa-apaan sih dia. Mengapa anak sekecil itu bisa berbohong?

“Kau mengetahui namanya?”

Anak itu mengangguk lagi. Apalagi yang akan anak itu katakan pada orang ini. Aku menunggu dengan tak sabar dan rasa jengkel yang tak bisa hilang. “Ya. Itu Mom Lili. Momku. Liliyana.”

Sial! Aku melotot dan menganga padanya. Dari mana kau tahu namaku? Sialan! Apakah hari ini akan lebih sial lagi untukku? Benar-benar berengsek. Dan aku lebih berengsek lagi karena tak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan pria itu padaku

“Apa itu namamu?” tanya pria itu padaku. Dia kembali bersuara. “Dari ekspresimu aku tahu itu namamu.”

Tenang Lili. Aku berusaha untuk setenang mungkin. Di situasi seperti ini. Kemudian aku teringat akan kartu namaku sendiri yang sudah ku pasang sebelum berangkat kerja. Namun tetap menyembunyikannya di balik coat. Dan kulihat kini kartu itu sudah keluar dari tempat persembunyiannya, entah sejak kapan itu terjadi. Karena aku sendiripun baru menyadarinya saat anak itu terus menatapku, lalu memanggilku dengan lengkap.

Pada detik selanjutnya, tiba-tiba aku menjadi mendidih. Marahlah yang mendominasi emosiku saat ini. Anak itu memanfaatkan kartu tanda pengenalku.

“Ya, itu namaku. Jelas saja dia bisa mengetahuinya karena aku memakai kartu nama ini. Apa kau tak lihat kartu ini?” Aku menunjukkan kartuku yang sudah terpasang di leherku.

“Tidak Mom. Aku mengetahuinya sendiri.” Anak itu menyangkal usahaku dengan air muka yang dMomat semenyedihkan mungkin. Tapi aku tak kalah dalam berpikir mencari jalan keluarnya.

“Kalau begitu, kau pasti tahu dimana aku bekerja sekarang. Dan mengatakan siapa bosku saat ini.” aku balik menantangnya. Tak habis pikir mengapa aku bersikap sangat kekanakkan dengan perdebatanku bersama anak ingusan ini di jalanan Watford.

Jika ia bisa membaca tanda pengenalku dan menyebutkan namaku, maka ia juga bisa mengatakan dimana aku bekerja. Tapi anak itu tak akan tahu siapa bosku. Namanya tak tertera dikartuku bukan.

“Ya aku tahu. Wisten House. Yang dipimpin oleh George Wisten. Paman George.”

“George Wisten? Dia pamanmu?” tanyaku kembali.

Anak itu hanya mengangguk dalam menanggapi pertanyaanku.

Jadi, George? Mengapa dia bertindak sampai sejauh ini dengan membuatku tak memiliki wajah lagi di sepanjang jalanan Watford.

“Fuck!” Aku meledak. Dan tanpa sadar mengatakan hal tak senonoh itu pada anak dibawah tujuh belas tahun, di halayak umum. “George yang menyuruhmu?”

Anak itu menangis lagi. Aku membuatnya takut dengan mengumpat kasar. Dan aku mendapatkan hal yang setimpal dari pria itu, dia semakin menatapku penuh kebencian. Tapi tak ku perdulikan tatapannya tersebut.

“Dia tak menyuruhku Mom.”

Aku mengacak-acak rambut kesal. “Lalu kau tahu darimana sialan?”

Aku merasakan panas di pipiku. Dan baru tersadarkan bahwa aku sudah melewati batas. Aku berteriak, memaki, dan mengatakan hal yang kasar padanya. Ada apa dengamu Lili?

“Ikut dengaku sekarang ke kantor polisi. Kau akan tersadarkan dan mendapatkan pencerahan disana karena telah membuang anakmu.”

Tanganku kembali di cekal dan aku diseret seperti seorang gadungan di sepanjang jalan menuju kantor polisi bersama anak itu yang berada pada gendongannya.

