Gray of Sunday BAB II

Dengar, bila orang lain menanggapi suatu hal atau peristiwa atas kejadian tak terduga seperti kemarin sebagai hari buruk mereka, maka lain halnya denganku. Ini sudah seperti satu set sebuah drama bagiku. Terjebak di kantor polisi selama lebih dari tujuh jam dengan berbagai pertanyaan hingga tak ada cara lain selain mempermalukan diri melalui tes sialan itu serta melibatkan kuasa hukum. Yang berakhir dengan sebuah tanda tanganku pada lembar lampiran kepolisian. Aku sendiri menamakannya “Perjanjian Coffe George Wisten”. Payah, jika saja aku tak mengikutinya untuk kembali berbalik di jalanan Watford menuju café En Bloc, maka tak akan ada masalah seperti kemarin. Kotoran coffe pada baju dengan cream tiramisu, berkas kantor yang tertinggal di kantor polisi, pemaksaan atas penandatanganan perjanjian yang sialan, masih banyak lagi termasuk pemotongan . . . . gaji? Tapi ku pikir itu tak akan terjadi. Aku terlalu percaya diri untuk mengatakan bahwa George tak akan melakukan itu. Aku tahu bagaimana George Wisten selama ini. Ia hanya akan memberlakukan pemotongan uang jika itu benar-benar buruk. Dan sejauh dari yang ku tahu, aku tak melakukan hal buruk itu. Ia setuju denganku dengan menyatakan bahwa hal kemarin adalah sebuah insiden tak terduga yang terjadi padaku dan ia sepenuhnya bertanggung jawab atas semua hal kemarin. Walaupun ganti ruginya belum ku dapatkan sama sekali sampai sekarang.

“Anggap saja itu hari terburukmu Lili. Aku tak akan menyudutkanmu hanya karena kita kehilangan kesempatan satu investor asing. Karena memang kau tak salah. Akulah yang bertanggung jawab disini. Aku terlalu banyak menempatkanmu pada kesulitan.” Meskipun apa yang dikatakan George benar, fakta bahwa dialah yang menyebabkan semua hal yang terjadi kemarin menimpaku, namun aku tak bisa memanfaatkan hal itu untuk menyudutkannya sebagai tersangka utama. Karena pada kenyataannya baik George maupun aku, tak ada yang mengetahui dan dapat memprediksi pertemuanku dengan Ana kemarin.

Aku tambah bersyukur atas hal itu. Faktanya ialah, George merupakan teman priaku selama ini. Dan ia selalu memahamiku. Jika saja dia bukan . . . . Well, mungkin akan lain ceritanya. Aku sudah memiliki pikiran untuk menariknya berulang kali ke kamar yang ada di apartementku saat pertemuan pertama kami di Birmingham. Ia adalah tipe pria terpanas yang pernah ku kenal. Tinggi badannya yang mencapai tujuh puluh empat inchi lebih. Dengan tubuh six pack dan banyak otot yang bertonjolan keluar saat kemejanya terbuka. Memperlihatkan betapa prianya seorang George Wisten.

Ponselku kembali bergetar lagi, itu George. Dia membuat lebih banyak lagi panggilan untukku sejak kemarin. Yang sebagian ia tunjukkan karena aku kurang terbuka padanya. Daftarnya cukup banyak, tapi aku masih mengingatnya, karena aku bukan orang pelupa selama hal tersebut bersangkutan denganku.

George menanyakan mengapa namaku ada Chesterfield-nya.

“Lili, kau tak pernah memberitahuku tentang Chesterfield selama ini. Apa sesungguhnya yang terjadi?”

Ia juga menanyakan ID namanya pada ponselku. Kopi hitam? Waktu itu ia agak tersinggung mendapati kenyataan pahit dariku. Aku teman terdekat wanitanya, secara tak sengaja seperti telah menjadikan ia musuhku. Aku harus menjelaskan beberapa kali agar membuatnya mengerti bahwa itulah panggilan sayangku padanya. Namun itu bukan berarti selesai dengan cepat. Aku harus meminta maaf padanya, dan segera mengganti IDnya dengan benar. Dia sendiri yang mengajukan nama ID nya pada ponselku.

“Apa?”

“Aku sudah menunggu pesanmu sudah sedari tadi.”

“Ya, aku tahu. Aku sedang di jalan untuk mengambil uangmu dude. Bersabarlah.”

“Oke. Seratus lima puluh menit Lili. Seratus lima puluh menit lagi. Dan aku ingin melihatmu di Mandarin Oriental Hyde Park untuk pembahasan kontrak.”

“Ya sir.”

Aku menutup panggilan, lalu memarkirkan mobil di bahu kanan kantor polisi Watford. Seorang petugas pria menyapaku seperti seorang pegawai receptionist kantor, langsung berdiri begitu aku datang. Jika bukan karena proyek besar tiga kali lipat dari harga Villa Leopolda di selatan Perancis, muka merahku yang kemarin tak akan ku tunjukkan lagi disini.

“Selamat siang Nyonya Chesterfield.”

Sial, mukaku merah. Semerah warna bendera negeri ini. Dan ia bahkan mengetahui nama belakangku. Aku yakin kemarin adalah kejadian paling menggemparkan yang pernah terjadi. Seorang anak usia lima tahun memaksaku untuk mengakui ibunya?

“Siang pak. Dapatkah aku bertemu dengan Mr. Cosgrove?”

“Beliau ada di dalam. Silahkan masuk saja.”

“Ahh, terima kasih.”

Huh! Ku buang napas dalam satu hembusan kuat begitu aku memasuki bagian kantor. Tenangkan dirimu Lili. Kasusnya sudah berlalu dan kau pun tak bersalah sama sekali dalam kasus ini.

“Siang Nyonya Chesterfield. Adakah yang bisa ku bantu untukmu?”

Petugas wanita berseragam biru gelap kembali menyambutku.

“Ya, aku perlu bertemu dengan Mr. Cosgrove untuk mengambil beberapa dokumen.”

“Aku mengerti. Silahkan duduk di depanku Nyonya. Aku akan menghubungi Mr. Cosgrove. Beliau sedang menghadiri rapat untuk kasus besar di Old Trafford.” Senyumnya menyakinkan.

“Oke.” Bisikku menyetujui. Jika ini tak berhasil, maka Wisten bukan hanya saja memotong habis uangku untuk bulan ini, tapi ia juga bisa melakukan hal lain dengan memenggal kepalaku. Mengapa sih dia seceroboh itu kemarin? Mengabaikan begitu saja berkas-berkas yang telah ku buat secara susah payah, sialan.

“Oke, baik.” Dia membuat panggilan cepat dengan Mr. Cosgrove. Hanya terjadi sedikit percakapan diantara mereka. Suara tegas, jelas, dan singkat mendominasi percakapan tersebut.

Beberapa detik berlalu, polisi wanita itu menghentikan pembicaraannya.

“Nyonya,”

“Ya.” Jawabku ragu. Semoga ini bukan berita buruk mengenai berkas-berkas itu.

“Mr. Cosgrove baru bisa ditemui lima belas hari kemudian.” Tuhan, duniaku hancur.

“Tapi Mr. Cosgrove mengatakan bahwa berkasmu ada di mejanya. Akan ku ambilkan untukmu.”

Perasaan terbebas dari roller coster menghinggapiku. Begitu lega dan menenangkan.

Aku baru mengetahui jika bukan hanya saja seorang dokter yang mampu membuat jantung seseorang berhenti dengan permainan katanya, seorang polisi bahkan lebih baik dalam mempermainkannya. Kenyataan jenis apa ini? Kenyataan bahwa setiap profesi mampu memainkan sebuah permainan dalam memicu kinerja jantung seseorang?

Wanita itu kembali menghampiriku dengan beberapa berkas di tangan kanannya.

“Ini berkasmu Nyonya?”

Aku ikut berdiri, menerima semua berkas tersebut dan memeriksa semuanya kembali.

“Ya, ini semua yang ku perlukan.” Warna biru, hijau, merah muda, dan kuning. Semua yang ku perlukan sudah berada ditanganku. Aku mengambil tasku, membuat ia mengerti bahwa aku perlu untuk segera pergi dari sini.

“Terima kasih atas bantuannya.” Kami melakukan jabat tangan sebelum berpisah.

“Sama-sama Nyonya Chesterfield.”

Bibirku turun secara drastis. Garis wajah yang semula terangkat menjadi menurun ke bawah. Membuat cekungan setengah lingkaran sempurna saat ia kembali mengulang CHESTERFIELD didepanku.

“Kejadian kemarin, bukankah sangat berkesan bukan.” Ucapku setengah mencibir.

“Ya, cukup mengesankan untuk di kenang.” Ucapnya disertai senyuman. Yang ku tahu bahwa itu adalah sebuah sanjungan sekaligus gurauan.

“Oke, aku paham.” Aku menyeringai balik padanya dan bergerak untuk segera pergi dari sini.

Ponselku kembali bergetar, dan aku melihat nama George muncul sebagai tanda panggilan masuk.

“Ya George, aku sudah mendapatkannya.”

“Waktumu tinggal seratus tiga puluh lima lagi Lili.”

“Kau sangat baik hati dalam mengingatkanku.” Ejekku kesal. Ia mengatakannya sebagai bentuk perhatian dan peringatan. Bagaimana ia bisa menyerahkan semua kesalahannya padaku? Bukankah sudah ku pringatkan kemarin untuk membawa berkas-berkasnya di meja Mr. Cosgrove? Tapi apa ini? Ia bahkan menyuruhku mengemudi sejauh puluhan mil dengan waktu sesingkat itu.

Sesuai apa yang dikatakan George, waktuku hanya tersisa seratus tiga puluh lima lagi. Jadi aku mengambil kesempatan untuk menginjak pedal gas sedalam mungkin begitu keluar dari wilayah kantor polisi sejauh lima puluh meter ke arah barat menuju Mandarin Oriental Hyde Park.

Detik jam membuatku beruntung karena masih berputar di angka sepuluh. Lalu lintas cukup lenggang karena semua orang sudah berada di tempat seharusnya mereka sekarang.

Aku dihalau papan otomatis di tempat parkir untuk mengambil secarik kertas ukuran empat ke tujuh. Dan seorang petugas parkir lobi mengarahkanku untuk terus mengemudi ke samping kiri, terus melaju ke bawah sesuai petujuknya kembali. Bisakah aku menerima kenyataan ini? Fakta bahwa tempat parkir untukku mendapatkan tempat paling ujung? Di dalam sebuah basement?

Mungkin aku harus terbiasa dengan semua ini. Mobilku sudah jauh tertinggal dengan mobil support yang ada pada saat ini. Meskipun mobilku jenis yang terbaik di kelasnya, tapi itu tidak berlaku untuk saat ini. Mobil jenis BMW Z1 yang diproduksi pada tahun1989 sampai 1991 hadiah pernikahan Tom dan Michelle dari kakekku. Itu sudah hampir dua puluh tujuh tahun yang lalu. Yang pada akhirnya, BMW Z1ku yang malang harus terkucilkan disini.