“Apa kau mengenalnya?”

“Tidak, aku baru pertama kali melihatnya.” Aku sudah menjawab pertanyaan yang sama yang diajukan padaku oleh pihak berwajib selama berjam-jam. Aku sudah muak. Bisa saja aku meledak marah, namun aku tahu jika aku melakukan hal itu, maka aku tak akan mendapatkan kemudahan. Lagi pula, aku tak memiliki banyak tenaga untuk menyangkalnya.

“Jangan berkilah Nona. Kau tahu kami sangat melindungi anak-anak dan wanita yang rentan dari kejahatan. Tapi kau telah menyalahgunakan kesempatan itu untuk kau jadikan rencana jahatmu.”

“Mom!”

“Diamlah!” bentakku kesal. Kesal dengan semua pertanyaan yang harus berulang-ulang kali polisi itu ajukan untukku, dan anak itu tak mau diam. Dia terus memanggilku Mom, seperti itu suatu keharusan. Meskipun kami berada di ruangan yang berbeda, suara nyaringnya yang kuat tetap terdengar olehku.

Tak seorang pun dapat memahamiku, termasuk tatapan beberapa pejalan kaki yang berada di belakangku yang bertugas sebagai saksi.

“Jangan membuatnya menangis.” Gertak petugas itu mengancamku. Bahkan ancaman yang diberikan George padaku saat menyangkut pekerjaan, tak seburuk ini. Petugas dengan kepala yang lebih mirip seperti ulat bulu itu semakin membuat suasana hatiku bertambah buruk.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau hanya tinggal mengatakannya bahwa dia anakmu. Masalah akan selesai begitu kau membuat semuanya menjadi jelas dengan sebuah tanda tangan di atas kertas ini.”

Apa dia tengah memaksaku untuk mengakui kesalahan yang tak ku perbuat sama sekali? Menjadi Mom baginya? Tidak! Aku tak ingin terikat oleh hal apapun saat itu masih terasa tabu bagiku. “Aku tak mau melakukan itu.”

“Maka kami akan terus menahanmu selama mungkin.” Gertaknya kembali.

Disinilah permainan psikolog dimulai. Aku tak akan kalah. Tidak, aku tak mau kalah untuk hal yang tak masuk akal ini. Aku berkata kembali dengan suara yang dMomat setenang mungkin.

“Aku tak menyangkalnya Tuan.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan pengajuan laporan mengenai penjualan anak?”

Sial! Mengapa ini jadi semakin menajuh dari pokok pembahasan.

“Mr. Cosgrove tolong, jika aku benar Momnya, maka aku akan membawanya pulang saat ini juga. Tapi itu tak benar. Aku orang asing untuknya. Aku belum menikah, dan aku juga bukan warga asli disini. Aku masih memiliki status sebagai warga Jerman disini.” Mr. Cosgrove. Berengsek, sejak tadi aku diintrogasi pria ini, dan aku baru tahu namanya. Mengapa tak ku buat ini menjadi tambah berengsek saja dengan menempatkan namanya terus berulang-ulang. Dengan begitu dia akan merasa kesal padaku.

“Kami tetap tak percaya Nyonya Chesterfield. Wajahmu memperlihatkan Asia dan Britsh.” Dugaanku tepat, Mr. Cosgrove mencelaku diujung kalimat. “Sesuai yang sudah ku ajukan tadi, kami akan percaya jika kau mengakui kesalahanmu karena telah menelantarkannya. Kau tinggal tanda tangan disini, disini, dan disini. Dengan begitu kau baru terbebas dari sini.”