“Seharusnya kamu membuang sampah yang kau sebut mobil itu di tempat daur ulang.” Ejek seorang pria asing saat melintasi mobilku begitu aku keluar.

“Aku tahu dude.” Tanggapku yang mulai terpancing emosi. Aku baru akan bertemu semua investor maupun klien tujuh menit lagi. Namun aku sudah banyak mengeluarkan keringat banyak karena semua aktifitas pagi ini ditambah lagi gurauan tadi, semuanya telah mendidihkan kepalaku, hampir membuat ubun-ubun pecah.

Aku menekan tombol tiga dimana ballroom berada. Memasang tanda pengenal secara serampangan. But wait, ini bukan Wisten House, mengapa aku harus memakai tanda pengenal untuk sebuah pertemuan bisnis diluar kantor? Sungguh konyol.

Aku kembali melihat tampilanku sebelum mendorong pintu ballroom yang sudah tertutup rapat. Ini rapat penting dan teramat pribadi, hingga Mr. Jepsen tak membiarkan pihak luar dapat melihat bagaimana ia menguasai dunia dengan uang. Selain itu, pintu tertutup menandakan bahwa aku hampir terlambat.

Dua pegawai wanita berdiri pada masing-masing sisi pintu. Bertugas menyapa tamu, termasuk membukakan pintu. Pintu besar berwarna coklat pernis pada permukaan kayu jatinya dengan tinggi sepanjang lima kaki, mampu membuat orang kecil sepertiku bertambah kecil bila dibandingkan dengan pintu tersebut.

“Tujuh menit lagi Chesterfield.” Tegur George. Sial, sejak peristiwa kemarin, aku tak berani lagi mengganti ID namanya pada ponselku dengan sebutan aneh.

“Oke.” Aku mengangguk ke arahnya yang memilih duduk di meja nomor sebelas, bagian pojok kanan depan. George tak pernah mengalihkan tatapan mangsanya padaku, tentu saja itu membuatku merasa bertambah buruk.

“Siang George.”

“Hai Chesterfield.” Aku cemberut mendengar panggilan itu lagi. Chesterfield? Sejak ia merasa telah dikhianati denga nama itu, tak pernah satu kalipun George memakai Lili lagi untuk memanggilku.

“Aku tahu George, sikapku yang kemarin terlalu berlebihan untuk digunakan sebagai bahan komedi. Aku tahu itu. Dan aku menyesal. Tolong jangan bersikap dingin padaku.”

George tampak menegakkan duduknya. Menguraikan lipatan tangan yang terjalin di dadanya, mengurangi setengah ketegangan padaku.

“Aku tahu kamu Lili. Dan aku tahu bahwa kamu hanya bercanda.” Dia mengambil jeda bicara yang cukup lama sebelum akhirnya kembali bicara.

“Aku hanya sedikit kecewa padamu Lili. Mengapa kau tak memberitahuku mengenai Chesterfield? Ku pikir kau hanya akan menjadi tunggal dengan Liliyana.”

Aku menunduk malu dihadapan George. George benar, tak seharusnya aku menutup rapat tentang diriku kepadanya. George sudah sangat baik hati dengan menjadikanku sahabatnya. Dia selalu menempatkan aku di urutan nomor satu dari segala prioritasnya. Tapi aku terlalu sakit hati dan belum siap untuk mengatakan semua tentangku pada George. Rasanya akan menjadi lebih buruk saat Tom menarikku ke meja operasi.

“Maafkan aku. Chesterfield sudah berlalu. Tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Aku masih darahnya, dan di sisi lain, aku ingin melupakan fakta tersebut. Itu saja George. Saat aku siap, aku akan memberitahukan semuanya padamu. Itu janjiku padamu.”

Ubun-ubunku mendadak ingisn meledak. Sementara aliran darah terasa mengalir terlalu cepat dari biasanya dengan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh, membuat warna merah tampak timbul dimana-mana di bagian permukaan kulitku. Aku semakin tersiksa saat air mata yang tak ku inginkan mulai mendorong untuk keluar. Aku akan menangis.

George meremas pungung tanganku yang bergetar. Tangannya sedingin air es. Aku tahu kondisi seperti apa yang dihadapi George saat ini. Jika tangan George ataupun suhu tubuhnya terasa dingin, itu artinya George sedang terluka dalam. Kondisi ini sama seperti saat ia kehilangan kekasihnya dua tahun yang lalu, hingga membuat seorang George Wisten memilih untuk menjadi gay. Sampai detik ini, sejauh yang kurasakan, George hanya dekat denganku saja. Tak satu pun karyawan wanitanya yang berani mendekat ke arah George jika bukan untuk menjalankan sebuah bisnis agar tetap berlangsung. Akulah satu-satunya karyawan wanita yang sangat dekat dengannya, yang ia jadikan sebagai pengecualian. George menaruh banyak kepercayaannya padaku. Menjaga rahasia pribadinya, menjalankan bisnis, menjadi teman baik untukku. Tapi apa yang ku lakukan dengan menyembunyikan Chesterfield darinya, telah membuat George terluka begitu dalam. Aku telah membuatnya kecewa.

“Aku mengerti bagaimana kamu selama ini Lili. Dan kamu pun tahu bagaimana aku sampai sejauh ini. Mengenai dirimu, . . . . ku mohon, untuk kau ceritakan segala sesuatunya padaku kelak.”

“Tentu George. Karena hanya akan selalu dirimu yang tahu aku.”