Selanjutnya mengiba dan memasang wajah memelas. Ayolah Lili kau pasti berhasil. George saja sudah ku buat tak bisa berkutik jika aku bertingkah seperti ini. “Sir, pelase. Trust me. Aku pendatang baru disini. Aku ke sini lima atau enam tahun yang lalu dengan visa pelajar sebagai mahasiswa Oxford. Dan kemudian aku kembali lagi memperbaharui visaku menjadi visa pekerja. Aku berasal dari Jerman Barat. Ini kartu identitasku.” Aku menyerahkan tanda pengenalku yang terselip disaku dompet Mulberry milikku.

“Ini SIMku, kartu mahasiswaku saat di Oxford, Visa, ATM, Credit Card, apalagi yang kau butuhkan?”

“Kartu namamu di tempat kau bekerja sekarang.”

Aku berdecik secara kasar sambil mengeluarkan semua isi tasku. “Mengapa tak kau katakana sedari tadi? Ini akan memudahkan kedua belah pihak daripada berbicara omong kosong selama lebih dari lima jam.” Aku menggebrak mejanya saat memberikan kartu terakhir yang dia minta.

“Informasi ini sebenarnya sudah cukup untukmu membuatmu keluar. Hanya saja kekuatannya sangat lemah. Kau harus melakukan . . . . ” aku memotong perkataannya segera. Sialan, dia terus mempersulitku dengan berkilah ini-itu.

“Aku akan melakukan tes kesehatan yang membuktikan bahwa aku belum pernah melakukan hal apapun bersama seorang pria hingga menempatkanku berada di sini. Aku bersedia melakukannya sekarang juga untuk bebas dari tempat ini.” Damn! Polisi ini tak menghentikan penyelidikannya padaku, hingga membuatku mengatakan hal yang menjadi privasiku. Teori permainan psikologiku benar-benar kacau. Aku meledak sebelum waktunya tiba.

Dua puluh dua tahun dan masih perawan? Sial! Orang-orang disini akan berpikir bahwa aku sangat kuno karena masih menjaganya diusiaku yang tak lagi bisa dikatakan muda.

Jepsen tersenyum senang karena membuatku mengatakan ini. Orang kepolisian itu memanggil rekannya yang lain dan berbisik-bisik sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menyetujui saranku.

“Kau tahu, jika kau terbukti bersalah, ini akan menjadi kasus yang semakin besar.” Cibirnya dengan angkuh.

“Aku tak takut untuk hal itu. Karena aku tak bersalah dalam kasus ini.”

“Jangan terlalu percaya diri Nona.”

Aku menantangnya kembali hingga membuatnya hanya berdesis jijik. “Aku memang seperti itu. Sekarang, bisakah aku memanggil seseorang yang bisa ku minta pertolongannya.”

“Jika kau merasa perlu, maka lakukanlah.” Jawabnya sambil berdiri meninggalkanku. aku berbalik menoleh ke belakngku. Semua saksi yang terdiri dari dua orang wanita paruh baya dan tiga orang pria yang diantaranya telah menamparku tadi, dan . . . anak itu bertingkah seperti kebanyakan anak lainnya. Tak merasa telah terjadi hal apapun padanya. Rambut kecoklatan, mata biru lautnya, pipi chubby miliknya, dan senyuman manisnya membuatku tergugah. Well, seandainya saja dia bersikap manis sejak awal, seperti saat ini yang dia lakukan. Dia sedang asyik menjilati es krim yang berbentuk corong dengan tawa yang menghiasi bibirnya. Jika sejak tadi ia lakukan, maka aku tak akan menempatkan dia menjadi musuhku sekarang dan nanti.

Aku berbalik mengabaikannya, aku lebih memilih untuk mengambil ponselku di saku coat. Menekan tombol nomor satu untuk menghubungkan dengan George secepat mungkin.

“Lili? Darimana saja kau? Apa kau sudah bosan untuk bekerja bersamaku?” tanya George. Nadanya setengah heran dan kesal.

“Tidak George. Diam. Aku sedang berada dalam masalah kini. Aku berada di kantor polisi terdekat. Bantu aku segera keluar dari sini.” George harus dihentikan secepat mungkin sebelum jiwa detektifnya keluar. Dan aku tak mengharapkan hal itu sekarang. Tidak jika jiwa deteftiknya ditunjukkan untuk pekerjaan bukan untuk membantuku keluar dari sini.

“Apa yang kau lakukan Lili? Bagaimana kau bisa sampai berakhir disana?” Akhirnya, aku merasa lega akan pertanyaan George yang mengkhawatirkan keadaanku.

“George, itu tidak penting sekarang. Aku ingin kau segera hadir disini.”

“Kalau kau memerlukanku, maka kau perlu untuk memberitahukan dengan masalahmu.”

“George,” aku mendesah dalam sebelum melanjutkan perkataanku yang sempat terhenti. “Intinya adalah, aku ditahan dengan kasus yang tak ku buat. Aku dijebak. Tolonglah segera kemari, aku memerlukanmu. Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Aku begitu terguncang George.” Aku menitikan air mataku. Membiarkannya berjatuhan, mengalir diantara pipiku dan menghalagiku untuk berbicara secara leluasa karena airnya juga mengenai sudut mulutku.

“Baik Lili. Maaf telah memaksamu. Aku akan segera ke sana saat ini.”

“Aku menunggumu George.” Aku menutup telepon dan menangis tersedu-sedu. Mengapa saat berbicara masalahku dengan George, aku tak dapat menahan emosiku? Aku merenung untuk sesaat. Itu wajar terjadi. George sudah seperti kakak, Mom, dan ayah bagiku. Dia segalanya bagiku selama beberapa tahun belakangan ini. Dia yang merawatku setelah aku dMomang kembali oleh ayahku.

“Lili?” George terenggah-enggah saat memasuki kantor polisi. Membuat semua orang yang berada disana menoleh padanya. Dia telah menjadi objek semua orang begitu ia datang.

“George.” Aku berbalik mengambil langkah besar untuk segera mencapainya lalu memeluknya erat. Seperti yang dilakukan anak-anak pada tokoh dinosaurus besar berwarna ungu di serial tv anak. Pelukanku yang tiba-tiba, telah membuat George sedikit limbung, terkejut dan kebingungan akan keadaanku yang kacau. Warna merah di pipi dengan telapak tangan yang tercetak jelas disana, rambut acak-acakanku, air mataku yang meluruhlatahkan riasanku, dan suara serakku yang bercampur dengan tangisan.

“Lili, ada apa ini? Mengapa kau sampai seperti ini?” dengan telaten George membuatku tenang. Beberapa kali ia mengelus rambutku dan memberikan ciuman di puncaknya.

Aku melepaskan pelukan ini, menatap George yang terlihat sama kacaunya denganku. “George, aku . . . .”

“Nona Chesterfield, silahkan ikuti aku untuk memulai prosedurnya.” Panggilan dari pihak kepolisian dan tenaga medis memanggilku. Menggantungkan kata-kata yang akan ku ucapkan untuk George.

Aku menyeka air mataku dengan bantuan George. “Terima kasih.” Aku tersenyum padanya berharap bahwa dengan ini dapat meringankanku. “Sementara aku melakukan prosedurnya, dapatkah kau menjaga semua barangku disini? Dan berkas kantormu ada di meja itu.” Aku menunjuk pada meja polisi yang menyelidikku tadi. Meja kerja Mr. Cosgrove.

“Baik. Lili,” George mencekal lenganku yang memerah. Shh, aku melupakan hal itu.

“Ini menyakitimu?” tanya George terluka. Oh dear, George, meskipun dia memiliki kelainan seksual yang menyimpang dan sudah memiliki kekasih, tapi sebagian besar rasa cintanya ditunjukkan untukku.

“Ya.”

“Lili, aku . . . .”

“Nona Chesterfield?” Namaku kembali dipanggil dengan nada yang berbeda. Wanita itu meledak.

“George, kau bisa mengintrogasiku semaumu nanti. Aku harus pergi sekarang.”

“Oke.”