Kami saling berdiam diri dalam menetralkan emosi masing-masing. Kami hanya melakukan interaksi melalui tatapan mata. Aku segera meraih tissue untuk menghilangkan air mata di kedua pipiku.

Ada sebuah peringatan dari MC yang mengatakan roda uang akan segera dimulai.

Putaran negosiasi terus berlanjut hingga tiga jam lebih. Hasil pertemuan ini mengumumkan bahwa perusahaan Medeiros mendapatkan hak untuk pembangunan pusat perbelanjaan di kawasan US, sementara perusahaan Mark dan Josh mendapatkan kuasa penuh atas penawaran luas lahan yang akan digunakan di US, sementara aku, maksudku Wisten House mendapatkan bagian terbanyak atas semua produk yang akan di pasarkan di US. Wisten House sudah tak asing lagi di telinga warga UK. Perusahaan ini memproduksi banyak produk yang tersebar dipasaran seperti kosmetik pria dan wanita yang menjangkau semua usia, keperluan bayi, produk makanan instan, hingga beberapa keperluan rumah tangga. Wisten House mulai mencoba untuk menundukkan US setelah dua produknya berhasil menguasai pasar Tiongkok dan Hongkong.

“Terima kasih atas kerjasama kalian semua.” Akhir pidato Mr. Jepsen. Pria paruh baya itu turun dari podium dengan iringan tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang hadir disini. Pria berkebangsaan Ukraina itu tengah mencoba keuntungannya di New York dengan membuka cabang baru. Ia menjanjikan para investor keuntungan yang besar dengan neraca keuangan yang dipastikan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Bunyi berisik yang ditimbulkan oleh gelak tawa dan pembicaraan bisnis mulai memenuhi Ballroom.

Aku segera merapihkan berkasku dan bergegas menyiapkan salinan lengkap dengan rincian produk yang akan diluncurkan.

“Pekerjaan yang bagus Lili. Kau tahu aku tak bisa melakukan semua ini tanpamu.”

George mengulurkan tangannya dan aku menerima hal itu dengan senang hati. Berjabat tangan dengan George selalu menjadi hal yang menyenangkan. Karena itu berarti dia menghargai semua kerja kerasku. Kami seperti bukan sahabat di saat seperti ini, tapi sudah menjadi rekan kerja yang sesungguhnya.

“Terima kasih George. Satu mangkuk mie China dapat membantuku.”

George melepaskan tanganku sampai akhirnya kedua bola mata besarnya tersembunyi dibalik tatapan tak setujunya padaku.

“Aku bisa memberikanmu yang lebih baik dari itu Lili.”

“Aku tahu George. Tapi aku hanya menginginkan mie China sekarang.”

“Oke.” George mengangkat kedua tangannya di udara. Tanda menyerah.

“Kau akan mendapatkannya. Karena aku tak bisa membantahmu Lili. Aku tak akan pernah bisa melakukan itu padamu.”

“Terima kasih.” Aku memeluk dirinya erat. Lalu mendaratkan sebuah ciuman di pipi kirinya.

George menyeringai seperti biasa setelah mendapatkan ciumanku. Tangan George berjalan cepat mengambil dompetnya sendiri yang ia masukkan di dalam saku jas bagian dalam, mengeluarkan kartu kredit unlimitednya, kemudian menyerahkannya padaku.

“Ambil itu Lili. Kau bisa menghabiskan berapa dollar pun yang kau inginkan. Kau pantas untuk mendapatkannya.”

“Tidak George.” Aku mengembalikan kartu itu kembali padanya. “Jika itu tawaran makan dan belanja, aku ingin melakukannya bersamamu.”

George mendesah lagi. Ia menyakinkan dirinya tak akan kalah lagi dariku.

“Aku harus bertemu seseorang Lili. Tidak apa, ambillah. Kau pantas untuk mendapatkannya atas semua kerja kerasmu.” Dia terus memaksakan keinginannya dengan mendorong kembali kartu itu ke tanganku.

“Tidak George. Jangan mencoba membuat penawaran denganku.”

Aku terus bertahan dengan kegigihanku dalam upaya menolak kartunya, berbanding terbalik dengan dirinya yang terus memaksakan kehendak dirinya.

“Baik Lili. Lagi-lagi kau membuatku menyerah padamu. Kau menunjukkan kehebatanmu mengenai uang.” George kembali menunjukkan seringainya dengan dua bola mata yang mengangumi usahaku. Ia memutuskan untuk memasukkan kembali kartunya. George tahu bahwa ia akan memperoleh nol jika terus mendesakku.

“Tuan Wisten.” Seorang pria yang memiliki nada suara sama yang dimiliki seorang pria di basement tadi. Pria yang mengejek mobilku.

“Tuan Medeiros.” George menerima uluran tangan dari pria asing yang memanggilnya dan ia sekarang berdiri di sampingku. Samping kananku.

“Lili,” George menginterupsi lamunanku. Menarikku keluar dari bayangan semu yang ku buat sendiri.

“Ya.”

“Ini Mr. Andrew Medeiros. Dia rekan bisnis kita dalam proyek ini.” George mencoba mengenalkan kami satu sama lain.

“Lili.”

“Andrew.” Aku tak salah dalam menilai kali ini. Ia adalah pria yang sama saat di parkiran tadi.

“Seni yang bagus Andrew. Kau membidik objek yang benar mengenai kendaraanku.” Kedua pria itu terkejut akan ucapanku. Aku ingin tahu sejauh mana ia bisa berkata di depan George Wisten.

“Maaf untuk yang tadi Lili. Aku tak tahu itu kau.” Ucapnya pucat. Senyumnya hanya setengah hati. Tak mencapai matanya sama sekali.