Aku selesai dengan berbagai peralatan medis selama belasan menit. Dan keputusannya baru keluar satu atau dua jam dari sekarang. Darahku diambil dan diperiksa oleh seorang perawat dan dokter.

“Apa kau lapar?” Aku bersandar pada bahu George di ruang tunggu sambil menunggu hasilnya keluar.

“Tidak George, aku tidak lapar.” Aku menggeleng pelan, lebih memilih untuk mengusahakan tidur sejenak sambil menunggu hasil tesnya keluar.

“Paman,” Akh, suara itu lagi. Aku berpura-pura untuk tak mendengarkannya dengan memejamkan kedua mataku yang terasa berat dan sakit. Semua kombinasi yang terjadi padaku telah mengakibatkan apa yang dinamakan isi kepalaku berguncang, aku sakit kepala. Bumi seolah-olah berputar saat aku berdiri untuk jalan.

“Kau sudah mendapatkannya?”

Aku mengabaikan pembicaraan antara paman dan ponakannya itu. Meskipun aku belum tahu pasti George adalah paman yang sebenarnya. Alam mimpi sudah semakin mendekatiku, aku terbuai, bersiap untuk tidur yang nyenyak. Namun seseorang telah menghancurkannya melalui jari-jarinya yang menyentuh pipiku.

“Mom?”

“Ehm?” Setengah tersadar aku menggumam menanggapinya.

“Apa ini sakit?”

“Ehm.” Aku mendesis karena sesuatu yang dingin mengenai lebabku di pipi.

“Bisakah kau tidak mengangguku?” tanyaku yang mulai kembali kesal.

“Maaf.”

“Hei, tak apa. Lili hanya sedang tak ingin diganggu sayang. Dia kelelahan.” Didengar dari percakapannya ini, aku rasa anak itu tak berbohong soal hubungannya dengan George. Tapi aku harus tetap memastikan semuanya.

“George?” aku berusaha bangun dari sandarannya yang nyaman. George memiliki bahu yang lebar dan empuk. Meskipun tubuhnya sangat atletis dengan otot-otot yang keluar, tapi dibagian bahunya tak menggangguku. Bagian itu bahkan sangat nyaman dan enak untuk dijadikan sandaran kepala.

“Ya Lili.”

“Mengapa anak itu bersamamu?”

“Karena aku berperan sebagai walinya juga disini.” Jawabnya dengan bangga.

“Untuk itukah anak ini memanggilmu paman? Apa kau benar pamannya?” Tanyaku kembali.

“Ya Lili. Aku pamannya. Medeiros dan aku adalah sepupu. Kami berdua memiliki hubungan karena Mom kami adik-kakak.”

“Oke. Aku mengerti sekarang.”

“Hallo Mom, maukah kau bermain denganku sekarang?” shh, aku meringgis kesakitan mendengarnya. Sama seperti ketika aku meringgis mendapati luka di pipiku.

“George,” panggilku padanya tanpa melihatnya sama sekali. Focus perhatianku ku tunjukkan pada gadis itu. Ia menatapku dengan senyum malaikatnya yang tampak mirip senyum malaikat kematian dimataku.

“Dapatkah kau membuatnya mengerti bahwa aku orang asing baginya? Dia telah menyeretku kemari dengan panggilan itu. Dan hal itu membuatku resah akan panggilan itu.”

Ku rasakan George tertawa pelan dalam menanggapinya. Oh, dialah George. Selalu menanggap lucu akan semua hal yang berhubungan denganku. “Lili, maafkan aku untuk mengatakan ini padamu. Ini salahku oke. Aku mengatakan hal itu padanya saat ia terus menanyakan bagaimana wajah Momnya, bahwa Momnya mirip denganmu dan itu memang benar. Mungkin karena alasan itulah dia memanggilmu Mom.”

“Ya, nampak disini sudah jelas siapa dalang sebenarnya.” Jawabku acuh.