“Lupakan saja Andrew. Lagi pula aku hanya sedang menggertakmu.” Aku beralih menatap George setelah berhasil melihat Andrew tak berkutik lagi. “Aku harus pergi George. Terima kasih untuk semuanya.”

Aku mengambil satu langkah ke depan, mengecup pipinya kembali. Menyapirkan tasku, lalu pergi meninggalkan Mandarin Oriental Hyde Park bersama berkas-berkasku.

Aku membayangkan kembali kejadian diambang pintu tadi. Jika itu bukan sebuah pukulan di lengan atas, pasti ia akan memastikan perutnya biru ditangan George. Aku meninggalkan keduanya setelah memastikan pendengaranku menerima suara bugh dari bunyi pukulan dibelakangku terdengar, tak lama setelah itu suara Andrew yang meringgis tajam segera menghampiri telingaku. Rasakan itu Andrew.

Ku putuskan untuk pergi ke kantor, meskipun George melalui segala kebijakannya memperbolehkanku untuk pulang.

Getaran di ponsel terus berjalan, tapi aku tetap mengabaikannya. Aku tak akan berhenti bekerja untuk melirik ponselku. Tidak saat semua dokumen dan berkas-berkas di mejaku harus berpindah tempat di meja George besok pagi.

Aku melirik jam kecil yang berada di atas mejaku. Itu enam belas empat lima. Lima belas menit lagi aku keluar dan selesai dengan semua pekerjaan ini.

Aku tak bisa berkonsentrasi. Hampir saja membuang ponselku ke dalam tong sampah saat panggilan itu terus bergulir.

“George?” tanyaku heran

“Hai Lili. Bisakah kau menemuiku sekarang?”

Aku melirik pada computer dihadapanku. Kembali memperbaiki dan memeriksanya secara keseluruhan sebelum aku pergi.

“Sekarang?” Aku menempatkan ponsel itu dibahuku. Menjepitnya menggunakan bahu kiriku.

“Ya, sekarang. Kau masih ingat tentang janji yang kita buat bukan?”

Aku menarik sedikit kepalaku ke belakang sambil mengerutkan kening. George dan aku membuat janji? Kapan? Mengapa aku bisa sampai lupa? Aku mengambil memo kecil yang sengaja ku letakkan di samping alat tulis kantorku. Ku periksa satu persatu, lembaran demi lembaran itu dengan teliti.

“Lili?” George mengingatkanku bahwa kami masih tersambung.

“Ya George, tunggu sebentar.”

Dimana tulisan itu? Dua kali aku memeriksa secara keseluruhan memoku, tapi aku tetap tak menemukan agendaku bersama George malam ini, maksudku sore ini.

“George, janji mengenai apa itu? Sebab aku tak menemukan satu catatanpun di memoku.” Tanyaku penasaran.

“Janji mengenai, kau, aku, dan . . . .”

“Ibu!” suara George teredam oleh teriakan anak perempuan yang sedang bersamanya. Apa itu Ana?

“Kau sudah dengar bukan Lili. Itu Ana.” Ahh, benar dugaanku. gadis kecil itu. Dan aku baru mengerti sekarang. Janjiku dan George adalah untuk bermain bersama Ana.

“Oke. Dimana kalian sekarang?” Aku memindahkan ponselku ke bahu kanan. Mengeprint semua laporan, lalu mematikan komputernya segera.

“Jika kau setuju, kami yang akan menjemputmu. Kau masih dikantor kan?”

“Ya, aku masih dikantor. Aku baru saja menyelesaikan semua yang kau perlukan untuk besok.” Ucapku menjelaskannya.

“Besok?”

“Ya besok. Bukankah kita harus mengkaji ulang proyek ini sebelum menyerahkannya pada pihak Mr. Jepsen?”

“Owh Ana, inilah yang ku suka darimu. Kau selalu menjalankan pekerjaanmu dengan baik. Dan kau bahkan lupa bahwa besok adalah hari Minggu.” Aku mendengar suara George tertawa diujung sambungan ini. Sial! George benar, besok adalah hari Minggu. Lalu mengapa aku terburu-buru untuk menyelesaikan tugasku? Seperti aku tak mengenal dengan baik siapa bosnya.

“Oke. Aku terlihat bodoh ya?”

“Tidak Lili sayang. Segera angkat pantatmu dari sana baby. Aku sebentar lagi sampai.”

Kami memutuskan telepon, dan aku segera berkemas dari sini. Ku lirik kembali jam tanganku. Pukul lima lebih tujuh menit. Ku regangkan badanku sebentar, lalu berdiri dan pergi ke toilet.

Sambil menunggu kedatangan mereka di lobi, ku buka perlengkapan kosemetik daruratku. Menambahkan lip ice dan membuatnya mengkilap lagi dengan lip gloss bening. Ku rapihkan juga rambutku, eye shadow, bedak, dan blosh on. Aku cantik sekarang.

Bunyi klakson mengalihkan perhatianku dari cermin kecil. Itu mereka. Ku masukan kembali semua kosmetikku secara serampangan. Begitu aku berdiri, Ana menghantamku untuk duduk kembali dengan tubuhnya.

“Ibu!” serunya senang. Dia memeluk leherku erat sebelum akhirnya mencium kedua pipiku. “Ibuku cantik.” Pujinya tulus. Dan itu membuatku tersentuh. Konyol memang, mengapa anak sekecil ini dapat membuatku melambung. Pujian yang keluar dari mulutnya bagaikan aku memenangkan sebuah trofi penghargaan. Sementara pujian dari George, well, pujian yang dia berikan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ana.