“Hei, maafkan aku oke.”

Aku mengendikkan bahu enggan. Maaf? Apa-apaan dia. Aku mengabaikan perkataannya dengan mengajukan sebuah pertanyaan lain. “Apa kau mengetahui bagaimana ia bisa berada diwaktu yang bersamaan saat aku keluar dari café itu? Dan siapa yang telah membawanya sampai disana? Karena aku ingin menampar, dan mencekiknya detik ini juga.”

“Ayahnya sendiri. Ana pergi dari genggamannya saat ia melihatmu keluar dari sana. Maka dari itu ia berlari mengikutimu dan memanggilmu Mom.”

“Mom?” sela anak itu meminta perhatian dariku.

“Dengar sayang, aku sedang kacau hari ini. Badanku terasa sakit semua sehingga aku tak berkeinginan untuk bermain denganmu.”

“George, bisakah kau membuatnya tetap duduk disampingmu?” pintaku saat Ana terus berdiri memelas dihadapanku.

George mengendong Ana dan menempatkannya bersandar pada kursi kayu disampingnya. “Dengarkan apa yang Mommu katakan sayang. Dia akan bermain denganmu nanti. Sekarang biarkan dia beristirahat.”

Aku tak dapat melihat apa yang dikatakan atau dilakukan Ana setelah mendengarkan nasihat George. Tubuh George yang besar menutupiku untuk melihat wajahnya. Aku tak mendengarkan suaranya kembali, jadi kupikir dia telah sepakat dengan penawaran George.

“Ya lebih cerobohnya lagi ayahnya tak menyadari Ana kecil telah pergi jauh darinya. Andy pikir Ana sudah masuk ke dalam mobil saat ia menerima telepon. Dia langsung pergi begitu saja ke kantor dan baru menyadari anaknya hilang saat tiba dikantor. Dan itu tepat saat kau menelponku. Aku melihat Ana setelah kau dipanggil untuk pemeriksaan dan menelpon Andy untuk bergegas kemari. Namun itulah Andy, jika anaknya sudah berada di pihak yang aman dan melindunginya, maka ia lebih memilih untuk bisnis. Kau bisa membayangkan sendiri bagaimana anak sekecil itu terluka dan sendirian.”

Ya, itu sepertiku. Namun saat mereka meninggalkanku, usiaku sudah cukup dewasa. Tak sekecil Ana. Hidup Ana lebih malang dariku.

Panggilan dari Mr. Cosgrove membuat kami berdiri dari bangku tunggu. Setelah mengatakan hal ini – itu, membacakan hasil tesnya, mendengarkan kesaksian George, Mr. Cosgrove mengakui kesalahannya yang kurang teliti dan meminta maaf padaku. Walaupun tak ku maafkan sepenuhnya. Aku akan memaafkannya begitu aku lupa masalah ini. Tapi yang harus digaris bawahi ialah, aku tak tahu kapan aku bisa melupakan hal ini.

Kami berdiri untuk berpamitan saat semua kesalahpahaman sudah terselesaikan. “Sekali kami minta maaf Nona Chestrefield.”

Aku melepaskan jabatannya dan menjawab ketus. Tak begitu tertarik untuk membuat percakapan yang lebih akrab dengannya. “Ya.”

“Nona, bagaimana dengan anak itu?” tanya Mr. Cosgrove kembali saat aku pergi begitu saja meninggalkan Ana dan George. Pandangan Ana terlihat terluka saat aku mengabaikannya bersama George.

“Tidak, tolong. Dengar, aku tidak mengenalnya, dan aku tidak memiliki masalah dengannya. Jadi dapatkah aku pergi keluar sekarang?”

“Lili, kita bisa satu mobil dan pulang ke tempatmu atau ke tempatku begitu kita selesai mengantarkan Ana.” Bujuk George. Ada benarnya juga. Aku tak bisa pergi dari sini dengan wajahku yang hancur. Aku juga tak membawa mobilku saat ini.