“Terima kasih sayang. Kau juga terlihat sangat cantik.” Aku mengelus kepalanya sayang. Mencium salah satu sudut keningnya dalam.

“Berputarlah.” Ana menurutiku. Dia berputar dengan tangan kanannya yang tak mau lepas dariku. “Bajumu indah sayang. Kita bujuk paman George untuk memberikan yang seperti ini lagi untukmu. Ayo kita berangkat.” Aku berkata jujur. Ana selalu terlihat cantik dengan mini dress ataupun long dress santai. Entah dia memang selalu tampak cantik dengan baju apapun atau mungkin bajunya yang memang sesuai dengan karakter Ana.

“Tentu.”

Di dalam mobil, George merengut iri pada kami. Owh, pria tua itu, bersikap seperti layaknya remaja delapan belas tahunan yang diabaikan pacarnya.

“Hai George.” Aku membuka pintu depan disampingnya menyuruh Ana masuk, lalu memastikan ia mengenakan sabuk pengamannya.

“Lili.” Tanggapnya singkat. Mengapa dia kekanakkan.

“Ayo jalan.” Ucapku setelah selesai memasang sabuk pengamanku. Aku memposisikan diri senyaman mungkin. Bersandar nyaman dengan mengatur kembali sanggahan kepala dari jok belakang.

“Ibu!” Ana berbalik dan merenggut padaku.

“Ya sayang.” jawabku santai. Aku sudah mulai terbiasa dengan teriakan Ana saat memanggilku.

“Mengapa aku disini bersama paman George?”

“Ku pikir kau ingin bersamanya.” Jawabku bingung. Posisi duduk saja membuat kami mulai berdebat.

“Tidak ibu. Aku ingin bersamamu. Bukan dengan paman George.” Dia mengatakan hal itu dengan bersungut-sungut, kedua telapak tangannya di lipat di depan dada. Seperti, . . . . George. Dia ikut melipat tangannya seperti Ana atau Ana mempelajarinya dari dia?

“Ada apa dengan kalian berdua?”

“Aku ingin kau di depan.”

“Aku ingin ibu duduk disampingku.”

Oh My God! Aku memutar mataku jengah.

“Jadi kita tak akan berangkat sekarang? Kita akan berdebat terus disini?” tanyaku kesal. Dan mereka hanya mengangguk saja dalam menanggapiku.

“Ana, kau ingin aku di sampingmu?”

“Ya.”

“George, kau juga?”

“Ya.”

“Kalau begitu kau panggil supirmu kemari George. Agar kita semua bisa pergi sekarang juga.”

George membuat turun sebelah matanya dan menaikkan yang lain. mengernyit tajam saat menatapku. “Mengapa jadi seperti itu?”

“Karena kalian tak mau mengalah.” Jawabku putus asa. Aku menganggap hal yang lumrah pada Ana. Ia masih kecil, merenggek adalah salah satu kegiatannya. Tapi George? Dia tak bisa diampuni untuk hal itu.

“Aku bisa duduk dipangkuan ibu seperti kemarin.” Bujuk Ana. Lalu George menyetujuinya seketika itu juga.

“Ana benar. Segera pindah ke depan dan gendong dia.” Bentak George padaku.

“Ana, itu tak boleh terjadi lagi. Itu bahaya sayang. Aku mengampunimu hanya karena kau dan aku begitu buruk kemarin. Dan aku tak ingin menyakitimu, meskipun kau telah membuatku berantakan.” Lirihku diakhir kalimat. Berharap bahwa suaraku tak terdengar oleh George maupun Ana yang sedari tadi tetap menoleh ke belakang, ke arahku.

“Dan George, jangan kekanakkan. Kau seperti tak pernah bertemu denganku saja. Bersikap dewasalah di depan Ana dan aku sekarang.” Aku memarahi George, seperti yang selalu ia lakukan saat memarahiku.

“Aku tak akan pindah. Aku akan tetap berada disini. Dan kalian berdua duduk di depan.”

“Ibu.”

“Tidak Ana. Atau kau ingin duduk dibelakang?”

Ia menggeleng sedih. Sebenarnya, aku tak tega untuk memarahinya. Tapi ia harus mulai belajar disiplin dari sekarang. “Aku ingin duduk dengan ibu.”

“Ana!” Oh dear, kuatkan aku. Ini untuk kebaikannya. “Mengapa kau selalu merengek padaku? Dengar Ana, jika kau ingin bermain bersamaku maka kau harus mulai disiplin sekarang. Aku tak menyukai anak yang selalu merengek sepertimu. Duduk dengan baik sekarang juga. Lihat ke depan dan perbaiki sabuk pengamanmu.” Tegasku.

“Baik.” Lirihnya. Dia menangis. Oh sayang, aku tak bermaksud seperti itu. Tapi kalian berdua terus memperlihatkan sikap yang membuatku kesal.

“Lili, kau . . . .”

“Tidak George! Kau juga. Hidupkan mobilnya sekarang juga atau aku akan meninggalkan kalian berdua disini.” Bentakku.

“Oke.”

Nah, inilah yang seharusnya kita lakukan sejak awal. Keduanya menurut padaku sekarang.

Aku melirik pada jam tangan hitamku. Tujuh belas tiga puluh lima. Waktu bermain kami terbuang percuma untuk mendisiplinkan mereka berdua.

George memarkirkan mobil sport BMW i8 di depan Fernandez & Wells. Ini adalah sebuah café yang terkenal dengan kenyamanannya di London. Aku pernah mendengarnya dari beberapa rekan kantorku, anggur disini sangat lezat.