“Kau terlihat memerlukan istirahat yang banyak. Lebih daripada apapun. Dan Lili, Ana mengatakan padaku bahwa ia ingin bersamamu.”

Tuhan, aku akan setuju dengan George jika ia tak mengatakan Ana ingin bersamaku untuk hari ini. Tidak setelah apa yang ia lakukan untukku.

“George,”

“Mom, aku hanya ingin satu mobil bersamamu saat perjalanan pulang.”

Setelah mempertimbangkannya baik-baik aku setuju dengan George dan Ana. “Ya, baiklah.”

Ana meloncat senang begitu aku menyetujui permintaanya. Dia langsung memeluk kakiku erat, hampir membuatku terjatuh ke belakang.

“Terima kasih.” Dia berucap senang dengan memperlihatkan senyuman terbaiknya.

“Sama-sama.” Aku ikut membalasnya dengan memberikan belaian sayang dipuncak kepalanya. Ana masih sangat polos, ia tak bisa disalahkan sepenuhnya akan hal ini. George lah yang harus bertanggung jawab.

“Bisakah kita pergi sekarang?”

Ana menjulurkan tangannya ke atas, mengisyaratkan bahwa aku harus mengendongnya. “Ana, bisakah kau berjalan? Kau bisa memegang tanganku jika kau mau, ini sebagai pengganti gendonganku. Aku masih lelah sayang. Maukah kau bersikap baik padaku?”

“Baik.” Ana menarik tanganku dan menggenggamnya erat. “Ayo paman George. Kita pergi sekarang.” Gadis kecil itu tampak sangat senang saat kami berjalan menuju parkiran dengan tangannya yang menggenggam tanganku. Disepanjang jalan ia tak berhenti tersenyum dan bergumam menyanyikan sebuah lagu yang tak dapat ku dengar, dan tangan kami yang terjalin ia ayun-ayunkan dengan kuat.

“Aku bahagia paman George. Aku bisa menemukan Momku kembali.” Ucapnya saat kami masuk ke dalam mobil.

Ana tetap memaksa ingin duduk dipangkuanku. Aku sudah mengalah untuk duduk di bangku belakang sementara ia dan George di depan. Sebenarnya itu bertujuan agar aku bisa merebahkan diriku di kursi belakang. Tak ada salahnya mencoba untuk tidur sebentar selama perjalanan ke rumah Ana. Namun ia malah berjenggit kesal dan melampiaskan hal itu padaku dengan memukul-mukul bahuku. Dia paling pandai dalam bersikap seperti itu untuk membuat orang lain sepakat dengan permintaannya.

“Bisakah kita bermain di taman?”

“Tidak Ana.” George mengingatkannya lagi akan kesepakatan yang telah kita buat sebelumnya. Bahwa kami hanya akan mengantarkan Ana saja.

“Kalau begitu kita makan siang. Aku ingin makan siang bersama dengan Mom.”

“Itu pun tidak.”

“Mom?” Aku membuka kedua mataku pelan. Nyaris saja aku tertidur. Jika Ana tak mengoceh sepanjang jalan. Ana terlalu berisik untuk ukuran seorang anak perempuan yang berusia sekitar lima tahun.

“Ehm?” Aku membiarkan ia memanggilku seperti itu karena jika ku larangpun ia tetap bersikeras memanggilku dengan panggilan tersebut.

“Mom setujukan untuk bersamaku lebih lama lagi? Aku ingin makan siang bersama Mom, bermain, dan makan malam.”

“Tidak bisa Ana. Aku harus pergi ke tempatku. Kita bisa bermain lain kali. Disaat aku, dan pamanmu George lMomr.”

“Janji?”

“Aku berjanji padamu sayang. Buat pamanmu berjanji juga.”

“Aku berjanji sayang. Aku akan melakukan hal apapun yang kau minta putri kecil.” Goda George dengan menempatkan janggut tipisnya di wajah Ana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s