“Sayang,” Aku mengendong Ana ke dalam pelukanku. Aku harus berbicara dan meminta maaf padanya.

Ku elus-elus rambutnya yang terurai sambil sesekali ku kecup. Panjangnya hampir sepinggang. Begitu halus dan lembut.

“Kau masih marah padaku?” tanyaku saat kami memasuki café tersebut. George membantuku membukakan pintu café dan mengambil alih tasku.

“Ana?” ulangku sekali lagi. Dan dia hanya menggeleng. Aku tahu dia pasti sedih dan terluka.

“Kau ingin duduk disebelah mana Lili.” Tanya George begitu kami berada di dalamnya. Banyak spot yang menarik disini. Semua meja sangat menarik perhatianku.

“Ana, lihatlah ke depan. Dimana kita akan duduk sayang?” Lama menanti, Ana tak kunjung memberikan respon. Dia malah semakin erat dalam memeluk leherku.

“Dia masih marah padamu.” Ucap George.

“Ya, aku tahu George. Begitupun denganmu bukan?” George menatap tajam padaku, begitupun denganku yang menatapnya dengan tatapan yang sama. Lalu kami saling melotot mempertahankan argument masing-masing. Hingga akhirnya George mendengus kesal. Berbalik dengan menghentakkan kakinya, menimbulkan suara nyaring yang cukup jelas dan tegas. Ia berjalan lurus, kemudian berbelok ke kiri, memilih meja yang dekat dengan anak tangga. Aku tak ingin meladeni sikap kekanakannya disini. Ku ikuti dia dengan santai sambil terus memperbaiki gendonganku terhadap Ana. Berkali-kali tubuh Ana melorot ke bawah, mungkin karena ia sangat berat untukku dan ia juga sudah cukup besar untuk sebuah gendongan.

“George, ayolah jangan marah padaku. Kita menjadi pusat perhatian sekarang. Apa kau tak merasakan hal itu?” tanyaku saat George terus mengabaikan kami berdua yang duduk dihadapannya.

“Aku tak perduli Lili.”

“George. Oke, kemarilah.” George mulai tersenyum ceria menanggapi tawaranku. Begitu dia selesai menarik kursinya di dekatku, aku sedikit membungkuk ke arahnya dengan tetap mempertahankan tubuh Ana yang ku pangku. Mengecup pipinya seperti kebiasaanku. “Akan ku hajar kau nanti.” Desisku.

“Aku siap untuk hari itu Lili. Aku baik sekarang. Aku akan menjadi patuh padamu.” Gelinya.

George sudah selesai denganku. Dan sekarang tinggal Ana.

“Ayolah Ana,” bujukku lagi. Ku guncang pelan-pelan tubuhnya agar ia mau menatapku. “Apa kau akan terus seperti ini? Kau ingin bermusuhan denganku? Ibumu?”

“Aku tak ingin itu.” Bisiknya. Oh syukurlah, ia sudah mau berbicara banyak padaku. Aku melirik ke arahnya. Merapihkan helaian rambut poninya yang menghalangiku untuk melihat wajahnya. Ku lihat ia sedang asyik memainkan antara kerah baju dan kalungku.

“Sayang, lihat aku.” Aku menarik wajahnya, menghapus air matanya yang meninggalkan bekas disepanjang kedua pipinya.

“Maafkan aku. Aku marah padamu sayang. Aku membentakmu dengan kata yang kasar.” Ku peluk erat kepalanya, menggoyang badannya lembut. “Maafkan aku.”

“Tidak apa ibu. Aku tahu akulah yang salah.”

“Kau memaafkanku sekarang?”

“Ya.”

“Oh terma kasih sayang. Aku mencintaimu.” Ku kecup berkali-kali dahinya sebagai tanda permintaan maafku. Dan kemudian tertawa lepas setelahnya. “Oh maaf, ini berbekas.” Aku tertawa konyol melihat bekas lip ice dan lip gloss di dahinya. Dan itu tidak dapat hilang begitu saja. Berkali-kali aku hapus dengan menggunakan tissue basah yang selalu ada di dalam tasku, tapi itu juga masih meninggalkan bekas disana.

“Ibu tak apa. Aku tak akan marah karena bekas bibir ibu ada pada dahiku. Aku akan memperlihatkannya pada ayah nanti.”

“Sungguh?”

Dia mengangguk membenarkan. “Kalau begitu apa perlu ku tambahkan lagi? Dimana kau ingin mendapatkannya lagi hmm?” Ana tertawa lepas dipangkuanku. Aku menggelitik seluruh badannya hingga ia menggeliat dan menggelinjang tak tenang di pahaku.

Ku peluk sekali lagi kepalanya, meletakkannya di dadaku agar ia dapat mendengarkan detak jantungku. “Aku menyayangimu sayang.”

Kami semua sudah berbaikan lagi. Sambil menunggu pesanan kami datang, Ana menceritakan ulang peristiwa kemarin pada ayah dan neneknya. Dia mengatakan neneknya begitu penasaran denganku. Wanita itu ingin memintaku untuk berkunjung ke rumahnya ataupun ke rumah Ana. Namun aku tak yakin siap untuk bertemu dengannya. Aku sudah sedikit tahu mengenai Kenny Sparks dari George setelah kejadian kemarin. Dari yang dapat ku simpulkan, wanita itu kurang ramah dalam menyambut tamu asing sepertiku. George saja yang merupakan saudara ibu kandung Andrew tak terlalu suka untuk berkunjung ke sana. Apalagi aku yang tak mengenalnya sama sekali. Bisa-bisa aku hanya akan terkena caci maki darinya.

Pesanan datang setelah lima belas menit kami menunggu. Di sini ada hotdog, roti isi, dan salad segar. George memesan fetuccini, dan sapi panggang. Sementara aku dan Ana memilih roti isi, salad, dan hot dog yang akan kita bagi untuk berdua.

“Apa itu enak?” tanyaku saat Ana terlalu asyik memakan hotdog miliknya. Ia tak bicara sepatah katapun saat mendapatkan hotdognya sudah datang.

“Emm.” Jawabnya disertai anggukan. Mulutnya penuh oleh sosis besar, sedangkan kedua sudut bibirnya belepotan oleh saus tomat dan mayonnaise. Ku ambil tissue basah untuk membersihkannya, lalu ku ulang lagi dengan tissue kering.

“Habiskan.”

Sekarang kami bisa bicara dengan tenang karena Ana sudah teralihkan dengan hotdog.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya George?”

“Aku tak tahu. Aku hanya mampir ke sini karena aku lapar. Dan aku tahu kau belum makan. Aku bisa melihat itu.”

Aku memakan saladku setelah ku kedikkan sebelah bahuku padanya, aku tak perduli. “Mengawasiku, menjadi pekerjaan tambahan untukmu ya?” cibirku.

George tak terpengaruh akan ucapanku. Ia mengalihkanku dengan berkata, “Andrew akan bersama kita sebentar lagi.”

“Untuk apa dia kemari.” George menjawab pertanyaanku dengan mengarahkan garpunya pada Ana. Oh ya, dia anaknya. Untuk itulah mengapa dia akan ke sini bersama kita.

Aku telah menyelesaikan satu mangkuk saladku saat Ana merengek ingin menghabiskan roti isiku juga. Jadi aku memberikannya begitu saja tanpa sempat ku sentuh sama sekali. Aku membiarkan Ana memakan sendiri rotinya karena ku pikir dia sudah bisa makan dengan baik. Tapi aku salah. Dia membuat dirinya sendiri dan makanannya bertambah berantakan karena telah salah paham dalam memegang garpu dan pisau. Hingga kami harus memesan ulang lagi roti isi tersebut.

“Jangan di tekan sayang. Isinya akan meloncat ke bajumu jika kau tekan dengan seperti itu. Lihatlah, perhatikan dengan baik.” Aku mengajari Ana bagaimana memakan roti isi tanpa menggunakan sendok maupun garpu. “Tekan secara perlahan pada tengah-tengahnya.” Belum sempat aku melanjutkan hal apa yang harus dilakukan berikutnya, Ana sudah sok pintar dengan mendahuluiku menekan sembarang subnya. “Astaga sayang, bukan seperti itu. Lihat bajumu sekarang.”

Aku menatap miris pada baju Ana. Warna putih dengan hiasan bunga kecil pada lehernya telah berubah warna seperti lukisan abstrak karya Wassily Kadinsky ataupun Naum Goba.

Sepertinya Andrew selalu memanjakan dia. Atau mungkin pria itu terlalu sibuk untuk memperhatikan anaknya yang masih belum bisa makan dengan benar. Saus tomat dan mayonnaise tercecer dimana-mana, termasuk menciprati pakaiannya sendiri. Anak malang. Baju mahalpun jadi terkesan murahan dengan banyak noda seperti itu.

Setelah membersihkan semua kekacauan di meja kami, aku memutuskan untuk menyuapi Ana saja. Ini akan lebih baik dan hal ini tak akan memberikanku kesempatan untuk menegur Ana lagi. Saat roti isinya hanya menyisakan setengah lagi, Andrew datang menghampiri meja kami. Ia datang saat aku sedang menyuapi Ana dan mengajarkannya secara perlahan agar makan dengan benar.

“Apa kau tak pernah mengajarkannya cara memakan sandwich?” tanyaku begitu ia duduk disebelahku.

“Tidak. Ana selalu bersama Mom. Jadi aku tak tahu apapun.” Aku mencibir jijik ke arahnya. Dia benar-benar seorang pria yang berengsek.

“Mr. Rich {Tuan Kaya}, jika kau berpikir bahwa memiliki anak seperti membeli pajangan, maka sebaiknya kau pikir ulang sebelum memilikinya.” Desisku kesal. Memangnya apa sih yang ia lakukan di sela-sela waktunya? George pun seorang bos yang selalu sibuk setiap saat, tapi ia selalu memiliki banyak waktu luang untuk digunakan bermain denganku atau berkencan dengan pacar papannya itu.

George menambah suasana menjadi mencengkram saat ia secara sengaja menjatuhkan segelas anggurnya.

“Maaf.”

Ana telah selesai memakan semua roti isinya. Dua roti isi yang kami pesan ulang sebenarnya untukku dan Ana. Namun lagi-lagi anak itu mengambil alih semuanya. Aku hanya dapat menggigit kesal sedotan jusku.

“Aku akan membawa Ana ke kamar mandi.” Ucapku pada George dan Andrew.

Setibanya kami di meja, George dan Andrew sudah akrab kembali seperti biasa. Mungkin itulah sebabnya seorang pria selalu banyak teman. Aku bergabung dengan mereka saat pembicaraan mengenai proyek berlangsung.

Kami berbincang kesana-kemari cukup lama. Membicarakan Ana yang kini tengah tertidur dipangkuanku, dan berakhir dengan perdebatan antara aku dan George. Ia mengatakan bahwa aku yang harus terjun langsung ke sana. Ia tak menginginkan satupun dari dewan direksi ataupun para menejer dari bidang lain menangani ini ataupun memantaunya ke sana. Ini neraka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s